
Bagaimana ini? Dimas sangat nekad. Dia pasti akan membawaku ke hotel. Lalu ... tidak! Aku harus punya akal untuk melepaskan diri darinya. Sembari berpikir, tiba-tiba aku melihat seseorang berseragam polisi. Wah, di depan sana ada polisi. Ide bagus!
"Tolong? Tolong? Tolong aku!"
"Apa yang kau lakukan!"
Dimas sepertinya panik. Aku akan terus berteriak. Kugedor pintu mobil, berharap agar polisi segera mendengar, lalu menghentikan laju mobil kami.
"Tolong? Pak Polisi, tolong?
"Hei, diam! Kau kekanak-kanakan!"
"Tolong? Tolong?"
Seorang polisi di depan sana sepertinya mendengar teriakanku. Aku segera bernapas lega. Lihat saja nanti, Dimas, tunggulah. Ini akibatnya jika bermain-main denganku. Polisi segera memerintahkan agar Dimas menghentikan laju mobilnya. Dimas pun menghentikan mobilnya.
Aku tersenyum penuh kemenangan. "Lihat saja! Kau akan mendapatkan masalah, Dimas!" Aku menatapnya sinis.
"Baiklah. Sebelum melakukan ini. Aku sudah siap atas konsekuensinya," ucapnya santai.
Dia tampak tenang. Mungkin, dia sedang menutupi ketakutannya. Makanya ... jangan remehkan aku!
"Buka pintunya!" Polisi yang menghadang kami pun segera meminta agar pintu mobil dibuka.
"Tolong saya, Pak!" Aku sedikit berakting memelas.
"Cepat, buka!"
Aku melirik sinis ke arah dokter elang tersebut. Dia masih terlihat tenang. Padahal aku tahu, dia pasti khawatir. Sebentar lagi, polisi akan menangkapnya. Dan reputasinya sebagai seorang dokter pasti menurun. Aku harus tega, agar dia jera. Ya, sekali-kali dia memang memerlukan pelajaran!
Dimas segera membuka kunci mobilnya dengan tombol satu tekan. Aku segera turun. Polisi sudah berdiri di depan pintu.
"Pak Polisi, tolong!"
"Ada apa katakanlah!" Pria dengan seragam polisi lengkap itu menatapku serius. Sedangkan dokter itu turun dari mobilnya.
"Dia. Dia berusaha melakukan perbuatan jahat terhadapku! Tolong aku, Pak!"
"Tenanglah, katakan apa yang dia lakukan!"
"Pertama, dia mencoba melecehkanku. Lalu aku akan diculik. Tolong aku, Pak!" kataku memohon.
"Benarkah!" Sekarang tatapan matanya terarah pada Dimas. Matilah kau, dokter mesum!
"Oh ... itu tidak benar, Pak! Dia pacarku. Mencoba melarikan diri dariku. Padahal aku sangat mencintainya. Dia sudah meminta apa pun dariku. Sampai, aku terpaksa harus memberikan perjakaku padanya. Bagaimana bisa dia melakukan ini! Dia ingin lari dan pergi bersama pria lain!" Dimas berpura-pura sedih.
Memberikan apa? Perjaka? Ini sudah keterlaluan! Ini fitnah! Rupanya kau mencoba membalik permainanku. Baiklah, kita lihat saja.
"Dia bohong, Pak! Dia mau membawaku ke hotel! Dia akan melakukan hal buruk padaku. Tolong!"
"Siapa yang berbohong di sini!" Polisi itu mulai geram.
"A-aku ti-tidak bohong, Pak! Aku--" ucapku terbata-bata karena takut. Saat marah, polisi itu terlihat sangat menyeramkan.
"Pak, dia sudah menipuku. Mengambil dua puluh juta dariku. Sekarang dia malah lari dariku. Wanita macam apa dia!"
"Kau!" Polisi itu menatapku tajam. Bagaimana ini? Mengapa malah aku yang kena?
"Bukan. Bukan itu yang sebenarnya terjadi, Pak!" ucapku seraya menunduk.
"Sekarang, ikut aku ke kantor polisi. Atau ...."
__ADS_1
Tubuhku gemetar. Keringat dingin mulai mengalir dari tubuhku. Dokter itu benar-benar licik!
"Atau kau ikut bersama pacarmu!" lanjutnya.
Aku mengangkat wajah. Polisi itu berbalik pada Dimas. "Hai, Dimas!" Seraya memeluk Dimas. "Apa kabar, Brother!"
"Tidak baik. Pacarku selalu membuatku dalam masalah."
Mereka saling memeluk, kemudian melepas.
"Kamu terlihat gagah, Fad!"
"Kau juga, tampak lebih muda. Bagaimana sekolahmu di USA?"
"Aku sudah lulus, Fad!"
"Wow! Kau sekarang menjadi dokter, kalau begitu? Dokter Dimas!"
"Kau juga keren sekali! Pak Polisi!"
Mereka tampak sangat akrab. Apa mereka berteman? Mereka saling memuji.
"Pacarmu lucu sekali, Dimas."
"Memang. Dia sangat lucu dan pintar. Sayangnya, aku lebih cerdik darinya ha-ha!"
"Kapan kalian menikah?"
Menikah. What? Aku sudah menikah, pak polisi!
"Segera. Doakan saja, Komandan!"
"Tentu. Jangan lupa undangannya. Aku suka makan. Pasti banyak makanan enak di pesta, kan?"
Polisi itu mengalihkan pandangannya padaku. Mendekatkan wajahnya, menatapku. "Jika ada masalah, bicaralah baik-baik pada kekasihmu. Kau sangat beruntung memilikinya."
Aku menghela napas kasar. Tidak menyangka jika mereka adalah teman. Pantas sedari tadi Dimas tampak sangat tenang.
"Silakan, lanjutkanlah perjalanan kalian!"
"Thanks, Komandan!"
"Ya, Dokter!"
Mereka tertawa bersama. Sedangkan aku masih melongo menyaksikan keakraban mereka berdua. Heran! Dokter ini banyak sekali temannya.
Kami pun kembali masuk ke dalam mobil.
"Jika pacarmu melarikan diri lagi, aku pasti siap membantumu menangkapnya!" kata polisi tersebut dari luar kaca.
"Dia memang sedikit nakal!" timpal Dimas.
***
Aku masih diam saja. Dimas fokus pada setir mobilnya. Entah mau membawaku ke mana. Aku pikir dia tidak serius akan membawaku ke hotel. Tidak lama, mobil pun berhenti.
"Sayang, turunlah!"
Aku melenguh kesal. "Aku bukan sayangmu!"
Dia mendekatkan wajahnya padaku. "Kau Sayangku."
__ADS_1
"Kau jahat!"
"Kau cantik!" Seraya mencium pipiku.
Seiring jantung yang berdetak kencang. Aku menatapnya marah. "Kau sudah melewati batas, Di!"
"Belum, Nia. Bahkan, aku tertarik untuk bisa melewati batas."
"Kau gila!"
"Kau yang membuatku gila."
"Tapi kau bisa hidup normal, tanpa menggangguku!"
"Aku tidak suka menjadi gila. Tetapi aku suka mengganggumu. Sekarang bagaimana?"
Dia mendekatkan bibirnya. Kudorong tubuhnya.
Plak!
"Jangan keterlaluan!"
Sedikit penyesalan karena telah menamparnya. Namun, itu hanya sebagai cara untuk menghentikannya.
"Dimas yang dulu kukenal begitu baik. Bagaimana sekarang kau menjadi jahat?"
"Apa aku jahat?"
"Ya, dulu kau tidak suka melecehkanku!"
"Aku juga tidak suka kau dilecehkan suamimu!"
"Heh, dia suamiku! Apa yang kami lakukan itu sah!"
"Kalau begitu, aku akan menjadi suamimu terlebih dahulu. Agar apapun yang kita lakukan itu sah!" jawabnya seenaknya.
"Kau gila! Tidak waras! Aku heran. Apa yang menarik dari seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki anak?"
"Karena ... ini cinta sejati, Nia. Apa kau tidak mengerti sedikit saja perasaanku! Ini lebih sakit dari seribu tamparanmu, bahkan tamparan ayahku!"
Dia menghentikan perkataannya. Tamparan ayah? Apa maksudnya. Sinar matanya meredup. Apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku tidak peduli.
"Keluarlah! Apa kau ingin terus di sini?"
Aku menatap wajahnya sesaat.
"Kenapa? Aku memang tampan."
"PD sekali!" cibirku kesal. Segera kualihkan pandangan ke luar. Dan ini ... taman.
Aku keluar dari mobil, disusul Dimas. Taman ini masih sama. Aku menatap ke sekeliling. Mencari adakah yang berubah dari taman ini. Hanya ... sedikit tak terawat. Dulu, bunga-bunga di sini begitu anggun dan indah bermekaran. Sekarang, sebagian bunga tampak layu.
Aku berjalan menyusuri taman. Meski begitu, taman ini masih indah dan meninggalkan kenangan indah. Aku berjalan menghampiri bangku kosong yang tergeletak rapuh di taman. Sayang sekali. Taman bunga yang terindah menjadi tak terurus seperti ini. Dulu ... kami berpisah di tempat ini. Aku jadi sedih mengingat kejadian itu. Tempat ini penuh kisah indah antara kami. Juga tempat terjalinnya asmara kami.
Untuk apa dia membawaku kembali ke sini? Ini sudah tak berarti apa-apa!
"Nia."
Aku membalikkan badan.
"Ini untukmu."
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --