
Carolina menyeka air matanya mendengar perkataan Selena , ia sebenarnya juga sudah tak kuat tinggal bersama ayahnya . Carolina selalu merasa ayahnya itu adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja .
"Jadi apa rencana kita kak ? " tanya Carolina lirih.
"Kita pura-pura patuh akan perintah daddy sembari mencari cara untuk lepas darinya Carol " jawab Selena sambil tersenyum.
"Asal kita bersama semua pasti bisa terlewati " celetuk Gracia sambil memeluk dua kakak nya itu .
Tak lama kemudian Selena meminta kedua adiknya untuk bersikap biasa saja karena mendengar langkah kaki perlahan mendekati kamarnya , keahliannya sebagai mata-mata selama 7 tahun ini sudah benar-benar terasah untuk hal-hal semacam ini .
Dan benar saja tak lama kemudian masuklah Alexander Del Leon bersama Pedro asisten pribadinya , begitu Selena memberikan kode dengan cepat Gracia membuka pintu yang terkunci . Setelah berhasil membuka pintu Gracia kembali duduk di sebelah Selena sementara Carolina sibuk memainkan ponselnya .
"Punya anak tiga tak ada gunanya semua !!! " ucap Alexander Del Leon ketika masuk ke dalam kamar Selena , ia melirik ke arah Carolina yang sudah ia tampar sebelumnya di ruang tamu karena membantahnya .
"Pedro serahkan berkas itu pada tiga anak tak berguna ini " titah Alexander Del Leon dengan nada meninggi .
Pedro pun langsung memberikan tiga buah dokumen pada masing-masing putri sang bos besar , Alexander Del Leon tersenyum tipis ketika melihat tiga anaknya membaca dokumen yang diberikan Pedro .
"Lakukan besok aku tak mau kegagalan lagi , kesempatan kita hanya besok " ucap Alexander Del Leon sambil berkacak pinggang di depan pintu .
"Apa daddy serius , bukankah daddy tau kalau Archie Durran bukan orang yang bodoh " sahut Gracia dengan nada bergetar .
"Ya aku tau , karena itu aku meminta kalian menculik anak dan istrinya !!! aku baru menyadari kalau anak dan istrinya pasti kelemahan terbesar seorang Archie Durran oleh karena itu kalian harus menyamar ke rumah Archie dan dapatkan anak bayi itu secepatnya " ucap Alexander Del Leon yang diakhiri dengan suara tawa yang terbahak-bahak sambil meninggalkan kamar Selena dengan menutup pintu secara kasar .
Brak
"Orang tua gila !!! " pekik Carolina penuh amarah setelah melempar berkas yang diberikan oleh Pedro ke dinding kamar sang kakak .
"Kak aku tak mungkin menyakiti seorang bayi kak hiks... hiks... aku aku tak mungkin melibatkan bayi tak berdosa demi kepentingan daddy kak hhuuaaa huuuuaaa " tangis Gracia akhirnya pecah setelah ia tahan sejak ia pertama membuka berkas pemberian Pedro itu .
Selena pun diam membisu tanpa bicara , ia tak punya kata-kata lagi yang bisa diucapkan untuk merespon perintah ayahnya itu . Ia mengingat hari-harinya bersama Archie dan keluarganya selama tiga bulan ini saat ia tinggal bersama Rico .
"Archie Durran sangat menyayangi anak dan istrinya , kalau kita mencoba menyakiti mereka sama saja kita bunuh diri " ucap Selena pelan .
"Lalu apa yang harus kita lakukan kak ? " tanya Carolina dan Garcia hampir bersamaan .
"Aku akan memikirkan jalan lain , kalian tenang saja dan jangan bertindak macam-macam selama aku mencari jalan keluarnya " jawab Selena sambil tersenyum .
__ADS_1
Gracia dan Carolina kemudian memeluk Selena dengan erat , karena hari sudah sore akhirnya ketiga gadis itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri . Saat waktu makan malam tiba mereka pergi bersama-sama ke ruang makan , di meja makan Selena dan dua adiknya hanya makan tanpa bicara apapun sementara Alexander Del Leon nampak berbincang-bincang dengan Pedro tanpa beban sedikitpun sama seperti saat ia memerintahkan ketiga anaknya menjadi eksekutor .
Setelah makan malam ketiga gadis itu kembali kekamarnya masing-masing tanpa berbicara lagi dengan sang ayah , tak lama kemudian lampu dirumah besar Alexander Del Leon satu persatu dimatikan karena semua penghuninya sudah masuk ke dalam kamar .
Mansion Archie
Sepulang dari kantor Sasa segera membantu pelayan untuk membuat makan malam , sedangkan Archie memilih bermain bersama sang anak diruang bermain ditemani Gustaf sedangkan dokter Frans memilih pergi ke rumah sakit karena ia mendadak mendapat telepon sedangkan Rico masuk ke dalam kamarnya .
Satu jam kemudian makan malam sudah terhidang diatas meja makan , Sasa yang sudah mandi segera memerintahkan semua laki-laki yang ada dirumahnya untuk mandi termasuk baby Arthur yang langsung dimandikan oleh sang pengasuh .
Suara mobil milik dokter Frans berhenti di halaman ketika semua orang sudah berkumpul di meja makan , Archie langsung memerintahkan dokter Frans untuk bergabung . Mereka pun menikmati makan malam penuh kehangatan , saat sedang makan ponsel Sasa berdering minta di angkat . Sasa berjalan menuju meja didekat piano dimana ia meletakkan ponselnya disana , ekspresi wajah Sasa langsung berubah ketika membaca pesan masuk itu .
" Siapa sayang ? " tanya Archie penasaran .
" Dosen mas , tadi kan Sasa kasih tugas katanya masih ada kurang jadi minta direvisi lagi " jawab Sasa berbohong .
"Siapa nama dosen itu !!! kurang ajar sekali dia " pekik Archie jengkel .
"Apa si ga jelas mas , kan dia lagi menjalankan tugasnya !!! " ucap Sasa ketus .
"Jangan mentang-mentang kampus itu punya mas jadi mas bisa seenak sendiri kan gak gitu mas , jasa mereka besar lho " imbuh Sasa sambil duduk kembali ke kursinya di meja makan .
"Sasa usah kenyang mas , Sasa duluan ya " ucap Sasa sambil meletakkan sendok garpu nya diatas piring .
"Nyonya kalau marah menakutkan " ucap Gustaf lirih .
"I heard what you said Gustaf !!!" sahut Sasa sambil melirik ke arah Gustaf .
Gustaf langsung menutup mulutnya seketika sehingga membuat Archie , Rico dan dokter Frans tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Gustaf .
Sasa mempercepat langkahnya menuju kamar , Sasa memastikan keadaaan sebelum membalas pesan yang sudah ia terima sebelumnya .Dengan cepat Sasa membuka ponselnya lagi untuk membaca pesan singkat yang ia terima .
xxx:
"help us "
Sasa :
__ADS_1
"What can I do for you ?"
xxx:
" Kill Alexander Del Leon "
Deg
Deg
Jantung Sasa berdetak cepat membaca pesan itu .
Sasa :
" Carolina Lumenta or Gracia Lumenta ? "
xxx :
" I'm Garcia ...."
xxx :
"Kalau kalian tak bertindak cepat aku takut nyawamu dan anakmu dalam bahaya "
Prank
Ponsel Sasa pegang langsung jatuh ke lantai begitu membaca pesan terahir yang ia terima . Jantung Sasa berdetak sangat cepat ketika baby Arthur disinggung oleh si pengirim pesan yang mengaku sebagai Gracia Lumenta itu , karena sedang panik Sasa berjalan cepat sampai tak menyadari kalau ponselnya tak sengaja terinjak olehnya sehingga layar ponselnya bertambah hancur .
Sasa duduk si sofa dengan perasaan yang tak menentu , ia tau si pengirim pesan punya niat baik untuk memberikan ia peringatan akan tetapi saat Sasa mengingat pesan terahir yang ia terima hatinya kembali kacau . Dengan cepat Sasa meraih ponselnya yang sudah hancur itu , Sasa mencari kontak Selena Del Leon dengan kesulitan karena layar ponselnya sudah retak .
Sasa kemudian menulis pesan dengan kesulitan dengan mata berkaca-kaca , ia berharap Selena mau menemuinya seperti harapannya .
"Langkahi dulu mayat ku sebelum kau bisa menyentuh putraku Alexander Del Leon " ucap Sasa lirih sambil menggenggam ponselnya yang sudah hancur , di layar ponselnya masuk pesan balasan dari Selena .
🌼 Bersambung 🌼
Jangan lupa like , komentar dan ratting ya kakak-kakak . Terima kasih 🌹
__ADS_1
Jangan lupa baca juga novel terbaru dari Evangeline Harvey ya kakak-kakak