
Aku menatap wajah lelaki yang menggenggam tanganku di depan pusara Nessa.
"Eghem! Dimas, ayo kita pulang," ajak Bu Hera yang berdiri di belakang kami.
Segera kulepaskan tangan dari Dimas. Aku dan Dimas pun berdiri.
"Nia, mari kita pulang bersama," ajak Dimas padaku.
Mataku menatap sekitar, membuatku tersadar akan adanya Rudi yang masih berdiri di sekitar pusara.
"Em ... aku akan pulang sendiri saja," ucapku.
"Kenapa?"
"Aku masih ada urusan penting, Di. Lebih baik kau pulang terlebih dahulu, ya?"
Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepada Rudi. Meskipun hubunganku dengan Dimas sudah menyatu kembali, tetapi hubunganku dengan Rudi belum ada kata 'putus'. Meskipun aku tidak mencintainya, tetapi aku khawatir bila Rudi merasa tersakiti.
Dimas menggenggam tanganku. "Ayo, kita pulang bersama."
Kulepaskan genggaman tangannya lembut, lalu tersenyum menatapnya. "Dimas, aku harus membicarakan sesuatu dengan Rudi."
Dimas terdiam sesaat. Seperti dia memahami apa yang akan kubicarakan. Dimas pun berkata, "Baiklah. Kalau begitu ... aku akan mengantar Mamaku dulu, ya?"
Aku mengangguk sembari tersenyum. "Hati-hati."
Dimas dan bu Hera pun beranjak pulang. Aku menghampiri Rudi yang tengah berdiri memandangku.
"Em ... Rud."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti.
Aku belum berkata apapun, tetapi Rudi sudah bilang mengerti. Aku menatapnya dengan heran.
"Rud ...."
"Biar kuantarkan pulang."
Rudi beranjak mendahuluiku. Aku pun mengekornya. Sepertinya Rudi tengah mencoba menghindari pembicaraan denganku. Dia terus berjalan menuju mobilnya. Kemudian membukakan pintu mobil untukku.
"Masuklah. Meskipun sempat trauma, aku masih bisa menyetir."
Aku menatap wajah Rudi sesaat, tapi ia segera memalingkan wajahnya dariku.
"Rud ...."
"Masuklah!"
Aku pun masuk ke dalam mobil. Rudi juga masuk dan segera menghidupkan mobilnya. Dia melajukan mobil dengan mimik wajah mencuekanku. Apakah dia marah padaku?
"Rud ...."
__ADS_1
Rudi tidak menoleh padaku. Dia fokus menatap jalanan.
"Maafkan aku ...."
Dia tetap bergeming.
"Aku tahu aku telah menyakitimu. Maafkan aku ...," ucapku lagi.
"Kau memang pantas marah padaku. Akulah yang salah. Kau pasti merasa bahwa aku telah mempermainkanmu. Aku sudah melukai perasaanmu. Maafkan aku ...." Aku tertunduk sembari membiarkan bulir bening berisi penyesalan yang mulai jatuh lagi. Menyesal karena telah menyakiti hatinya.
Tiba-tiba Rudi menghentikan mobilnya. Ia menoleh padaku. Lalu meraih wajahku. Menghadapkan wajahku padanya.
"Jangan menangis. Kau tidak perlu menangis seperti ini untukku. Kau juga tidak perlu meminta maaf padaku. Apa yang membuatmu bahagia, aku turut berbahagia. Jadi ... jangan bersedih dan menganggapku terluka. Aku sudah memahamimu sejak pertama jatuh cinta padamu. Bahkan, hingga kini, aku masih memahamimu."
"Rud ...."
Rudi mengusap kedua belah pipiku. "Sst ... jangan menangis lagi."
"Aku harus bagaimana ... kau begitu baik padaku. Tetapi aku malah menyakitimu."
"Siapa yang menyakitiku? Aku tidak apa-apa, aku masih bisa mendapatkan wanita yang lain. Meski tidak sepertimu. Mungkin ... kau memang bukan jodohku."
Aku menatap Rudi semakin iba. Aku tahu, di balik kalimatnya yang tegar, tapi hatinya tengah rapuh.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti aku bisa khilaf untuk menciummu," katanya seraya melepaskan tangannya dari pipiku.
Rudi memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Sedangkan aku ... masih bingung harus mengatakan apa. Di sisi lain, aku tidak tega memutuskan Rudi.
Aku terdiam, sehingga Rudi menolehku dan menggenggam jemari tanganku. "Jika kau tidak tega melakukannya, biar aku yang melakukan."
Aku menatapnya dengan trenyuh. "Rud."
"Imania, mulai hari ini ... kita putus."
Seutas senyum mengembang di wajahnya. Senyum penutup luka, agar aku tidak bersedih hati. Padahal ... mau selebar apapun senyuman yang Rudi lukiskan, tetap saja ... aku merasa sedih karena telah melukainya.
"Kenapa diam saja? Aku memutuskanmu," ucap Rudi lagi.
Kuusap air mata yang terus menerus turun dari mataku.
"Hei, kenapa menangis? Apa kau sedih diputuskan olehku?" canda Rudi sembari tertawa kecil. Tapi sudut matanya tampak berair.
"Rud, maafkan aku ... maafkan aku ...."
"Aku juga minta maaf. Meskipun aku tahu kau hanya menggunakan aku sebagai pelarian. Aku juga salah, karena memanfaatkan situasi hatimu pada saat itu, agar kau mau menerimaku."
"Aku yang salah. Aku yang salah," sesalku.
"Imania dengar! Nessa dengan besar hati saja mampu melepaskan Dimas agar bersamamu. Aku pun juga ... bisa melepasmu untuk hidup bersama Dimas. Apalagi jika itu membuatmu bahagia."
"Sungguh ... kau adalah lelaki yang tidak hanya baik, tetapi juga berhati mulia."
__ADS_1
Rudi langsung membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Aku menangis di dalam bahunya. Rudi pun mengusap kepalaku.
Rudi mengantarkanku pulang ke rumah orang tuaku. Dia pun segera berpamit untuk pulang juga ke rumahnya.
***
Keesokan harinya.
Pagi, pukul delapan, saat aku sedang duduk di kamar, tiba-tiba handphone-ku berdering. Sebuah panggilan masuk dari pak Wibowo.
"Halo."
"Imania."
Suara pak Wibowo terdengar bergetar.
"Halo, Pak."
"Fa-Fania."
"Ada apa dengan Fania? Apa kondisinya masih stabil?"
"Fania ...." Pak Wibowo tengah mengatur napasnya untuk memberitahuku.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Keceh Tersayang?
Malam ini, pukul satu malam Author Keceh mengetik untuk kalian. Author yakin, kalian selalu menunggu kelanjutan kisah ini sampai END.
Mungkin, sebagian Readers ada yang juga Author atau Penulis Novel. Jika ada yang tahu rasanya menulis, tentu akan menghargai setiap perjuangan para Author untuk menghibur dan memberikan yang terbaik untuk kalian.
Meskipun juga banyak Readers yang memang sejatinya selalu menghargai perjuangan para Author. Terima kasih untuk para Readers Sejati Tersayang.
Author Keceh baru di Mangatoon. Dulu Author Keceh menulis di aplikasi sebelah. Sebelah mana? Ada deh! He-he. Di aplikasi sebelah pun Author nulisnya suka-suka. Jadi enggak tiap hari.
Khusus demi kalian, Author sampai setiap hari lebih dari satu episode, nulis untuk kalian. Author sudah berusaha semaksimal mungkin, jadi ... mohon maafkan atas banyak kekurangan.
Author baru merasakan, ternyata nulis dikejar kalian lebih menakutkan daripada dikejar-kejar polisi lalulintas. (wkwk 😄)
Sampai merasakan pusing dan sakit kepala akibat kurang tidur. Aduhae, nikmat sekali. Itu karena di dunia nyata Author juga harus melakukan tugas negara. Bener-bener kudu bagi waktu dengan baik. Padahal sih sering gagal bagi waktunya. (😄)
Langsung saja, Author Keceh kasih tahu, untuk PENGUMUMAN 3 VOTE TERBANYAK & 3 KOMENTAR TERKECEH, akan diumumkan pada tanggal 25 MEI 2020 pukul 24.00.
Ada hadiah kecil-kecilan dari Author Keceh untuk penggemar setia dari Episode pertama–akhir.
Penilaian benar-benar secara adil dan makmur. (wkwk 🤠dikira PANCASILA)
Ya udah, ayo voting sebanyak-banyaknya sampai tanggal 25 MEI 2020.
__ADS_1
Thank you ...!