BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Hari Ulang Tahunku


__ADS_3

Malam yang dingin. Malam selalu terasa dingin. Terlebih tanpanya yang biasanya selalu menghangatkan hatiku dengan cinta. Aku duduk di balkon sendirian. Menatap langit hitam tanpa bulan, tanpa bintang. Ibarat hatiku, tanpa kasih dan cintanya.


Kuakui, aku belum bisa move on darinya. Akan tetapi, aku masih bersikeras melupakannya. Bagaimana mungkin bisa terasa mudah? Sedangkan dia terasa begitu manis dan indah.


Fania dan Arka sudah tidur. kulihat jam di handphone menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sebentar lagi, se-jam lagi pukul satu. Itu berarti, usiaku genap 25 tahun.


Biasanya, Dimas selalu stand by mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan doa terbaik untukku. Ah, kenapa aku terus menerus mengingatnya? Padahal sudah kuusahakan untuk melepaskannya. Faktanya sulit, hampir setiap detik ketika aku sendiri, yang kuingat adalah dirinya.


Kutatap kembali layar handphone yang menunjukkan waktu yang terus bertambah. Hingga saat waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB. Segera kupejamkan kedua mata, berdoa yang terbaik untuk diri sendiri dan putraku.


Ya Allah SWT ... hari ini usiaku bertambah dan umurku berkurang. Aku tidak minta muluk-muluk pada-Mu. Aku hanya ingin aku dan putraku bisa hidup bahagia. Aku juga meminta pada-Mu, agar kehidupanku dilancarkan.


Tiba-tiba aku teringat Dimas.


Ya Tuhan ... jika dia memang jodohku maka persatukanlah. Bila bukan jodohku, maka bantulah aku melupakannya dan move on darinya. Berikan aku cinta yang Engkau ridhai. Semoga kehidupanku menjadi lebih baik tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya. Aamiin.


Kubuka kedua mataku, dan aku terkejut sudah ada yang berdiri di hadapanku.


"Happy birthday!"


"Fania."


Aku menatap sebuah kue yang berada di tangannya. Kue kecil sederhana yang sepertinya dibuat oleh Fania sendiri. Karena hiasannya cukup simple dan angka 25-nya yang terbuat dari kertas karton itu terbalik. Terlebih lilin yang Fania gunakan adalah lilin yang dipakai untuk menerangi rumah saat mati lampu.


"Selamat ulang tahun, adikku Sayang," ucapnya sembari tersenyum.


Aku menatapnya heran. "Bagaimana kau tahu hari ulang tahunku?"


"Fania, gitu, loh!"


"Fania." Aku menatapnya terharu.


"Ayo, tiup lilinnya. Kau sudah berdoa, kan, tadi?"


Aku tersenyum melihatnya. Kupikir Fania sudah tidur, tidak menyangka sama sekali, Fania membuat kejutan seperti ini.


"Tiup lilinnya!" perintah Fania sembari mendekatkan kue tersebut ke wajahku.


Aku pun meniup lilin yang hanya satu itu. Lilin yang Fania tancapkan di tengah kue tersebut. Kuenya tampak begitu lucu. Namun, Fania sudah cukup sweet dengan memberiku kejutan dengan hasil tangannya itu.


"Horey! Sekarang ayo potong kuenya!" ajak Fania bersemangat. Fania meletakkan kue di atas meja sampingku duduk. Lalu ia sendiri juga mengambil duduk di sebelah meja tersebut.


Aku mengambil pisau dapur yang Fania bawa itu. Sembari tersenyum, aku memotongnya.


"Horey! Ayo, cicipi kue buatanku!"


Fania mengambil kue yang tadi kupotong, lalu menyuapiku. "Ayo, buka mulutmu!"


Aku tersenyum melihat tingkahnya. Kubuka mulutku dan Fania segera memasukkan kue tersebut ke dalam mulutku. Aku terus tersenyum haru menatap Fania. Hingga saat lidahku mulai merasai kue tersebut, aku bergeming.


"Ada apa? Apa rasanya enak?" tanya Fania.


Bersikeras aku menelannya, kemudian melempar senyum kepadanya.


"Enakkah?" Fania menatapku depan bola mata melebar.


Aku mengangguk sembari tersenyum.


"Kalau begitu, ayo, lagi. Biar kusuapi, ya?"


"Aku bisa sendiri, Fan. Biar aku saja."


Akan tetapi, Fania tetap memaksa. Ia pun kembali menyuapiku. "Ayo, buka mulutmu, Imania."


Kembali kubuka mulutku. Fania dengan wajah bahagia menyuapiku. Kembali kukunyah pelan sembari terus melempar senyum. Menghargai setiap usahanya membuat kue yang terasa sangat dan sangat aneh ini.

__ADS_1


"Kau suka?" tanya Fania dengan mimik gembira.


Aku mengangguk sembari tersenyum. Hanya itu yang bisa menyembunyikan rasa aneh di mulutku.


"Maaf, aku hanya bisa membuat kue yang kecil. Tapi lain kali, di ulang tahunmu yang berikutnya, aku akan membuatkanmu kue yang lebih besar."


"Fania, bagaimana caranya kau membuat kue ini? Maksudku, kau tahu cara membuat kue darimana?"


"Dari YouTube, dong?" ujar Fania dengan percaya diri. "Apa ... rasanya benar-benar enak?"


"Ya, rasanya enak. Aku suka," jawabku sembari tersenyum.


"Kalau begitu, biar aku mencobanya." Fania pun memotong kue lagi.


Aku langsung menahan tangannya. "Bukankah kue ini untukku?"


"Apa aku tidak boleh mencicipinya?"


"Tidak. Ini milikku."


Fania mengerucutkan bibirnya. "Aku hanya ingin merasai kue buatanku sendiri. Ini kue pertamaku. Dan kubuat spesial untukmu. Apa kau tahu? Membuat kue kecil seperti ini butuh enam jam. Aku sudah dibuat bingung untuk membuat kue dengan tekstur yang pas dan lembut seperti ini."


"Memangnya, berapa kali kau membuat kue?"


"Ini kue keempat yang kurasa sempurna," jawabnya senang.


Fania membuatku terharu. Aku pun beranjak dari kursi dan mengajak Fania untuk berdiri. Kupeluk tubuhnya erat. Tak terasa air mataku jatuh juga.


"Terima kasih, sudah bersusah payah memberiku kejutan," ucapku.


"Sama-sama. Ini pertama kali aku membuat kejutan untuk seseorang. Sebelumnya, aku tak pernah melakukan ini."


"Terima kasih ...."


Fania melepas pelukanku. Ia menatapku dan mengusap air mataku sembari berkata, "Jangan pernah bersedih. Ada aku di sini bersamamu. Kita bisa berbagi susah dan sedih kita bersama. Aku harap, kau selalu bahagia dan menerima takdir yang baik. Beserta jodoh terbaik pula."


"Ya, sudah. Kalau aku tidak boleh mencicipi kuenya, cepat bawa dan simpan ke kulkas."


Aku tersenyum dan memeluknya erat sekali lagi. Dalam hati, aku sangat bersyukur mendapatkan sahabat sepertinya. Meski kadang seperti anak kecil, tetapi dia bisa melakukan hal-hal sweet demi membuat seseorang merasa senang.


Tentang kue buatannya. Rasanya seperti ... manis sekali, ini tidak baik untuk pengidap diabetes. Untung kadar gula darahku normal. Entah berapa banyak Fania menambahkan gula untuk membuat kue ini. Ada lagi rasa pahit, entah darimana rasa pahit itu. Atau mungkin, Fania menambahkan bubuk cokelat yang terlalu banyak, sehingga kuenya menjadi terasa pahit.


Mengenai tekstur yang Fania bilang lembut dan sempurna, sebenarnya aku sangat geli mendengarnya. Bahkan, kue tersebut begitu lembek. Saat aku memotongnya saja, kue tersebut tidak mau lepas dari pisau. Akan tetapi, aku begitu terharu dan bahagia atas usaha kerasnya untuk menyenangkan hatiku.


Terima kasih, Fania. Kau adalah sahabat terbaikku. Di hari ulang tahunku ini, aku juga berdoa agar kau cepat dipertemukan dengan ayah kandungmu. Aamiin.


***


Pagi di hari ulang tahunku. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, jadi aku libur dan menggunakan waktu liburku untuk melakukan segenap pekerjaan rumah.


Usai memasak, aku membersihkan rumah. Menyapu dan mengepel lantai, lalu mengelap kaca. Setelah itu, kubersihkan halaman.


Di hari-hari biasanya, Fania hanya bertugas memandikan Arka, memberikan Arka makan, dan menjaga Arka. Jadi, dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah seperti ini. Wajar bila seminggu sekali rumah terasa begitu kotor. Karena aku tidak selalu sempat membersihkannya setiap hari.


"Eghem!"


Terdengar suara dari balkon. Aku pun menoleh ke atas. Fania sudah berdiri di sana.


"Tumben sudah bangun."


"Ini hari Minggu, kan?"


"Iya, kenapa?"


"Kita tidak berbelanja?" tanya Fania.

__ADS_1


Aku pura-pura mengabaikannya sembari terus menyapu halaman.


"Imania, ayolah?"


Aku tahu, persediaan jajanan Fania sudah habis. Sudah pasti dia merengek.


"Imania!"


"Hm ...."


"Ah, menyebalkan! Harusnya kau mentraktirku makan di restoran untuk merayakan hari ulang tahunmu."


Aku tertawa kecil mendengar rengekannya itu.


Tiba-tiba mobil berwarna putih berhenti di depan pintu gerbang rumahku. Mobil putih dengan balutan pita berwarna pink. Suara klakson mobil tersebut berbunyi meminta untuk dibukakan pintu gerbang.


"Imania, itu siapa?" tanya Fania yang masih berada di balkon.


Kuangkat bahuku sembari memandang ke arah Fania, mengisyaratkan 'aku tidak tahu'.


"Oke, aku turun!"


Suara klakson mobil itu terus meminta dibukakan pintu. Aku menghampiri dan langsung membuka pintu gerbang tersebut. Mobil pun masuk ke halaman dan berhenti tepat di depan rumah. Diikuti sebuah mobil berwarna merah yang mengekor di belakang mobil putih tersebut.


Seseorang turun dari mobil berwarna putih. Seorang lelaki yang asing bagiku. Dan seorang wanita turun dari mobil berwarna merah. Yang juga tampak asing bagiku. Sepertinya mereka adalah petugas dari dealer.


Aku menghampiri mereka dengan bingung. Apa mereka salah alamat? Fania pun menyusul, menghampiriku.


"Dengan Imania Saraswati," ucap lelaki tersebut seraya mengulurkan tangannya.


Aku pun menjabat tangannya. "Iya benar."


Kami pun saling melepaskan tangan. Lalu wanita dengan pakaian seksi itu menyodorkan sebuah surat dan bolpoin padaku.


"Silakan ditandatangani," katanya.


Aku masih menatapnya bingung. "Maaf, ini ... apa Anda salah mengirim mobil? Aku sama sekali tidak membeli mobil."


"Kau memang tidak membeli mobil ini. Akan tetapi seseorang membeli mobil ini dan meminta kami untuk mengirimkannya ke alamat ini," ucap lelaki tersebut.


"Benar, silakan tanda tangani surat-surat ini."


"Imania, siapa yang memberikan mobil ini?" tanya Fania yang ikut bingung.


"Aku juga tidak tahu," jawabku.


Aku pun membaca surat-surat itu. Dan semua isinya adalah atas namaku, termasuk surat kepemilikan kendaraan. Siapa yang melakukan semua ini?


"Maaf, apa Anda tahu, siapa yang membeli mobil ini untukku?"


"Kami hanya diutus pak Ardi untuk mengirimnya ke sini," jawab lelaki tersebut.


"Ardi? Ardi Baskoro?" tanyaku terkejut.


"Ya, benar."


"Siapa Ardi Baskoro?" tanya Imania sembari merangkulku.


"Dia adalah pemilik dealer dan showroom mobil terbesar di Indonesia," jawabku.


"Wah, keren!" gumam Fania.


"Silakan ditandatangani. Kami masih ada urusan penting," kata wanita tersebut.


Dengan perasaan bingung dan kaget, aku menandatangani surat-surat tersebut. Hatiku masih menerka-nerka, siapa yang melakukan semua ini?

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2