
"Imania, bisa kau ulangi jawabanmu?" ucap Rudi seakan tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar.
Aku beranjak mendekat ke pada Rudi. Kutatap bola mata Rudi yang berbinar-binar. Kemudian kuletakkan telapak tangan kananku di atas telapak tangan Rudi. Kulempar sebuah senyuman padanya, dan berkata lagi, "Aku mau berkencan denganmu."
Dengan mata melebar, Rudi langsung menggenggam tanganku dengan lembut. Ia pun membawaku berjalan menuju panggung. Kemudian berkata sembari menghadapkan tubuhku padanya, "I love you."
Rudi mendekatkan mic itu ke bibirku. Adegan yang persis seperti yang Nessa dan Dimas lakukan. "I love you," ucap Rudi lagi.
"I love you too," jawabku.
Riuh suara tepuk tangan pun terdengar. Kulirik ke arah Dimas. Ia tampak tidak nyaman dengan situasi ini. Ia tampak menahan amarahnya. Aku bisa melihat jelas, bahwa ia cemburu padaku. Aku tahu persis arti kepalan tangannya itu. Dan ekspresi dingin di wajah tampannya.
Biar saja. Biar dia merasakan apa yang kurasakan. Dia memintaku menolak Rudi, tapi dia sendiri tidak bisa menolak Nessa. Ah, kurasa ini seimbang. Kamu pikir, cuma kamu yang bisa menyakitiku? Aku juga bisa.
"Baik. Karena saat ini, aku sedang sangat berbahagia, maka ... untuk seluruh pengunjung yang makan di sini, hari ini GRATIS!" ucap Rudi, yang langsung disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai para pengunjung restoran.
Rudi tersenyum sembari menatapku. "Terima kasih ... sudah mau menerimaku, Imania."
Aku membalas senyuman Rudi. Dan berkata, "Terima kasih juga, telah mencintaiku, Rudi."
Selanjutnya, Rudi memintaku untuk memainkan sebuah lagu piano. Aku pun mengangguk setuju. Lalu Rudi menggandeng tanganku, membawaku menuju piano yang memang tersedia di depan. Setelah Rudi mempersilakanku, aku duduk dan meletakkan jemariku di atas tuts piano.
Sebuah lagu, berjudul 'Don't Watch Me Cry' dari Jorja Smith, kumainkan. Kuluapkan segala perasaanku lewat lagu ini. Lagu yang lembut dan menyentuh hati. Lagu yang mewakili perasaanku saat ini.
Oh, it hurts the most cause I don't know the cause.
(Oh, ini begitu menyakitkan karena aku tak tahu penyebabnya)
Maybe I shouldn't have cried when you left and told me not to wait.
(Mungkin tak seharusnya aku menangis saat kau pergi dan mengatakan padaku jangan menunggu)
Oh, it kills the most to say that I still care.
(Oh, ini begitu menyakitkan untuk diucapkan, bahwa aku masih peduli)
Now I'm left tryna rewind the times you held and kissed me back.
(Kini aku mencoba mengulang kembali saat kau memeluk dan menciumku)
I wonder if you're thinking "Is she alright all alone?"
(Aku penasaran apa kau memikirkan "Apa dia baik-baik saja?")
I wonder if you tried to call, but couldn't find your phone.
(Aku penasaran apa kau pernah mencoba tuk menghubungiku, tapi tak bisa menemukan ponselmu)
Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine?
(Pernahkah aku terlintas dalam benakmu?)
A moment in time, don't watch me cry.
(Untuk sesaat, jangan melihat aku menangis)
A moment in time, don't watch me cry
(Untuk sesaat, jangan melihat aku menangis)
I'm not crying 'cause you left me on my own.
(Aku tak menangis karena kau meninggalkanku sendiri)
I'm not crying 'cause you left me with no warning.
(Aku tak menangis karena kau meninggalkanku begitu saja)
__ADS_1
I'm just crying 'cause I can't escape what could've been
(Aku menangis karena aku tak bisa menerima apa yang telah terjadi)
Are you aware when you set me free?
(Apa kau sadar saat kau meninggalkanku?)
All I can do is let my heart bleed.
(Yang bisa kulakukan hanyalah merelakan hatiku terluka)
Oh, it's harder when you can't see through the thoughts.
(Oh, ini lebih sulit ketika kau tak bisa berpikir jernih)
Not that I wanna get in, but I want to see how your mind works.
(Bukan karena aku ingin masuk ke pikiranmu, tapi aku ingin melihat cara kau berpikir)
No, it's harder when they don't know what they've done.
(Tidak, ini lebih sulit ketika mereka tak tahu apa yang telah mereka lakukan)
Thinking it's better they leave, meaning that I'll have to move on.
(Aku berpikir lebih baik mereka pergi, berarti aku harus pindah ke lain hati)
***
Malam harinya, aku sedang duduk bersantai bersama Fania dan Arka di sofa. Kami sedang asyik makan kue dan camilan yang kami beli sepulang dari restoran Rudi.
"Imania, sebenarnya apa yang terjadi pada diri Nessa? Mengapa dia bilang begitu tadi? Dia bilang usianya sudah diprediksi. Apa maksudnya?" tanya Fania.
"Dia terkena penyakit jantung."
"Benarkah? Apa separah itu?"
"Bagaimana kalau Nessa berbohong? Bagaimana jika itu hanyalah sebuah alasan agar Dimas tidak meninggalkannya?"
"Itu tidak mungkin. Aku pernah beberapa kali mendapati saat penyakit Nessa kambuh. Dan ia tampak sangat kesakitan."
"Hm ... mendengar cerita Nessa, wajar bila Dimas tak bisa berkutik," gumam Fania. "Dimas pasti terjebak dengan janjinya sendiri semasa kecilnya. Dan ia hanya berusaha menepati janji tersebut."
Jika benar, ia hanya sedang menepati janjinya pada Nessa, mengapa ia tak menepati janjinya padaku? Itu sama saja, bahwa Dimas bertindak tidak adil padaku.
"Imania, aku memperhatikan mimik Dimas saat kau dan Rudi berdekatan. Wajahnya itu, tampak seperti ingin membantai orang. Aku yakin, dia sangat terbakar cemburu."
"Ya, baguslah."
Fania terdiam sejenak, kemudian bertanya lagi, "Imania, apa kau serius menerima Rudi? Atau ... kau hanya menggunakan Rudi untuk membalas perbuatan Dimas padamu?"
Pertanyaan Fania membuatku terkejut. "A-apa maksudmu?"
"Aku hanya khawatir, bila sampai kau membohongi perasaanmu sendiri, sekaligus perasaan Rudi. Jangan sampai kau hanya menggunakan Rudi untuk pelarian. Atau sekadar balas dendam kepada Dimas. Itu akan melukai Rudi. Dan itu pasti menyakitkan sekali. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal tersebut," tutur Fania yang duduk berseberangan denganku.
Pertanyaan Fania membuatku bergeming.
"Jangan lakukan itu, Imania. Apa bedanya kau dengan Dimas? Kau sama saja egois jika sampai itu terjadi. Kau juga akan melukai perasaan Rudi. Aku tidak tega membiarkan Rudi terluka."
"Fania, apa kau menyukai Rudi?" tanyaku. Aku memperhatikan gelagat Fania sejak di restoran tadi, seperti tidak ikut bahagia menyaksikan hubunganku dengan Rudi.
"A-apa? What? Aku menyukai Rudi? Oh, i-itu tidak mungkin, Imania. Please, jangan bercanda, ha-ha! Itu ... itu tidak mungkin!" jawab Fania dengan gugup. Itu cukup membuktikan bahwa Fania sedang berbohong.
Aku menatap Fania bergeming. Sebenarnya, sejak awal bertemu dengan Rudi, Fania sudah memiliki ketertarikan tersendiri pada Rudi. Namun, Fania masih menyembunyikan perasaannya sampai sekarang. Oh, ini tidak benar. Seharusnya, Fanialah yang mendapatkan cinta Rudi, bukan aku.
"Imania, aku hanya kasihan pada Rudi. Dia lelaki yang baik. Ya, walaupun kadang-kadang sangat menjengkelkan. Jadi ... jangan berpikir lebih! Aku tidak menyukainya. Aku hanya tidak ingin kau sampai melukai hati seseorang," tutur Fania.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, aku berangkat dijemput Rudi. Dia mengantarkanku ke kantor.
"Imania, jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan, ya? Jangan sampai kelelahan," ucap Rudi saat sampai di depan kantor.
Kujawab dengan anggukan disertai senyuman. "Terima kasih, Rud," ucapku.
"Sama-sama."
Saat aku hendak membuka pintu mobil, Rudi menahan lenganku. Dan itu membuatku mengurungkan niat untuk keluar dari mobil.
"Ada apa, Rud?" tanyaku heran melihat Rudi menatapku seperti itu.
Rudi mencondongkan tubuhnya padaku. Mendekatkan wajahnya padaku. Membuatku terkejut dan gugup.
"Rudi," panggilku.
Tiba-tiba saja Rudi menyentuh dan mengusap bibirku menggunakan ujung ibu jarinya. "Lipstikmu sedikit berantakan," ucapnya seraya terus menatapku.
Segera aku menjauh dan menghadapkan wajahku pada spion kiri mobil. Benar kata Rudi, lipstikku sedikit berantakan.
"Ini." Rudi mengambil selembar tissue yang terletak di kabin. Kemudian memberikannya padaku.
"Terima kasih," ucapku sembari meraih tissue tersebut.
Usai merapikan lipstik di bibirku, aku pun turun dari mobil, dan masuk ke dalam kantor. Saat aku sedang berjalan menuju ruanganku, tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggilku.
"Tunggu!"
Kuhentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara. Pak Wibowo?
"Bisa ke ruanganku terlebih dahulu?" tanyanya masih dengan wajah yang dingin.
"Baik, Pak."
Pak Wibowo yang juga baru berangkat pun berjalan mendahuluiku, dan aku mengekor di belakangnya. Ada apa dia memintaku ke ruangannya? Apa sekadar urusan pekerjaan. Atau ada hal lain yang ingin ia bicarakan?
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Note :
Don't Watch Me Cry merupakan lagu dari album Lost & Found (2018) yang dirilis pada tahun 2017. Mungkin sebagian dari kalian belum ada yang tahu liriknya dan mengerti arti liriknya. Lagu ini dinyanyikan oleh Jorja Smith.
Jorja Alice Smith adalah penyanyi dan penulis lagu asal Inggris dari Walsall, West Midlands. Jorja bersekolah di Aldridge Secondary School. Dia merilis drama panjang debutnya, Project 11, pada November 2016.
Lagu Don't Watch Me Cry, berarti 'Jangan Melihat Aku Menangis'.
_____________________________________________
Hai, Readers terKeceh Badaeh!
Maafkan Author karena kemarin malam tidak UP, ya?
Author selalu berusaha agar kalian tidak kecewa. Author berusaha sekuat hati dan pikiran untuk terus berkarya dan rajin UP. Semoga kalian suka dengan karya Author Keceh.
Oh, ya? Bolehkah Author Keceh meminta satu hal saat ini dari kalian?
Saat ini, Author Keceh butuh banget dukungan dari kalian Readers Tersayang. Dengan cara klik RATING BINTANG LIMA untuk novel ini.
Kalian bisa, kan? Saat ini, Author sangat membutuhkan itu. Dari sekian banyak Readers Keceh, yang biasa LIKE dan COMENT. Yang biasa baca, yang tidak bisa Author Keceh sebutkan satu per satu. Mohon untuk bisa meng-KLIK RATE BINTANG LIMA untuk Author Keceh, ya?
Author yakin, selama ada kalian semua yang mendukung Author Keceh berkarya, dengan memberikan KECUPAN BINTANG LIMA, novel ini dapat terus berada di beranda, diketahui, dan dibaca banyak orang.
Jadi ... saat ini Author Keceh sangat berharap, agar kalian bersedia memberikan RATING BINTANG LIMA, ya?
__ADS_1
THANK YOU SO MUCH! AUTHOR AKAN SELALU MENGHIBUR DAN BERKARYA SEBAIK MUNGKIN UNTUK KALIAN SEMUA.
KECUP SAYANG NUN JAUH DARI AUTHOR KECEH. 😘