BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Malam Pertunangan


__ADS_3

Saat kaki ini baru masuk ke lobby, semua mata memandang ke arahku. Semua menunduk sembari menarik garis senyum di bibir masing-masing. Ada apa ini? Mengapa atmosfer terasa berbeda. Apa karena sudah sebulan lebih aku tidak masuk, sehingga mereka memberi sikap dan salam seperti itu?


"Pagi, Bu Imania," sapa seorang yang bertugas sebagai teller.


"Pagi, Bu Imania."


Semua menyapaku. Membuatku sedikit merasa aneh. Biasanya tidak seperti itu. Saat aku berjalan melewati mereka pun, aku sendiri yang menyapa mereka terlebih dahulu.


"Iya, pagi juga semuanya," balasku sembari mengulum senyum.


"Apa kabar, Anda, Bu Manager," sapa seorang wanita yang bertugas sebagai customer service.


"Baik."


"Kami turut berduka cita atas meninggalnya putra Ibu."


"Terima kasih."


Aku berjalan kembali menuju kantor bagian belakang. Menakjubkan. Hal yang sama pun terjadi.


"Selamat datang kembali, Bu Manager."


"Selamat pagi, Bu."


"Apa kabar Anda, Bu Manager."


Mataku terpaku sesaat, kemudian menyapu pandang ke arah mereka. "Pagi juga semuanya. Terima kasih atas sambutannya."


Sekertaris Ve yang baru datang, menghampiriku. "Imania, kau kembali bekerja?"


"Aku bosan di rumah."


"Mari bicara di ruanganku," ajaknya.


Sekertaris Ve masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan aku menatap sekeliling sejenak. Kenapa meja kerja mas Bastian kosong? Biasanya, dia selalu tepat waktu berangkat ke kantor.


"Ada apa, Bu?" tanya salah seorang karyawan staf kantor.


"Em ... Apa Bastian masih bekerja di sini?" tanyaku.


"Dia masih bekerja di sini, kok, Bu. Kemarin juga masih masuk. Ini tidak biasanya dia terlambat datang ke kantor."


"Oh, ya, sudah. Lanjutkan pekerjaan kalian."

__ADS_1


"Baik, Bu."


Aku masuk ke ruangan sekertaris Ve. Lalu duduk di sofa, bersebelahan dengan sekertaris Ve.


"Apa kabarmu, Imania."


"Aku baik. Bagaimana denganmu, Kak Ve."


"Tidak baik."


"Kenapa?"


"Aku belum meminta maaf pada Fania."


"Kenapa tidak bicara langsung saja dengan Fania? Datanglah ke rumah orang tuaku. Bagaimanapun kau adalah kakak dari ibunya Fania."


"Aku yang menyebabkan Arumi meninggal." Wajah sekertaris Ve berubah sedih. "Jika saja aku mengikutinya saat ia terusir dari desa dulu. Tentu dia tidak akan sebegitu menderita. Aku ini kakak macam apa?"


"Kak Ve, selalu ada pintu maaf. Kau sendiri belum mencoba bicara dengan Fania. Tidak seharusnya kau pesimis seperti itu."


"Imania, asal kau tahu. Kenapa Wibowo memberikan kehidupan yang mewah padaku? Itu adalah karena Arumi."


"Apa maksudmu?"


Aku jadi teringat perkataan mbah Mar saat meramal sekertaris Ve, waktu itu ....


"Kau ... kau memiliki karir yang cukup bagus. Namun, itu bukan karena prestasi. Kau hanya beruntung karena menempel pada seseorang. Dan kau juga memanfaatkan situasi masa lalu untuk peluangmu sendiri." (episode 128)


Kusentuh pundak sekertaris Ve. "Masih ada waktu untuk meminta maaf. Jika beruntung, kau pasti termaafkan."


"Dosaku begitu besar terhadap Fania dan Arumi. Aku bahkan tidak berusaha mencari Fania saat itu. Aku hanya sibuk menikmati kehidupan baruku," sesal sekertaris Ve.


Sekertaris Ve menatapku dan meremas jemariku. "Imania, bantu aku bertemu dengan Fania," lanjutnya.


"Baiklah. Aku pasti akan membantumu."


"Bagaimana dengan pernikahanmu dengan Dimas? Pak Wibowo sudah mengumumkan tentang pernikahan kalian kepada seluruh karyawan kantor kemarin."


"Oh, pantas, semua terlihat berbeda hari ini." Aku manggut-manggut.


Aku dan sekertaris Ve pun berbincang mengenai rencana pernikahanku.


***

__ADS_1


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku sudah mengenakan dress panjang berwarna peach yang sangat indah. Dress ini dikirim oleh bu Hera lewat jasa pengantar paket. Bu Hera mengirimiku pesan, katanya ini dress impor dari luar negri. Pantas, modelnya sangat glamor dan mewah.


"Imania, kau cantik sekali malam ini," puji Fania yang tengah merias wajahku.


Kukenakan pashmina warna senada yang sepaket dengan pakaian yang kukenakan. Tampilanku malam ini, semua ditangani oleh Fania. Kurasa ... Fania ada bakat dalam hal fashion dan tata rias. Aku sampai pangling melihat wajahku di cermin.


"Aku yakin, Dimas akan semakin klepek-klepek sama kamu."


Saat aku baru selesai di-make up, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Ah, itu pasti mereka. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan. Mereka datang tepat waktu.


Fania yang juga tampil sangat cantik malam ini, menuntunku ke ruang depan. Semua mata memandangku. Aku merasa malu karena baru pertama kali didandani seperti ini. Saat menikah dengan mas Bastian, aku dirias sederhana dan biasa saja, karena memang pernikahan kami tidak begitu mewah. Namun kali ini, baru acara lamaran, aku sudah didandani seperti mau resepsi.


High heels yang kukenakan membuatku cukup sulit berjalan. Ukurannya yang lumayan tinggi membuatku sesekali hampir terhuyung. Semua yang kukenakan adalah pemberian dari bu Hera.


Raut wajah Fania berubah saat melihat pak Wibowo. Namun, Fania berusaha menutupi perasaannya. Itu terlihat jelas dari cara Fania menghindari tatapan pak Wibowo.


Setelah kedua keluarga berkumpul, acara pun dimulai. Pak Wibowo menjelaskan maksud kedatangan keluarganya kepada kedua orang tuaku. Kemudian acara inti pun dimulai. Yaitu, pemasangan cincin tunangan.


Aku dan Dimas berdiri. Ia mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah. Menatapku sembari tersenyum.


"Kau sangat cantik malam ini," pujinya.


"Kau juga, sangat tampan malam ini," balasku memuji.


"Eghem! Kapan dimulainya?" seru Helena tidak sabar.


Setelah puas saling menatap, akhirnya Dimas pun berkata, "Will you marry me?"


"Yeah, of course," jawabku sembari mengulurkan tangan.


Dimas menatap jari tengahku sedikit terkejut. "Nia, itu?"


"Nia, hari ini aku hanya bisa memberimu cincin imitasi. Tetapi percayalah. Suatu saat nanti akan kuselipkan sebuah cincin emas di jari manismu ini. Tunggu sampai aku berhasil lulus sarjana," ucap pria manis nan tampan tersebut. Bersimpuh di hadapanku seraya menyelipkan sebuah cincin perak cantik bertuliskan huruf 'D'. (Episode 4)


"Kau masih menyimpannya?"


"Aku selalu menyimpannya."


Dimas hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Cincin perak berhuruf 'D' yang menghias jari tengahku adalah pemberiannya sepuluh tahun yang lalu.


Dimas meraih jari manisku dan menyelipkan cincin berlian itu di sebelah cincin perak berhuruf 'D' dengan senyum yang terus mengembang. Perasaan sama seperti yang tengah kurasakan. Janjinya kini bukan imitasi lagi. Bahkan, Dimas memberiku cincin berlian, bukan emas. Cinta kami memang luar biasa rumit, sekaligus luar biasa menakjubkan, bukan?


Malam ini aku sangat bahagia. Aku menemukan hatiku kembali. Pria yang dahulu pernah memberiku janji manis, malam ini ia menepatinya. Bukan tentang seberapa besar cinta kami berdua. Namun, seberapa jauh dan berat perjuangan kami untuk bersatu lagi. Membangun sebuah arti dari sebuah kata, yang biasa disebut dengan 'pertunangan'.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2