
Sekertaris Ve membawaku ke tempat kerjaku. Dia membawaku ke back office, bergabung bersama staf karyawan yang lain. Betapa terkejutnya diriku melihat satu sosok yang sangat familiar di mataku. Sosok tersebut pun tidak kalah terkejutnya melihat diriku yang berada di sini.
"Imania!" seru laki-laki itu.
"Mas Bastian!" seruku juga.
Sesaat kami saling menatap. Bukankah mas Bastian bekerja di kantor cabang satu? Mengapa tiba-tiba ia ada di kantor pusat? Aku tahu mas Bastian bekerja di bank swasta milik ayahnya Dimas, tetapi dulu dia tidak ditempatkan di sini.
"Silakan perkenalkan dirimu, Imania!" perintah sekertaris Ve.
Aku pun memperkenalkan diri. Mereka semua menyambutku dengan senyuman. Kecuali satu orang, yang masih menatapku dengan tatapan terkejut.
"Imania? Kau boleh langsung duduk di mejamu. Kau, duduklah di sana!" Sekertaris Ve menunjuk ke salah satu meja kosong di samping meja mas Bastian.
Aku pun langsung berjalan dengan langkah gontai. Sesungguhnya, aku masih tidak mengerti skenario Author Keceh membawaku ke sini. Author Keceh sangat sulit di tebak. Mengapa harus didekatkan kembali dengan mas Bastian? (Wkwk)
"Imania ...," panggil mas Bastian yang sudah duduk di sampingku.
Aku pun membalasnya dengan senyuman. Kemudian duduk, dan menyalakan komputer di hadapanku.
Mas Bastian terus menatapku. Tatapannya itu membuatku merasa sedikit risih.
"Imania?"
"Ya, Mas," jawabku seraya menoleh kepadanya.
"Kau ... kau bekerja di sini?" katanya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Menurutmu?"
Aku pun mengalihkan pandangan ke depan komputer. Sekertaris Ve menghampiriku, lalu menunjukkan bagaimana caraku bekerja. Dia menjelaskan dengan sangat detail dan hati-hati perihal pekerjaanku. Sehingga aku pun mudah memahami penjelasannya.
"Hari ini kau boleh langsung bekerja. Tolong masukkan data-data ini dengan benar, ya?" Sekertaris Ve menyerahkan sebuah berkas padaku.
"Baik, Kak," jawabku.
"Bagus! Aku senang kau cepat tanggap menerima penjelasanku."
Sekertaris Ve pun beranjak, kembali ke ruangannya. Aku segera mengerjakan tugas yang diberikan sekertaris Ve. Meski masih berada dalam perasaan aneh ini. Aku berusaha tetap tenang, tanpa mencampuradukkan emosi batin yang tengah melanda diri.
Saat aku sedang memasukkan data-data yang diberikan oleh sekertaris Ve, tiba-tiba diriku merasakan ada yang terus memperhatikanku. Aku pun menoleh ke arahnya. Mas Bastian terus memandangiku.
"Ada apa, Mas?"
__ADS_1
"Ah, ti-tidak ada apa-apa," katanya kemudian kembali menatap layar komputer di hadapannya.
Aku pun kembali bekerja. Walaupun harus berada dalam situasi seperti ini. Dekat dengan orang yang membenciku, yaitu Pak Wibowo. Serta dekat dengan mantanku—mas Bastian— tapi aku senang bisa bekerja.
***
Jam istirahat pun berbunyi. Aku belum sarapan sedari tadi pagi. Perutku merasa lapar. Sontak aku teringat bekal yang ibu berikan padaku.
"Imania?" panggil mas Bastian.
"Iya, ada apa?" tanyaku sembari menoleh ke arahnya.
"Apa kau mau pergi ke kantin bersama?"
Tanganku meraih sesuatu dari dalam tasku. Kemudian menunjukkannya pada mas Bastian. "Ini. Aku akan makan di sini saja."
"Oh, baiklah," ucap mas Bastian seraya menggaruk-garuk kepalanya.
Aku pun membuka bekal tersebut, kemudian memakannya. Mas Bastian ternyata masih diam di meja kerjanya. Ia seperti orang bingung. Aku tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Kau tidak jadi pergi ke kantin?" tanyaku pada mas Bastian.
"I-iya ini mau pergi ke sana," jawabnya seraya berdiri.
***
Pukul 16.00 WIB.
Kukemasi barang-barangku ke dalam tas.
"Imania? Mau pulang bersama?" tawar mas Bastian yang juga sedang merapikan meja kerjanya.
"Aku ... aku sudah ada yang menjemput," jawabku.
"Siapa?"
Aku menoleh ke arah mas Bastian. "Temanku."
"Oh? Tapi, bisa kita bicara sebentar?"
"Sepertinya tidak bisa," jawabku sembari melempar senyum tipis.
"Kau begitu sibuk sekarang, ya?"
__ADS_1
"Tidak juga."
Aku pun keluar dari kantor. Aku menunggu seseorang yang akan menjemputku di depan kantor. Aku pun duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia di sana.
Mas Bastian tampak sudah masuk ke mobilnya. Namun, ia tak kunjung menyalakan mobil. Ia seperti sedang menunggu sesuatu. Aku tidak terlalu mempedulikannya lagi. Dia hanyalah seorang mantan. Tidak perlu terlalu baik. Dan tidak harus menjadi jahat.
Ku-cek kembali handphone-ku. Kutekan sebuah nomor untuk memanggilnya.
"Halo?" Suara di seberang telepon.
"Aku menunggumu di depan kantor."
"Baiklah, OTEWE!"
Aku pun menutup telepon. Kembali menunggu seseorang menjemputku. Kuperhatikan beberapa karyawan mulai meninggalkan kantor. Karena memang, jam kerja kami sudah selesai hari ini. Akan tetapi, mas Bastian masih tetap diam di dalam mobilnya. Sebenarnya, apa yang ia tunggu?
Aku pura-pura tak melihatnya. Kualihkan pandangan pada Miss Ve atau Kak Ve, yang sedang memarkir mobilnya. Ia melambaikan tangan padaku.
"Imania! Aku duluan, ya?"
"Hati-hati, Kak Ve!" seruku seraya tersenyum.
Mobil sport merah milik Kak Ve pun berlalu meninggalkan kantor ini. Sedangkan diriku masih duduk, menunggu seseorang yang entah mengapa lama sekali!
Seperempat jam kemudian, sebuah mobil yang kutunggu pun datang. Aku segera beranjak menghampirinya. Kemudian aku masuk ke dalam mobil tersebut.
"Fania, kau lama sekali!"
"Sorry? Aku ketiduran."
"Dasar pemalas! Apa kau juga belum mandi?"
"Aku tidak mandi hari ini," jawabnya jujur.
"Ya, ampun Fania!" Kuembuskan napas kasar sembari memandangi wajah kucelnya.
Fania hanya tertawa melihat ekspresi wajahku. Kemudian ia melajukan mobilnya. Sedangkan kulihat, mobil mas Bastian ikut melaju di belakangku. Apa mas Bastian menungguku, karena ingin tahu tentang orang yang menjemputku?
Dia hanyalah seorang mantan. Tidak perlu terlalu baik. Dan tidak harus menjadi jahat.
– Kak Thamie –
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1