BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Mengulang Yang Sempat Tertunda


__ADS_3

Fania masuk dengan girangnya. Ia pun melangkah menuju ruangan demi ruangan. Sesekali ia jatuhkan tubuhnya di sofa yang empuk, dan di kasur yang sangat empuk. Aku hanya mengekornya, seraya memperhatikan Fania sambil geleng-geleng kepala.


"Imania, aku ingin tinggal di sini!" katanya dengan semangat.


"Tapi bukan sekarang," jawabku.


"Kenapa? Tunggu apa lagi? Rumah ini sudah resmi menjadi milikmu. Jadi ... ayo kita tinggal di sini saja!" katanya seraya berbaring di kasur.


Aku mengambil duduk di dekat Fania membaringkan tubuhnya. Dan berpikir sejenak.


"Apa yang kau pikirkan? Ayolah! Kita bisa tinggal bersama, kan? Aku boleh numpang di sini, kan?" katanya seraya mendudukkan tubuhnya di sebelahku.


"Bukan itu masalahnya. Tentu saja kau boleh tinggal bersamaku. Tapi ...."


"Tapi kenapa?"


"Aku tidak mungkin meninggalkan Arka," kataku lirih.


Fania meraih pundakku, menghadapkan tubuhku padanya. "Kita tidak harus meninggalkan Arka. Kita bisa mengajaknya ke sini. Aku yang akan menjaganya. Kau tenang saja!"


Aku pun menangkap binar keseriusan di mata Fania. "Em ... biar kupikirkan dulu, ya?"


"Yah, kebanyakan mikir!" ucapnya kesal. Fania pun beranjak ke luar dari kamar ini.


"Kau mau ke mana?" seruku.


Namun, Fania tetap melangkah cepat. Ia pun menaiki tangga, menuju lantai atas. Aku mengekornya. Sesampainya di lantai atas, Fania langsung mengambil duduk di sofa. Dan juga sudah ada Dimas yang sedang duduk di sofa sebelah Fania.


"Dimas! Kau sweet sekali, sih? Membelikan rumah segala untuk Imania. Padahal kalian belum menikah!" kata Fania seraya menghadap ke arah Dimas.


"Kalau sudah menikah, Nia akan ikut bersamaku, ke rumahku," kata Dimas.


"Rumahmu? Ke rumah orang tuamu? Apa Imania harus tinggal bersama mertua? Wah, itu menakutkan! Pasti tidak akan bebas di sana. Imania akan dijadikan seperti pembantu, seperti yang ada di film-film. Lalu ... Imania akan dipukuli jika berbuat kesalahan. Oh, ya ampun! Aku tidak bisa membayangkan! Itu mengerikan! Tega sekali, kau ingin menyiksanya, hah? Membawa Imania ke lubang neraka?!" cecar Fania begitu ketusnya.


Aku tertawa kecil mendengar perkataan Fania. Lalu aku pun duduk di sebelahnya.


Dimas yang sedari tadi mendengarkan pun, memutar bola matanya ke arah Fania. "Hei, Alien Pencopet! Mulutmu itu seperti petasan, nyerocos terus! Siapa yang akan menyiksa Nia? Orang tuaku baik. Tidak seperti gambaranmu itu. Kau terlalu banyak nonton film. Lagi pula, aku tidak akan membawa Nia untuk tinggal di sana. Aku akan membawanya untuk tinggal di rumahku!"


"Di rumahmu?" Fania bertanya dengan mata yang melebar.


Dimas tidak menjawab. Dia malah menidurkan tubuhnya di sofa.


"Di mana rumahmu?" tanya Fania penasaran.

__ADS_1


"Rahasia!" jawab Dimas.


"Ah, perlu rahasia segala," ucap Fania seraya mengerucutkan bibirnya. "Eh, berarti Imania tidak akan tinggal di rumah orang tuamu, donk?"


"Ya, enggak, lah! Nanti enggak bebas ninu-ninunya, ha-ha ...!" kata Dimas diiringi tawanya yang khas.


"Dasar otak mesum!" umpatku lirih.


"Nia, kau bilang, tadi kau lapar?" tanya Dimas tiba-tiba.


"Aku tidak jadi lapar. Aku ingin pulang saja," jawabku.


"Loh, kenapa? Kita kan baru di sini. Kok, pulang, sih?" ucap Fania dengan cemberut.


"Aku mau menjemput Arka. Sudah sehari Arka belum pulang," kataku.


"Ok, deh! Pulang dari sini, nanti kita jemput Arka. Tapi ... sekarang aku lapar sekali. Aku ingin makan. Bagaimana jika kita makan bersama di sini?" usul Fania dengan semangat.


"Boleh juga," jawab Dimas cepat.


"Asik?" Fania sangat senang.


"Kalau begitu, sekarang kau cepat pergi ke restoran Rudi untuk memesan makanan!" perintah Dimas pada Fania.


"Iya, lah, kau, masak aku?"


Fania tampak berpikir sejenak. Kemudian ia berkata, "Baiklah. Mana uangnya?" tanya Fania sembari mengulurkan tangannya.


Dimas pun duduk, dan meraih dompetnya. Ia mengambil setumpuk uang seratus ribuan, lalu memberikannya kepada Fania.


"Wow! Ini banyak sekali!" ujar Fania terkejut.


"Kau pikir, makanan di restoran Rudi itu murah? Cepat pesan sesukamu!"


Fania pun berdiri seraya mengangkat tangan kanannya, membuat sikap hormat kepada Dimas. "Oke! Siap, Komandan! Laksanakan!"


Fania pun beranjak pergi. Dimas tiba-tiba beranjak mendekat. Ia duduk persis di sebelahku. Aku pun menatapnya curiga. Sedangkan Dimas kembali menatapku dengan lembut.


"Hei! Apa yang akan kalian lakukan! Jangan macam-macam setelah aku pergi, ya? Dosa tahu? Ha-ha ...!" seru Fania yang tiba-tiba muncul lagi.


Dimas pun memandang Fania dengan sangat kesal. Mungkin Dimas mengira Fania sudah benar-benar menuruni tangga. Aku pun mengira begitu. Dimas tidak menanggapi seruan Fania, karena Fania pun langsung beranjak pergi.


"Dasar, pengganggu!" umpat Dimas kesal.

__ADS_1


Aku hanya tertawa kecil memperhatikan mimik mukanya.


"Kenapa tertawa begitu?" tanyanya seraya menatapku kembali.


"Tidak apa-apa," jawabku.


Dimas pun beranjak menuju balkon. Ia seperti sedang memperhatikan sesuatu. Matanya memandang ke bawah balkon. Setelah itu ia kembali menghampiriku. Ia kembali duduk di sebelahku.


"Alien sudah pergi!" katanya.


"Terus?"


"Kita teruskan yang sempat tertunda,” katanya lagi.


Ia pun segera meraih leherku. Tapi aku menahan lengannya.


"Di, bukankah kau bisa memesan delivery order saja?" tanyaku heran.


"Iya, memang bisa," jawabnya.


"Lalu kenapa harus meminta Fania untuk memesannya langsung ke restoran Rudi?"


Dimas mengulum senyum nakal. Tatapannya begitu lembut, tetapi tajam. "Agar ... kita bisa melakukannya sekarang," katanya seraya mengedipkan sebelah mata.


"Melakukan apa? Jangan macam-macam, Di!"


Tetapi Dimas langsung mendekatkan wajahnya.


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Hayo? Penasaran, kan?


Gagal enggak, ya?


Eh, buat kalian yang belum bergabung ke grup, yuk buruan gabung, deh! Soalnya nanti di grup, kita bisa sharing, ngobrol, juga bisa tanya-tanya seputar novel ini.


Dan juga, Author Keceh selalu umumkan di grup tentang pemberitahuan terkait novel ini. Jadi, agar tidak ketinggalan, yuk, buruan masuk ke grup?


Tahu kan caranya? Caranya ada di episode 59, ya?


Oh, iya? Author berniat untuk mengganti cover novel ini. Jadi, jangan kaget jika nanti covernya berubah, ya?

__ADS_1


Ya, udah. Stay terus ya? Thank you ...!


__ADS_2