Faith

Faith
bienvenido mi amor


__ADS_3

Dua mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara Soekarno-Hatta , beberapa orang pria didalamnya kemudian berganti pakaian dengan setelah jas mahal . Mereka mendudukan Sasa yang tengah terbius di atas kursi roda menuju ke sebuah pesawat jet pribadi yang siap mengudara .


Tubuh Sasa di gendong ala bridal style menaiki tangga pesawat dan dengan perlahan pria berbadan kekar itu meletakkan Sasa diatas ranjang yang empuk . Pria itu kemudian pergi meninggalkan Sasa yang masih terlelap dengan seorang pria yang duduk di kursi didekat ranjang .


Sasa terbangun saat merasakan mual ketika ranjang tempatnya tidur bergetar hebat , ia membuka matanya dan tetap berbaring untuk mengumpulkan kesadarannya .


" ini di pesawat !!!! " jerit Sasa panik ketika menyadari bahwa dirinya tengah ada di udara setelah berhasil mengingat kejadian terakhir sebelum ia pingsan .


" shut up !!! " bentak seorang pria yang memakai topeng pada Sasa .


" tolong lepaskan saya , saya mau pulang tolong hu hu hu ....


" diam atau kau akan benar-benar aku lempar dari ketinggian " hardik sang pria bertopeng pada Sasa .


Mendengar ancaman pria itu langsung membuat Sasa terdiam seketika , hanya air mata yang terus mengalirkan yang menunjukan betapa ketakutannya Sasa saat ini . Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan , Sasa duduk ke pojok ranjang yang ada di dalam pesawat jet itu . Sasa berulang kali menyebut nama Archie sang suami dan nama anaknya Arthur , ia belum mau mati dan tak rela jika berpisah dengan orang-orang yang disayanginya itu .


Karena kelelahan menangis Sasa akhirnya tertidur dalam posisi duduk dan kepala yang bersandar dengan bantal , dari kedua matanya masih mengalir air mata yang menandakan kalau dirinya sangat ketakutan .


" bagaimana kondisinya ? " tanya seorang pria yang datang dari arah kokpit yang mempunyai rambut berwarna merah .


" kasian aku tak tega sebenarnya " jawab pria bertopeng pada pria berambut merah itu jujur .


" sudahlah kita hanya menjalankan perintah jadi jangan membangkang atau kita dalam masalah " ucap pria berambut merah itu menguatkan sang pria bertopeng .


" jaga saja dia supaya tidak melakukan hal-hal yang tak diinginkan sampai kita tiba di tempat tujuan " imbuh pria berambut merah yang misterius itu sambil menepuk temannya yang ditugaskan menjaga Sasa .


Sang pria bertopeng mengangguk pelan , ia kemudian kembali duduk di kursinya sambil menikmati makan malamnya tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Sasa .


Tak lama kemudian setelah terbang selama hampir empat jam akhirnya pesawat jet itu kemudian mendarat disebuah landasan bandara yang tak Sasa ketahui karena semua kaca di jet pribadi yang membawanya pergi itu terkunci dengan rapat sehingga Sasa tak bisa mengintip sedang ada dimana .


" bersiaplah kita akan segera turun " hardik pria bertopeng pada Sasa yang masih melamun .


" lepaskan saya tuan saya masih punya anak bayi hu hu hu.....


" diam !!! atau kepalamu akan pecah kena peluru ini " bentak sang pria bertopeng sambil mengacungkan pistol ke kening Sasa sehingga membuat Sasa bergetar ketakutan .


Sasa langsung menutup bibirnya rapat-rapat karena tak mau membuat pria yang ada disebelahnya makin marah , dalam hati Sasa terus menyebut nama Archie berulang-ulang berharap sang suami akan menolong dengan air mata yang terus mengalir Sasa memilih menuruti perintah pria yang ada disebelahnya itu . Kalau dulu sebelum Sasa menikah dan punya anak maka ia akan memilih mati jika dirinya dilecehkan tapi kali ini Sasa memilih bertahan demi sang anak yang masih sangat membutuhkan dirinya itu .


" Arthur sayang maafkan ibu sayang hu hu " tangis Sasa lirih sambil berjalan pelan mengikuti pria yang ada didepannya dengan mata tertutup .

__ADS_1


" perhatikan langkahmu sebentar lagi kita akan menuruni tangga pesawat " ucap pria yang ada didepan Sasa .


Sasa mengangguk pelan lalu tangannya memegang pinggiran tangga yang menuruni tangga dengan perlahan , mulutnya tak henti berdoa meminta untuk ditolong tuhan . Sang pria bertopeng dengan telaten membimbing Sasa berjalan menuju kedalam mobil yang sudah terparkir cantik di depan bandara .


Setelah masuk ke dalam mobil Sasa duduk di sebuah kursi yang nyaman di dalam mobil dengan dikawal beberapa orang pria asing yang berbadan besar tanpa bersuara , tak lama kemudian mobil itupun berjalan menuju tempat tujuan dimana ada orang yang sudah menunggu kehadiran Sasa di tempat itu .


Dengan masih menggunakan penutup mata Sasa keluar dengan perlahan dari mobil dengan bantuan sang pria bertopeng , mereka kemudian berjalan masuk menaiki sebuah lift di sebuah gedung yang tak bisa Sasa tebak .


" apakah kita sedang ada dihotel ? " tanya Sasa sambil terisak ketika menyadari dirinya ada di dalam lift hotel .


" diam dan banyak bicara kalau masih mau hidup dan kembali pada keluargamu " jawab sang pria bertopeng dingin .


" apa salahku ? kenapa kalian melakukan ini padaku tuan ... hu ... hu... aku aku masih punya bayi dirumah , dia pasti mencariku hu hu hu" tangis Sasa akhirnya pecah setelah ia coba tahan berjam-jam lalu di dalam pesawat .


" sudah jangan menangis dan menurutkan , ayo keluar kita sudah sampai " ucap sang pria sambil menarik tangan Sasa secara kasar .


Sasa berjalan dengan hati yang hancur dan ketakutan begitu mengetahui kalau dirinya tengah ada di hotel , berbagai pikiran jelek berseliweran di kepalanya .


" apa aku dijual ? apa organ dalamku akan diambil secara paksa .. Archie tolong aku hu hu " tangis Sasa dalam hati .


Saat sedang berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti karena sang pria yang menuntun dirinya berhenti secara mendadak sehingga otomatis membuat Sasa mengikutinya .


Tok


Tok


Ceklek ....


Pintu terbuka dari dalam dan keluarlah beberapa orang wanita yang juga menggunakan topeng menyambut , mereka langsung mengangguk pelan lalu membawa Sasa masuk kedalam kamar .


Jantung Sasa berdetak dengan cepat ketika menyadari tengah ada dihotel , seluruh tubuhnya terasa dingin karena ketakutan . Hal itu membuat dua orang wanita yang menuntunnya masuk merasa iba .


" duduklah di sini " ucap seorang wanita pada Sasa .


" aku ada dimana ? " tanya Sasa pelan .


" maaf nona kami tak bisa menjawabnya lebih baik nona menurut saja " jawab wanita itu sambil membuka penutup mata yang terpasang di kedua mata Sasa .


Sasa membuka matanya dengan perlahan mencoba menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang terang akibat lampu yang terpasang di depan kaca , rupanya Sasa tengah duduk didepan sebuah meja rias .

__ADS_1


Tak lama kemudian para wanita bertopeng itu langsung berkerja , mereka meminta Sasa untuk mandi terlebih dahulu . Karena takut Sasa melakukan hal yang tak diinginkan ada beberapa orang wanita yang menemani Sasa mandi , mereka bahkan membasuhkan sabun ke tubuh Sasa dan membilasnya dengan air bersih . Dua puluh menit kemudian Sasa sudah selesai mandi dan sudah memakai piyama mandi , ia kemudian berjalan keluar menuju ke dekat ranjang dan berganti pakaian pesta . Sasa menangis saat menyadari kalau ia sedang dipersiapkan oleh para wanita ini untuk bertemu dengan seseorang .


" siapa orang yang akan bertemu denganku " tanya Sasa lirih pada wanita yang sedang menambahkan blush on di pipi Sasa .


" anda akan tau sesaat lagi setelah anda siap " jawab sang perias sambil tersenyum .


" jangan menangis nona , riasan anda akan luntur terkena air mata anda " imbuh wanita perias itu tiba-tiba saat menyadari Sasa kembali menangis .


" bagaimana aku tak menangis jika aku menyadari akan dijual hu hu hu ... tolong lepaskan saya nona , saya sudah punya anak dan suami tolong kasihani saya hu hu hu .... " jawab Sasa terbata-bata .


Sang perias kemudian memeluk Sasa untuk menenangkannya , ia ikut merasa terbawa suasana ketika mendengar perkataan Sasa . Ingin rasanya ia mengatakan yang sebenarnya tapi ia tahan semuanya karena tak mau mencari masalah .


" oke anda sudah siap sekarang " ucap sang perias sambil membantu Sasa berdiri .


" lihatlah anda sangat cantik " imbuh sang perias memuji kecantikan Sasa .


" saya mau pulang tolong lepaskan saya nona " pinta Sasa lirih .


" anda lebih baik memakai ini nona lalu ikut saya keluar " ucap sang perias mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menunjukkan penutup wajah pada Sasa .


" aku harus pakai ini lagi ? " tanya Sasa lirih .


Sang perias mengangguk dan tersenyum pada Sasa lalu memasangkan penutup wajah pada Sasa dengan perlahan karena takut merusak riasan wajah Sasa . Setelah penutup wajah terpasang Sasa berjalan keluar bersama sang perias yang membantunya berjalan , mereka berjalan menuju lift dikawal oleh beberapa orang pria .


Tak lama kemudian lift yang membawa mereka akhirnya sampai di lantai bawah , Sasa berjalan dengan perlahan dengan jantung yang terasa akan meledak . Ia sangat takut bertemu dengan seorang pria yang gila perempuan .


" kita sudah sampai anda tunggu disini " bisik sang perias pada Sasa .


" anda mau kemana nona ? anda benar-benar akan menjual saya pada pria hidung belang ? tolong biarkan saya pulang nona , saya punya anak dan suami hiks hiks ... " tangis Sasa kembali pecah karena merasa semakin dekat dengan bahaya .


" maaf saya tak bisa membantu anda , lebih baik anda tunggu disini saja " jawab sang perias pelan kemudian berjalan menjauh dari Sasa , meninggalkan Sasa berdiri ditengah taman .


Suara langkah kaki seseorang membuat Sasa panik , ia merasa kalau ajalnya akan semakin dekat . Kedua kaki Sasa mendadak lemas tapi ia berusaha tetap berdiri dengan berpegangan pada sebuah benda yang berdiri disebelahnya .


" bienvenido mi amor " terdengar suara yang tak asing bagi Sasa .


Sasa langsung membuka penutup matanya dengan tergesa-gesa untuk memastikan si empunya suara .


" kauuuu ....... " jerit Sasa kaget .

__ADS_1


🌼 Bersambung 🌼


Jangan lupa klik dan komentar ya kakak-kakak 🌹


__ADS_2