BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Gosip Instagram


__ADS_3

Beranjak dari lapas, kami mampir ke restoran. Namun, bukan restoran Rudi. Dimas tidak mau makan di restoran Rudi. Jadi, kami makan di tempat lain. Setelah itu Dimas mengantarku pulang. Sedangkan Fania juga diantar sekertaris Ve pulang ke rumah orang tuaku.


***


Sebulan kemudian.


Sudah sebulan sejak kepulangan Fania dari lapas, akibat kasusnya dengan Reza. Sejak saat itu, aku pergi ke kantor dijemput Dimas. Sedangkan pulang di antarkan sekertaris Ve. Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada sekertaris Ve. Aku tentu merepotkannya. Akan tetapi, jika aku menolak, sekertaris Ve tetap kekeuh untuk mengantarku.


Itu semua karena Fania sudah tidak bisa mengantar-jemputku. Mobil milik Fania, yang merupakan pemberian Reza, sudah dikembalikan. Kini Reza sudah dipenjara, dan Fania sungguh ingin melupakan Reza. Segala barang-barang pemberian Reza dikembalikan oleh Fania.


"Ima?"


"Ya, Bu."


"Nak Dimas sudah menunggumu!" seru ibu.


"Ya, sebentar," jawabku.


Aku sudah rapi. Kuambil tas, kemudian keluar dari kamar, menghampiri Dimas yang sedang duduk menungguku di ruang tamu. Kami pun berangkat usai berpamitan pada ibu.


Di dalam mobil, kami saling ngobrol.


"Imania, besok Minggu, kita jalan-jalan, yuk. Ajak Fania dan Arka juga."


"Baiklah. Tapi ... kita akan jalan-jalan ke mana?"


"Kejutan."


Aku tersenyum mendengarnya. Dan setelah berkendara agak jauh, kami pun sampai. Aku turun dan langsung masuk ke dalam kantor usai berterima kasih pada Dimas, yang telah mengantarku.


Di dalam kantor, aku langsung disambut dengan pandangan aneh oleh para karyawan. Semua mata terarah padaku dengan tatapan sinis. Kecuali, mata mas Bastian.


Aku pun duduk dengan perasaan heran. Mencoba untuk tidak menanggapi pandangan mereka.


"Imania," panggil mas Bastian.


"Iya, Mas."


"Itu bukan mejamu lagi," kata mas Bastian padaku.


"Loh, kenapa memangnya?" Aku sangat terkejut mendengar mas Bastian mengatakan bahwa ini bukan meja kerjaku lagi.


"Mas, apa telah terjadi sesuatu?" Aku balik bertanya pada mas Bastian yang duduk di sebelah mejaku.


Mas Bastian tidak menjawab. Itu membuatku semakin terkejut dan heran. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ... mereka menatapku seperti itu?


"Selamat pagi, Everybody ...?"


Suara sekertaris Ve membuat kami terfokus padanya. Meski ada beberapa yang masih memandangku sinis.


"Pagi ini, saya akan memberitahukan pengumuman penting!" Sekertaris Ve yang berdiri di depan kami mulai memberikan pengumuman.


"Ada sebuah kabar menyedihkan. Bahwa, salah seorang staf back office kita, tidak akan bersama lagi di sini. Dia tidak akan duduk lagi di sini!" papar sekertaris Ve.


Dadaku mulai berdebar-debar. Apa orang yang dimaksud sekertaris Ve adalah aku? Apa ... itu berarti ... aku dipecat!


"Imania Saraswati!" seru sekertaris Ve yang semakin membuatku kaget.


"Kemarilah, dan ucapkan kalimat perpisahan kepada mereka," suruh sekertaris Ve.


Aku menatap wajah-wajah sekeliling, yang terus menatapku. Dengan perasaan risau aku pun beranjak dari tempat duduk. Dan menuju sekertaris Ve yang berdiri di depan.


Kakiku gemetar, tanganku pun gemetar. Tidak menyangka, baru sebulan bekerja, aku langsung dipecat. Ini pasti ada hubungannya dengan pak Wibowo. Dia pasti dendam padaku.


"Imania, silakan, berikan sedikit suka duka bekerja bersama mereka di sini."


Ada perasaan sedih, kecewa, dan berat untuk mengatakannya. Aku sudah cukup nyaman bekerja di sini, meski harus berdekatan dengan orang yang membenciku, yaitu pak Wibowo.

__ADS_1


"Semuanya ... maaf ...." Kata maaf adalah pertama yang keluar dari mulutku.


Kuhela napas dalam-dalam, menetralkan pikiran. Berusaha menerima segala kenyataan yang terjadi. Mungkin, aku memang lebih baik pergi dari sini.


"Selama sebulan berada di sini. Kalian begitu baik padaku. Kalian menerimaku dengan cukup baik. Terima kasih, semuanya." Aku memulai kata-kata.


"Aku ...." Bulir-bulir bening yang sempat kutahan, tiba-tiba menetes. Aku tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya aku sangat terpukul. Aku sedih.


Kuusap wajahku yang basah. Kuhela napas berkali-kali. Dan berkata, "Aku senang mengenal kalian. Ini ... mungkin sudah saatnya, aku harus pergi dari sini. Mohon maafkan aku, atas segala kesalahan yang sempat kuperbuat. Terima kasih ...."


Aku menatap respon wajah-wajah karyawan, bukannya sedih atas kepergianku. Justru mereka menatapku dengan tatapan kebencian. Ada pula yang berbisik-bisik seperti Wawan dan Didin yang memang suka ghibah di kantor ini.


Mengamati tidak ada raut kesedihan di antara wajah mereka? Bahkan, mas Bastian menatapku dengan ekspresi datar. Sebenarnya, apa yang mereka pikirkan tentangku?


"Baiklah. Imania sudah menyampaikan sukanya berada di sini bersama kalian. Imania bahkan tidak mengatakan ada duka selama bekerja di sini." Sekertaris Ve merangkulku.


"Silakan ambil tasmu!" suruh sekertaris Ve padaku.


Aku menatap wajah sekertaris Ve sesaat, lalu melangkah menuju meja kerjaku, yang tentunya akan menjadi meja kerja orang lain. Kuambil tasku, dengan perasaan lemas dan sedih, aku pun bergegas menuju pintu.


"Imania!" seru sekertaris Ve menghentikantikan langkahku.


Aku pun berbalik.


"Kau mau ke mana?"


Aku menatapnya bingung. Bukankah aku dipecat? Jadi, untuk apa lagi berada di sini?


"Kemarilah!"


Aku kembali berjalan menuju sekertaris Ve. Dan sekertaris Ve kembali berkata, "Kabar yang menyedihkan sudah, ya? Sekarang saatnya kita dengar kabar yang menggembirakan!"


"Silakan berikan tepuk tangan untuk Imania Saraswati. Mulai sekarang, dia adalah manager di bank ini!"


Betapa terkejutnya diriku. Apa ... apa yang barusan sekertaris Ve katakan adalah benar? Aku ... aku ... aku adalah seorang manager!


"Selamat, Imania!" Sekertaris Ve mengulurkan tangannya padaku sembari tersenyum.


"Ya, kau diangkat sebagai manager mulai sekarang," jawab sekertaris Ve dengan senyumnya yang mengembang.


"Tapi Kak Ve. Aku ... aku ... mana mungkin—"


"Apanya yang tidak mungkin? Ayo, jabat tanganku. Selamat!"


Aku pun menjabat tangan sekertaris Ve dengan perasaan aneh. Aku belum bisa menangkap rasa bahagia mendapatkan promosi seperti ini. Bagaimana bisa ini terjadi?


"Silakan, beri tepuk tangan yang meriah untuk Imania Saraswati!" seru sekertaris Ve.


Suara tepuk tangan pun riuh menggema. Akan tetapi, wajah-wajah mereka tidak menyiratkan ucapan selamat, tetapi ucapan kebencian.


"Berdasarkan rapat kemarin, kami telah memutuskan pilihan, bahwa Imania dipromosikan menjadi manager. Itu berdasarkan kinerjanya yang sangat baik selama ini. Thank you!" papar sekertaris Ve.


Usai memberikan pengumuman, sekertaris Ve pun mengajakku untuk masuk ke ruangan baruku. Aku hanya mengikutinya dengan perasaan entah, antara senang dan aneh.


Sekertaris Ve menjelaskan tugas-tugas baruku sebagai seorang manager bank. Aku pun memperhatikannya dengan serius. Walau aku masih tidak percaya ini terjadi.


***


Jam kerja berakhir. Aku pun keluar dari ruangan baruku. Ruangan yang begitu luas. Sama seperti ruang sekertaris Ve yang luas. Dan hampir sama juga dengan ruangan pak Wibowo.


Kulangkahkan kaki menuju teras kantor. Menunggu sekertaris Ve yang akan mengantarkanku pulang. Saat aku sedang duduk, tiba-tiba beberapa orang karyawan staf back office datang menghampiriku.


"Wow! Alangkah senangnya bisa menjadi atasan kami!" Elli yang biasanya ramah padaku, tiba-tiba saja datang dengan wajah sinis padaku. "Hei! Kau ini wanita rendahan!"


"Dasar tidak tahu malu!" ucap salah seorang karyawati lainnya.


"Pelakor!" ucap Elli padaku.

__ADS_1


Aku pun berdiri menatap mereka dengan bingung. "Apa maksud kalian?"


"Jangan pura-pura bodoh dan polos! Ternyata, kau tidak hanya pelakor! Tapi menjijikkan! Kau sengaja mendekati putra kedua pak Wibowo, ya! Kau ingin merebutnya dari dokter Vanessa?" Elli menatapku dengan sinis.


"Gosip tentang kalian baru saja terkuak! Kau sangat murahan, Imania. Kau PELAKOR!" ucap yang lainnya.


"Aku bukan pelakor!" Dengan bibir yang gemetar, aku mencoba membela diri.


"KAU PELAKOR!!"


"Ada apa ini?"


Sekertaris Ve tiba-tiba muncul. Dan itu membuat mereka cepat-cepat pergi meninggalkanku.


"Imania, ada apa?" Sekertaris Ve menatapku dengan heran.


"Aku ingin bicara denganmu di mobil, Kak Ve."


Aku dan sekertaris Ve pun segera masuk ke dalam mobil. Sekertaris Ve pun menjalankan mobilnya. Di tengah perjalanan, ada rasa pedih yang menusuk dadaku. Mengapa mereka membully-ku seperti itu?


"Kak Ve?"


"Ya."


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Apa maksudmu?"


"Mengapa aku dipromosikan?"


"Oh, itu karena kinerjamu bagus."


"Aku baru bekerja sebulan. Dan ... itu tidak mungkin."


"Kenapa? Apa kau tidak senang?"


"Ini terasa aneh. Aku merasa tidak pantas mendapatkan jabatan setinggi itu."


"Kau pantas mendapatkannya, Imania."


"Apa pak Wibowo setuju bahwa aku menjadi manager?"


"Dia setuju."


Ini mengejutkan. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin, kan, pak Wibowo secara murni menyetujui jabatanku?


"Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Bukankah kau bilang, kau ingin bekerja dengan serius di kantor? Jabatanmu yang sekarang bukan main-main, Imania. Kau memiliki peran khusus dan penting dalam kemajuan bank. Dan kau harus bekerja keras. Kamu mengerti bukan?"


"Aku masih tidak mengerti."


Sekertaris Ve menghentikantikan laju mobilnya. Membuatnya menepi di sisi jalan.


Sekertaris Ve menyentuh pundakku. "Bukankah kau pernah bilang, kau tidak mau makan gaji buta? Kau ingin bekerja dengan serius? Jabatanmu yang sekarang menuntutmu dengan tanggung jawab yang besar. Jadi, bekerjalah dengan baik," terang sekertaris Ve dengan senyum mengembang.


Entah ini adalah sebuah kebahagiaan atau justru bumerang untukku sendiri. Ada rasa khawatir dalam dadaku. Entah perasaan apa.


"Kak Ve?"


"Hm ...."


"Apa kau tahu tentang gosip yang tengah beredar tentangku?"


Mendadak wajah sekertaris Ve berubah. Senyum yang sedari tadi terlukis di wajahnya, perlahan-lahan memudar. Matanya menatap lurus ke depan.


"Kau harus melewati ujian ini," katanya tanpa menatapku.


"Mengapa ... mengapa ini bisa terjadi?"

__ADS_1


Sekertaris Ve menghela napas panjang. Lalu berkata, "Buka Instagram dokter Vanessa. Di situlah jawabannya."


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2