Faith

Faith
Home sweet home


__ADS_3

Mendengar perkataan Archie membuat air mata Sasa berhenti mengalir , ia mengangkat wajahnya ke arah Archie dengan kaget .


" mmm mas Sasa itu .. mmm apa namanya itu mas ....


" Itu apa ?? " tanya Archie menggoda Sasa .


Sasa menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya , kedua matanya membesar yang menunjukkan kekagetan yang luar biasa .


Karena tak tega melihat Sasa seperti itu akhirnya Archie memeluk sang istri dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung Sasa dengan perlahan .


" Ya sudah ayo pulang , Arthur sudah menunggu kita dirumah " bisik Archie pelan ketelinga Sasa , mencoba menenangkan sang istri .


" Iya " jawab Sasa cepat dengan wajah yang memerah .


Sasa bangun dari ranjang rumah sakit yang ia tiduri selama tiga hari , perlahan ia memakai sandal dan berjalan pelan menuju pintu keluar . Beberapa anak buah Archie sudah berbaris rapi di depan lorong menyambut kepulangan Sasa , saat sedang berjalan Sasa kaget ketika melihat ke arah kamar Rico yang juga sudah kosong .


" Rico sedang melakukan CT-SCAN lagi sayang ditemani Selena " ucap Archie cepat ketika melihat Sasa terlihat bingung .


" Oh begitu , kak Selena baik-baik saja kan mas ? dia pasti sangat sedih kehilangan buah hatinya " sahut Sasa pelan dengan wajah sedih .


" Ini semua rencana Tuhan sayang , kita doakan saja mereka segera mendapat gantinya " bisik Archie pelan sambil memeluk Sasa dari belakang .


" aamiin " jawab Sasa singkat sambil tersenyum .


Archie kemudian menuntun Sasa untuk pulang , berdasarkan pantauan dari dokter Frans selama dua hari terakhir akhirnya Sasa diperbolehkan pulang . Beberapa staf dokter yang lain nampak berjajar rapi mengantarkan Sasa pulang di lobby rumah sakit yang membuat Sasa merasa risih diperlakukan seperti itu .


" Mas , dua adik kembar Selena kemana ? Sasa ga liat " tanya Sasa pelan di dalam mobil .


" Mereka tinggal ke rumah barunya " jawab Archie dengan tersenyum .


" Oh begitu , Sasa pikir mereka kemana " sahut Sasa sambil menganggukkan kepalanya pelan , yang membuatnya nampak seperti anak kecil .


Luka goresan di kedua tangan Sasa sudah kering dan meninggalkan bekas yang sangat terlihat , sewaktu melihat tangan dan kaki sang istri terluka sebenarnya Archie sudah memaksa dokter Frans untuk melakukan operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka itu tapi ditolak mentah-mentah oleh dokter Frans .


Sebelum pulang ke rumah Sasa sempat meminta diantar ke apartemen Dita teman kampusnya untuk mengambil buku kuliahnya ,walau sebenarnya ia merasa tak enak selalu merepotkan teman-temannya dikampus . Akan tetapi empat teman terbaiknya selalu dengan senang hati meminjamkan buku catatan supaya Sasa tak ketinggalan pelajaran .


" Apa sebaiknya kau tak berhenti kuliah saja sayang ? mas tak tega melihatmu seperti ini lho " tanya Archie pada Sasa yang baru saja masuk ke dalam mobil dengan membawa satu kantong kertas yang berisi buku-buku catatan untuk Sasa salin .

__ADS_1


" Sasa gapapa mas , Sasa masih sanggup kok ngejalaninnya " jawab Sasa dengan tersenyum lebar .


" sayang kan baru pulang dari rumah sakit , masa ini udah mau belajar lagi . Kau butuh istirahat lho sayang " ucap Archie ketus .


" Sasa tau mas , tapi Sasa pengin nepatin janji Sasa dulu sama ibu ... Sasa harus jadi sarjana mas " jawab Sasa lirih .


Mendengar perkataan Sasa yang menyinggung mendiang sang ibu mertua membuat Archie luluh , ia tak pernah bisa menang berdebat dengan sang istri jika sudah membawa nama kedua mertuanya yang sudah meninggal itu .


" Baiklah selama kau bisa menjalaninya dengan baik mas akan dukung , tapi dengan syarat kasih sayang dan perhatianmu pada Arthur tak boleh berkurang sedikitpun " ucap Archie tiba-tiba sambil membelai rambut Sasa .


" Pasti mas , terima kasih mas ... Sasa sayang mas Archie " pekik Sasa kegirangan .


Sasa dengan cepat memeluk erat sang suami karena bahagia , Archie hanya tersenyum saja melihat tingkah sang istri yang kekanak-kanakan . Tak lama kemudian mobil mereka sampai di rumah besarnya , ketika Sasa turun dari mobil ia tak sengaja melihat beberapa orang tengah memasang kabel kawat di atas tembok yang mengelilingi rumah besarnya itu .


Senyum Sasa mengembang melihat orang-orang yang sedang bekerja itu , ia merasa malu kalau mengingat kejadian tiga hari lalu . Apalagi sang suami sudah tau dengan apa yang ia lakukan kemarin .


" Ayo masuk " ajak Archie pada Sasa yang membuat lamunan Sasa hilang .


" Arthurrr !!!!! " teriak Sasa tiba-tiba ketika melihat anaknya berjalan dengan tertatih-tatih dari dalam rumah dibawah pengawasan bik Rani .


Sasa berlari ke arah sang putra , dengan cepat ia peluk anak tampannya itu . Rasa rindunya benar-benar sudah meluber setelah berpisah selama tiga hari , Sasa merasa bersalah telah meninggalkan sang anak di kamar hari dimana ia keluar dari jendela waktu itu .


" Sayang kasian ini lho Arthur , masa mukanya penuh lipstik " protes Archie pada Sasa , ia tak suka melihat wajah anak tampannya terkena lipstik .


" Ikh biarin aja !! nanti kan hilang , Sasa kangen sama Arthur mas " sahut Sasa cepat membela diri .


" Tapi kasian itu lho Arthur ya ampun , masa anak cowok pipinya penuh lipstik " ucap Archie jengkel , ia mencoba merebut baby Arthur dari pelukan sang istri .


" No !!! ini anakku " jawab Sasa dengan suara meninggi berusaha menghindari Archie , ia kemudian berlari ke lantai dua menuju kamarnya .


Melihat Sasa berlari membuat Archie mengikutinya dari belakang sambil berteriak supaya Sasa hati-hati agar tak terjatuh , para pelayan dan bodyguard di rumah Archie tersenyum melihat pemandangan seperti ini lagi .


Tak lama kemudian terdengar suara tawa yang keras dari arah kamar baby Arthur , rupanya Sasa tengah memakaikan lipstik pada Archie sehingga membuat Sasa tertawa terbahak-bahak . Archie pun hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh Sasa , ia senang Sasa sudah kembali seperti biasa . Mengingat kondisi Sasa dua hari lalu di rumah sakit benar-benar membuat Archie sedih , karenanya sekarang ia membiarkan sang istri melakukan apapun pada dirinya .


Sementara itu di rumah sakit kondisi Rico yang sudah mulai membaik membuat dokter Frans tak terlalu banyak memberikan obat padanya , ia hanya meminta Rico untuk banyak istirahat dan tak bergerak saja .


" Jangan banyak protes dan ikuti petunjukku Rico " ucap dokter Frans ketus , ia jengkel mendengar rengekan Rico yang meminta untuk pulang .

__ADS_1


" Aku sudah sehat Frans , ayolah jangan tahan aku lebih lama disini " pinta Rico berkali-kali .


" Selena coba ambilkan selotip itu yang ada di lemari P3k " titah dokter Frans tiba-tiba .


Selena mengangguk pelan lalu berjalan ke arah kotak P3K yang ada diruang perawatan Rico , ia kemudian menyerahkan benda yang dibawanya pada dokter Frans .


" Sekarang kau pegang mulut Rico , biar aku mudah menutup mulutnya yang cerewet ini " ucap dokter Frans tiba-tiba sambil menarik selotip yang ia sudah buka .


Mendengar perkataan dokter Frans membuat semua orang yang ada diruangan Rico kaget termasuk Selena yang sedang berdiri disebelah Rico , dengan cepat Selena menutup mulut Rico dengan tangannya .


" Jangan macam-macam ya Frans !!! " bentak Selena penuh amarah .


" Daripada aku pusing mendengar suara celotehnya itu lebih baik kita tutup saja mulutnya dengan ini " jawab dokter Frans tanpa rasa bersalah .


" Kau gila Frans !!" teriak Rico cepat , ia kemudian memalingkan wajahnya dan bersembunyi ke tubuh Selena yang duduk di ranjangnya .


Melihat tingkah Rico membuat dokter Frans tertawa begitupun kedua adik kembar Selena yang baru saja datang setelah pagi-pagi mereka pulang ke apartemen yang sudah di siapkan oleh Gustaf sebelumnya atas perintah Archie .


" Bersabarlah besok kau juga sudah boleh pulang Rico , aku harus memastikan luka dalam mu sembuh " ucap dokter Frans serius .


" Aku hanya sudah bosan ada disini " jawab Rico cepat sambil memeluk Selana dengan erat .


" Tapi ingat Rico , istrimu baru keguguran dia belom boleh hamil lagi !! kau jangan terlalu bernafsu " sahut dokter Frans tiba-tiba mengejek Rico .


Bug


Rico melempar bantal yang ia pakai ke arah dokter Frans .


" Aku tau bajingan !!! " hardik Rico penuh emosi .


" Ha ha ha ha aku senang melihatmu sudah bisa marah lagi , artinya kau sudah siap pulang ke rumah besok " jawab dokter Frans sambil tertawa .


Dokter Frans kemudian keluar dari ruang perawatan Rico karena dipanggil dokter lain , saat ia berjalan melewati Carolina dokter muda itu menyisipkan secarik kertas di kantung baju yang Carolina pakai .


Carolina mundur kebelakang menjauhi ranjang ia perlahan membuka kertas yang diberikan oleh dokter Frans , wajahnya memerah ketika membaca tulisan yang ada di kertas pemberian dokter Frans .


" Malam ini kau akan jadi milikku Carol " sebuah kalimat yang berhasil membuat jantung Carolina berdetak kencang .

__ADS_1


🌼 Bersambung 🌼


Jangan lupa like dan komentar ya kakak-kakak . Terima kasih . 🌹


__ADS_2