BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Tak Semua Wanita Mampu Sepertiku


__ADS_3

Arka dijemput kakek-neneknya tadi pagi. Mereka bilang ingin mengajak Arka untuk pergi ke acara resepsi pernikahan tetangga. Jadi, setelah mandi, Arka pergi bersama mereka.


Hari ini aku memasak banyak sekali. Mungkin ini terasa konyol. Aku akan menjamu orang yang sudah merebut suamiku. Oh, tidak! Bukan ... bukan merebut. Mereka saling mencintai. Aku tidak bisa menyalahkan cinta mereka. Sebenarnya, aku hanya ingin tahu seperti apa wanita pujaan mas Bastian. Seberapa spesialkah dirinya.


Lagi pula, sebentar lagi kami akan berpisah. Aku akan melanjutkan hidupku bersama Arka. Dan aku akan meninggalkan rumah ini. Rumah yang dipenuhi kenangan indah bersama mas Bastian dan Arka. Mungkin, setelah ini aku akan menjalani hidup baruku.


Hari ini mas Bastian libur bekerja. Ia sedang pergi menjemput wanita pujaannya tersebut. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang. Dan benar saja. Suara mobil mas Bastian terdengar jelas di telinga. Pas sekali, karena aku pun telah selesai memasak.


Aku pun segera membuka pintu. Kupersiapkan diri untuk tetap tenang menemuinya. Bagaimanapun, mereka saling mencintai. Dan mas Bastian akan menikahinya. Aku membuka pintu tersebut pelan. Setelah pintu itu terbuka seluruhnya, mataku terbelalak melihat wanita yang sudah berdiri di samping mas Bastian.


Wanita itu melempar senyum ragu-ragu padaku. Ia tampak canggung untuk menatapku. Wanita itu ... aku pernah beberapa kali melihatnya. Wanita itu ... bukankah yang ada di pesta? Wanita itu juga yang pernah mengantar mas Bastian ke rumah sakit.


"Assalamualaikum ...." Dia mengucap salam.


"Waalaikumsalam ...," balasku.


Aku masih terpaku menatap wanita itu. Mengapa tak semudah ekspektasiku? Aku pikir aku bisa tenang, tetapi nyatanya, aku tidak bisa. Hatiku nyeri melihatnya, dadaku sesak melihat senyum yang terlukis manis di wajahnya. Mengapa seperti ini? Kurasa ... aku tak sehebat itu untuk tegar.


Aku kembali mengingat-ingat sebuah nama. Ya, aku ingat. "Bella?"


"Kau mengingatku, ya," ucapnya lirih, seraya tersenyum samar.


Ternyata ... dia adalah wanita pujaan mas Bastian. Wanita yang pernah kujumpai.


Ia mengulurkan tangannya. "Aku, Lusiana Bella," ucapnya memperkenalkan diri.


Aku pun menjabat tangannya. "Imania Saraswati, istri mas Bastian."


Wanita itu menatap mas Bastian sesaat. Dan mas Bastian pun mengangguk, seolah mengisyaratkan kata 'tidak apa-apa'.

__ADS_1


Kulepaskan tangannya. "Silakan masuk ...," ucapku mempersilakan.


Mas Bastian pun membawa wanita tersebut untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Dan aku, dengan hati yang sesak, beranjak ke dapur untuk membawakan minuman. Aku pun kembali lagi ke ruang tamu, menjamu seorang tamu, yaitu wanita simpanan suamiku. Dan aku pun duduk dengan kikuk di hadapan mereka.


Wanita ini, dia cantik, imut, seperti yang mas Bastian ceritakan waktu itu tentang mantannya. (Episode 31)


"Aku pernah memacari beberapa wanita."


"Sejak SMP hingga SMA, hanya satu mantan terindah. Dia cantik, memiliki senyum yang menawan. Dia sangat perhatian padaku. Dia juga selalu menghiburku. Dia mantan yang paling membuatku sulit untuk move on."


"Kami bertemu sejak SMA. Dia adik kelasku. Dia gadis paling imut menurutku. Dia ceria, mengalahkan kepribadianku yang pendiam. Dia sering membuatkan kue untukku. Hingga suatu hari, dia datang ke rumahku."


Perlahan aku mengingat kembali perkataan mas Bastian waktu itu. Benar, wanita sangat imut. Tubuhnya sedang, tidak tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Tubuhnya sedang, memiliki mata yang sipit. Gaya berpakaiannya seperti anak remaja, imut sekali, tapi tetap terlihat anggun. Ia memakai rok selutut, dipadu dengan blouse ketat. Rambutnya panjang sebahu. Seperti itulah kira-kira wanita bernama Lusiana Bella ini.


"Maaf ... sebelumnya aku meminta maaf padamu." Wanita tersebut mulai bicara, meski dengan nada yang lirih. Mungkin, dia menyadari tentang perasaanku sebagai seorang wanita yang telah dikhianati, olehnya ... dan sekaligus oleh suamiku sendiri.


"Aku tahu." Aku memandang wanita itu dengan mengulum senyum penutup luka. Senyum yang hanya bisa dilakukan oleh wanita-wanita yang kuat dan tegar. "Kau adalah wanita yang telah berhasil mengunci hati suamiku selama ini."


Wanita tersebut menunduk. Ia seperti sedang merenungi sesuatu. Dan saat ia mengangkat wajahnya kembali. Mata itu sudah basah. Ia terisak. Ia berdiri dan beranjak menghampiriku. Lalu ia bersimpuh di kakiku.


"Imania ... aku memiliki dosa yang sangat besar terhadapmu. Dosa yang ... bahkan, Tuhan pun tidak akan mudah mengampuniku," ucapnya seraya terisak.


"Imania ... kau boleh membenciku. Aku sudah merebut suamimu. Aku telah menghancurkan masa depanmu bersama mas Bastian. Melihatmu seperti ini, aku merasa seperti wanita paling hina di muka bumi."


Aku pun meraih punggungnya, memintanya berdiri. Tetapi dia menolak.


"Tolong ... izinkan aku bersimpuh di kakimu. Aku adalah wanita kotor. Sedangkan kau seperti cermin yang bersinar. Aku tak mampu melihat bayangan diriku sendiri pada cermin itu. Sungguh ... aku meminta kebesaran hatimu untuk memaafkan diriku. Meski itu mustahil."


"Tidak ada yang mustahil. Kemarilah!" Aku pun memintanya duduk di sebelahku.

__ADS_1


"Imania ... kau adalah wanita berhati bidadari. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa kau membiarkanku masuk ke dalam rumah ini. Dan bagaimana bisa kau rela melepaskan suamimu untukku."


Aku meraih tangannya. Menatap kedua netra yang basah itu. "Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap tinggal. Percuma bila dia di sini bersamaku, tetapi hatinya untuk orang lain. Dan aku tidak suka menyalahkan cinta. Pada dasarnya, cinta itu terlahir murni dari hati dan jiwa pemiliknya. Aku ... aku tidak mau menjadi egois, memaksa agar dia mencintaiku."


"Imania ... kau ini manusia atau malaikat ...." Bella pun memeluk tubuhku. Sedangkan kulihat, mas Bastian mengamati kami dengan sangat terharu. Sesekali ia usap air mata, yang ia sembunyikan lewat jemarinya.


"Maafkan aku ... maafkan aku ... maafkan aku ...." Bella mengucap 'maaf' berkali-kali seraya memeluk tubuhku erat. Ia semakin terisak. Dan itu membuatku tak bisa menahan diri. Air mata yang sedari tadi tertahanpun mulai berjatuhan.


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku sudah mengikhlaskan hubungan kalian," ucapku seraya melepas pelukannya.


Saat kami diam dan hanya bertatapan satu sama lain. Tiba-tiba pintu rumahku terbuka. Tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, seorang wanita masuk dengan langkah ceria. Dan ia pun terbelalak kaget melihat keberadaan kami, yang tengah duduk di sofa. Seketika langkahnya terhenti. Ia masih terpaku melihat ke arah kami.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Di episode selanjutnya akan banyak kelucuan, sekaligus air mata. Jadi, siap-siap beli tissue yang banyak, ya? Biar bisa menemanimu membaca novel ini. Wkwk.


Sekali lagi Author mau minta maaf, untuk tulisannya yang kurang rapi seperti sebelumnya. Author akan merapikannya nanti. Biar novel ini, tidak hanya menarik perihal isi. Tetapi juga memiliki standar layak baca.


Oh, ya? Kalian sudah VOTE? Saat ini pukul 23.30 malam, Author masih berusaha ngetik sebanyak-banyaknya untuk memenuhi request kalian.


Jadi, Author sangat berterima kasih atas dukungan para Readers Tersayang. Author harap, kalian tetap setia menunggu kisah ini update.


Author tidak akan bosan menyapa kalian. Kesuksesan Author juga adalah berkat kalian semua.


Author selalu memantau keaktifan kalian. Dan mempertimbangkan segala kritik dan saran dari kalian. So, jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, dan KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA, ya?


Thank You .... 😘

__ADS_1


__ADS_2