
Setelah selesai makan. Kami pun duduk di sofa, sembari menonton televisi. Fania membaringkan tubuhnya di sofa, dan mengangkat satu kakinya ke atas sofa. Sedangkan aku duduk di sofa sebelahnya, sembari membalas chat dari seseorang. Yang selalu menggetarkan hatiku.
[Kau sedang apa?]
[Aku sedang bersama teman. Menonton TV. Kau sedang apa?]
[Coba tebak!]
[Kau pasti sedang duduk.]
[Salah!]
[Kau ... sedang memegang handphone.]
[Salah!]
[Kau sedang ... memeriksa pasien.]
[Salah!]
[Kau sedang apa, sih?]
[Aku sedang merindukanmu. (emot love)]
Aku mulai tersenyum membaca balasan darinya.
[Aku juga,] balasku.
[Kalau begitu, ayo kita ketemu!]
[Kapan?]
[Nanti sore, ya? Pukul empat sore.]
[Di mana?]
[Di hatimu.]
[Serius?]
[Ya, aku sangat serius.]
Saat aku akan membalasnya lagi. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Sebuah panggilan masuk.
"Halo."
"Halo, Sayang ...?" Suara di seberang telepon.
"Ish!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Enggak apa-apa."
"Kita ketemuan di mana?"
"Yang penting jangan jauh-jauh!"
"Di cafe saja, ya?"
"Baiklah. Tapi sebentar saja, ya?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung aku mau lama atau sebentar."
"Ish!"
Kami pun berbincang-bincang sebentar. Fania sepertinya memperhatikanku.
"Eghem!" Fania berdehem.
"Siapa itu?" tanya Dimas dari seberang telepon.
"Oh, itu. Seorang gadis yang tingkahnya seperti alien!" Aku menatap wajah kesal Fania seraya tertawa.
"Gadis alien?"
"Ya. Apa aku bisa mengajaknya nanti?"
"Benar! Dia memang sangat mengganggu!"
Fania pun duduk kemudian mencubit pinggangku.
"Aw!"
"Kenapa? Apa dia menyakitimu?" tanya Dimas penasaran.
"Tidak hanya itu. Dia juga selalu merepotkanku!" kataku seraya melirik Fania.
"Biar kuberi pelajaran, bila bertemu!"
"Tidak usah! Nanti giliran kau yang kerepotan!"
Kami pun tertawa. Setelah cukup berbincang, kemudian panggilan telepon pun berakhir. Fania menatapku penuh penasaran.
"Apa kau juga selingkuh?"
Aku sangat terkejut dengan pertanyaan Fania. Aku pun mengatakan bahwa Dimas adalah mantanku. Lalu kuceritakan dengan jujur perihal mantan pacarku itu.
"Oh ... syukurlah. Ceritanya CLBK, nih? Cinta Lama Berusaha Kelar, ha-ha ...!"
__ADS_1
Fania pun kembali berbaring seraya mengangkat kakinya ke atas sofa.
"Eh, ada tamu rupanya?"
Sontak aku pun kaget. Terlebih lagi Fania. Ia segera menurunkan kakinya dan duduk dengan sopan. Sejak kapan ibu masuk? Kenapa tidak terdengar suara motor ayah? Apa ibu mendengar percakapanku tadi di telepon? Tetapi sepertinya tidak. Mata ibu hanya fokus memandang Fania. Dengan kikuk, Fania pun melempar senyum sembari menganggukkan kepalanya pada ibuku.
"Ibu, kenalkan ini Fania, temanku," kataku.
Fania pun segera berdiri dan menyalami ibuku. Ia tampak manis ketika mencium tangan ibuku, meskipun Fania terlihat rikuh. Fania pun memperkenalkan dirinya.
"Bu, di mana Arka?" tanyaku.
"Arka tidak mau kuajak pulang. Dia masih di rumah mertuamu."
"Di mana ayah?"
"Dia sedang di bengkel. Ban motornya bocor."
Oh, pantas tadi tidak ada suara motor berhenti di depan rumah. Ibu pun masuk ke dalam kamarnya.
***
Jam tiga sore aku pun mandi. Aku berdandan rapi, mengenakan gamis warna pink dipadu dengan pashmina warna senada.
"Imania, aku ikut!" pinta Fania yang sedang mengamatiku berdandan dengan make up tipis-tipis.
"Jangan! Nanti kau merepotkanku!"
"Ayolah ... please ...." rengeknya bak anak kecil.
"Ima? Kau mau ke mana?" Tiba-tiba ibu masuk ke kamarku. Ia juga mengamatiku yang sedang duduk di depan cermin.
"Ibu ... aku ...."
"Tante—"
"Panggil 'Bibi' saja," sela ibu.
"Bibi? Aku ingin mengajak Imania jalan-jalan sebentar," kata Fania tiba-tiba.
Ibu berpikir sesaat. Kemudian mengangguk. "Baiklah. Asal jangan pulang malam, ya?"
"Baik, Tante!"
"Bibi saja!"
"Oke, Bibi, sip!"
Akhirnya aku pun mengajak Fania untuk ikut bersamaku ke cafe. Lagi pula, tidak mungkin, kan, aku izin pada ibu untuk menemui Dimas. Dia pasti akan berpikir macam-macam, karena aku juga belum mengurus soal perceraian bersama mas Bastian.
Fania memintaku untuk menunggunya mandi. Aku memintanya untuk memilih baju sesukanya di dalam lemari, yang berisi pakaian masa ABG-ku. Dan setelah itu kami pun berangkat menuju cafe, yang Dimas tunjukkan lewat pesan WhatsApp.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________