
Sesampainya di taman hiburan, Arka dengan sangat antusias turun dari mobil. Dia langsung berhambur ke arah pintu masuk taman hiburan. Aku menatapnya seraya tersenyum. Arka tampak begitu semangat.
"Ayo, ayo, Pa! Mama! Tante Fania!" serunya memanggil kami yang baru turun dari mobil.
Aku berjalan cepat, menyusul langkah Arka. Dan saat langkahku sampai di sisinya, kuraih pergelangan tangan kirinya. Bersamaan dengan itu, mas Bastian meraih pergelangan tangan kanan Arka. Jadi, kami berjalan sejajar bertiga.
"Wow! Pemandangan apakah ini? Hati-hati CLBK, ya?" seru Fania yang berjalan mengekor di belakang kami.
Aku menolehnya seraya berkata, "jangan berkata sembarangan!"
Fania hanya tertawa mendapati ekspresiku. Sedangkan kulihat, mas Bastian terus tersenyum sembari menggandeng lengan Arka.
Mas Bastian berhenti untuk membeli tiga tiket masuk ke taman hiburan. Setelah itu kami langsung masuk. Suasana tampak ramai. Jika weekend memang tempat ini selalu ramai.
Mas Bastian kembali meraih tangan kanan Arka, sedangkan pergelangan tangan kiri Arka masih berada pada genggamanku. Aku menoleh ke arah mas Bastian, masih tercetak senyum mengembang di wajahnya. Sepertinya, bukan hanya Arka yang tampak sangat antusias untuk jalan-jalan. Bahkan, mas Bastian pun tampak semangat.
Mataku menatap pergelangan tangan kiri Arka, lalu melirik pergelangan tangan kanannya yang berada digenggaman mas Bastian. Segera kulepaskan genggaman tanganku padanya. Membiarkan mereka berjalan berdua. Kemudian kusejajarkan langkahku dengan Fania, yang sedari tadi mengekor di belakang kami.
Mas Bastian menyadari bahwa aku sudah berada di belakangnya. Ia menolehku seraya tersenyum. Kemudian kembali menatap ke depan.
"Awas! Nanti CLBK!" bisik Fania yang berjalan di sampingku.
"Itu tidak mungkin!" balasku.
Mas Bastian membawa Arka menuju berbagai wahana permainan anak. Bermain perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, dll. Kemudian bermain trampolin, naik bianglala, kereta anak, dll.
Tempat hiburan ini memang diperuntukkan untuk anak-anak. Jadi, segala fasilitas permainan yang ada juga lengkap dan aman untuk anak-anak. Namun, tetap dengan pengawasan orang dewasa.
Aku dan Fania turut menyaksikan kebersamaan ayah dan anak tersebut. Mereka terlihat sangat manis. Aku bersyukur, meski mas Bastian bukan suamiku lagi, tetapi dia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut dengan anak. Dia tetap mengasihi Arka sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya, meski telah bercerai, aku dan mas Bastian terlihat seperti sahabat.
Setelah bermain-main selama kurang-lebih dua jam, kami pun mengambil duduk di sebuah bangku taman. Arka duduk di antara aku dan mas Bastian. Sedangkan Fania duduk di sebelah mas Bastian.
"Fania! Beli minuman sana! Beli juga beberapa camilan yang mungkin Arka suka. Atau beli makanan apa, terserah!" perintah mas Bastian seraya mengambil dompet dari saku celananya. Kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kepada Fania.
Fania pun menerima uang tersebut. "Oh, apakah aku seperti babu di sini?" ucapnya seraya memasang ekspresi wajah cemberut.
"Arka haus, cepatlah!" kata mas Bastian lagi.
Fania menghela napas kasar, lalu beranjak untuk memenuhi perintah mas Bastian. Setelah Fania pergi, kini kami hanya duduk bertiga. Perasaan canggung tiba-tiba muncul di benakku. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk berdiri. Tetapi tiba-tiba mas Bastian menahan lenganku untuk tetap duduk. Sesaat mata kami saling memandang. Dan aku pun duduk kembali.
__ADS_1
"Duduklah! Sudah lama kita tidak memiliki kebersamaan seperti ini, Imania," ucap mas Bastian.
"Mas, sebentar lagi, kau juga bisa melakukan kebersamaan seperti ini. Setelah anak di dalam kandungan Bella lahir. Maka kau juga akan memiliki putra lagi, atau putri," ucapku seraya mengukir senyum pada mas Bastian.
Mas Bastian tidak menanggapi. Ekspresi wajahnya langsung berubah ketika kusebut nama Bella. Mengapa mas Bastian seperti tidak ingin membahas Bella? Sebenarnya, apa yang terjadi di antara mereka? Apa hubungan mereka baik-baik saja?
"Papa? Papa kenapa tidak membawa Nama pulang? Arka ingin tinggal bersama lagi!"
Pertanyaan Arka sontak seperti membius kata-kata yang akan ke luar dari mulut kami. Untuk sejenak, kami saling diam. Berputar dalam pikiran masing-masing. Mungkin, kami sedang saling berpikir, bagaimana cara memberi pengertian terhadap Arka.
"Papa sama Mama kenapa diam?"
"Sayang ...."
Tiba-tiba kami serentak ingin menjawab. Mata kami pun kembali bertemu. Namun, segera kupalingkan wajah.
"Arka, Sayang ... Papa akan selalu ada buat Arka. Tidak peduli tinggal bersama ataupun tidak. Papa adalah papamu, yang akan menyayangimu dan membahagiakanmu." Mas Bastian berusaha memberikan pengertian kepada Arka.
"Tapi Arka ingin tinggal bersama lagi!"
"Sayang ... Arka tidak boleh seperti itu. Meskipun kita tinggal terpisah. Tapi kita tetap bisa bertemu seperti ini," kataku.
"Benarkah?"
Mas Bastian mengangguk seraya tersenyum. "Tentu saja! Mulai sekarang, Arka tidak boleh sedih lagi. Arka, kan, jagoan. Jagoan harus ...?"
"Harus tetap kuat dan semangat!" jawab Arka seraya mengangkat dan mengepalkan tangannya.
"Anak pintar," puji mas Bastian seraya mengelus rambut Arka.
Saat kami sedang asyik berbincang, tiba-tiba handphone mas Bastian berdering. Mas Bastian pun meraih handphone tersebut dari sakunya. Kemudian menatap layar handphone-nya. Seketika senyum yang sedang mengembang di wajahnya memudar. Mas Bastian pun beranjak menjauh dari tempat kami duduk.
Dari kejauhan, aku memperhatikan mas Bastian yang sedang mengangkat panggilan telepon. Sesekali kulihat mas Bastian menghela napas kasar, lalu berbicara yang entah, karena tidak terdengar di telingaku.
Setelah mengangkat telepon, mas Bastian pun kembali meletakkan handphone miliknya tersebut ke dalam saku. Kemudian berjalan kembali menghampiri kami. Aku memperhatikan mimik wajah mas Bastian yang tidak sesemangat tadi. Ia pun kembali duduk di sebelah Arka.
"Ada apa, Mas?"
"Oh, ini ... bukan sesuatu yang penting. Klien."
__ADS_1
Aku menangkap binar kebohongan di matanya. Aku masih memahami bagaimana lelaki yang pernah menjadi imanku ini berbicara. Saat ia tampak jujur, dan juga saat ia sedang berusaha menutupi sesuatu. Ya, bagaimanapun, aku pernah memahaminya.
Apa itu telepon dari Bella? Akan tetapi itu juga bukan urusanku.
"Imania, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Ya, katakan saja, Mas."
Mas Bastian menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya kembali. Ia menoleh padaku. "Dulu, aku memang sempat mempermainkan perasaanmu. Aku mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintaimu. Bahkan malam itu, sesaat sebelum talak jatuh kepadamu. Aku pun mengatakan, bahwa aku tidak akan pernah bisa mencintaimu."
Aku mendengar setiap perkataan mas Bastian dengan serius. Mengapa tiba-tiba mas Bastian membahas tentang hal ini lagi? Bukankah semua sudah selesai. Sudah tidak perlu dibahas lagi?
"Imania, sebenarnya ... aku ... aku ... aku merasa bahwa ...."
"Iya, kenapa, Mas?"
Aku menangkap ekspresi gugup di wajah mas Bastian. Bahkan kulihat, sesekali mas Bastian merem*s celananya sendiri.
"Sebenarnya ... sebelum sidang perceraian tiba, aku ... aku merasa sangat menyesal. Karena entah mengapa, tiba-tiba aku merasa ... aku ... aku ... aku men—"
"Tara?? Minuman dan makanan hadir?"
Kedatangan Fania tiba-tiba menyela pembicaraan kami. Aku masih menatap mas Bastian dengan penasaran. Sebenarnya apa yang akan dia katakan tadi?
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh ...!
Memenuhi permintaan untuk CRAZY UP. Author sebenarnya ingin banget! Cuma, Author Keceh saat ini sedang ada banyak tugas antologi juga.
Jadi, kadang-kadang Author Keceh bingung bagi waktunya.
Namun, insyaAlloh ... Author Keceh akan selalu memenuhi request kalian semaksimal mungkin.
Oh, ya? Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, kasih KOIN juga boleh banget tuh!
Thank you ...!
__ADS_1