BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Pelecehan


__ADS_3

Aku tak dapat menahan kepedihanku. Aku terisak dan semakin terisak. Apa salahku, sehingga Tuhan memberikan cinta yang rumit terhadapku? Mengapa mesti ada cinta di antara kami. Bila akhirnya, rasa ini menyakiti hati seseorang.


"Imania."


Rudi menghampiriku yang masih berdiri menahan guncangan hati. Ia menatapku sesaat, kemudian membawa tubuhku masuk ke dalam pelukannya. Aku terisak, melawan sesak di dada.


"Jangan menangis, Imania. Ada aku di sini. Aku di sini bersamamu, Imania."


Langit semakin menghitam. Selain berganti malam, sepertinya langit pun sudah tak sabar ingin menangis. Benar saja, hujan mulai turun rintik-rintik. Rudi langsung membawaku masuk ke dalam rumah.


Setelah itu, Rudi mengambil mobilnya untuk masuk ke garasi. Ia pun masuk kembali.


"Kau tidak pulang?" tanyaku.


"Aku ingin menemanimu, Imania. Bolehkah?"


Aku mengangguk seraya tersenyum.


"Sudah. Jangan menangis lagi. Jangan memikirkan Dimas lagi. Ada aku di sini. Aku siap menggantikannya. Jadi, bukalah hatimu pelan-pelan untuk menerimaku," ucap Rudi sembari menghapuskan air mataku.


Rudi membawaku ke lantai atas. Kami pun duduk di sofa. Fania dan Arka yang tengah duduk di balkon menghampiri kami.


"Mama."


Arka berlari memelukku.


"Mama kenapa menangis? Apa Om Dimas jahat sama Mama?"


"Enggak Sayang. Mama ... tidak menangis, kok. Ini terkena hujan," ucapku seraya mengusap kembali wajahku. Memastikan tiada air mata lagi yang tersisa.


"Arka, sini, duduk sama Om."


Arka menghampiri Rudi dan duduk di sebelahnya. Sedangkan aku pamit untuk mandi .


Aku mandi menggunakan air shower yang hangat. Aku berharap, agar seluruh kesedihanku dapat luntur bersama air shower yang mengguyur tubuhku.


"Apa kau cukup penasaran dengan apa yang selama ini menjadi alasanku untuk tidak meninggalkan Nessa?"


"Nessa mengidap penyakit jantung. Dan usianya tidak akan lama lagi. Apa kau puas dengan jawabanku sekarang?!"


Nessa mengidap penyakit jantung, dan umurnya tak akan lama lagi. Apakah itu berarti, bahwa Dimas akan menikahiku setelah Nessa meninggal dunia? Oh, bukankah itu terasa jahat sekali.


Mengapa ... justru aku lebih merasa ingin mengakhiri semua tentang Dimas? Setelah aku tahu yang terjadi pada diri Nessa, justru aku semakin ingin menghapus Dimas. Aku merasa semakin bersalah, jika terus menjalin hubungan dengan Dimas. Bukankah itu berarti aku egois?


Aku tidak tahu, berapa sisa usia Nessa. Namun, itu bukanlah sesuatu yang harus dihitung. Mulai sekarang, aku mengikhlaskan Dimas untuk bersama Nessa. Kurelakan Dimas untuk menghabiskan sisa waktu Nessa bersamanya.


Usai mandi dan memakai pakaian, aku kembali menuju sofa.


"Sst?"


Fania mengisyaratkan agar aku tidak berisik, karena Arka sudah tertidur di sofa.


"Di mana Rudi?" tanyaku lirih.


"Dia di dapur."


"Sedang apa Rudi di dapur?"


Fania pun beranjak dari sofa. "Katanya sedang membuat sesuatu untukmu."


Fania melangkah menuju lantai bawah dan aku mengikutinya. Kami bersama menuju dapur.


Sesampainya di dapur, aku melihat Rudi yang tengah memasak.


"Rudi, kau memasak apa?" tanyaku sembari menghampirinya.


"Kubuatkan bubur ayam untukmu."


Aku tersenyum memperhatikan Rudi yang memakai celemek dan memasak dengan serius.


"Rudi, aku mau donk? Sisakan satu mangkuk untukku, ya?" pinta Fania yang berdiri di samping kanan Rudi.


"Tidak bisa. Aku hanya membuat satu mangkuk. Dan ini khusus untuk Imania," ujar Rudi.


"Ah, kau sangat pelit!"


Rudi mencicipi sedikit bubur buatannya, lalu mematikan kompor. Dituangkannya bubur itu ke dalam mangkuk.


"Duduklah, Imania. Kau harus makan bubur buatanku," ucap Rudi sembari membawa bubur tersebut ke meja makan.


Aku pun menurutinya. Aku duduk di sebelah Rudi. Fania juga duduk sembari mengerucutkan bibirnya memperhatikan kami.


"Biar kusuapi, ya?" tawar Rudi.


"Tidak usah, Rud. Aku makan sendiri saja, ya?"


"Biar aku menyuapimu. Satu suap saja, please ...."


Aku menatapnya ragu, tetapi Rudi memaksa. Akhirnya aku pun mau. Rudi meniupnya agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkan sesendok bubur itu ke mulutku. Dan memasukkannya pelan ke dalam mulutku.


"Bagaimana rasanya?" tanya Rudi.


"Ini enak, lezat, dagingnya terasa lembut. Bumbunya juga sangat pas dan gurih. Ini lebih enak dari bubur buatanku. Enak sekali, Rud," pujiku seraya tersenyum.


"Syukurlah jika kau suka. Ini akan membuat tubuhmu hangat dan bertenaga."

__ADS_1


Rudi kembali menyendokkan bubur, meniupnya, dan menyuapiku lagi.


"Aku bisa makan sendiri, Rud. Biar aku saja."


Rudi tersenyum, lalu memberikan sendok itu padaku. Aku pun memakan bubur buatan Rudi, suap demi suap.


"Menyebalkan!" ucap Fania kesal.


"Masih ada sisa sedikit di panci. Makanlah," ucap Rudi kepada Fania.


Dengan semangat Fania beranjak mengambil panci yang digunakan Rudi untuk memasak bubur tadi. Fania menatap panci tersebut dengan kecewa dan cemberut.


"Kau tega sekali, Rud!" ucap Fania seraya menunduk, menatap panci tersebut.


"Bukankah masih ada?" tanya Rudi.


Fania mencelupkan jemarinya ke panci, lalu mengisap jarinya sendiri. Aku merasa sangat kasihan padanya. Rudi mengerjai Fania. Karena buburnya memang sudah dituang ke mangkuk semua.


"Fania, kau boleh mencoba ini," ucapku.


Senyum di wajah Fania mengembang, tapi segera meredup lagi, saat Rudi berkata, "Tidak bisa! Itu untuk Imania."


Fania menatap Rudi dengan kesal. Lalu mencelupkan jemarinya lagi dan menjilati jarinya. Aku jadi merasa iba terhadapnya. Begitupun ekspresi wajah Rudi. Dia tampak tidak tega melihat Fania. Rudi pun beranjak dan menghampiri Fania.


"Cuci dulu pancinya!" perintah Rudi.


"Aku tidak mau! Cuci saja sendiri!"


Fania meletakkan kembali panci tersebut ke wastafel, lalu melangkah dengan kesal, tapi Rudi menarik pergelangan tangan Fania. Dan itu membuat Fania menoleh. Untuk sesaat mata mereka saling bertemu.


"Aku akan membuatkannya untukmu. Jadi, cucilah pancinya terlebih dahulu."


Sontak senyum merekah menghiasi wajah Fania. Tiba-tiba Fania memeluk Rudi dengan kegirangan. Itu membuat Rudi terkejut.


"Hei, lepaskan aku! Ini sakit!"


Fania pun melepaskan pelukannya. Kemudian mencium pipi Rudi dengan gemas. "Thanks, Mr. Arogant."


Rudi semakin terbelalak atas perlakuan Fania terhadapnya. Rudi menatap bergeming kepada Fania yang kemudian mengambil panci tersebut dan mencucinya dengan semangat.


Usai mencuci pancinya, Fania langsung meletakkannya ke atas kompor.


"Ayo, masak untukku."


Rudi segera sadar akan lamunannya. Ia pun segera mengambil air dan beras. Mereka berdua memasak bubur bersama. Sesekali, Fania mengusili Rudi, dengan mengotori wajah Rudi dengan kecap yang ditoelkannya ke pipi Rudi. Rudi pun membalasnya. Mereka tertawa bersama sembari memasak.


Aku tersenyum senang melihat kebersamaan mereka. Walau kadang-kadang persis Tom and Jerry, tetapi bila dipikir lagi, sebenarnya mereka serasi.


***


Seperti biasa, usai memasak dan membersihkan rumah, aku mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor.


Aku berangkat ke kantor dijemput Rudi. Ia pun mengantarkanku ke kantor. Sesampainya di kantor, aku langsung masuk ke dalam ruanganku. Satu per satu dokumen yang menumpuk mulai ku-cek.


Tok-tok-tok!


Terdengar pintu ruanganku diketuk.


"Masuk!" perintahku.


Pintu ruangan pun terbuka. Sekertaris Ve masuk dan duduk berhadapan denganku.


"Imania, kau ada tugas sekarang."


"Tugas apa?" tanyaku pada sekertaris Ve.


"Kau akan pergi bersama pak Wibowo, sekarang."


"Pergi ke mana, Kak Ve?"


"Kau akan mewakili perusahaan untuk membuat kerjasama dengan Antariksa Mart."


"Mengapa mendadak sekali?"


"Sebenarnya ... ini adalah tugasku. Akan tetapi, tiba-tiba kepalaku pusing. Bisakah kau menggantikanku?"


"Kak Ve, bagaimana bisa? Bahkan, aku tidak tahu harus bicara apa nantinya di sana."


"Aku akan memberikan dokumen terkait kerjasama dengan hypermarket tersebut. Kau bisa mempelajarinya dalam perjalanan ke sana."


"Kak Ve, jangan aku. Aku takut tidak bisa perfect menjalankan tugas ini."


"Pak Wibowo akan menemanimu."


Sekertaris Ve pun beranjak meninggalkan ruanganku.


"Kak Ve!" panggilku tapi ia tak bergeming.


Oh, ini gila. Bagaimana bisa aku melakukan tugas mendadak seperti ini? Apa yang akan dibicarakan mengenai kerjasama ini? Bahkan, aku tidak tahu cara untuk membuat suatu perjanjian.


Tidak lama kemudian, sekertaris Ve datang kembali ke ruanganku bersama pak Wibowo. Dan sekertaris Ve menyerahkan beberapa berkas penting kepadaku.


"Berangkat sekarang."


"Kak Ve, kau tega sekali padaku."

__ADS_1


"Cepatlah! Nanti kita terlambat!" ucap pak Wibowo dengan wajah dinginnya.


Dengan terpaksa, kuambil tas dan membawa berkas tersebut. Dan aku mengekor di belakang pak Wibowo. Kami pun berangkat menggunakan mobil pak Wibowo.


Aku duduk bersamanya di belakang. Seorang sopir pribadi pak Wibowo yang mengantar kami menuju Antariksa Mart.


Dengan canggung, kulirik sesekali pak Wibowo yang duduk di sebelahku. Wajahnya begitu dingin. Aku belum pernah mendapatinya tersenyum. Apa dia adalah balok es?


"Mengapa diam saja! Pelajari berkas-berkasnya!" perintah pak Wibowo.


"Ba-baik."


Kubuka berkas tersebut. Aku pun mempelajarinya satu per satu. Meski masih merasa bingung, tapi setidaknya, aku bisa menangkap poin-poin penting yang bisa kugunakan untuk bicara nantinya.


Suasana di dalam mobil cukup hening. Pak Wibowo tampak mengamatiku sesekali. Dan itu membuatku takut sekaligus khawatir. Bagaimana jika nanti, aku salah mengatakan sesuatu? Bagaimana jika kerjasama ini sampai gagal?


Setelah menempuh jarak sekitar satu jam, kami pun sampai. Aku turun dari mobil dengan perasaan nervous. Aku pun mengekor di belakang pak Wibowo, masuk ke dalam hypermart yang sangat besar untuk menemui CEO Antariksa Mart.


Seorang wanita cantik menyambut kedatangan kami, lalu membimbing kami untuk masuk menuju ruangan CEO Antariksa Mart.


Sesampainya di ruangannya, kami disambut oleh seorang lelaki yang kuperkirakan usianya sekitar 40 tahun. Kami pun berkenalan. Oh, dia adalah Antonio Riksagara—CEO Antariksa. Aku sudah membaca nama tersebut di dalam berkas.


Kami pun dipersilakan duduk di sofa empuk nan mewah. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki paruh baya ikut masuk dan bergabung bersama kami. Dia pun mengenalkan dirinya. Namanya, Rusdi Santoso—sekertaris Antariksa Mart.


"Wah, ini manager Anda? Cantik," ucap Antonio sembari tersenyum memandangiku.


"Kita tidak akan membahasnya. Mari masuk ke pembahasan inti," ucap pak Wibowo dingin.


"Nona, apa kau masih single?" tanya Antonio tanpa mengindahkan perkataan pak Wibowo.


"Sa-saya ...."


"Dia sudah memiliki pacar. Cepat bahas yang lebih penting saja!" ucap pak Wibowo dengan sedikit emosional.


Aku melirik pak Wibowo sesaat. Ada keanehan yang kurasakan. Pak Wibowo tampak semakin dingin. Bukankah, dia akan mengadakan kerjasama? Lalu, kenapa ia tidak bersikap ramah sedikitpun kepada Antonio?


"Hm ... sayang sekali. Jika bersedia, aku ingin menjadikanmu istri keempatku," ucap Antonio seraya tertawa.


Pak Wibowo menanggapinya dengan senyuman kecut.


Seorang wanita masuk membawa minuman untuk kami. Pakaian wanita itu sangat seksi. Sehingga menampakkan belahan dadanya yang besar.


Kuperhatikan gerak-gerik wanita itu, seperti mencuri-curi pandang ke arah Antonio. Antonio pun mengedipkan matanya dengan genit pada wanita pelayan tersebut. Setelah itu, wanita tersebut pun keluar.


"Boleh kuminta nomormu?" tanya Antonio padaku.


"Bisa langsung pada pokok pembahasan?" tanya pak Wibowo dengan dingin.


Antonio tertawa, lalu berkata, "Silakan di mulai, Rus!"


Rusdi, selaku sekretaris Antariksa mulai menjelaskan inti dari kerjasama dengan bank kami. Mulai dari keuntungan masing-masing, hingga kemudahan fasilitas dan sarana yang akan diperoleh.


"Silakan, bagaimana dengan pendapat dan strategi Anda," ucap pak Rusdi mempersilakanku.


Pak Wibowo melirikku dingin. Apa yang harus kukatakan? Aku menghela napas panjang, mencoba mengeluarkan pendapat seperti yang tertulis pada berkas.


"Baik, begini. Dengan kerjasama dengan bank kami, selain akan mempermudah transaksi menggunakan kartu kredit co-branding, kami juga akan memberikan fasilitas lain."


Aku mulai menjelaskan dengan rinci perihal keuntungan dan keunggulan bank kami. Semua mata termasuk pak Wibowo menatapku bergeming. Semua memperhatikan penyampaianku.


Usai menjelaskan dengan detail, tiba-tiba Antonio menepuk kedua tangannya.


"Hebat! Managermu ini cukup keren. Bisa menjelaskan selancar itu."


Bagaimana aku bisa menjelaskan selancar ini? Aku sendiri tidak menyangka. Padahal, aku hanya membacanya sekali. Namun, kenapa mimik wajah pak Wibowo tetap dingin? Dia bahkan tidak menunjukkan ekspresi memuji sedikitpun padaku.


"Wah, tidak butuh bicara banyak. Aku setuju dengan kerjasama ini. Mari kita tanda tangani saja," ucap Antonio.


Rusdi pun mengambil berkas dan meletakkannya di atas meja. Antonio dan sekertaris Rusdi mulai menandatangani surat perjanjian kerjasama tersebut.


"Silakan, giliran Anda, Pak Wibowo," ucap Antonio seraya beranjak.


Pak Wibowo masih menatap kertas di hadapannya. Sedangkan Antonio tiba-tiba menghampiriku dan duduk di sebelahku. Yang membuatku risih adalah tatapannya itu. Dia terus menerus memandangiku dengan genit.


"Ayo, Pak Wibowo. Tanda tangani saja sekarang. Aku tidak suka berbelit-belit," ucap Antonio seraya melingkarkan tangannya ke pundakku. Aku langsung melepaskannya. Ada rasa marah mendapati Antonio memperlakukanku seperti itu. Namun, saat ini adalah kondisi penting untuk keberhasilan bank. Aku harus menahan emosi.


Pak Wibowo meraih berkas tersebut dari atas meja. Ia membaca surat tersebut. Tatapan matanya begitu dingin.


Tiba-tiba Antonio melingkarkan tangannya ke pinggangku dan meremas pantatku. Aku pun segera berdiri dengan terkejut.


"Jaga sikapmu itu, Antonio!!" geram pak Wibowo.


Pak Wibowo pun berdiri dan menatap Antonio dengan tajam. Rahangnya mengeras, wajahnya merah padam. Aku melihat wajah putranya yang persis dirinya saat emosi seperti ini. Dan tiba-tiba pak Wibowo menghadapkan berkas tersebut di depan wajah Antonio dan merobeknya dengan mata penuh kemarahan.


Aku menatap pak Wibowo tak mengerti. Bukankah kerjasama ini sangat penting? Mengapa dia membelaku hingga rela memutuskan kerjasama ini? Ada apa dengan pak Wibowo?


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Keceh ...!


Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE!


THANK YOU ...!😘

__ADS_1


__ADS_2