BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Perjalanan Cinta Baru Dimulai


__ADS_3

"Eghem!"


"Ayah? Ini ...."


Ayah dan ibu masih memandang ke arah kami.


"Di, lepaskan!"


"Om Ahmad, izinkan saya mengatakan ini." Dimas membawaku maju, mendekat kepada ayah.


"Ayah? Ini tidak seperti yang Ayah pikirkan. Aku—"


"Apa? Memang apa yang Ayahmu ini pikirkan?" Ayah bertanya padaku.


"Kami hanya teman biasa, Ayah," tuturku. "Di! Lepaskan!"


"Maafkan, jika saya lancang, Om. Saat ini, kami memang hanyalah teman biasa. Namun, esok hari, aku berniat untuk memperistrinya," papar Dimas blak-blakan.


Ayah dan ibu saling memandang satu sama lain.


"Ayah ... sungguh ... kami tidak ada hubungan apa-apa," kataku seraya menunduk. Aku cemas ayah akan mengira bahwa aku berselingkuh.


"Saya sangat berterima kasih, Anda sudah menyayangi Imania dengan sangat baik dan tulus," ucap Dimas lagi.


"Loh, itu memang sudah kewajiban kami," kata ayah. "Memangnya kamu berhak apa atas dirinya?"


"Saya ...." Dimas mulai gugup dipandang oleh ayah setajam itu.


"Lepas! Itu, lepaskan tangan Ima!"


Dimas pun akhirnya melepaskanku.


"Enak saja, pegang anak orang sesukamu!" tegur ayah.


"Maafkan saya ...." Dimas tampak sangat gugup. Padahal ia berhadapan dengan ayah mertuaku, bukan ayah kandungku. Ayah kandungku bahkan lebih galak darinya.


"Kau pikir, kau bisa menjaganya lebih baik dari kami?"


"Saya yakin, saya bisa, Om!" ucapnya mantap.


"Aku tidak bisa mempercayaimu!"


Dimas pun mendekat, lalu meraih tangan ayah mertuaku. "Om ... saya mencintai Imania. Saya ingin memilikinya. Saya ingin menjadikannya sebagai istri saya. Dan saya berjanji untuk membahagiakannya."


"Kau seorang dokter. Masih muda pula. Apa orang tuamu akan merestui hubungan kalian nantinya?"


"Saya akan bicara dengannya, nanti, Om!"

__ADS_1


"Jawabanmu tidak cukup memuaskan, Anak Muda!"


Ayah mengempaskan tangannya dari Dimas. Kemudian berkata lagi, "Imania sudah sangat menderita akibat ulah putraku. Aku tidak bisa membiarkan dia menderita untuk kedua kalinya. Kau tahu, dalam hubungan tidaklah cukup bermodalkan cinta. Tapi kalian harus ada prinsip, komitmen, dan keyakinan. Mendengar jawabanmu itu, sama sekali tidak membuatku yakin!"


"Om? Saya akan membuktikan keseriusan saya pada Imania, Om!"


"Pergilah dari sini!"


"Ayah ...." Aku tahu ayah bersikap begitu karena ia tidak ingin aku salah memilih laki-laki.


Dimas pun melangkah untuk keluar dengan gontai. Aku tahu, dia pasti sangat kecewa. Dan saat Dimas sudah menyentuh gagang pintu itu. Tiba-tiba ayah berkata lagi, "Jika kalian memang saling mencintai, maka tunggulah sampai Bastian sudah resmi menceraikannya!" kata ayah tiba-tiba.


Dimas pun segera berbalik dan berlari memeluk ayah. "Om, terima kasih banyak, Om! Terima kasih sudah merestui kami!"


Ayah pun tersenyum, kemudian melepaskan pelukan Dimas. "Ima, kemarilah!"


Aku pun mendekat, berdiri di sebelah Dimas. Dan ayah memandang kami penuh selidik, silih berganti.


"Kalian memang serasi. Tetapi serasi itu tidaklah cukup! Awas saja kalau kau sampai menyakitinya. Aku akan membunuhmu!" kata ayah.


"Saya tidak akan mengecawakan kepercayaannya Anda!"


"Kau tahu, Ima belum resmi bercerai? Jadi, tunggulah sampai akhir masa idah. Baru kalian boleh berhubungan."


Dimas terlihat sangat senang. Ia pun berkali-kali mencium punggung tangan ayah mertuaku.


"Kau harus ingat! Masih ada orang tua kandung Ima, yang harus kau mintai restu! Dan juga orang tuamu!" kata ayah kembali.


Aku berniat untuk pulang naik ojek. Tetapi saat aku sedang berjalan keluar gerbang rumah sakit, seseorang memanggilku.


"Imania!" Suara seseorang memanggilku dari dalam mobil berwarna kuning yang berada di belakangku.


Aku pun menoleh ke arahnya. "Nessa!"


"Kau mau pulang? Ayo, pulang bersamaku!"


"Aku ... aku sudah memesan ojek. Tidak usah, Ness!" tolakku. Sebenarnya aku sama sekali belum memesan ojek. Aku hanya ingin menghindarinya. Lagi pula, aku merasa tidak enak hati bila Nessa terus menganggapku teman. Sedangkan aku sudah mengingkari janjiku padanya.


"Oh, baiklah kalau begitu. Aku duluan, ya?"


Aku mengangguk seraya tersenyum padanya. Lalu mobil berwarna kuning tersebut melewatiku. Maafkan aku, Ness. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku dan Dimas saling mencintai.


Suara klakson mobil mengagetkanku. Aku menoleh kembali ke belakang. Aku pun menepi, dan membiarkan mobil tersebut melewatiku. Kemudian mobil itu berhenti di depanku. Seseorang keluar dari mobil tersebut, menghampiriku.


"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang?" tanyanya.


"Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula ini masih siang. Kau masih harus bekerja."

__ADS_1


"Aku bisa kembali bekerja setelah mengantarkanmu pulang. Cepat masuk!"


"Kau tidak boleh meninggalkan pekerjaan seenaknya, Di. Ingat! Kau memiliki tugas mulia sebagai seorang dokter. Banyak orang di rumah sakit yang memerlukan penanganan segera," kataku memperingatkan.


"Mulai sekarang, tugasku bukan hanya menangani orang sakit. Ada tugas yang lebih penting dari itu, yaitu menjagamu."


Aku pun masuk ke dalam mobilnya. Dan Dimas mengantarku pulang ke rumah orang tua kandungku. Kemudian ia kembali ke rumah sakit untuk melaksanakan tugasnya.


Aku masuk ke dalam rumah. Ibu dan ayah langsung menyambutku dengan berbagai pertanyaan.


"Ima, siapa yang mengantarmu tadi?" tanya ibu langsung.


"Oh, dia ... dia temanku, Bu."


"Kenapa kau tidak pulang dengan suamimu?" tanyanya kembali.


Oh, aku hampir lupa. Aku belum bercerita apapun pada mereka perihal hubunganku dengan mas Bastian.


"Ibu, Mas Bastian masih di rumah sakit untuk menjaga ayahnya."


Sepertinya ayah dan ibu menangkap sesuatu yang tidak beres pada diriku.


"Oh, ya? Pak Ahmad sudah sadar dari koma, Bu, Yah?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh, syukurlah," ucap ayah senang.


"Di mana Arka?" Mataku mencari-cari sosok Arka.


"Dia sedang tidur," ucap ibu yang masih menatapku penuh selidik.


Menyadari itu, aku pun bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian dan istirahat.


"Ima, tunggu!" Suara ibu menghentikan langkahku. "Kau belum menjelaskan tentang orang yang mengantarmu tadi!"


-- BERSAMBUNG --


__________________________________________


Readers Tersayang?


Author Keceh mau tanya, nih?


Kalian suka baca novel ini pagi/malam hari?


Soalnya Author Keceh ingin atur jadwal waktu terbit yang pas supaya kalian enggak ketinggalan update.


BTW, kalian suka baca pas jam berapa? Atau Author Keceh up setiap jam 7 malam aja, supaya kalian bisa santuy sambil rebahan?

__ADS_1


Kasih saran, donk? Biar Waktu UP-nya Author Keceh tentukan.


Thank You! đź’–


__ADS_2