
Aku kembali duduk di meja kerjaku. Aku tidak berniat untuk menggarap tugas apapun lagi hari ini. Pikiranku masih kacau. Aku tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaan. Jadi, aku hanya duduk, diam di depan komputer.
Entah apa yang tengah terpikirkan oleh pak Wibowo. Dia tidak memarahiku, atau jangan-jangan dia sudah berniat untuk memecatku. Tidak tahu betapa marahnya dia padaku. Ini sudah terlanjur dan aku harus melewatinya.
***
Pukul empat sore, jam kerja pun berakhir. Aku berjalan keluar dari kantor.
"Imania!" seru seseorang di belakangku.
Aku menoleh. "Mas Bastian."
"Aku ingin bertemu Arka sebentar," katanya.
"Iya, boleh." Aku pun kembali berjalan menuju gerbang kantor.
"Imania!" serunya lagi.
"Ya, Mas," jawabku seraya menoleh.
"Kita pulang bersama, ya?"
"Aku sudah terlanjur meminta Fania untuk menjemputku."
"Oh, baiklah."
Mas Bastian pun berjalan menuju mobilnya. Sedangkan aku memilih berdiri di tepi jalan. Fania bilang, dia hampir sampai.
Mobil mas Bastian pun berlalu melewatiku.
"Aku duluan, Imania!" seru mas Bastian.
"Ya, Mas. Hati-hati!"
Aku sedang menunggu Fania dan ini lumayan lama. Aku kembali menghubungi nomornya. Namun, tak diangkat. Perasaanku mendadak cemas. Aku sudah berdiri lima belas menit-an. Padahal Fania bilang, lima menit lagi dia sampai.
Sebuah mobil berwarna merah keluar dari pintu gerbang. Mobil tersebut berhenti tepat di hadapanku berdiri.
"Imania? Apa kau sedang menunggu seseorang?" tanya sekertaris Ve.
"Iya, Kak. Aku sedang menunggu Fania."
Aku kembali menatap layar handphone. Pesanku belum juga terbaca. Aneh.
"Imania, ada apa?"
"Fania tidak membalas pesanku, Kak? Aku khawatir terjadi sesuatu padanya."
"Kalau begitu, mari kita tunggu sebentar."
Sekertaris Ve turun dan menemaniku menunggu kedatangan Fania. Mengapa sekertaris Ve mau ikut menunggu Fania? Apa dia melakukan ini semata-mata karena masih penasaran dengan asal-usul Fania? Akan tetapi untuk apa dia sebegitu peduli padanya?
__ADS_1
"Coba, hubungi lagi Fanianya."
"Ya, Kak Ve." Aku pun kembali menghubunginya. Nomornya aktif, tapi tidak diangkat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 WIB. Aku semakin mengkhawatirkan Fania. Ini pasti ada yang tidak beres. Sementara sekertaris Ve memperhatikan kegelisahanku, ia pun mengajakku untuk masuk ke mobilnya.
"Imania, sebentar lagi, hari mulai gelap. Lebih baik, kau kuantarkan pulang, ya?"
Kuhela napas dalam. "Baiklah," jawabku dengan wajah lesu.
Aku dan sekertaris Ve masuk ke dalam mobil. Ia pun menyalakan mesin mobilnya, kemudian meluncur untuk mengantarku pulang.
"Imania, apa kau belum tinggal di rumah barumu?"
"Belum, Kak?"
"Kenapa?"
"Aku masih bingung, jika tinggal di sana. Bagaimana dengan anakku. Dan kalau anakku kuajak tinggal di rumah baru itu, aku tidak mungkin juga, kan, meninggalkannya sendiri di saat aku bekerja.
"Oh, iya juga, ya? Eh, bukankah kau tinggal bersama Fania? Mengapa tidak kau ajak saja Fania tinggal di rumah barumu? Dia pasti bisa menjaga anakmu untuk sementara saat kau tinggal bekerja."
"Biar kupertimbangkan dulu, Kak Ve."
"Boleh kutanya sesuatu?"
"Ya, Kak Ve."
"Apa kau tahu tentang asal-usul Fania?"
"Bahkan padamu?”
"Ya."
Aku memperhatikan raut wajah sekertaris Ve. Aku merasa ada yang aneh pada sekertaris Ve. Mengapa dia tampak begitu penasaran terhadap Fania?
"Kak Ve," panggilku.
"Hm ...."
"Kenapa kau begitu penasaran terhadap Fania?"
"Oh, itu. Aku hanya teringat sesuatu saat melihat wajahnya."
Entah mengapa, sekertaris Ve seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kami melihat mobil Fania terparkir di pinggir jalan. Ada kerumunan orang di sana. Sekertaris Ve pun menghentikan laju mobilnya. Dan kami turun untuk melihat apa yang tengah terjadi.
Dengan hati yang berdebar-debar, pikiranku pun semakin cemas. Kami menghampiri kerumunan tersebut. Betapa terkejutnya kami, saat melihat seorang wanita dengan tangan berlumuran darah segar.
"Fania!" teriakku saat melihat jelas wajah wanita yang kucemaskan. Mataku pun langsung menangkap sebuah pisau berlumuran darah yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Fa-Fania a-apa yang ter-jadi?" Bibirku gemetar menanyakan hal tersebut kepada Fania yang berdiri menatapku sendu.
Lebih terkejut lagi, mataku mendapati sosok laki-laki yang bersimbah darah, terkapar di kaki Fania. Tubuhku kaku, aku tak berani melangkah maju. Beberapa orang yang berkerumun pun menatap Fania dengan perasaan takut.
"Imania!" seru Fania dengan mata sayu. "A-aku ... aku ... aku ...."
Sekertaris Ve sama terkejutnya denganku. Ia berdiri terpaku menatap ke arah Fania dan laki-laki yang terkapar tak berdaya, serta berlumuran darah di hadapan Fania.
Fania menjatuhkan pisau yang berlumuran darah dari tangannya. Dia pun berjalan menghampiriku dengan langkah gontai.
"Tunggu!" Aku menjulurkan telapak tangan ke arahnya. "Jangan mendekat! Jangan mendekat!"
"Imania ...." Wajah Fania terlihat penuh penyesalan.
Saat Fania melangkah kembali, aku berjalan mundur. "Tidak! Jangan mendekat!" Dadaku merasakan sesak dan otakku tak dapat mencerna baik apa yang saat ini kulihat.
"Imania, aku ...."
Bulir-bulir bening meluruh dari kedua mataku. Berjatuhan, bersama dengan bulir bening dari pelupuk mata Fania. Fania berdiri seraya terisak. Mengiringi isakan kekecewaanku.
Sekertaris Ve menghampiriku, ia mengusap pelan pundakku. Dan tanpa sepatah kata pun.
Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menjerit. Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku tidak menyangka Fania bisa melakukan kesalahan semacam ini. Aku benar-benar tidak bisa mempercayai hal nyata yang tengah kuaaksikan. Fania seorang pembunuh! Hanya itu yang bisa tertangkap di benakku.
"Imania, tenanglah!" Sekertaris Ve terus mencoba menenangkanku.
Beberapa polisi pun turun dari mobil tersebut. Kemudian segera melakukan penyelidikan terkait tragedi ini. Jantungku seakan berhenti berdetak saat Fania dicekal oleh dua orang polisi.
"Imania, aku bisa jelaskan," katanya lirih dengan wajah yang basah.
Suara sirine ambulan pun terdengar mendekat. Benar saja, sebuah ambulan berhenti di sampingku berdiri. Beberapa tenaga medis turun, kemudian menghampiri beberapa orang polisi yang tengah mengambil foto dan membalikkan tubuh laki-laki yang bersimbah darah tersebut.
Aku semakin terbelalak saat mendapati wajah lelaki itu adalah ... Reza. Ya, Tuhan .... Fania membunuh Reza?
"Imania ... tunggu aku. Aku bisa jelaskan ini semua."
Kedua polisi yang mencekal dan telah memborgol kedua tangan Fania pun segera membawanya masuk ke dalam mobil polisi. Aku tidak bisa berhenti menahan air mata yang terus meluncur dari mataku. Ini ... apakah ini mimpi? Aku menampar pipiku sendiri, memastikan ini hanyalah mimpi.
Akan tetapi ini nyata. Ini bukanlah mimpi. Fania ... kau harus menjelaskan atas segala perbuatanmu ini padaku!
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Diperbolehkan menerka-nerka.
Selalu ada kejutan. Besok pagi kita sambung lagi, ya?
Siapa Fania? Intinya masalah ini akan membuka sesuatu. Sesuatu apa? Tunggu besok ya?
Oh, iya, sosok Rudi dan Bella sudah tayang loh?
__ADS_1
Silakan Cek dari episode awal ya?
Thank you ...!