BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Egois


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Tetapi kupastikan, bahwa suasana hati Nessa sedang kurang baik.


"Setelah kau membayar belanjaanmu, aku ingin berbicara sebentar. Aku menunggumu di depan!" Nessa bicara dengan intonasi yang agak naik. Wajahnya juga tanpa seulas senyuman pun padaku.


Aku menangkap sinyal tidak beres padanya. Ini pasti terkait dengan hubunganku dan Dimas. Jadi, setelah aku membayar belanjaanku, Aku pun segera menghampiri Nessa yang masih menungguku di depan supermarket tersebut.


Sejenak mataku menerawang ke dalam. Di mana Arka dan Fania? Aku pun mengambil handphone untuk mengirimi Fania pesan.


[Fania, kalian di mana?] Klik send.


Sembari menunggu balasan dari Fania, aku pun menuju Nessa yang sedang berdiri di depan supermarket.


"Nessa?"


"Aku ingin bicara denganmu!"


"Di sini?"


"Tidak! Kita cari tempat lain saja."


Nessa pun pergi menuju mobilnya.


"Nessa?" panggilku. Dan Nessa pun menghentikan langkahnya. "Aku ke sini bersama Arka dan temanku."


Nessa pun berbalik. "Baiklah. Kita bicara di dalam mobil saja! Masuklah!"


Aku pun mengikutinya, untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Nessa, ada apa?"


"Aku dengar, kau dan Bastian bercerai?"


"Ya, itu benar," jawabku seraya menunduk.


"Kenapa harus bercerai?"


Aku terdiam sesaat. Aku berpikir, apa penting Nessa kuberitahu tentang masalah dalam rumah tanggaku? Tapi ... aku ragu untuk mengatakan hal itu padanya.


"Dari mana kau mendengar kabar perceraianku?" Aku bertanya balik.


"Dari Bang Hotman!"

__ADS_1


Mengapa semua orang tahu kabar perceraianku dari Hotman Paris? Rudi waktu itu juga mengatakan hal yang sama. Mengetahui kabar perceraianku dari Hotman Paris Hutapea tersebut.


"Kau tahu, kan? Hotman Paris itu sangat terkenal. Dia juga punya Instagram. Dari sana aku tahu, bahwa Dimas sudah menyewakan pengacara kondang tersebut untuk mengurus perceraianmu!" papar Nessa. "Hotman juga meng-upload foto bersama Dimas."


Aku menghela napas dalam. "Aku dan mas Bastian bercerai secara damai."


Nessa tertawa kecil. Lalu menatapku tajam. "Imania! Apa itu karena kau ingin kembali pada Dimas? Mana janjimu padaku? Apa kau benar-benar wanita yang sangat egois? Apa kau juga tidak bisa memikirkan perasaan orang lain? Dimas adalah tunanganku, Imania!"


Aku melihat wajahnya penuh dengan amarah. Ia menatapku seolah aku adalah seorang tahanan yang sedang ia interogasi.


"Nessa! Perceraianku dengan mas Bastian sama sekali tidak ada hubungannya dengan Dimas. Ini ... ini hanyalah masalah pribadi."


"Masalah pribadi kau bilang? Kalau begitu, katakan padaku. Apa masalahnya!"


"Aku tidak bisa menceritakan tentang itu padamu."


"Kenapa? Apa masalah pribadimu adalah karena kau ingin kembali pada Dimas? Apa seorang Bastian kurang memenuhi kebutuhanmu? Apa kau ingin hidup sebagai Nyonya Dimas yang kaya raya?"


Aku tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Nessa. Dia menudingku sehina itu. Tetapi aku mencoba mengontrol emosi.


"Aku tidak sehina itu, Ness! Bagiku ... kaya atau tidak, bukanlah jaminan untuk hidup bahagia. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu."


Ada yang menusuk di dadaku. Perkataan Nessa begitu menusuk. Aku tahu, Nessa sangat mencintai Dimas. Tetapi Dimas hanya mencintaiku. Dan sekarang, Nessa menyalahkanku.


"Kemarin Dimas menemuiku. Dia mengatakan padaku untuk membatalkan pertunangan kami. Kau tahu, kan? Aku sangat mencintainya! Aku sangat mencintainya, Imania!" air mata itu tumpah di mata indahnya. Mata yang sedari tadi menginterogasiku dengan tajam.


Nessa terus terisak. Aku menjadi bingung. Aku tidak bisa terus menerus berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Aku juga manusia biasa, bukan malaikat. Aku juga butuh cinta, butuh kasih sayang. Aku juga ingin bahagia dengan orang yang kusukai, Ness!


"Kau sangat jahat, Imania! Kau ingin menghancurkan kebahagiaanku! Kau jahat!" katanya seraya memukuli setir mobilnya.


"Ness? Aku tahu kau sangat mencintai Dimas. Dan kau juga tahu, kan, bahwa Dimas mencintaiku. Di sini siapa yang egois?"


"Kau ingin mengatakan bahwa aku egois?"


"Ya, kau sangat egois, Ness!"


Nessa pun menatapku dengan mata yang berair. "Apa aku egois? Aku juga bisa membahagiakan Dimas. Aku bisa menjadi istri yang baik untuknya. Dan aku juga bisa menjadi seperti yang dia inginkan. Apapun itu!" katanya yakin.


"Apa kau yakin? Jika kau memang seyakin itu pada dirimu sendiri. Seharusnya kau juga bisa membuat Dimas mencintaimu, bukan?"


Nessa terhenyak mendengar pernyataanku.

__ADS_1


"Ness ... cinta itu tidak bisa dipaksakan. Jika cinta sudah memilih tambatan hatinya, maka ia akan terus mengalir pada muaranya," kataku lembut.


"Lalu apa maumu? Kau ingin aku yang berkorban demi kalian? Kau ingin aku membatalkan pertunangan kami? Tidak! Jangan harap! Asal kau tahu! Keluarga Dimas sangat menyayangiku. Dan kau, hanyalah seorang janda, yang tidak mungkin bisa diterima oleh keluarga Dimas! Kau harus tahu itu!"


Aku terdiam. Meresapi seluruh kata-kata Nessa. Mengapa ... rasanya aku jadi kurang percaya diri dengan hubungan kami. Padahal, baru kemarin aku dan Dimas berjanji untuk saling berjuang dan menguatkan.


"Satu lagi! Kau harus camkan ini! AKU TIDAK AKAN MEMBATALKAN PERTUNANGANKU DENGAN DIMAS!!" Nessa berbicara dengan keras di telingaku. "Sekarang keluar! Keluar dan tinggalkan aku!!"


Tiba-tiba Nessa memegangi dadanya. Ia meringis seperti menahan nyeri di dadanya. Aku mengamatinya dengan seksama.


"Ness ... kau tidak apa-apa?"


"Pergi!!"


Aku pun keluar dari mobil Nessa. Tiba-tiba hand-ku berdering. Fania memintaku untuk masuk ke dalam supermarket. Sesaat sebelum masuk, aku menoleh ke arah Nessa yang sedang menangis di dalam mobilnya. Entah mengapa, sesungguhnya aku tidak tega melihat seseorang menangis, dan itu adalah gara-gara aku. Tapi ... aku ingin memperjuangkan cintaku dengan Dimas. Maafkan aku, Ness ....


Tidak lama mobil berwarna kuning itu pergi. Aku pun segera masuk memenuhi panggilan Fania. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat Fania sudah berdiri di depan kasir, dengan membawa trolli yang penuh berisi berbagai macam produk makanan. Dan Arka duduk di atas trolli tersebut. Fania tersenyum gembira melihat kemunculanku. Sedangkan aku, menatapnya dengan cemas. Jangan-jangan ... Fania tidak memiliki uang untuk membayarnya.


"Fania? Kau belanja banyak sekali!"


Dia tersenyum manis sekali padaku. Aku mendapati sinyal mencurigakan di dalam senyuman itu.


"Mengapa belum diberikan kepada kasir saja?" tanyaku was-was.


Dia menggigit bibir bawahnya, lalu berkata, "Aku menunggumu untuk membayarkannya dulu, he-he ...!"


Sudah kuduga. Ya, ampun ... Alien ini! Seharusnya aku tidak mengajaknya ke tempat seperti ini. Sekarang ... aku sendiri tak yakin, apakah sisa uangku cukup untuk membayarnya. Sedangkan, Arka terlihat begitu senang dengan berbagai macam camilan yang memenuhi trolli yang ditumpanginya.


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Hai ... hai ....


Author Keceh balik lagi, nih?


Wah, Nessa sangat marah dengan Imania. Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya, ya?


Saksikan terus kisah mereka, hanya di Novel BUKAN PELAKOR! (wkwk kayak sinetron aja, ya)


Thank You ...!

__ADS_1


__ADS_2