
Aku bergegas menuju kamar. Tak menyahuti pertanyaan mas Bastian. Jika kau tahu rasanya dikecewakan, kau mungkin mengerti perasaanku. Sedih ... hancur ... sakit ....
Arka kuajak masuk ke dalam kamar. Aku sedang tidak ingin bicara dengan mas Bastian. Aku ingin tidur bersama Arka. Aku dan Arka pun membaringkan tubuh di ranjang. Cukup mengusap-usap punggungnya, atau memijat kakinya, Arka pasti akan tertidur. Dan benar saja, selang beberapa menit kupijat tubuhnya, Arka pun terlelap.
"Imania?" Terdengar suara ibu mertua memanggilku seraya mengetuk pintu.
"Ya, Ibu. Masuk saja!" kataku dari dalam kamar.
Ibu pun masuk. Ia menghampiriku yang tengah berbaring sembari memeluk tubuh Arka.
"Ima, ibu pamit pulang, ya? Ayah sudah menjemput."
Aku beranjak dari tempat tidur. Kemudian mendekat pada ibu. Kuraih tangannya, lalu berkata, "Bu, terima kasih ... sudah menemaniku seharian dan semalaman di rumah sakit."
Ibu pun memelukku. "Itu sudah kewajiban ibu, Nak? Jaga kesehatanmu, ya?"
Aku mengangguk. Lalu ibu melepaskan pelukannya. Ia pun keluar dari kamar. Aku kembali membaringkan tubuh. Menatap langit-langit kamar. Mencoba melepaskan beban yang menimpuk dadaku keras.
Terdengar suara langkah kaki menuju kamar. Kupejamkan kedua mataku, kumiringkan tubuhku membelakangi Arka. Suara langkah kaki itu semakin dekat. Hingga terasa ada yang berdiri di samping tubuhku. Dan aku tetap menutup kelopak mataku rapat-rapat.
Seseorang yang berdiri di sampingku itu menyentuh lenganku, menyentuh jemariku. "Imania, istriku ...." panggilnya lirih.
Aku berusaha tak terganggu. Tak terbangun dari posisiku saat ini. Dan ia kembali berkata lirih, "Aku tahu kau mendengarku."
Ia pun bersimpuh di samping tubuhku. "Imania ... aku tahu ini sulit. Aku sudah menyakitimu. Mengecewakan ketulusanmu, kesetiaanmu. Aku sadari itu."
Aku bergeming. Dadaku semakin sesak mendengar suaranya.
"Imania ... jika kau masih mau mengetahui segalanya. Biar kuceritakan. Kau tidak perlu menyahut, jika kau memang tak mau. Namun, kau cukup mendengarkan saja. Kau boleh marah padaku. Kau juga boleh menamparku. Kau boleh melakukan apapun padaku. Termasuk membenciku."
__ADS_1
Suaranya lirih, tapi terdengar berat. Dalam terpejam, aku merasakan keseriusan di setiap penuturannya. Dalam terpejam, aku merasakan kesedihan dan penyesalan dari setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.
"Imania ... izinkan aku menceritakan segala kisah. Bahwa sejujurnya, sejujurnya ... aku ... aku belum bisa meninggalkan masa laluku. Aku masih mencintainya."
Ada bulir-bulir air yang tertahan di pelupuk mataku. Sekuat hati, aku masih mencoba menahannya. Meski napasku sudah tak teratur, akibat beban di dada yang menyiksa.
"Dulu, kami adalah sepasang kekasih. Yang telah berjanji untuk saling melengkapi, saling mencintai, sampai maut memisahkan kita. Tetapi orang tuaku sama sekali tiada merestui. Mereka menghina pacarku. Dia diperlakukan seperti sampah. Dan aku sudah pernah menceritakan sedikit tentangnya padamu. Saat kita akan ke puncak. Kau ingat?"
Aku kembali mengingat kejadian itu. Tentang mantan kekasihnya yang takut gelap.
"Dia takut gelap, tapi katanya, dia lebih takut kehilanganku. Dia takut keluar malam dan takut hantu. Akan tetapi, demi memberikan kue ulang tahun itu padaku. Dia memberanikan diri untuk mengantarkannya sendiri, tepat di jam 12 malam." (Episode 31)
"Dia adalah wanita kesayanganku. Aku belum bisa move on darinya. Bahkan kurasa ... aku takkan dapat mengenyahkannya dari pikiranku. Sejauh ini, aku membangun rumah tangga denganmu. Aku belum bisa mencintaimu."
Bulir-bulir itu menetes satu per satu. Aku tidak mampu menahannya. Mas Bastian yang masih duduk di atas lantai pun menyadarinya. Ia langsung mengusap air mata yang membanjiri pipiku.
"Imania ... daripada aku berlarut menyimpan kebohongan-kebohongan darimu. Bukankah lebih baik aku jujur? Aku sudah tidak tega lagi menyembunyikan ini darimu. Yang ada, kita akan sama-sama tersiksa. Terlebih lagi, kau adalah wanita yang sangat baik. Tiada pantas bagiku untuk menyakitimu terus menerus."
Deg! Satu lagi bom atom turun ke dadaku. Aku merasakan ledakan di benakku, menyebabkan rasa panas dan nyeri menjalar di sekujur tubuhku. Aku semakin terisak. Dan mas Bastian memahami itu. Mas Bastian pun ikut terisak. Ia tak melanjutkan penuturannya. Ia hanya menciumi punggung tanganku seraya berkata, "Maafkan aku ... maafkan aku ...."
Untuk beberapa menit, kami terisak dalam dinginnya malam, dan panasnya suasana hati. Terdengar embusan angin di luar rumah. Seakan berlomba untuk masuk lewat celah-celah fentilasi. Berusaha mendinginkan hati, dua insan yang tengah meluapkan kepedihan.
"Maafkan aku ... dosaku begitu besar padamu. Bahkan, kau tak pantas memaafkan diriku. Tapi sungguh ... aku sudah bersikeras mencintaimu. Namun, tetap tak bisa."
Dadaku tersentak seirama dengan isakan tangisku. Ia pun melanjutkan bicara. "Aku akui, aku tega! Aku kejam! Bertahun-tahun aku sudah membohongimu. Dan kini ... aku menyesal karena telah mempermainkan perasaanmu," katanya dengan suara parau.
"Aku masih berhubungan dengan pacarku selama ini. Sepulang bekerja, aku pergi ke rumah yang sudah kami kontrak. Dan aku menghabiskan waktu berdua di sana, dengannya. Kami merajut cinta dengan cara yang salah. Kami sudah banyak melakukan dosa, pada Tuhan ... dan padamu."
Mas Bastian kembali mengusap air mataku yang mengalir membasahi bantal. Ia terus mengecup punggung tanganku. Sambil terisak, ia bicara lagi, "Imania ... yang membuatku stress beberapa hari belakangan ini, sehingga aku pulang dalam keadaan mabuk--" Lagi-lagi mas Bastian menghentikan bicaranya. Seperti ada beban berat dalam hati dan bibirnya untuk mengatakan hal tersebut padaku.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu, dia mengatakan padaku, sesuatu yang tidak mungkin sanggup kau dengar."
Sesuatu yang tidak mungkin sanggup kudengar? Apakah itu ....
"Itu yang membuatku stress. Itu sebabnya beberapa hari terakhir aku datang ke cafe. Dan pacarku mencariku di sana. Saat itu Dimas juga sedang mabuk di sana, dan dia mendengarkan percakapan kami. Tiba-tiba saja Dimas menghajarku dengan penuh emosi."
Aku berusaha untuk menetralkan amarah yang sebentar lagi akan tumpah. Dengan sabar aku masih mendengarkannya. Meski dalam hati yang runtuh.
"Pacarku ... dia ... dia hamil."
Tak terbendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Mas Bastian pun ikut menangis. Ia langsung memeluk tubuhku. Ia menciumi punggung tanganku berkali-kali. Dan hanya kata maaf yang terus keluar dari mulutnya.
Kedua mataku pun terbuka. "Apa salahku! Apa salahku! Apa kurangnya aku!" kataku seraya memukuli dadanya.
"Hukumlah aku ... walaupun aku tahu, hanya karma yang pantas menghukumku. Aku sadari semua kesalahanku. Aku tidak bisa mengatakan ini khilaf. Karena kini ... aku berniat untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah kuperbuat," katanya masih dengan nada bergetar.
"Kau jahat! Kau tega, Mas!" kataku dengan terisak.
Mas Bastian mendudukkan tubuhku. Ia kembali bersimpuh di hadapanku. "Sekarang kau sudah mengetahui segalanya." Ia meraih kedua tanganku. "Kau boleh memutuskan, apa yang akan kau pilih. Aku tidak bisa membuat pilihan padamu. Jika aku memintamu untuk tetap tinggal, itu hanya akan membuatmu lebih menderita. Jadi ... aku hanya akan melangkah sesuai keputusanmu. Tapi jangan memintaku menghentikan hubungan dengan pacarku. Aku takkan bisa."
Aku menatap kedua matanya dalam-dalam. Kedua mata kami sama-sama basah. Dengan perasaan nyeri, aku pun berkata padanya, "Sejauh ini ... kita sudah menjalin bahtera rumah tangga. Aku pikir, kau adalah lelaki yang sesuai ekspektasiku. Lembut, penuh tanggungjawab, dan kasih sayang. Kau sudah melakukan itu semua. Aku berterima kasih ...."
"Cinta memang tak dapat dipaksa. Ketika kita menambatkan hati pada seseorang. Dan meninggalkan separuh hati kita di sana. Maka takkan semudah itu untuk melupakannya. Kadang-kadang ... tanpa mencarinya, hati kita sudah terpaut sendiri padanya. Jadi ... sejauh apapun kita melarikan diri, perasaan cinta itu akan kembali ke sana. Mungkin inilah yang disebut cinta. Waktu bukanlah cara yang tepat untuk menghindari segalanya. Karena di saat hati telah memilih tambatannya. Dia tak bisa lepas lagi," tuturku melanjutkan dengan air mata yang terus berderai.
"Jadi ... apa keputusanmu?"
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
__ADS_1