
Sebelum naik pesawat, aku dan Dimas berpamitan kepada mereka.
"Jaga istrimu baik-baik," ucap pak Wibowo kepada Dimas.
"Pasti, Ayah."
Setelah kami berpamitan dengan ayah, kini, kami berpamitan dengan bu Hera—mamanya Dimas.
"Jaga dirimu, Sayang," ucap bu Hera sembari memeluk dan mencium kening Dimas.
"Mah, aku bukan anak kecil," ucap Dimas malu karena bu Hera menciumnya.
"Dimas itu sudah gede, Mah. Jangan berlebihan memperlakukannya," tukas ayah.
"Iya, dong, Yah. Kalau enggak gede, ya, enggak bisa bikin cucu," celetuk Dimas sembari tertawa.
"Wah, Kak Dimas mau bikin adek bayi, ya?" tanya Helen dengan girang.
"Iya, dong, Sayang. Kakak mau bikin adek bayi yang banyak," jawab Dimas sembari mencubit pipi Helen gemas.
"Wah, asyik. Bikin yang banyak, ya, Kak?"
"Ya, Sayang."
"Ngomong-ngomong, Kak Dimas mau bikin adek bayinya pakai apa?" tanya Helen dengan polosnya.
"Pakai pompa ajaib, Sayang," celetuk Dimas sembarangan.
Aku langsung mencubit pinggang Dimas. "Jangan sembarangan bicara dengan anak kecil, Di!"
"Dimas, hentikan bercandamu! Jangan sembarangan!" tegur ayah.
"Kenapa memangnya, Yah? Helen, kan, penasaran. Pengen punya adek bayi juga. Biar bisa bikin sendiri," ujar Helen dengan sangat polos.
Sekertaris Ve, Fania, dan Rudi pun ikut tertawa geli mendengar perkataan polos bocah bertubuh gemuk tersebut.
"Sayang, adek bayi itu boleh dibikin kalau sudah menikah." Aku berusaha menjelaskan. "Jadi, kalau belum menikah, ya, enggak boleh."
"Oh, begitu ...," gumam Helen.
Kualihkan pandangan kepada bu Hera. "Tante, Imania pamit, ya?" Aku menyalami bu Hera.
"Hm ...." Bu Hera hanya berdehem, tapi tangannya masih menggenggam tanganku. "Apa kau tidak tahu cara memanggil ibu mertua dengan benar?" tanyanya dingin.
Aku menatapnya bergeming, kemudian mengulang ucapanku. "Mah, Imania pamit."
"Ya, hati-hati," jawabnya dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
Sampai saat ini, aku belum pernah mendapati bu Hera tersenyum padaku. Apakah dia tidak menyukaiku? Akan tetapi, aku sudah berada di titik sejauh ini. Aku yakin bisa meluluhkan hatinya. Tunggu saja nanti.
Selanjutnya, kami berpamitan kepada sekertaris Ve, Fania, dan Rudi.
"Awas jika sampai Imania menangis gara-gara kau! Aku pasti akan mengambilnya kembali ke pelukanku," canda Rudi yang tengah memeluk Dimas.
"Apa kau ingin menjadi pebinor?" tanya Dimas sembari melepaskan pelukan.
"Sepertinya aku tertarik."
"Aku pasti akan membunuhmu."
"Bukankah kau juga pernah menjadi pebinor?"
"Ha-ha, itu bukan pebinor. Nia yang pelakor."
Aku kembali mencubit pinggangnya. "Apaan, sih? Bukannya kau yang menggodaku?"
"Dan apa kau tergoda?" tanya Dimas sembari mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Tidak."
"Masak?" Dimas mencubit pipiku gemas.
"Ish!" Kusingkirkan tangannya.
Perkataan sekertaris Ve membuatku malu saja. Sembari memelukku tiba-tiba sekertaris Ve berbisik, "Dimas itu masih polos. Kalau dia kurang pandai melakukannya, maka kau yang harus beraksi."
Aku langsung melepaskan pelukan. "Kak Ve." Pipiku pasti tampak sangat merah.
"Kau tenang saja, Kak. Aku tidak akan mengecewakan." Dimas menyahut.
"Apa kau mendengarnya tadi?" tanya sekertaris Ve sedikit terkejut.
Dimas mendekatkan dirinya ke sekertaris Ve, ia berbisik, "Bahkan kau cukup berbicara di dalam hati pun aku bisa mendengarnya. Aura mesummu itu sangat pekat, Kak Ve. Ha-ha."
Aku menatap Fania yang sedari tadi diam. Mungkin dia merasa canggung karena ada pak Wibowo beserta keluarganya di sini. Dari tadi kuperhatikan juga, bu Hera seperti tidak suka melihat Fania. Kasihan Fania.
"Fan, aku pamit." Kupeluk erat tubuh sahabatku tersebut.
"Selamat bersenang-senang. Jangan lupa oleh-olehnya," katanya datar.
"Apa kau tidak bahagia melihatku?" tanyaku heran terhadap ekspresinya.
Fania menarik bibirnya untuk tersenyum. Ia mencubit pipiku gemas sembari berkata, "Apa kau bercanda? Tentu aku sangat bahagia. Semoga benih cinta yang akan tertanam segera tumbuh. Aku akan sangat bahagia mendapatkan kabar kehamilanmu."
"Tentu saja. Aku akan banyak menanam benih. Kau tenang saja, Kakak pencopet." Dimas menyahut.
__ADS_1
Fania menanggapi ledekan Dimas dengan memanyunkan bibirnya kesal. "Kapan kau tidak durhaka padaku?"
Dimas benar-benar membuatku ilfill. Dia terlalu blak-blakan tanpa malu-malu. Sungguh memalukan. Ekor mataku melirik pak Wibowo sesaat. Beliau tampak memandang Fania sesekali, seperti ingin mengatakan 'ayah di sini'. Namun, Fania mengabaikan keberadaan ayahnya itu.
"Rudi, kapan kau menyusul kami?" tanya Dimas.
"Segera." Rudi langsung mengaitkan jemari tangannya dengan jemari tangan Fania.
Fania menunduk, menatap tangannya yang digenggam Rudi.
"Eghem!" Dimas berdehem. "Apa itu artinya?" Dimas menggerakkan alisnya sembari memandang ke arah jemari tangan mereka yang saling menggenggam.
Rudi menoleh kepada Fania dan berkata, "Aku menerima cintamu, pirang," katanya sembari melayangkan segurat senyum. "Mulai hari ini, kita berkencan!"
"Kau serius?" Fania terbelalak, seakan tidak percaya bahwa Rudi benar-benar serius mengatakan itu.
"Apa aku terlihat bercanda?"
Fania langsung memeluk Rudi dengan sangat gemas.
Rudi meringis kesakitan karena Fania memeluknya terlalu erat. "Hei, lepaskan! Aku tercekik. Jangan membuatku berubah pikiran!"
Kami semua turut bahagia atas kebahagiaan mereka. Jadi, hari ini ada dua sejoli yang saling berpasangan. Aku dan Dimas resmi dalam ikatan yang halal. Sedangkan Fania dan Rudi resmi berpacaran.
Mataku menatap sekeliling, di mana mas Surya dan mbak Nonita? Kenapa mereka tidak ada di sini?
"Kenapa Sayang," tanya Dimas padaku.
"Eh, itu mereka!" Aku langsung menunjuk ke arah dua orang yang tengah berjalan ke arah kami.
Semua mengalihkan pandangan ke arah mereka. Mas Surya dan mbak Nonita berpenampilan sangat aneh. Mereka memakai jaket dan celana serba hitam bak aktor dan artis yang akan memerankan film action, dengan kacamata hitam melekat di wajah mereka. Tidak hanya itu, mereka juga membawa koper masing-masing. Kami semua terbelalak melihat penampilan mereka.
"Ha-ha, jangan menatap kami seperti itu. Apa kami terlihat keren?" tanya mas Surya.
Dimas meletakkan telapak tangannya ke dahi mas Surya. "Apa kau sehat hari ini?"
"Mas Surya sama Mbak Nonita mau ke mana?" tanyaku turut keheranan.
"Loh, apa kalian lupa? Kita ini mau ikut honeymoon bersama kalian. Bukankah sudah pernah kubilang jauh-jauh hari. Kita akan buat dedek junior sama-sama?"
"Pokoknya, besok kalau Dimas sama Imania honeymoon, kita juga mau ikut honeymoon. Kita bikin sama-sama." (Episode 182)
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
EPISODE SELANJUTNYA AKAN UP MALAM HARI KARENA ADA ADEGAN NANASNYA.
__ADS_1
THANK YOU ...!