
Jam kerja telah usai. Segera kurapikan meja kerjaku. Kumatikan komputer, kemudian mengemas barang-barangku ke dalam tas. Setelah selesai, aku pun beranjak pulang.
"Imania!" seru sekertaris Ve.
"Ya, Kak?"
Sekertaris Ve menyodorkan sebuah bungkusan kardus kepadaku.
"Apa ini?" tanyaku sembari menerimanya.
"Seragam kerjamu. Mulai besok, pakai ini, ya? Aku memberikan satu lusin seragam kantor untukmu. Jadi ... kau jangan khawatir bila tidak sempat mencuci, ya?"
"Wah, ini banyak sekali, Kak?"
"Ya, sudah. Mari pulang!" Sekertaris Ve berjalan keluar dari kantor.
Mari pulang? Apa maksudnya?
Sekertaris Ve berbalik menolehku. "Kenapa diam saja? Ayo! Aku akan mengantarmu!"
"Kau akan mengantarku pulang? Kalau begitu baiklah," jawabku senang. Jadi aku tidak perlu menunggu Fania menjemput. Dia pasti sedang tidur.
Aku pun naik ke dalam mobil sekertaris Ve. Di dalam mobil, sekertaris Ve terus menerus mengajakku ngobrol.
"Imania, Dimas banyak bercerita tentangmu. Dia bilang, kau memiliki seorang putra?"
"Ya, itu benar. Namanya Arka—Kenan Arka Sebastian. Usianya sebentar lagi genap tiga tahun," terangku.
"Imania, apa kau yakin tentang hubunganmu dengan Dimas?"
"Ya, aku yakin!" jawabku mantap.
"Bagaimana pendapatmu tentang pak Wibowo?"
"Menurutku, beliau pasti orang yang sangat bijaksana. Buktinya, beliau bisa meng-handle perusahaan dengan sangat baik," ujarku berpendapat.
"Imania, apa kau yakin pak Wibowo beserta keluarganya akan menerimamu?"
Aku terdiam sesaat. Berpikir sejenak. Apa mungkin mereka dapat menerimaku?
"Seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan menerimaku," jawabku optimis.
__ADS_1
"Aku terharu atas keyakinanmu itu. Kuharap juga begitu," ucap sekertaris Ve datar.
"Apa kau tidak mempercayaiku?" Aku balik bertanya pada sekertaris Ve.
Sekertaris Ve menghela napas kasar. "Cinta yang diberikan Dimas padamu tidak perlu diragukan lagi. Dia berusaha memberikan apapun yang dia bisa untukmu."
Aku memandang sekertaris Ve yang sedang menyetir mobilnya.
"Imania ... suatu saat cobaan yang lebih besar pasti datang. Di saat seperti itu, yang harus kau pikirkan adalah kebahagiaan orang yang kau sayangi. Sehingga, kau tidak boleh egois. Apa ada yang lebih berarti dari rela dan ikhlas?"
"Apa maksudmu, Kak Ve?"
"Maksudku adalah ... kau harus siap atas konsekuensinya. Jika kau memang siap bertarung, maka bertarunglah. Tetapi pasti ada yang terluka. Bahkan sering terjadi pertarungan yang dapat melukai kedua-duanya."
Aku berusaha mencerna kata-kata sekertaris Ve dengan benar.
"Namun, jika kelak kau memutuskan untuk mundur dari peperangan. Maka kau juga harus siap atas konsekuensinya, yaitu kehilangan kemenangan," lanjutnya.
Sekertaris Ve memang terlihat cuek dalam bersikap. Tetapi semakin ke sini, aku melihat sisi sekertaris Ve yang dewasa dan penuh perhatian. Tak ayal mengapa Dimas sangat dekat dengannya. Bahkan, aku yang baru mengenalnya pun merasa nyaman bila berada di sisinya.
"Kakak? Aku bukan orang yang mudah menyerah. Aku akan melewati segalanya dengan baik. Kau tunggu saja, bagaimana nanti!"
Saat aku sedang mengamati jalanan, aku baru sadar, bahwa aku bukan berada di jalan menuju rumah orang tuaku.
"Kakak? Kau mau membawaku ke mana?" tanyaku cemas.
"Aku akan menculikmu! Ha-ha ...!"
"Kakak? Aku mau pulang?" Sepertinya aku merengek seperti anak kecil.
Tapi tidak lama mobil pun berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah.
"Ini rumah siapa?" tanyaku bingung.
"Turunlah!"
Aku menatap wajah sekertaris Ve sesaat. Meskipun sekertaris Ve terlihat penuh teka-teki, tapi kurasa ... dia bukanlah seseorang yang buruk. Aku mempercayainya. Aku pun turun dari mobil. Disusul sekertaris Ve.
Apa ini rumah miliknya? Tapi ... untuk apa dia membawaku ke sini?
Sekertaris Ve membuka pintu gerbang rumah tersebut. Kami pun masuk. Rumah ini terlihat nyaman. Cukup luas dan megah. Sekertaris Ve pun membuka pintu rumah tersebut.
__ADS_1
Di dalam rumah, sekertaris Ve mengajakku berkeliling ke setiap ruangan.
"Rumah ini sangat bagus!" komentarku.
Sekertaris Ve hanya tersenyum melihat mimik mukaku yang masih sangat kagum dengan dekorasi rumah ini. Terdapat sebuah kolam renang di halaman belakang.
"Kakak? Mengapa rumahmu sepi sekali?"
Lagi-lagi sekertaris Ve tak menjawab. Ia hanya mengulum senyum saat aku memandang dan berucap kagum terhadap design klasik nan mewah rumah ini. Nuansanya juga nyaman.
"Kakak? Apa kau tinggal sendiri di rumah ini?" tanyaku seraya duduk di sofa yang sangat empuk.
Sekertaris Ve pun mendekat padaku. Ia membuka tasnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia menyodorkan sebuah berkas padaku.
"Ini, ada yang harus ditandatangani!" kata sekertaris Ve seraya memberikan bolpoin padaku.
Aku pun menerima berkas tersebut dan langsung menandatanganinya.
"Apa ada berkas lain yang perlu tanda tanganku lagi?" tanyaku usai menandatangani surat tersebut.
"Belum ada!" jawab sekertaris Ve seraya tersenyum.
Aku pun menyerahkan berkas tersebut ke tangan sekertaris Ve kembali.
"Apa kau tidak ingin membacanya terlebih dahulu?"
Aku pun meraih kembali berkas tersebut.
"Surat Keterangan Kepemilikan Rumah?" Aku membacanya kembali. "Surat Keterangan Kepemilikan Rumah!"
"Kak Ve? Ini apa?" ucapku seraya terkejut.
"Bukankah tadi kau sudah membacanya?"
Aku masih tidak mengerti. Ini? Ini ....
"Kak Ve? Kau bercanda, kan?"
"Aku tidak bercanda, Sayang. Mulai saat ini, rumah ini sudah resmi menjadi milikmu!" ucapnya sembari tersenyum.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1