
Sasa berlari ke arah wanita yang sudah bersiap melompat itu , beruntung ada beberapa orang pria yang langsung menangkap tangan sang wanita dan berhasil menariknya keatas sebelum benar-benar jatuh ke jalan tol yang sedang ramai . Sasa berdiri dengan terengah-engah karena kelelahan setelah berlari , ia bersandar disebuah mobil yang ikut berhenti karena melihat wanita itu melompat .
" di luar sana masih banyak orang yang ingin hidup , ingin panjang umur kenapa ini ada orang yang ingin mengakhiri hidupnya " ucap Sasa sambil menatap tajam ke arah wanita yang sedang ditenangkan di atas aspal oleh berberapa orang pria .
" sebenarnya aku ingin melakukan itu juga , tapi melihat banyak orang yang membujuknya untuk turun dari jembatan tadi membuat niatku perlahan menghilang " sahut seorang wanita berambut coklat merespon perkataan Sasa .
Sasa menolehkan wajahnya mencari tau si empunya suara , sebuah senyuman mengembang di wajah Sasa .
" hidup terlalu berharga kalau di sia-sia " ucap Sasa sambil mengulurkan tangannya ke arah wanita yang berdiri disebelahnya .
" Sasa " imbuh Sasa memperkenalkan diri .
" Selena " jawab Selena sambil meraih tangan Sasa dengan tersenyum .
Karena melihat banyak orang yang sudah menolong wanita yang ingin bunuh diri itu akhirnya Sasa memilih untuk menyingkir dari kerumunan orang di jembatan karena memang udara Jakarta sangat panas akhir-akhir ini . Sasa memilih masuk ke dalam mobil setelah berbincang sedikit dengan seorang gadis yang bernama Selena yang ternyata usianya tiga tahun lebih tua darinya , setelah bertukar nomor ponsel akhirnya Sasa berpisah dengan Selena yang juga sudah berada dalam mobilnya untuk meninggalkan jembatan yang sudah mulai kondusif itu .
Saat Sasa meninggalkan kerumunan orang yang sedang menenangkan wanita yang akan bunuh diri tadi datang satu mobil polisi menuju ke arah kerumunan orang itu , Sasa kemudian memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah karena hari sudah mulai sore . Tak lama kemudian mobil sport pertama berhasil parkir dengan cantik di garasi rumah besarnya berbaris dengan koleksi mobil sang suami , pak Benny sang supir yang sejak tadi gelisah akhirnya bisa bernafas dengan lega saat melihat sang nyonya akhirnya sampai ke rumah dengan selamat .
" liat itu siapa yang sudah pulang " ucap bik Rani pada baby Arthur saat melihat Sasa berjalan masuk ke dalam rumah dengan tersenyum .
" ibu pulang itu ibu ... " imbuh bik Rani membuat baby Arthur makin kencang tertawa melihat ibunya .
Dengan menahan gemas Sasa menundukkan wajahnya menatap wajah sang anak yang ada dalam gendongan bik Rani , Sasa menggoda anaknya yang sudah bisa mengenali dirinya sebagai ibunya .
" Sasa mandi dulu ya bik " ucap Sasa pelan pada sang pengasuh .
__ADS_1
" siap nyonya " jawab bik Rani cepat .
" oh iya nyonya tadi tuan telefon dari Australia menanyakan nyonya dan sepertinya terlihat marah " imbuh bik Rani yang teringat akan telefon Archie satu jam yang lalu .
Sasa tersenyum lalu mengangkat ponselnya ke udara untuk ditunjukan pada pelayannya untuk memberitahukan bahwa ponselnya kehabisan daya , Sasa tau sang suami pasti panik ketika tak dapat menghubunginya . Dengan langkah cepat Sasa naik ke lantai dua untuk membersihkan tubuh sebelum bermain dengan sang anak .
Selepas mandi Sasa langsung mengecek ponselnya yang sudah di isi daya , senyumnya mengembang ketik melihat puluhan pesan masuk dari nomor Australia yang ia yakini kalau itu adalah suaminya yang posesif .Saat Sasa sedang mengetik balasan pesan tiba-tiba ponselnya berdering karena ada panggilan dari nomor yang belum ia save .
" hallo selamat sore apa ini benar Sasa ? " terdengar suara perempuan di ujung telfon .
" sore , iya ini Sasa maaf ini dengan siapa ya soalnya nomornya belum saya save " jawab Sasa dengan lembut sambil merapikan rambutnya dengan sisir .
" ini Selena , kita tadi ketemu di jalan " ucap seorang gadis yang ternyata adalah Selena , ia menghubungi Sasa dengan nomor lain .
" lho bukankah nomor yang kau berikan padaku bukan nomor ini ya " celetuk Sasa tiba-tiba mengingat kalau iya sudah memasukkan nomor Selena ke dalam kontak ponselnya .
" its oke aku tak masalah , oh iya apa kau sudah sampai ke rumah ? kau baik-baik saja kan ? " tanya Sasa yang teringat kalau Selena juga dalam kondisi yang tak baik , Sasa mengingat perkataan Selena yang juga ingin bunuh diri sebelumnya dan ia cukup khawatir karena itu .
Selena terdiam dan mulai berbicara dengan Sasa secara serius melalui panggilan telefon , Sasa terlihat menganggukan kepalanya beberapa kali merespon perkataan Selena . Entah mengapa padahal ia baru kenal dengan Selena dijalan hari ini tapi Sasa sudah merasa nyaman berbicara dengannya hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dengan Sasa .
" kak maaf anakku menangis sebentar aku ambil dia dulu ya , sepertinya dia lapar " ucap Sasa meminta ijin pada Selena untuk pergi sebentar .
" kau sudah menikah sa ??!!! " tanya Selena dengan kaget sehingga Sasa menjauhkan ponselnya karena suara Selena memekakkan telinganya .
" hehe iya kak , nanti Sasa jelasin sebentar dulu ya Sasa ambil anak Sasa dulu kasian udah nangis soalnya " jawab Sasa cepat , ia kemudian berlari kearah pintu dimana bik Rani sudah menunggunya dari balik pintu dengan menggendong baby Arthur yang sudah menangis karena meminta ASI .
__ADS_1
Dengan cepat Sasa mengambil baby Arthur dari gendongan pelayannya , Sasa kemudian membawa masuk anaknya ke dalam kamar dan langsung memberikan baby Arthur ASI yang membuat anak tampan itu langsung diam dan menikmati acara makannya . Sasa tersenyum melihat anaknya tenang ia kemudian mengambil headphone dan memasangnya ditelinga untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Selena yang masih tersambung .
" hallo kak , are you still in there ? " tanya Sasa pelan .
" iya Sa aku menunggumu , oh iya sudah berapa bulan anakmu ? " tanya Selena balik .
" sudah jalan delapan bulan kak " jawab Sasa sambil menyentuh hidung mancung anaknya .
" oh sudah besar ya tapi wait berati kau menikah sangat muda sekali ya " pekik Selena kaget yang baru mengingat usia Sasa .
" delapan belas tahun aku sudah menikah kak , aku sempat kosong beberapa bulan baru akhirnya aku hamil " ucap Sasa menjelaskan .
Di kamar apartemennya Selena nampak menganggukan kepalanya berulang kali mendengar perkataan Sasa , karena sudah mulai malam akhirnya Selena memutus panggilan telfonnya dengan Sasa . Hari ini ia berniat untuk mengakhiri hidupnya tapi justru dipertemukan dengan Sasa , Selena meletakkan ponselnya diatas ranjang ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk masuk kedalam bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat untuk mandi .
" kenapa Tuhan tak adil padaku , disaat aku seperti ini ada seorang gadis yang usianya jauh dibawahku sudah mempunyai kehidupan rumah tangga yang bahagia " tangis Selena dengan sesegukan , ia merasa iri pada Sasa yang baru ia kenal itu .
" kau pasti orang kaya Sa atau suamimu yang kaya kalau tidak mana mungkin kau bisa menaiki mobil BMW terbaru itu padahal mobil itu hanya dijual terbatas di negara ini " ucap Selena dalam hati mengingat mobil yang Sasa pakai hari ini .
Selena memejamkan matanya mengingat kejadian pagi itu dimana Rico yang ia cari untuk dimintai pertolongan justru mengambil keperawanannya , Selena menangis mengingat kejadian itu . Ia berteriak dengan kencang mengumpat Rico berkali-kali , Selena benci dengan ketidakberdayaannya .
" no aku tak mau berakhir di atas ranjang si tua bangka bau tanah itu , aku harus melawan daddy " ucap Selena dalam hati , ia tiba-tiba teringat akan nama seorang pria yang sering disebut ayahnya sebagai rekan bisnis terbaiknya .
Dengan cepat Selena meraih piyama mandinya lalu berjalan cepat menuju ranjangnya untuk mengambil ponselnya , Selena mencari pesan yang pernah dikirimkan ayahnya sebelumnya . Senyumnya mengembang ketika berhasil menemukan pesan yang ia cari , di dalam pesan itu terlihat foto seorang pria yang terlihat sangat gagah dalam balutan jas mahal tengah bersalaman dengan sang ayah .
" ya kau lah orang yang tepat untuk kujadikan suami tuan CEO yang terhormat " ucap Selena lirih sambil menatap tajam pria bermata biru yang ada dalam ponselnya .
__ADS_1
💮 Bersambung ❤️