BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Alasan Terberat Dimas


__ADS_3

Jam kerja berakhir. Tubuhku semakin lemas. Padahal aku tidak melakukan pekerjaan sedikitpun hari ini. Dokumen-dokumen masih bertumpuk rapi di meja kerjaku. Belum ada satupun yang ku-cek. Itu karena aku belum bisa konsentrasi dengan pekerjaan.


Kepalaku masih terasa sakit. Bahkan, semakin sakit. Terlebih lagi memikirkan perkataan sekertaris Ve tadi. (Episode 145)


"Dimas tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu. Dokter Vanessa yang membayar mereka semua untuk menyakitimu. Termasuk pelemparan telur sore itu. Dimas sudah menceritakannya padaku."


"Imania, Dimas sangat mencintaimu. Siapapun yang mengganggumu, dia akan menjauhkannya darimu. Sesungguhnya, tanpa kau ketahui, Dimas selalu bersikeras menjagamu, Imania. Dia sangat serius untuk membahagiakanmu."


Oh ... kepalaku sakit sekali. Namun, aku harus pulang. Kuambil tas dan mengajak tubuhku berdiri. Pusing. Ini pusing sekali. Dengan langkah tak teratur, aku berjalan keluar dari kantor.


Sesampainya di depan gerbang, kuhentikan langkah, berdiri di tepi jalan.


"Imania!" seru seseorang di depan kedai kopi.


"Rudi."


Rudi pun menghampiriku.


"Imania, kau tampak sangat pucat."


"Kau kenapa di sini?" tanyaku heran.


"Aku menunggumu, Imania."


"Menungguku?"


Rudi mengangguk seraya tersenyum. "Mari, kuantarkan pulang."


Aku menoleh ke parkiran. Mobil sekertaris Ve masih berada di sana. Aku khawatir dia menungguku. Jadi, kuambil handphone dari tas dan mengirim pesan padanya.


[Kak Ve, aku pulang duluan, ya?]


Setelah pesan terkirim, kumasukkan kembali handphone-ku ke dalam tas.


"Ayo, Rud," ajakku.


Kami pun masuk ke dalam mobil. Rudi langsung menyalakan mobilnya, mengantarkanku pulang. Di dalam mobil, Rudi berkali-kali melirikku.


"Ada apa, Rud?" tanyaku heran.


"Wajahmu tak sesegar biasanya."


Aku tersenyum tipis menanggapinya.


"Tapi kau tetap cantik," pujinya.


"Pandai menggombal, dasar!" ucapku dengan nada lemah.


"Imania, apa kau habis menangis? Matamu bengkak."


Entah sudah berapa orang yang berhasil menebakku.


"Aku hanya sedikit lelah."


"Imania, bagaimana hubunganmu dengan Dimas? Apa kalian baik-baik saja?"


Mengapa Rudi menanyakan hal itu lagi? Aku sedang tidak ingin membahasnya.


"Kami sudah putus."


Tiba-tiba Rudi mengerem mendadak mobilnya. Dan itu membuat kepalaku terbentur ke depan.


"Imania, maaf ... apa itu sakit?"


Rudi tampak panik. Ia meraih kepalaku dan mengusap dahiku yang terbentur.


"Aku tidak apa-apa, Rud?" ucapku sembari tersenyum melihat mimik panik Rudi.


"Oh, maaf ...." Rudi segera melepaskan tangannya dari dahiku.


"Imania, apa barusan yang kudengar adalah benar?" tanyanya yang masih menatapku terkejut.


Aku mengangguk lemah menatapnya. Sedangkan Rudi menampilkan ekspresi berbeda denganku. Senyum di wajahnya mengembang.

__ADS_1


"Imania, aku senang sekali," ucap Rudi dengan wajah gembira.


Aku tidak tahu apa arti senyuman dari wajah Rudi. Di saat aku merasakan sesak akibat berakhirnya hubunganku dengan Dimas. Justru Rudi menyambutnya dengan mimik bahagia yang terpancar begitu jelas.


"Itu berarti ... masih ada kesempatan untukku."


Kesempatan? Apa yang Rudi pikirkan? Apa dia menyukaiku? Kupikir, selama ini dia tidak benar-benar menginginkanku. Aku tahu Rudi tertarik padaku, aku sadar itu. Akan tetapi, aku sama sekali tidak menyangka, bahwa Rudi benar-benar menginginkanku.


Rudi segera menyadari wajah sedihku, yang tengah menatapnya heran.


"Ma-maaf ... aku ... aku tidak bermaksud berbahagia di atas kesedihanmu itu. Aku ... aku ...."


Kusematkan senyum tipis di wajahku, lalu berkata, "Tidak apa-apa, Rud. Aku sedang mencoba untuk melupakannya. Aku akan meninggalkan kisahku dengan Dimas."


"Imania, seharusnya aku memahami perasaanmu. Tetapi jujur ... aku sangat bahagia mendengar kabar kalian putus. Itu karena ... karena ... aku ... aku ...." Rudi menghentikan perkataannya.


"Aku menyukaimu, Imania," lanjut Rudi.


Aku merasa terkejut dengan keberanian Rudi yang mengatakan perasaannya terhadapku begitu cepat. Ya, bagiku ini terlalu buru-buru. Bahkan, aku belum mengenalnya lebih jauh. Lagi pula, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Rudi.


"Imania, aku menyukaimu," ucapnya lagi sembari menatapku serius.


"Rud—"


"Kau tidak perlu buru-buru memberiku jawaban. Lagi pula, saat ini kau sedang sedih. Aku akan menunggumu sampai kau juga menyukaiku."


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya mencintai Dimas. Bahkan, sampai saat ini aku masih mencintainya. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai Rudi. Itu pasti sulit.


Rudi menyalakan kembali mobilnya, lalu segera mengantarkanku pulang.


***


"Turunkan aku di sini saja, Rud," ucapku sesampainya di depan pintu gerbang rumahku.


Aku dan Rudi pun turun dari mobil. Dan saat aku hendak melangkah, tiba-tiba kepalaku berdenyut-denyut, pandanganku mulai terasa kabur.


"Imania!"


Rudi langsung menangkap tubuhku yang hampir terjatuh.


"Biar kuantar masuk," ucap Rudi.


Rudi pun membuka pintu gerbang dan menuntunku masuk. Aku berjalan sempoyongan, pandanganku terasa kabur, tapi aku harus kuat.


Buk!


Aku dikejutkan dengan kemunculan seseorang yang tiba-tiba berlari ke arah kami dan memukul Rudi.


"Dimas!" sergahku.


Sejak kapan dia datang? Aku menyapu pandang dan menemukan sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di depan rumahku. Karena pusing, aku jadi tidak memperhatikan ada Dimas yang ternyata sudah menungguku.


"Lepaskan Nia!"


Rudi pun melepaskan tangannya dari lenganku. Lalu memegang pipinya sesaat.


"Kenapa? Apa urusanmu? Kalian sudah putus, bukan? Jadi, terima saja nasibmu, Dimas," ucap Rudi.


Dimas segera mencekal kerah kemeja Rudi. "Jangan memanfaatkan keadaan, Rud. Dan jangan mencoba mendekati Nia!"


Rudi tersenyum menyeringai. "Dimas ... Dimas. Kau terlalu serakah. Sudahlah, menikahlah dengan Nessa. Dan biarkan Imania menikah denganku."


Buk!


Dimas kembali melayangkan pukulan ke wajah Rudi. Rudi pun membalas pukulan Dimas. Satu pukulan keras mendarat ke wajah Dimas. Saat Dimas akan melakukan pukulan lagi, aku langsung mencegahnya.


"Hentikan!" teriakku lemah.


Namun, Dimas tak menghiraukanku. Ia kembali memukuli Rudi dengan geram.


"Dimas, hentikan!" teriakku lagi.


Saat Dimas akan melayangkan pukulan lagi, Rudi langsung menahan tangan Dimas. "Apa kau tidak dengar? Imania minta agar kau berhenti memukulku!"

__ADS_1


Dimas pun berhenti. Masih dengan emosi yang memenuhi dirinya. Ia berkata pada Rudi, "Cepat pergi dari sini! Sebelum aku menyegerakan menghabisi nyawamu!"


"Aku sama sekali tidak takut. Habisi saja aku. Agar Imania semakin yakin, bahwa kau bukan lelaki yang tepat untuk bersanding dengannya!"


"Dimas, pergilah!" usirku seraya memegangi kepalaku yang sakit.


Dimas pun mengalihkan pandangannya padaku. "Nia, apa kau sakit? Kau pucat sekali."


"Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."


Fania dan Arka tiba-tiba keluar dari pintu rumah. Fania menatap terkejut dengan apa yang ia lihat di depan rumah. Ia menatap kami dengan mata terbelalak. Aku pun segera mengisyaratkan kepada Fania agar membawa Arka untuk masuk. Dan Fania mengerti, mereka pun kembali masuk dan menutup pintu.


"Nia, ayo masuk. Biar kubuatkan resep obat untukmu. Kau sangat tidak terlihat baik. Apa kau belum makan?" tamya Dimas dengan tatapan penuh perhatian.


"Dia sakit karena ulahmu. Jika ia terus menerus bersamamu, itu akan semakin mengganggu kesehatannya. Jadi, biar aku yang membahagiakannya," tutur Rudi sembari menyeka darah yang mengucur dari sudut bibirnya menggunakan tangannya.


"Diam kau, berengs*k!"


Dimas kembali geram dan mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Tatapan itu tampak sangat menakutkan. Seakan ingin menelan Rudi hidup-hidup.


"Cukup, Dimas! Aku sudah lelah memahamimu! Silakan keluar!" usirku seraya menunjuk pintu gerbang.


Dimas tiba-tiba menjatuhkan dirinya, bersimpuh di kakiku seraya memohon, "Beri aku kesempatan, Nia. Kumohon."


Aku harus tetap pada keputusanku. "Berdirilah! Percuma kau bersimpuh. Itu takkan merubah keputusanku!"


"Nia, aku sangat mencintaimu. Aku bisa melakukan apapun untukmu. Tetapi untuk meninggalkan Nessa. Aku belum bisa."


"Pergilah!" usirku sembari menahan air yang menggenang di pelupuk mataku.


"Apa yang harus kulakukan agar kau mengerti?"


"Apa aku kurang mengerti?"


"Nia." Dimas meraih jemariku. Menciuminya berkali-kali. "Aku mencintaimu. Aku akan menikahimu. Kita sudah saling berjuang, Nia. Sudah sepuluh tahun aku menantimu. Itu bukanlah waktu yang singkat. Aku ... aku tidak bisa menerima keputusanmu itu."


Rudi yang berdiri di sampingku menatap kami bergeming. Ia pun mundur beberapa langkah dari kami. Sepertinya Rudi mengerti bahwa ia harus membiarkan kami berdua.


Dimas semakin menggenggam jemariku erat. "Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku memikirkanmu, Nia. Aku tersiksa dengan keputusanmu itu. Kembalilah padaku, Nia."


"Untuk apa lagi, Di!"


"Untuk melanjutkan rencana kita. Bukankah, kita sudah saling berjanji untuk berjuang?"


"Aku sudah cukup berjuang, Di! Apalagi yang ingin kau minta dariku?"


"Aku tidak meminta apapun. Cukup bertahan denganku, Nia."


Kuraih pundak Dimas, memintanya berdiri. Kini kami saling berhadapan. Kuletakkan jemariku di pundaknya. Kutatap mata elangnya. "Di, sudah cukup. Kita sudah berjalan terlalu jauh. Aku merasa konyol atas diriku sendiri. Aku merasa ... bahwa aku telah salah. Aku seperti pelakor. Merebutmu dari Nessa."


Kuseka air mata yang terus meluncur ke pipiku. "Di, aku sadar, akulah yang salah. Aku ingin mengakhiri ini semua."


"Itu hanya alasanmu saja, agar aku menjauh!" ucap Dimas dengan mata yang mulai basah.


"Tidak. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Keputusanku sudah bulat. Lagi pula, aku hanyalah seorang janda. Aku tidak pantas bersanding denganmu. Dan ... satu lagi. Ayahmu tidak menyukaiku. Hubungan kita terlalu rumit. Aku menyerah."


Dimas menatapku seraya tertawa. "Sejak kapan kau menjadi selemah ini? Apa hanya sejauh ini kekuatanmu? Mana Niaku yang sempat berjanji dan berkomitmen padaku untuk berjuang? Di mana dirimu yang selalu siap sedia atas segala ujian? Di mana Niaku yang hebat dan tangguh itu?!"


"Cukup, Di. Nessa adalah tunanganmu. Menikahlah dengan Nessa. Aku akan menghapusmu segera."


Dimas tertawa kecil, tapi mata elangnya mengeluarkan air mata. "Nia, kau ingin dengar sesuatu dariku?" Ia pun meletakkan kedua tangannya ke pipiku.


"Apa kau cukup penasaran dengan apa yang selama ini menjadi alasanku untuk tidak meninggalkan Nessa?"


Aku menatapnya bergeming. Namun, air mataku terus mengalir. Kutatap wajah basah lelaki di depan mataku.


"Biar kukatakan!" Dimas menunduk sembari menarik napasnya dalam. Kemudian mengangkat wajahnya, kembali menatapku tajam, dan berkata, "Nessa mengidap penyakit jantung!"


Aku sangat terkejut mendengarnya. "A-apa barusan kau bilang ...."


"Nessa ... Nessa ...." Dimas menarik napasnya berkali-kali sebelum berkata dengan lebih jelas padaku. "Nessa mengidap penyakit jantung. Dan usianya tidak akan lama lagi. Apa kau puas dengan jawabanku sekarang?!"


Betapa terkejutnya diriku mendengar pernyataan Dimas. Nessa ... Nessa mengidap penyakit jantung? Dia ... apa benar usianya tidak akan lama lagi? Aku masih terpaku mendengar penuturan Dimas. Kakiku semakin lemas untuk kuajak berdiri.

__ADS_1


Dimas melepaskan tangannya dari wajahku. Aku semakin terisak mendengar pernyataan mengerikan dari bibir Dimas. Ia pun segera beranjak cepat dan pergi dengan mobilnya.


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2