
WARNING!
Author Keceh menyelipkan sedikit adegan horor dan gore di episode ini. Harap tetap tenang. Ha-ha!
Kuucapkan terima kasih kepada pak Wibowo, lalu turun dari mobil.
"Mama!" seru Arka yang berlari menghampiriku sembari memegang es krim.
Kubungkukkan tubuhku untuk memeluknya. Kemudian mencium pipinya dengan gemas.
"Tumben, sudah pulang," ucap Fania yang menghampiriku.
"Iya, pekerjaanku sudah selesai."
"Itu, siapa lagi yang mengantarmu?"
Kulihat mobil pak Wibowo belum beranjak dari tempat. Sedangkan Fania mendekati mobil tersebut. Ia mendekatkan kepalanya itu untuk menerawang ke dalam mobil.
"Fania!" sergahku.
"Sebentar ... aku hanya penasaran saja. Jangan-jangan kau punya pacar baru," ucap Fania seenaknya.
Saat Fania sedang asyik menerawang kaca mobil yang gelap itu, tiba-tiba kaca mobil tersebut turun. Perlahan-lahan tampak wajah pak Wibowo yang memperhatikan Fania dengan heran.
"Hai, Om?" sapa Fania dengan santainya. "Mau es krim?" tanya Fania sembari menyodorkan es krim di tangannya itu ke dalam mobil.
Pak Wibowo menampakkan ekspresi yang berbeda saat memperhatikan Fania. Dia hanya bergeming, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Tidak mau, ya, sudah!" Fania kembali menarik tangannya ke luar, lalu menjilat es krim tersebut.
"Fania! Ayo, masuk!" Kuseret lengan Fania untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
Kami pun masuk dan saat aku sedang menutup pintu gerbang, kutengok ke arah mobil tersebut, pak Wibowo masih memandang dengan heran ke arah kami. Aneh, kenapa pak Wibowo memperhatikan kami seperti itu? Dan kenapa dia belum juga pergi?
***
Pukul delapan malam, bel rumahku berbunyi. Aku sedang menidurkan Arka di sofa, jadi, Fania yang membukakan pintu.
Tidak lama, Fania kembali menghampiriku bersama Rudi yang mengekor di belakangnya. Mereka pun duduk di sofa.
"Hai, Rud. Kukira kau hanya bercanda tadi siang. Ternyata kau benar-benar datang," ucapku sembari tersenyum.
"Aku selalu menepati janji, Imania," ucap Rudi. "Arka sudah tidur?" tanyanya yang melihat Arka di pangkuanku.
Aku mengangguk, lalu mengangkat tubuh Arka, memindahkannya ke kamar. Setelah itu, aku menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Rudi. Lalu kembali naik dan meletakkan kopi tersebut di hadapan Rudi.
"Tidak perlu repot-repot, Imania."
"Ini sama sekali tidak repot, kok, Rud."
"Aku punya kaset film horor terbaru. Bagaimana kalau kita menonton ini, Imania," kata Rudi sembari menunjukkan kaset yang dibawanya.
"Rud, aku tidak begitu berani menonton film horor."
"Tenang saja, kan, ada aku," ucap Rudi sembari mengangkat kedua alisnya.
"Ah, Imania cemen! Penakut!" ledek Fania padaku.
"Memangnya kau berani?" tanyaku.
"Berani, donk? Fania gitu, loh! Tidak takut setan!" kata Fania percaya diri.
__ADS_1
"Jadi, kita nonton bersama?" tanya Rudi.
"Ayo, kita tonton bersama!" seru Fania semangat, lalu mengambil kaset tersebut dari tangan Rudi. Fania segera menyetel kaset itu di DVD player.
Rudi tiba-tiba beranjak dan duduk di sebelahku. Aku pun menatapnya heran.
"Aku bersamamu. Jadi ... kau tidak usah takut," ucap Rudi sembari tersenyum.
Usai menyetelnya, Fania mematikan lampu dan duduk di sebelah Rudi. Kami pun duduk bersama di sofa.
Kaset itu mulai memutar. Tampak sebuah judul di layar televisi, 'Nenek Keramas' dan sebuah nama sutradaranya, 'Thamie AK'. Tampak sebuah siluet wajah menakutkan di layar televisi. Baru melihatnya saja, aku sudah merasa ngeri.
Rudi duduk di antara aku dan Fania. Kami pun mulai menonton. Saat mereka asyik menonton, aku memilih menutup mata. Karena aku memang benar-benar tidak suka film horor. Aku hanya sekadar menghormati Rudi yang ingin menonton bersama.
Dalam gelap, terasa tangan Rudi menggenggam jemariku erat. Lalu berbisik, "Bukalah matamu, aku di sini. Jangan takut!"
Pelan-pelan kubuka mataku. Tampak adegan seorang pria tampan yang sedang berjalan menuju kamar mandi, lalu mendengar suara gemercik air shower di dalam kamar mandi tersebut. Pria itu pun berhenti dan menguping di daun pintu.
"Siapa di dalam?" tanya pria tampan itu dari luar kamar mandi.
"Cu, sabunin Nenek, donk?"
Pria bertubuh atletis itu mendengar suara dari dalam. Karena penasaran, dibukalah pintu kamar mandi tersebut. Dan ... mata pria itu terbelalak kaget melihat seorang nenek berwajah penuh darah, dengan mata merah, sedang mandi di bawah shower, tanpa busana sehelai pun.
Saat pria itu hendak berlari, tiba-tiba kaki pria itu diseret hantu nenek berwajah penuh darah itu hingga terpelanting ke kamar mandi. Pria itu pun berteriak.
"Tolong ...! Tolong ...!"
Saat pria itu mencoba bangkit, nenek mengerikan itu tiba-tiba meraih kepala pria tersebut dan memutarnya hingga patah, hingga darah segar mengucur memenuhi lantai kamar mandi.
"Arghh!!"
Fania tiba-tiba berteriak keras, dan itu membuatku kaget. Fania langsung memeluk Rudi sangat erat. Kaki Fania turut naik ke pangkuan Rudi. Posisinya bak anak kecil yang naik ke pangkuan ayahnya.
Aku yang tadinya merasa takut, tiba-tiba merasa lucu. Dasar, Fania!
Di adegan selanjutnya, tampak nenek keramas itu kembali membantai mangsanya di hotel. Tampak seorang pria yang tengah ketakutan di dalam kamar mandi karena melihat wajah penuh darah berbau amis itu sedang mandi di bawah shower. Hantu nenek keramas itu mencongkel kedua mata pria itu dengan kukunya yang panjang, kemudian melahapnya. Tampak darah segar bercecer di lantai kamar mandi.
"Arghh!!"
Fania kembali berteriak dan naik ke pangkuan Rudi sembari memeluknya erat sekali.
"Hei! Lepaskan!"
Setelah setengah jam menonton, Rudi beranjak dan mengeluarkan kaset dari DVD player. Dia tampak kesal karena ulah Fania yang terus berteriak memekakkan telinga dan terus naik ke pangkuan Rudi sembari memeluknya ketika ketakutan.
"Kenapa dimatikan? Ini seru!" kata Fania.
"Seru apanya, kau mengubah suasana menjadi mengerikan. Justru kau lebih horor dari hantu nenek keramas itu!" ucap Rudi dengan wajah kesal.
Aku hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fania.
Rudi menyalakan lampunya kembali. "Lain kali, kita nonton berdua saja, Imania."
Akhirnya, kami tidak jadi menonton film horor. Kami hanya mengobrol biasa sembari bercanda. Pukul sepuluh, Rudi pamit untuk pulang.
***
Paginya, aku berangkat ke kantor dijemput Rudi. Sesampainya di kantor, aku bertemu sekertaris Ve di pintu masuk kantor. Sepertinya dia juga baru datang.
"Pagi, Kak Ve," sapaku.
__ADS_1
"Pagi, Imania. Kau diantar siapa?"
"Ah, itu temanku."
"Mari ikut ke ruanganku."
Aku pun mengekor di belakang sekertaris Ve. Sesampainya di ruangannya, aku pun duduk berhadapan dengannya.
"Ada apa, Kak Ve," tanyaku langsung.
"Bagaimana perjalanan kemarin dengan pak Wibowo?"
"Sedikit buruk," sesalku.
"Kenapa?"
Aku pun menceritakan segala kejadian tentang hari kemarin, saat menemui CEO Antariksa Mart. Kuceritakan segalanya dari kegugupanku bepergian dengannya, kemudian tentang kelancaranku mempresentasikan rencana kerjasama, hingga pembatalan kerjasama akibat pelecehan yang dilakukan Antonio terhadapku.
Bukannya turut bersedih atau kecewa, justru sekertaris Ve malah tertawa. Aku menjadi bingung. Apa yang lucu dari ceritaku?
"Imania, sepertinya aku telah salah mengutusmu ke sana," ucapnya masih diiringi tawa.
Aku menatapnya tak mengerti.
"Kami memang mengharapkan kerjasama itu batal. Makanya kami mengutusmu. Tapi kau malah begitu lancar menyampaikan presentasi. Ha-ha!"
"Apa maksud dari ini semua?" tanyaku heran.
"Sebenarnya, pak Wibowo sudah cukup geram terhadap Antonio. Apa kau tidak memperhatikan perjanjian kerjasama yang mereka buat itu? Mereka menginginkan keuntungan sepihak. Awalnya, memang mereka membuat perjanjian yang adil. Tapi makin ke sini, justru mereka menginginkan keuntungan lebih tanpa memperhitungkan kerugian pihak kita. Apa kau tidak memahami itu?"
Aku manggut-manggut mengerti. "Oh ... jadi itulah alasan mengapa kau memintaku menggantikanmu? Agar semua gagal? Kukira itu akibat pelecehan terhadapku yang membuat pak Wibowo marah."
Entah mengapa ada sedikit rasa kecewa. Aku benar-benar percaya diri, bahwa pak Wibowo membelaku kemarin. Ternyata, memang ada alasan lain terkait pembatalan kerjasama itu.
"Syukurlah, kalau itu sudah benar-benar batal. Jadi, kita tidak terkesan menjilat ludah sendiri. Karena awalnya, pihak kita yang meminta terlebih dahulu untuk kerjasama dengan Antariksa Mart," papar sekertaris Ve.
Aku masih sedikit kecewa. Aku sudah sangat berharap, bahwa pak Wibowo meletakkan sedikit saja kepedulian terhadapku. Saat aku sedang termenung, sekertaris Ve beranjak dari kursinya.
"Aku akan memanggil Rangga sebentar. Kau tunggu di sini. Aku masih ingin bicara."
Saat sekertaris Ve sudah keluar. Aku kembali teringat akan KTP sekertaris Ve semasa muda. Novel mature itu masih tergeletak di atas meja. Aku pun membukanya. Dan ... KTP tersebut masih ada. Aku kembali meraihnya.
Entah mengapa ... seperti ada sesuatu yang mengusik jiwaku terkait foto tersebut. Aku kembali mengamatinya. Selain mirip dengan foto di balik bingkai itu, ini ... juga mirip dengan wajah seseorang. Tetapi siapa?
Kupejamkan kedua mataku untuk mengingat-ingat sesuatu. Dan setelah bayangan seseorang berhasil muncul, sontak mataku terbuka lebar.
"Fania!" gumamku.
Apa ini kebetulan? Wajah sekertaris Ve semasa muda, sekilas mirip dengan Fania. Ya Tuhan ... apa ini hanya kebetulan saja?
Ceklek!
Pintu itu terbuka. Sekertaris Ve masuk bersama Rangga yang mengekor di belakangnya. Ketika sekertaris Ve melihat sesuatu di tanganku, ia tampak begitu terkejut. Sama terkejutnya dengan aku yang tengah menatapnya.
-- BERSAMBUNG --
___________________________________________
Readers Keceh ...!
Jangan lupa untuk selalu LIKE, KOMEN, VOTE!
__ADS_1
Author butuh sekali dukungan kalian. Ayo, bantu novel kesayangan kalian ini menduduki peringkat. Semangati Author, donk?
Thank you ...!