
"Imania ...." Ia menatapku seraya mengerutkan dahinya. "Kau tidak apa-apa?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa," jawabku.
"Apa kau menangis?"
"Tidak. Ini ... hanya sembab terkena hujan," jawabku sambil mengusap wajah.
Ia mendekatkan payung tersebut, menaungi tubuhku. "Apa kau tidak membawa mantel? Nanti kau sakit."
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa bermain hujan, Rud," kataku berbohong.
"Bermain hujan?"
"Ya, dulu. Sewaktu masih kecil, ha-ha!" Aku mencoba tertawa kecil untuk menutupi mimik muka sedihku. Aku tak ingin Rudi tahu bahwa aku habis menangis.
"Tunggu sebentar," kata Rudi lalu beranjak ke dalam mobil. Tak lama ia pun kembali menghampiriku. "Ini, pakailah!" katanya seraya menyodorkan mantel biru itu padaku.
"Aku sudah basah kuyup, Rud. Tidak usah."
Rudi meletakkan payungnya, membiarkan tubuhnya basah terkena hujan. Lalu ia memakaikan mantel tersebut ke tubuhku.
"Pakai saja! Meski tubuhmu sudah basah kuyup, setidaknya ... kau tidak terlalu kedinginan," katanya lembut.
"Terima kasih. Aku pulang dulu," kataku seraya men-starter motor.
"Hati-hati, Imania," katanya lagi.
Aku pun mengangguk, lalu bergegas pergi.
Mengapa Rudi baik sekali. Dia tidak hanya ramah, tapi juga sangat peduli. Namun, aku menangkap binar berbeda di mata Rudi. Aku jadi teringat akan kata-kata mas Bastian waktu itu.
"Sayang? Apa Rudi itu temanmu?"
"Iya."
"Kapan kalian saling kenal?"
"Belum terlalu lama. Nessa pernah mengajakku ke restoran Rudi. Jadi, kami pun berkenalan."
"Dia sangat baik."
"Iya."
"Dia juga sangat menyukai Arka."
"Iya."
"Dia masih sangat muda, ya?"
"Iya."
"Jangan-jangan ... Rudi juga menyukaimu!"
Jangan-jangan Rudi menyukaiku? Apa itu mungkin? Bukankah Rudi hanya menganggapku sebagai sahabat? Lagi pula, dia kan tahu kalau aku sudah bersuami. Tidak! Itu tidak mungkin!
__ADS_1
Sesampainya di rumah, kugantung mantel biru itu agar kering. Kemudian aku langsung mandi dan mengganti pakaian. Kutelepon ibu mertua, menanyakan keadaan Arka. Katanya, Arka sedang tidur. Jadi, aku mengatakan untuk mengantarkan Arka pulang, jikalau sudah bangun nanti.
***
Malam harinya, Arka baru diantar pulang oleh ayah dan ibu mertuaku. Aku pun menjamu mereka yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ayah, Ibu, ini minumnya ...," kataku seraya meletakkan satu cangkir kopi untuk ayah mertua, dan satu cangkir teh untuk ibu mertua.
"Tak perlu repot-repot, Nak?" kata ayah.
"Tidak, Ayah, aku senang kalian di sini."
"Kami beruntung mendapatkan mantu sepertimu, Ima," puji ibu seraya tersenyum.
"Aku juga beruntung, mendapatkan mertua seperti kalian," pujiku balik.
Aku pun kembali ke belakang untuk mengambil beberapa potong kue. Lalu membawanya kembali ke depan, untuk kami nikmati bersama. Aku pun duduk bersama mereka di sofa.
"Iyan belum pulang?"
"Belum, Bu."
"Apa dia selalu pulang malam?"
"Iya, Bu. Mas Bastian bekerja sangat keras. Sampai harus lembur setiap hari."
"Setiap hari?" tanya ayah yang sedang bermain dengan Arka.
Aku mengangguk.
"Apa pekerjaannya sekeras itu?" Ayah kembali bertanya.
Ayah dan ibu terdiam sesaat. Seperti sedang menangkap pikiran aneh terhadap mas Bastian.
"Padahal kami sudah sangat ingin menimang cucu lagi, ya, Yah?" canda ibu.
Aku tersipu mendengar pernyataan ibu.
"Ima, kapan kamu akan hamil lagi? Ibu sudah menginginkan cucu perempuan," katanya.
"Bu, Arka masih kecil. Tidak perlu buru-buru," kata ayah.
Aku hanya tersenyum, karena kami pun belum berencana untuk menambah momongan lagi. Lagi pula, kami tidak pernah melakukannya setelah hamil. Bulan madu waktu itu, saat merayakan anniversary kami saja gagal gara-gara Dimas.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam. Arka sudah tidur di kamarnya. Ibu mertua yang menemaninya, hingga Arka tertidur. Sedangkan ayah masih duduk, menonton televisi. Saat aku akan mengambil wudhu, tiba-tiba terdengar suara mobil mas Bastian. Aku pun beranjak membukakan pintu.
"Imania?" seru mas Bastian sambil menggedor pintu.
"Ya, Mas?" Aku membuka pintu tersebut. Lagi-lagi aku terkejut. Mas Bastian pulang dalam keadaan mabuk. Bukankah berbahaya jika berkendara dalam keadaan seperti ini? Aku pun segera memapah mas Bastian menuju kamar.
Ayah dan ibu menghampiri kami.
"Apa yang terjadi?" tanya ibu terkejut melihat wajah mas Bastian babak belur dan pulang dalam kondisi mabuk.
"Oh, ini ...." Bagaimana menjelaskannya, ya?
__ADS_1
"Bawa dia ke kamar! Nanti kalau sudah sadar, baru kita akan bicarakan!" Ayah tampak marah pada mas Bastian.
Saat aku sedang memapah tubuh mas Bastian, tiba-tiba mas Bastian menghentikan langkahnya. Ia melepaskan tanganku, dan berbalik menghadap ayah dan ibu.
"Ini semua gara-gara kalian! Jika saja kalian tidak memaksaku untuk berpisah dengan pacarku. Semua takkan menjadi seperti ini. Semua sudah terlambat!" kata mas Bastian dalam kondisi mabuk.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud suamiku. Mungkin, ini hanya pengaruh alkohol. Aku pun kembali memapah tubuh mas Bastian, tapi tanganku kembali diempasnya.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak mencintaimu! Aku tidak mencintaimu! Kau dengar! Aku tidak mencintaimu!" katanya seraya tertawa.
"Ima? Jangan dengarkan suamimu. Dia sedang terpengaruh alkohol. Ayo kita bawa dia ke kamarnya," kata ibu lalu menuntun mas Bastian.
Buk! Mas Bastian malah mendorong ibu sampai terjatuh ke lantai. Aku pun segera membantu ibu berdiri.
"Ibu tidak apa-apa?"
"Tidak. Ibu tidak apa-apa," kata ibu dengan tatapan mata yang sedih.
"Ini juga gara-gara kau!" Mas Bastian mengacungkan telunjuknya ke arah ibu. "Kau yang telah menghancurkan hidupku! Seandainya saja kau tidak melarang hubungan kami. Semua ini akan berjalan baik, Bu!"
"Dan kau!" Dia mengalihkan pandangan dan telunjuknya di depan wajah ayah. "Kau juga sudah menghancurkan hidupku. Kalian semua egois! Kalian kejam! Aku tidak bahagia menikah dengan Imania, kalian dengar!"
Plak! Ayah dengan geram menampar mas Bastian. Matanya menatap mas Bastian dengan penuh emosi. Ibu pun segera menenangkan ayah.
"Tampar saja! Ayo tampar! Tampar lagi, Ayah! Jika perlu, bunuh saja aku!"
Ya, Tuhan. Apakah benar yang mas Bastian katakan tadi. Dia tidak bahagia menikah denganku. Dia tidak mencintaiku.
"Sabar, Ayah ...." Ibu menasehati.
"Kalian semua egois! Aku hanya mencintai satu orang dalam hidupku. Orang yang pernah kalian hina! Orang yang pernah kalian permalukan! Wanita yang kalian perlakukan seperti sampah! Aku hanya mencintai--"
Plak! Satu lagi tamparan keras mendarat di pipi mas Bastian.
Mas Bastian tertawa, kemudian berkata padaku, "Aku tidak pernah mencintaimu! Aku menyesal sudah menikah denganmu! Kau tahu? Aku sangat ... sangat ingin menceraikanmu!"
Duer! Terasa petir menyambar di sekujur tubuhku. Hatiku remuk, tubuhku sakit semua, kakiku lemas. Perlahan ... bulir-bulir bening mulai mengalir dari pelupuk mataku. Dengan tubuh gemetar, aku masih berusaha kuat. Namun, pandangan mataku tiba-tiba terasa gelap. Gelap ... dan gelap seketika. Buk!
"Ima!" Suara terakhir yang terdengar samar di telingaku.
-- BERSAMBUNG --
Hai, Readers Tersayang ....
Author selalu ingetin, LIKE, COMENT, VOTE, 'KASIH BINTANG LIMA' ya?
Kenapa? Author juga ingin novel kesayangan kalian ini bisa disayang oleh semua orang.
Jadi, bantu Author Keceh menaikkan performa, ya? Hari ini jam dua pagi, Author masih ngetik. Demi memberikan yang terbaik untuk kalian.
Author selalu membaca komentar kalian. Menerima kritik dan saran, atau apapun itu.
Kemarin, ada yang minta untuk UP yang banyak. Katanya, "UP-nya terlalu sedikit, Thor!"
Oke, Author tuliskan lebih panjang, biar cepat ending juga, ya?
__ADS_1
Oh, ya, jika kalian Sayang sama Author Keceh, yuk FOLLOW, LIKE, COMENT, VOTE, dan KASIH BINTANG LIMA. Dukung terus dan semangati Author, ya? 😘
Thank You ....