
Mendengar perkataan Archie membuat Sasa langsung merasa bersalah ia takut tak sempat bertemu dengan eyangnya jika ia datang terlambat ke solo , dengan cepat Sasa merapikan barang-barang milik baby Arthur sedang pakaiannya dan sang suami sudah diurus oleh para pelayan yang bertindak cepat ketika Archie mengajak Sasa pergi ke solo . Setelah hampir satu jam packing akhirnya Sasa dan Archie berangkat ke bandara bersama baby Arthur yang sedari tadi tertawa riang . Sesampainya dibandara halim nampak sosok Rico sudah berdiri disamping jet pribadi Archie bersama dengan Gustaf yang juga ikut menemani , Archie langsung mengajak Sasa untuk naek ke pesawat karena akan langsung berangkat untuk menghemat waktu .
Di dalam pesawat suara tawa baby Arthur terdengar jelas memenuhi ruang pesawat saat sedang bercanda dengan Rico sementara Sasa nampak terduduk lesu memikirkan eyangnya , walaupun ibunya menderita karena ulah sang eyang tapi karena itulah sang ibu bisa menikah dengan ayahnya . Sasa sebenarnya tidak benci pada eyangnya dia hanya sedikit kecewa dengan sikap sang eyang yang ia anggap masih terlalu diktator terhadap anggota keluarganya , sampai akhirnya Sasa sadar bahwa apa yang dilakukan Raden Panji adalah semata-mata demi kebaikan keluarganya juga .
Archie berpindah tempat duduk disamping sang istri , dengan lembut ia menarik kepala Sasa untuk ia sandarkan ke pundaknya . Sasa memejamkan matanya dipundak Archie dengan air mata yang mengalir pelan hingga membuat Archie menyekanya dengan jari tangannya sambil membelai wajah Sasa . Setelah terbang selama 45 menit akhirnya pesawat mewah itu mendarat dengan cantik di Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo solo .
Sasa menggendong baby Arthur untuk turun dari pesawat dan berpindah ke sebuah mobil yang sudah menunggu didepan bandara , dengan menggunakan mobil rombongan itu menuju rumah keluarga besar Sasa . Ini adalah kali pertama Archie dan baby Arthur datang kesana sebagai anggota keluarga sejak menikah dengan Sasa .
" ayo turun sayang " bisik Archie pelan pada Sasa yang tertidur ketika sudah sampai di sebuah lobby rumah sakit .
" kita sudah sampai mas ? " tanya Sasa pelan sambil merapikan rambutnya .
" huum , yuk pelan-pelan turunnya " ajak Archie sambil membawa baby Arthur keluar dari mobil .
Sasa keluar dari mobil dan melihat ke sekeliling rumah sakit yang khusus menangani pasien stroke itu , dengan langkah cepat Sasa digandeng Archie memasuki lift rumah sakit yang akan mengantar mereka ke lantai 15 . Saat keluar dari lift Sasa langsung dapat melihat semua keluarganya tengah terduduk lemas di depan bangsal perawatan.
" sasaaaa " pekik Gusti saat melihat Sasa keluar dari lift .
Swari yang kebetulan sedang berdiri dekat lift langsung berlari ke arah Sasa dan memeluk Sasa dengan erat karena sudah lama tak bertemu sedang keluarga yang lain juga nampak tak kalah kaget melihat Sasa apalagi saat melihat sosok Archie yang sedang menggendong baby Arthur yang sejak tadi tersenyum seolah sedang mengucapkan salam pada keluarga sang ibu . Melihat baby Arthur membuat Gusti gemas ia langsung mengambil baby Arthur dari pelukan Archie setelah sebelumnya berjabat tangan dengan Archie .
Kehadiran Sasa bersama suami dan anaknya membuat anggota keluarganya yang sedang bersedih karena menunggu pemeriksaaan dokter atas Raden Panji menjadi sedikit terhibur , Raden ayu Mintarsih dan Ibu gusti nampak sangat bahagia melihat baby Arthur yang nampak seperti boneka itu apalagi mata biru langitnya yang mirip dengan sang ayah makin membuat orang-orang yang melihatnya tersihir . Sasa nampak masih melepas rindu dengan Swari sang kakak ipar sementara Archie memilih berbicara dengan Gusti .
" aduhhh cucuku ini ganteng sekali " ucap ibu Gusti gemas sambil mencium tangan gempal baby Arthur.
" inggih yunda , kok ada anak selucu ini ya ampun " timpal raden ayu mintarsih sambil membelai pipi baby Arthur .
Merasa di manja membuat tawa baby Arthur terdengar makin kencang memenuhi koridor ruang VVIP itu yang sontak membuat gemas para eyang barunya . Archie hanya tersenyum tipis melihat anaknya di serbu oleh budhe sang istri .
" terima kasih archie " ucap Gusti tulus dengan mata berkaca-kaca .
" no problem gusti , istriku berhak tau dan melihat kondisi eyangnya " jawab Archie sambil menepuk pundak Gusti memberikan semangat .
" eyang pasti akan bahagia sekali melihat sasa dan cicitnya datang " ujar Gusti lirih ,
" yes i hope so , oh iya bagaimana keadaan eyang ? " tanya Archie pelan
Gusti yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya dan memandang nanar ke arah Archie ketika mendengar Archie memanggil eyangnya dengan sebutan eyang karena selama ini Archie sebutan Raden panji .
__ADS_1
" whattt !! " tanya Archie bingung ketika melihat perubahan sikap Gusti yang tiba-tiba itu .
bug
Gusti memeluk Archiue dengan erat sambil terisak dan berkali-kali mengucapkan terima kasih karena Archie sudah tak marah dengan eyangnya karena mau memanggil dengan sebutan eyang . Archie menepuk-nepuk punggung Gusti dengan pelan untuk memberikan dukungan secara moral , sementara di sebelah Archie nampak Rico yang tersenyum .
Ceklek
Pintu ruang perawatan raden panji terbuka dan keluarlah tiga orang dokter yang kemudian didekati oleh raden Galih ayah Gusti yang langsung memberondong pertanyaan pada ketiga dokter itu .
" kondisi raden Panji sudah sangat menurun hanya keajaiban Tuhanlah yang masih membuatnya tetap bertahan sampai saat ini " ucap salah satu dokter itu sambil menggenggam tangan ayah Gusti yang dingin itu .
" romoo ... " isak lirih Raden Galih .
" keluarga diperkenankan untuk masuk ke dalam untuk mengucapkan perpisahan " imbuh dokter lainnya yang menandakan kondisi Raden Panji memang sudah sangat kritis .
Swari mengajak Sasa masuk kedalam ruang perawatan eyang mereka diikuti oleh Archie dan Gusti beserta keluarga lainnya termasuk baby Arthur yang masih digendong oleh ibu Gusti , mereka masuk ke dalam ruangan itu dengan perasaan hancur apalagi Sasa yang nampak sudah mulai menangis ketika melihat kondisi eyangnya itu . Di atas ranjang nampak terbaring tubuh raden Panji yang tak dapat bergerak karena kaku itu sedang beberapa selang nampak tertancap ditubuh rentanya yang digunakan sebagai penompang hidupnya selama ini , raden panji menggunakan oksigen tambahan karena memang sudah kesulitan bernafas .
Sasa berlutut dilantai disamping ranjang sang eyang , perlahan ia sentuh wajah renta itu dengan tangan bergetar . Sasa menciumi tangan berkeriput raden panji yang masih tertancam selang inpus itu dengan air mata yang terus mengalir , ia mengucapkan terima kasih atas kasih sayangnya selama ini pada ibunya . Sasa tau bahwa ibunya juga sangat menyayangi eyangnya , oleh karena itu Sasa merasa hancur ketika melihat kondisi eyangnya yang lemah tak berdaya itu .
" maafin sasa eyang baru bisa datang " ucap Sasa lirih di telinga raden Panji
Mendengar tangis Sasa membuat semua orang diruangan itu makin terlihat sedih begitu pula dengan Archie yang merasakan ada rasa sakit menusuk hatinya ketika melihat istrinya menangis seperti itu , Archie teringat kembali bagaimana hancurnya Sasa ketika kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu . Pelahan Archie berjalan ke arah ibu Gusti dan mengambil baby Arthur lalu melangkah pelan ke arah Sasa dan menyerahkan anaknya pada Sasa untuk diperkenalkan pada raden Panji yang masih tertidur . Sasa mengerti maksud Archie lalu mengucapkan terima kasih tanpa suara yang disambut senyuman hangat dari Archie .
" eyang ini anak sasa , namanya arthur dia laki-laki eyang . Apa eyang tak mau melihat anak sasa ? " ucap Sasa pelan sambil menciumkan sang anak ke arah raden panji , baby Arthur kemudian berteriak seperti sedang meminta pada eyang buyutnya untuk bangun .
" bangun eyang " isak sasa lirih karena melihat raden Panji nampak tak ada perubahan .
Sasa kemudian menangis dengan suara kencang karena sedih dan membuat Archie langsung memeluknya dengan erat sementara baby Arthur langsung digendong oleh Gusti yang tengah berdiri disamping Sasa . Semua orang diruangan itu bisa merasakan kepedihan Sasa , Sasa yang hidup tanpa sempat merasakan kasih sayang seorang kakek dan nenek itu .
Saat semua orang sedang menangis tiba-tiba baby Arthur terlihat menunjuk-nunjuk kearah raden Panji seolah sedang memberikan sebuah kode pada orang-orang dewasa yang sedang menangis itu , karena penasaran Gusti pun akhirnya ikut melihat ke arah tangan baby Arthur menunjuk itu .
" eyang sadarrr !!! " pekik Gusti dengan suara tinggi .
" romo " teriak raden Galih sambil duduk mendekat ke arah raden Panji yang sudah membuka matanya perlahan itu , sebuah senyuman kecil nampak tersunggih di wajah lemah raden Panji .
" sss ssss aaa aaa " ucap raden Panji lirih dengan terbata karena bibirnya yang miring menyulitkan ia bicara .
__ADS_1
Merasa dipanggil akhirnya Sasa berlutut ditempatnya semula sambil membelai wajah raden Panji , Sasa mencium kening eyangnya perlahan dengan penuh haru . Raden panji tersenyum dengan air mata yang mengalir dari kedua mata senjanya yang membuat Sasa menyeka perlahan dengan jari sambil menggelengkan kepalanya untuk melarang eyangnya menangis .
" maafin sasa ya eyang " ucap Sasa lirih sambil menggenggam erat tangan raden Panji .
" aakk akkkkk " terdengar raden Panji mencoba berbicara , kedua matanya menatap ke arah baby Arthur yang ada dipelukan Gusti .
Archie sontak mengambil baby Arthur dari pelukan Gusti dan berjalan mendekat ke arah raden panji dan menurunkan baby Arthur ke dekat ranjang .
" ini anak kami , cicit eyang " ucap Archie dengan tersenyum .
Mata raden Panji menatap dalam ke arah baby Arthur yang sedang tertawa itu lalu bergantian menatap ke arah Sasa dan Archie seperti sedang berbicara .
" iya eyang ini anak sasa " imbuh Sasa sambil menyentuhkan tangan lemah raden Panji ke arah wajah baby Arthur .
Tangan raden Panji yang tadinya sangat lemah tiba-tiba seperti punya tenaga , tangan renta itu meraba-raba wajah baby Arthur yang membuat siapapun merasa terharu karena melihat pemandangan itu . Dimana seorang yang baru sadar dari koma-nya tiba-tiba dengan penuh kasih sayang menyentuh cicitnya yang masih bayi .
" ma aa aapphh " bisik raden Panji terdengar sangat lemah
" sudah eyang tak perlu bicara , lebih baik eyang istirahat supaya cepat sembuh dan bisa bermain dengan Arthur ya eyang " ucap Sasa sambil membersihkan air liur yang keluar dari bibir raden Panji .
" maa aaapphh " imbuh raden Panji dengan suara yang makin lirih itu .
" sasa sayang eyang , sasa tau eyang sayang juga sama sasa . Sasa tau eyang melakukan semua itu demi kebaikan sasa , hanya saja sasa yang kurang tau diri . Harusnya sasa yang datang ke eyang bukan eyang yang menemui sasa " tangis Sasa akhirnya pecah kembali ketika melihat eyangnya berkali-kali membuka mulutnya untuk mengucapkan kata maaf padanya .
Akhirnya tangan raden Panji yang sedang menyentuh pipi baby Arthur terjatuh lunglai ke ranjang dibarengi bunyi mesin EKG yang berbunyi dengan satu nada yang menandakan tak ada detak jantung yang berhasil ia deteksi yang sontak membuat semua orang diruangan itu menangis bersama .
Archie menarik tubuh Sasa ke arahnya sambil menggendong baby Arthur , ia memeluk Sasa yang sedang menangis itu . Rico yang tengah berdiri di dekat pintu langsung berjalan mendekat ke arah Archie dan mengambil baby Arthur dari pelukan Archie yang nampak kesulitan saat ia sedang memeluk Sasa juga .
Rico membawa baby Arthur keluar dari ruangan yang penuh tangis itu , beberapa dokter nampak berlari ke arah kamar raden Panji ketika mendengar suara tangisan .
" sasa ga jadi anak durhaka kan mas ?? " isak Sasa lirih didalam pelukan Archie .
" istriku itu anak dan cucu yang baik , karena itulah aku tergila-gila padanya " ucap Archie mencoba menghibur Sasa .
" mass akhh huhuhuhuhhhhhh.......... " tangis Sasa malah makin menjadi
__ADS_1