
"Wanita? Di mana?" tanyaku penasaran.
"Dia sudah keluar. Dasar orang aneh! Kupikir dia sangat mencurigakan. Mau mencuri kali ya, tapi enggak jadi. Entahlah!" tuturnya dengan wajah sinis.
"Jangan berprasangka buruk, ah! Tidak baik begitu."
Pandanganku pun tertuju kembali pada mas Bastian. Ia pun segera memberikan belanjaan itu padaku.
"Ini belanjaannya," katanya seraya mengulurkan satu kantong plastik besar berisi minyak, detergen, dll.
"Terus, ini bagaimana?" Seraya menunjukkan keranjang belanjaan di tanganku.
"Berikan saja pada kasir. Biar kubayar juga."
Aku pun memberikan keranjang berisi belanjaan tersebut. Usai mas Bastian membayarnya, ia langsung pamit pergi. Ia mengatakan masih ada urusan lain.
Aku dan Dewi sudah selesai berbelanja. Dua kantong plastik besar kuletakkan di bagian depan motor. Sedangkan milik Dewi dipegang sendiri. Kunyalakan motor, dan meminta agar Dewi berpegangan erat.
Di perjalanan menuju rumah Dewi, aku masih memikirkan kejadian tadi. Mengapa mas Bastian tiba-tiba saja berbelanja? Padahal dia mana tahu daftar kebutuhan pokok? Itu aneh sekali. Terlebih, Dewi mengatakan ada seorang wanita yang tiba-tiba berlari keluar dari minimarket. Apa mungkin?
"Hei!" Dewi menepuk pundakku pelan, membuatku kaget. "Kamu tidak mendengar? Aku sedang bicara!" dengusnya kesal.
"Eh, maaf. Iya kenapa?"
"Enggak jadi!"
"Ye ... ngambek deh!" godaku.
"Kamu mikirin apa, sih?"
"Enggak, kok, enggak apa-apa," kataku.
"Ya sudah, kalau enggak mau cerita!"
Aku tertawa mendengar Dewi yang sedang ngambek. Seperti anak kecil saja.
"Ketawa saja terus!"
__ADS_1
Tak lama kami pun sampai. Kuhentikan motor tepat di depan rumah Dewi.
"Eh, Ima! Suamimu memang sering berbelanja, ya?" tanya Dewi sambil turun dari motor.
"Iya," jawabku berbohong. Tak ingin sahabat yang satu ini semakin penasaran. Biar nanti kutanyakan langsung pada mas Bastian.
"Wah, perhatian banget. Boro-boro mas Rangga mau berbelanja. Dia mana tahu kebutuhan dapur, ha-ha ...."
Panjang umur, baru saja disebut, suami Dewi keluar dari rumah. Dia langsung menolehkan pandangannya ke arah kami.
"Eh, ada tamu, ya?"
"Kami baru pulang dari minimarket, Mas." Dewi menjawab.
Laki-laki itu menghampiriku yang masih duduk di atas motor. "Apa kabar Ima?" sapa Rangga seraya mengedipkan sebelah mata. Dia juga mengulurkan tangan, tetapi langsung ditepis oleh Dewi.
"Jangan ganggu dia lagi! Dasar genit!" ucap Dewi seraya menjewer telinga Rangga.
"Maafkan Mas Rangga ya, Ima. Dia memang genit! Biar kuberi pelajaran. Sampai jumpa, Ima. Kamu hati-hati di jalan?" ucapnya seraya menggiring suaminya masuk ke dalam rumah.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rangga. Aku teringat dua tahun yang lalu, ketika Rangga menggodaku. Dia adalah laki-laki yang menyebabkan aku difitnah sebagai pelakor. Ah, sudahlah. Masa lalu biarlah berlalu. Aku kembali melajukan motor untuk pulang.
***
Ayah mertua yang mengantar Arka pulang. Saking lelahnya bermain di rumah kakek-neneknya itu, Arka langsung tertidur pulas. Kuperhatikan jagoan kecilku yang sedang nyenyak. Semakin lama ia semakin tumbuh besar. Wajahnya semakin mirip seperti mas Bastian. Meskipun tidak sedikit yang mengatakan bahwa Arka lebih mirip denganku. Dia juga semakin tampan. Aku semakin gemas memandanginya.
Kubaringkan tubuh di samping Arka, sambil terus memandangi wajah anak berusia dua tahun lebih tersebut. Kuusap rambutnya yang lebat. Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Itu pasti mas Bastian.
Kulirik jam di atas meja menunjukkan pukul 22.15 malam. Aku segera beranjak dari tempat tidur. Membukakan pintu. Mas Bastian masuk, lalu mengganti pakaian. Ia meminta untuk dibuatkan kopi. Kami pun duduk di sofa ruang keluarga. Lalu mas Bastian menyalakan TV.
"Mas!"
"Hm ...."
"Kenapa kamu berbelanja sendiri?" Sengaja kubuka percakapan. Sejak tadi sore di minimarket, perasaanku sudah mulai curiga.
"Ya, sebenarnya ... aku cuma ingin membeli mainan untuk Arka. Hari ini aku dapat bonus gaji dari Bosku. Jadi, sekalian saja berbelanja. Sesekali tidak apa lah? Buat meringankan beban istri, he-he...." Kemudian mentoel hidungku.
__ADS_1
Aku masih menatapnya dengan tatapan curiga. "Kamu ... membeli pembalut juga?"
Mas Bastian terdiam sejenak. "Iya ... ah, bukankah kamu bilang, kamu sedang menstruasi? Ya, sekalian saja kubelikan, he-he ...."
"Bagaimana dengan ini?" Aku mengeluarkan sebuah alat pencegah kehamilan yang biasa dipakai oleh laki-laki. Setahuku, mas Bastian tidak pernah memakai alat seperti itu. Meskipun kami jarang berhubungan intim semenjak aku hamil. Mungkin bisa dihitung, berapa kali kita pernah melakukannya. Hanya saja aku tak menghitungnya. Lagi pula, bukankah dia tahu, bahwa sekarang aku sudah melakukan program Keluarga Berencana.
"Mas!"
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Hai, Readers Tersayang ....
Author pernah bilang, kan, mau kasih GIVE AWAY menjelang ending. Nah, berhubung Author Keceh sedang bermurah hati (ceileh!).
Author mau kasih GIVE AWAY di awal ini. Yang kecil-kecilan dulu deh, ya? Yang agak menggiurkan nanti aja menjelang ending (ha-ha).
Nah, gimana caranya?
Simak Syarat & Ketentuan ya?
Wajib Follow akun Author Keceh ini ya?
Wajib Like and Coment
Vote sebanyak-banyaknya.
Udah, gampang kan?
Penilaian kali ini berdasarkan VOTING TERBANYAK!
Pengumuman pemenang VOTE TERBANYAK adalah tanggal 25 Maret 2020.
So, ayo vote mulai dari sekarang!
Thank You ....
__ADS_1