
Kami pun selesai makan. Fania terlihat kekenyangan. Ia memegangi perutnya yang baru saja terisi penuh makanan. Dia benar-benar membuatku semakin geleng-geleng. Makanan yang tersaji sebanyak itu di atas meja, nyaris masuk semua ke dalam perutnya. Padahal tubuh Fania termasuk ideal. Tidak menyangka nafsu makannya segila itu.
"Apa kau puas?" tanya Dimas pada Fania yang masih memegang perutnya.
"Oh, perutku?" rintih Fania yang tengah kekenyangan.
"Itulah akhir dari kerakusanmu, ha-ha ...!" ledek Dimas.
"Fania! Apa kau baik-baik saja?" Aku memperhatikan wajah Fania yang meringis kekenyangan.
"Imania, sepertinya ini ...." Fania beranjak. "Ini ... aku mau ... mau ke toilet!"
Saat Fania baru akan beranjak, tiba-tiba kakinya tersandung kursi. Sontak ia pun hampir jatuh. Untung Rudi dengan sigap langsung berdiri dan menangkapnya. Fania pun jatuh di pelukan Rudi. Mereka saling bertatapan.
"Hati-hati, Fania ...," ucap Rudi yang masih menatapnya.
"A-aku ...." Fania terlihat sangat gugup. Rudi masih menopang tubuh Fania.
"Hoek!"
Kami semua terkejut. Tiba-tiba Fania muntah. Dan ia memuntahkan seisi perutnya ke tubuh Rudi. Sontak Rudi langsung melepaskan Fania hingga Fania pun jatuh ke lantai. Aku dan Dimas pun terbelalak melihatnya.
"Maaf ...," ucap Fania seraya bangkit.
Rudi bergidik jijik mendapati kemeja dan celananya dipenuhi bubur hasil olahan perut Fania. Fania pun terus meminta maaf. Tapi Rudi sepertinya sangat kesal. Mimik mukanya terlihat marah. Kemudian ia pun menutup mulutnya, dan ikut muntah karena jijik.
Rudi segera berlari menuju toilet. Beberapa pelayan restoran pun menghampiri kami. Mereka menatap Fania dengan tatapan sinis.
"Maaf ...," ucap Fania polos kepada kami yang masih memandangnya sembari menutup hidung.
Dimas pun beranjak untuk membayar makanan yang telah dipesannya.
"Imania, maaf ...."
Aku hanya tersenyum, lalu beranjak, dan menggandeng tangan Fania untuk keluar dari restoran. Aku tidak tahu apakah Dimas marah pada Fania. Tetapi dia tampak kesal.
"Ya, sudah. Aku pulang dulu, ya?" ucap Fania seraya menunduk.
"Hati-hati, ya?" balasku.
Fania sepertinya masih merasa sangat bersalah karena merusak moment makan siang kami. Ia pun berjalan dengan cepat.
"Fania!" seru Dimas.
Fania pun berhenti, tanpa membalikkan tubuhnya. Dimas pun memanggil pelayan restoran untuk memberikan sesuatu pada Fania. Dan pelayan itu pun menghampiri Fania.
"Ini, Nona. Ini semua pesananmu!" kata pelayan tersebut seraya memberikan satu kantong plastik besar berisi berbagai menu makanan kepada Fania.
Fania pun berbalik dan menerima pemberian tersebut. Ia langsung melonjak gembira ketika mengetahui isi di dalamnya. Ia langsung melempar senyum lebar ke arah Dimas.
__ADS_1
"Terima kasih ...!" serunya lalu pergi.
Dimas memperhatikan Fania sembari tersenyum. "Dia benar-benar Alien!" cetusnya.
Aku dan Dimas masih berdiri di samping meja kasir. Aku memintanya untuk menunggu Rudi sebentar untuk meminta maaf. Setelah beberapa saat kemudian, Rudi pun kembali. Rambutnya terlihat basah.
"Rud, maafkan Fania, ya?" ucapku kepada Rudi.
"Tidak apa-apa. Aku sudah mandi. Tapi ... ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau berteman dengan gadis aneh seperti itu?"
Aku tersenyum padanya. "Dia memang unik dan sedikit ... aneh. Tapi ... dia adalah gadis yang baik. Kau hanya belum mengenalnya lebih."
Rudi menghela napas kasar. "Dia cantik. Tapi sayang ... tingkahnya memalukan!"
Aku tersenyum mendengarnya. "Sekali lagi, atas nama Fania, aku minta maaf."
"Kuharap, dia tidak akan muncul lagi di hadapanku!" tukas Rudi.
Aku mengerti kekesalan Rudi. Aku yakin, besok, saat Fania dan Rudi bertemu kembali. Mereka pasti bisa berbaikan. Bahkan, aku melihat, sepertinya Fania memiliki ketertarikan kepada Rudi. Aku mengamatinya tadi, saat mereka berkenalan.
"Jangan terlalu membencinya, Rud! Nanti kau malah jatuh cinta padanya!" ledek Dimas.
"Tidak akan! Dia sama sekali bukan tipeku!"
"Memangnya tipemu seperti apa? Jika kau terus seperti ini, kau akan menjadi Presiden Jomlo! Ha-ha ...!" ledek Dimas lagi.
"Tipeku adalah ... wanita yang seperti Imania!" jawab Rudi seraya tersenyum padaku.
Di dalam mobil, aku segera menegurnya.
"Mengapa kau kekanak-kanakan, sih?"
"Siapa yang kekanakan?"
"Kau!"
"Aku tidak suka Rudi menatapmu seperti itu. Sepertinya dia ingin menggodamu!"
"Apa kau cemburu?"
Dimas tak menjawab. Ia menyalakan mobilnya, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi.
"Jika kau terus mengendarai mobil seperti ini, aku khawatir tidak bisa hidup lebih lama lagi!" ucapku kesal.
Dimas tak menjawab. Dia terus melajukan mobilnya dengan wajah marah.
"Kupikir kau memiliki pemikiran yang dewasa. Tidak kekanakan seperti ini!" omelku.
Set! Dimas mengerem mobilnya tiba-tiba. Dan itu membuat tubuhku tersentak.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa menahan amarahmu itu? Cemburumu kekanakan!" omelku lagi.
Dimas pun mengalihkan tatapannya padaku. "Ya, aku kekanakan," katanya.
Aku memasang mimik muka kesal. Aku tidak ingin bertengkar dengannya. Apalagi kami baru saja berjanji untuk saling memperjuangkan cinta kami.
Dimas mencondongkan tubuhnya padaku. Tangannya meraih leherku.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin berpikiran dewasa. Jadi, kau janganlah kekanakan!"
Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Tapi tanganku langsung menahan dadanya. "Di!"
"Kenapa? Apa kau tidak mau kutunjukkan bagaimana bersikap dewasa?"
"A-apa ma-maksudmu!"
"Diamlah. Aku ingin menunjukkan sisi kedewasaanku."
Dia pun kembali mendekat. Mata yang tadinya tampak penuh amarah, kini berubah penuh nafsu. Jantungku berdetak kencang, keringat dingin mulai mengucur deras di tubuhku. Ia terus menatapku dengan tatapan seperti itu. Napasku mulai tertahan, saat ia kembali mendekat. Tapi ia tak melakukan apapun. Ia hanya terus menatapku.
"Aku tidak suka kau digoda laki-laki lain."
Aku menelan salivaku sendiri. Aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Tatapan itu seperti menghipnotisku. Jantungku semakin berdegup kencang.
"Kau hanya milikku, Nia ...." Suara itu pun terdengar begitu lembut.
Jarak wajahnya dengan wajahku tidak ada lima sentimeter. Ini sangat dekat. Dekat sekali. Bahkan, napas kami saling bertabrakan, terasa hangat membelai wajah.
"Jangan pernah tergoda oleh laki-laki lain."
Tatapan mata elangnya, kharismanya, pesonanya, semua memabukkan. Mematikan gerakku.
"Aku mencintaimu ...."
Perlahan bibir itu mendekat lagi. Sehingga deru napas kami semakin terasa hangat.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Hayo? Yang baca ikut deg-degan, nih?
Tenang ... nanti dilanjut, ya?
Eh, ini ada yang minta dikasih foto pemeran tokoh. Menurut kalian, setuju enggak kalau dikasih foto masing-masing pemerannya?
Tulis di kolom komentar, ya?
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu FOLLOW, LIKE, COMENT, VOTE, DAN KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA ...!
Thank You ...!