
Pagi yang mendung. Semesta mengerti kesedihanku. Menciptakan suasana mendung, semendung hatiku. Hujan semalaman cukup membuat merah dan bengkak kedua mataku. Bahkan, aku tiada sedetikpun terlelap. Kubiarkan mata dan hatiku mengeluarkan segenap emosi jiwa.
Kulirik jam di atas meja menunjukkan pukul lima pagi. Aku pun segera bangkit. Rasa pusing dan sakit kepala menyerangku. Namun, aku tetap berjalan. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kutatap wajah senduku di cermin.
Ini diriku. Yang semalam rapuh. Bahkan, saat ini pun masih rapuh. Kehilangan dirinya, berarti kembali merelakan separuh jiwaku untuk pergi.
Kubasuh wajahku, kemudian mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai memakai pakaian, kutunaikan shalat subuh. Aku menghadap kepada yang kuasa atas segala kuasanya pada diriku.
Ya ... Rabb. Aku menyukai salah seorang hamba-Mu. Aku mencintainya. Aku ingin hidup ke jenjang yang lebih sakral dengannya. Ke jenjang yang Engkau sunnahkan.
Ya ... Rabb. Aku ingin memilikinya. Padahal aku tahu, bahwa dia milik Engkau seutuhnya. Maka, kuserahkan kembali ia pada-Mu.
Ya ... Rabb. Jika cintaku padanya salah, maka ampunilah aku. Dan jika cintaku padanya berlebihan, maka hendaklah Engkau hematkan perasaanku. Agar berada pada rasa yang seharusnya.
Ya ... Rabb. Semalam, aku mengakhiri kisah cinta di antara kami. Padahal aku masih sangat menginginkannya. Namun, pada-Mu aku yakin, hanya Engkau yang dapat menciptakan akhir dan awal yang indah. Maka, kupasrahkan pada-Mu segala kisahku.
Tuhan ... bila ia jodohku, maka Engkaulah yang pantas menyatukan kami lagi. Namun, bila ia bukan takdirku, aku ikhlas ....
Aku berdoa kepada Tuhan dengan air mata berderai. Aku selalu percaya pada Tuhan, yang memberikan qada dan qadar. Jadi ... biarlah aku kembali melepaskan. Pada saatnya juga, bila benar ia jodohku. Aku yakin kami akan disatukan kembali.
Usai menunaikan ibadah, aku akan memasak. Aku pun berjalan keluar dari kamar. Saat melewati Fania, ia masih berada di sofa. Kuambil selimut dari kamar Fania, lalu menyelimuti tubuhnya.
Entah apa yang yang terjadi, snack-snack berserakan di sekitar sofa. Sepertinya, Fania makan snack sembari berbaring di sofa dan tanpa sadar ia tiba-tiba tertidur. Lalu snack di tangannya jatuh ke lantai.
Kubersihkan lantai dan membereskan meja yang dipenuhi bungkus snack dan softdrink. Setelahnya, aku menuju dapur.
Aku memasak dengan disertai sakit kepala yang terus menerus mendera. Mungkin efek semalam. Lagi pula aku juga tidak tidur semalaman.
Usai memasak, aku langsung sarapan pagi. Kuambil sedikit nasi. Sebenarnya aku sedang tidak ingin makan. Tetapi sejak pulang dari mall kemarin, aku memang belum makan apa-apa. Jadi, kusegerakan sarapan pagi agar tubuhku bisa kuajak bekerja.
Setelah makan, aku kembali ke lantai atas, mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Saat hendak turun, aku membangunkan Fania sebentar.
"Fania, aku titip Arka, ya?"
Fania langsung mengucek kedua matanya. Dia terkejut mendapati dirinya yang tidur di sofa.
"Imania, di mana snack-ku?"
Mata Fania yang terbelalak, tiba-tiba meredup menatapku.
"Imania, kau kenapa?"
Aku segera beranjak pergi meninggalkan Fania. Sebab aku tahu, bahwa Fania akan menginterogasiku. Akan tetapi, Fania mengejarku. Ia menahan lenganku.
"Sejak kemarin, aku sudah memperhatikanmu. Sebenarnya apa yang terjadi, Imania?"
"Aku mau pergi ke kantor."
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Aku titip Arka, ya."
Kulepaskan tangan Fania. Dan aku kembali beranjak.
"Apa gara-gara Dimas?" serunya.
Aku tak menjawab dan terus berjalan.
"Aku akan menemuinya nanti!" seru Fania lagi.
Aku pun berhenti dan tanpa menolehnya, aku berkata, "Jangan! Kami sudah putus!"
Aku pun mempercepat langkah untuk menghindari Fania. Aku segera keluar dari rumah.
Langit sudah semakin menghitam. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Aku terus berjalan kaki. Sebenarnya, jarak rumahku dengan kantor tidak teramat jauh. Hanya beberapa kilometer saja. Ya, bagiku tidak begitu jauh. Mungkin, berjalan kaki selama lima belas menit akan sampai.
Suara petir mulai menggaung. Kupercepat langkah, tapi tetap saja, hujan tak dapat kuhindari.
Rintik-rintik air mulai mengguyur bumi. Aku pun berlari untuk mencari tempat berteduh. Akhirnya, aku berhenti di bawah teras toko yang masih tutup, yang terletak di pinggir jalan.
Hujan semakin deras. Hawa dingin menyeruak menembus kulit. Dalam kondisiku yang kurang fit, ini semakin membuat tubuhku merasa tak nyaman.
Aku berdiri sembari menggigil. Tiba-tiba saja sebuah mobil hitam menepi di sisi jalan tempatku berteduh. Seseorang turun dari mobil tersebut dengan membawa payung. Ia berlari menghampiriku.
"Imania, berangkatlah bersamaku."
__ADS_1
"Mas Bastian."
Mas Bastian memperhatikanku. "Apa kau habis menangis? Matamu bengkak."
Aku tidak menjawab. Mas Bastian pun memayungiku yang berjalan masuk ke mobilnya. Kemudian mas Bastian pun masuk.
Ia menatapku heran. Tiba-tiba, mas Bastian meletakkan telapak tangannya ke dahiku. "Kau demam. Pantas, wajahmu pucat sekali."
"Aku tidak apa-apa, Mas."
Mas Bastian mengambil sebuah jaket yang ada di mobil dan memasangkannya ke tubuhku.
Aku menatapnya dengan tatapan sayu. "Terima kasih."
Mas Bastian hanya tersenyum tipis. Kemudian menyalakan mobilnya. Kami berangkat menuju kantor.
"Seharusnya kau tidak usah berangkat ke kantor hari ini. Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit terlebih dahulu? Agar kau diperiksa?"
"Tidak perlu, Mas. Aku hanya sedikit pusing."
"Tapi kau pucat sekali."
"Tidak apa-apa. Kau tenang saja."
"Apa Dimas menyakitimu?"
Kuabaikan pertanyaan mas Bastian. Dia pun mengerti, bahwa aku sedang tidak ingin bicara. Jadi, ia tak bertanya lebih lagi.
"Imania, Elli dan beberapa orang di staff back office dipecat," ungkap mas Bastian.
"Mereka dipecat?" Aku sungguh terkejut mendengarnya.
"Sekertaris Ve memecatnya, beberapa hari yang lalu."
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Pagi itu, ia marah-marah kepada mereka. Aku tidak begitu paham. Kemudian sekertaris Ve memecat mereka. Termasuk Didin dan Wawan."
"Didin dan Wawan juga dipecat?" Aku semakin terkejut mendengarnya.
Apa itu ada hubungannya denganku? Akan tetapi, mengapa harus sampai memecat mereka?
Kami pun sampai di kantor. Kulepaskan jaket milik mas Bastian. Kukembalikan padanya. Kami pun turun bersama. Hujan masih begitu deras. Mas Bastian mengambil payung, dan kami berjalan sepayung berdua.
Aku tidak masuk pintu depan seperti biasanya. Kali ini, aku masuk kantor back office, tempat kerjaku sebelumnya.
Saat memasuki kantor staff back office, semua kursi sudah dipenuhi karyawan. Beberapa di sana tampak asing bagiku. Mereka pun segera menundukkan salam hormat saat melihatku masuk.
"Mereka karyawan baru di sini. Pengganti Elli dan teman-temannya," terang mas Bastian.
Aku mengangguk mengerti. Kemudian mengucapkan terima kasih banyak kepada mas Bastian.
Aku kembali berjalan. Saat melewati ruangan sekertaris Ve, aku tertarik untuk menemuinya. Kuketuk pintu tersebut, tapi tidak ada jawaban. Apa sekertaris Ve belum berangkat?
Kubuka pintu ruangan tersebut. Mataku menatap kursi kerja sekertaris Ve yang masih kosong. Oh ... kepalaku pusing sekali. Apa lebih baik aku menunggunya di ruangan ini? Ya, aku akan menunggunya saja.
Aku pun masuk dan duduk di depan meja kerja sekertaris Ve. Aku ingin menanyakan alasan, mengapa sekertaris Ve memecat Elli dan teman-temannya.
Saat sedang duduk sembari memegangi kepalaku, tiba-tiba saja mataku tertuju pada sebuah buku yang tergeletak di atas meja sekertaris Ve. Aku pun meraihnya. Ini ... sebuah novel. Aku melihat covernya yang begitu vulgar. Bergambar sepasang kekasih tanpa busana, yang tengah melakukan adegan panas sembari berciuman, bertuliskan judul, 'HOT DADDY'.
Oh, ini novel mature. Ternyata sekertaris Ve juga suka membaca novel. Melihat covernya saja sudah membuatku geli. Aku tidak jadi penasaran. Jadi, kuletakkan kembali. Namun, ada sesuatu yang jatuh dari novel tersebut. Aku pun mengambilnya.
Sebuah KTP terjatuh dari novel tersebut. Kuambil KTP tersebut. Mataku terbelalak melihat sebuah foto di dalam KTP itu. Bukankah, ini adalah wanita yang ada di balik bingkai foto itu?
Aku kembali menajamkan mata memperhatikan foto tersebut. Matanya, hidungnya, bibirnya, yah, ini sangat mirip. Meskipun foto di balik bingkai itu sudah memudar, tapi aku bisa memastikan, ini ... ini mirip sekali.
Kubaca identitas yang tertera di dalam KTP tersebut. Tertulis 'Vera Amalia'. Bukankah ini nama sekertaris Ve? Namun, kenapa, wajahnya berbeda dengan sekertaris Ve? Kuperhatikan tahun masa KTP tersebut. Di situ tercantum angka yang sudah begitu lama. Sekitar 20 tahun yang lalu.
"Oh ... ini berarti adalah KTP lama," gumamku.
Aku jadi teringat perkataan mbah Mar lagi saat meramal sekertaris Ve. (Episode 128)
"Kau sudah melakukan perubahan terhadap wajahmu, untuk mempercantik penampilan."
Apa ... apa ada hubungan khusus antara sekertaris Ve dan pak Wibowo? Apa ... foto wanita di balik bingkai itu adalah sekertaris Ve? Mengapa mirip sekali?
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki menuju ruangan. Dengan cepat kuselipkan kembali KTP tersebut ke dalam novel.
Pintu ruangan itu terbuka. Sekertaris Ve tampak terkejut melihatku sudah berada di dalam ruangannya.
"Imania, apa kau menungguku?" tanya sekertaris Ve yang melangkah menuju kursinya.
"Aku ingin bicara denganmu."
Sekertaris Ve pun duduk dan meletakkan tasnya. Dia menatapku sembari menyipitkan matanya. "Apa kau habis menangis?"
Apa mataku begitu bengkak, sehingga semua yang menatapku tahu, bahwa aku habis menangis.
Aku mengabaikan pertanyaan sekertaris Ve. "Kak Ve, mengapa Elli dan teman-temannya dipecat?"
"Karena aku sudah tidak membutuhkan mereka lagi."
"Apa ... ini ada hubungannya denganku?"
"Dimas yang memintaku untuk memecat mereka semua."
Aku sangat terkejut mendengar penuturan sekertaris Ve. "Kenapa?"
"Karena mereka membully-mu."
Bagaimana Dimas bisa tahu, bahwa mereka membully-ku? Bukankah, waktu itu, dia datang setelah Elli dan teman-temannya pergi?
"Dimas tahu segalanya, bahkan dalang di balik mereka semua," ungkap sekertaris Ve.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Dokter Vanessa," ungkapnya lagi.
Aku tidak begitu terkejut. Karena sebenarnya, aku sudah sempat menduga lewat postingan Nessa di Instagram.
"Jadi, Dimas tahu tentang itu," gumamku.
"Dimas tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu. Dokter Vanessa juga membayar mereka semua untuk menyakitimu. Termasuk pelemparan telur sore itu. Dimas sudah menceritakannya padaku."
Lalu kenapa dia tidak marah dan membenci Nessa? Padahal dia sudah tahu segalanya.
Sekertaris Ve meraih tanganku yang berada di atas meja. Ia meremas telapak tanganku lembut. "Imania, Dimas sangat mencintaimu. Siapapun yang mengganggumu, dia akan menjauhkannya darimu. Sesungguhnya, tanpa kau ketahui, Dimas selalu bersikeras menjagamu, Imania. Dia sangat serius untuk membahagiakanmu."
Aku terdiam sejenak, lalu berkata, "Sayangnya, kami sudah putus, Kak Ve."
"What?!"
Sekertaris Ve terbelalak kaget mendengar pernyataanku.
"Ya, semalam, kami sudah putus."
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Readers Keceh, selamat pagi?
Sudah tidak sabar menunggu nanti malam, ya?
Nanti malam, akan ada sebuah pernyataan yang muncul dari Dimas, terkait dirinya yang masih bertahan dengan Nessa.
So, tunggu UP selanjutnya, ya?
Wah, pasti pada penasaran dengan foto tersebut, ya? Apakah wanita di balik bingkai foto itu sekertaris Ve? Di episode selanjutnya akan terbuka misteri satu per satu.
Author sengaja menyajikan sebuah novel bergaya 'KEHIDUPAN NYATA' tidak terlalu dibuat dramatisasi seperti novel lainnya.
Ini adalah gaya Author Keceh, agar kalian dapat menikmati sensasi yang berbeda dari kebanyakan novel romansa.
Semua alur dibuat mengalir dengan nyata. Ingat! Kalian boleh menebak-nebak, ya? Author Keceh selalu baca seluruh komentar kalian.
Oh, ya? Untuk kehidupan Bastian dan Bella juga sudah siap terungkap.
Jadi, tunggu saja dan DI RUMAH SAJA!
Jangan lupa, LIKE, COMENT, VOTE!
__ADS_1
THANK YOU ...! 😘