Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 10


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Andra terbangun dari tidurnya. Ia terbangun karena mendengar suara gemircik air dari dalam kamar mandi. Tak lama, suara itu tak lagi terdengar. Mungkin Aileen sudah menyelesaikan ritual mandinya, dan benar saja wanita itu muncul dari arah kamar mandi menggunakan jubah handuk.


Rambutnya yang basah membuat Andra menatapnya heran. Setiap hari tak luput dari rambutnya yang basah. Wajah ceria dan sedikit bersenandung membuat Andra semakin memperhatikannya. Semalam ia ingat betul raut wajah Aileen seperti apa ketika ia menolaknya.


Akhirnya, Andra pun terbangun dari tidurnya. Ia segera membersihkan diri untuk segera ke kantor dan bertemu dengan Roy, ia harus menjalankan misi yang ia rencanakan.


Aileen menatap tubuh suaminya yang melewati dirinya begitu saja, untuk kali ini ia tak peduli. Adam sudah memuaskannya tadi malam, jadi ia tak peduli dengan sikap suaminya yang masih sok jual mahal padanya.


Hingga ada satu ide di mana ia menemukan cara untuk membuat suaminya mau menyentuhnya.


* * *


Aileen tengah menata makanan di atas meja.


"Mana minumannya? Kau sudah mencampurkannya di minuman ini 'kan?" tanya Aileen pada Mona.


"Sudah, Nyonya. Tapi, untuk apa Nyonya melakukan itu?" Mona jadi penasaran dengan keinginan majikannya, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir sampai majikannya seperti itu.


"Apa Nyonya Aileen tidak ada kepuasan dari Tuan Andra sampai melakukan ini?" batin Mona.


"Ah, sudahlah. Ini bukan urusanmu, kau cukup diam saja!" sentak Aileen.


Mona pun membungkam mulutnya karena sang tuan sudah datang menuju ruang makan. Tanpa curiga apa pun, Andra sarapan seperti biasa pagi ini.


Tak sengaja, Andra melihat tanda merah di bagian dada Aileen karena bajunya sedikit terbuka.


"Kau sakit?" tanya Andra.


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawabnya seraya membenarkan kerah bajunya, ia takut suaminya melihat ada beberapa tanda semalam yang diperbuat Adam.


"Ah sial, kenapa aku tidak sadar bahwa Adam menyisakan bekas ini," batin Aileen.


"Tapi, dadamu itu kenapa?"


"Ini hanya gatal, ya, ini hanya gatal saja," elaknya.


Andra mulai sarapan dan tak memperpanjang tanda merah itu, dengan santai ia menyeruput teh yang sudah disiapkan Mona untuknya. Hingga beberapa saat, ada perasaan aneh pada tubuhnya. Andra merasakan sedikit panas di bagian intinya.


Sedangkan Aileen, wanita itu bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Sesekali ia hanya melirik suaminya. Suaminya tak bisa diam dengan posisinya, pria itu selalu menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ayolah cepat, aku tahu kamu sudah menginginkannya. Dan kamu tidak akan tahan, Andra ku sayang," batin Aileen.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Aileen basa-basi.


"Tidak apa-apa." Padahal Andra menahan sesuatu yang menjalar di tubuhnya. "Sial, sepertinya Aileen merencanakan sesuatu padaku, aku tak bisa meremehkannya." batin Andra. Wajah polos Aileen ternyata hanya kedok.


Kebetulan, ponsel Andra berdering. Ia langsung saja mengangkatnya.


"Ya, Roy. Ada apa? Oh, baik. Saya akan segera kesana."


Bagaikan dewa turun pada tepat waktu, Andra langsung saja pergi meninggalkan Aileen. Untung Roy menghubunginya, kalau tidak ia bisa masuk perangkap istrinya itu.


* * *


Di sepanjang perjalanan, Andra mulai tak karuan. Obat perangsang yang diberikan Aileen melebihi dosis.


"Arghhh ... Bagaimana ini? Aku tak bisa melanjutkan perjalanan dalam keadaan seperti ini." Andra terus merutuk, istrinya itu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya ia berbuat nekad untuk mendapatkannya.


Tak berselang lama, Andra melihat dua orang gadis tengah menyebrang dan sepertinya sedang menuju pasar. Tak bisa menahan diri, ia langsung turun dari mobilnya. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas ia tak akan menyentuh wanita lain selain Nindya.


"Hey, cepatlah! Jalanmu itu lamban sekali!" sentak Loly pada Nindya.


"Kamu 'kan tahu kakiku sakit," ucap Nindya.


Langkah Nindya dan Loly terhenti kala seseorang memanggil salah satu di antara mereka. Dengan kompak, Nindya dan Loly membalikkan tubuhnya.


"Tuan Andra," ucap Loly dengan mata terbelalak.


Nindya hanya diam ketika Andra memanggil namanya.


Andra seperti cacing kepanasan, wajahnya merah seperti sedang menahan amarah.


"Kau ikut denganku, sekarang!" Andra menarik paksa tangan Nindya.


"Tapi, Tuan ..." Nindya memberontak.


"Tuan, Nindya harus ikut denganku. Kami akan ke pasar untuk membeli ikan disuruh Nyonya besar, Tuan tidak bisa membawanya pergi," kata Loly.


Andra menatap tajam wajah Loly, ia tak ada waktu untuk berdebat. Keadaan sudah gawat darurat. Hingga Loly tertunduk seketika.


"Loly, bagaimana ini?" Nindya seolah meminta pertolongan, karena ia takut pada majikannya yang terlihat begitu menyeramkan. Ingat kesalahannya semalam membuatnya semakin takut.

__ADS_1


"Kamu buat masalah?" tanya Loly.


"Iya, dia punya salah. Dan dia harus bertanggung jawab." Ujar Andra seraya menarik lengan Nindya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Tuan, maafkan saya. Semalam saya tidak sengaja, tolong maafkan saya, Tuan." Nindya memohon agar tuannya memaafkannya.


Andra tak menghiraukan ucapan gadis itu, ada yang lebih gawat dengannya jika tidak tersalurkan. Aileen benar-benar memberikan dosis yang cukup berbahaya untuk suaminya sendiri. Bisa fatal jika ini tak tersalurkan.


Andra menambah kecepatan laju mobilnya. Nindya begitu ketakutan dibuatnya. Ia mencekal sabuk pengaman kuat-kuat sambil memejamkan mata. Hingga akhirnya, tujuan mereka sampai di hotel berbintang.


"Ayok, cepat turun!"


"Kita mau ngapain ke sini, Tuan?"


Tanpa menjawab, Andra langsung saja membawa masuk ke dalam. Dan ia sudah menyuruh Roy untuk memesan kamar hotel sebelum tadi ia turun dari mobil ketika melihat Nindya.


* * *


Bugh ...


Tubuh Nindya terhempas di atas kasur empuk kamar hotel. Gadis itu beringsut menjauh dari tuannya, ia benar-benar takut karena baru kali ini ia melihat tuannya seperti singa yang sedang kelaparan.


Andra benar-benar hilang kendali akibat pangaruh obat perangsang itu. Satu persatu ia melepaskan kancing kemeja bajunya, ia semakin mendakati Nindya.


"Apa yang akan Tuan lakukan?" Kali ini Nindya sadar, ia memberontak ketika Andra menghempaskan tubuhnya di atas tubuhnya.


"Bantu saya, Nindya. Aileen berusaha menjebakku, ku mohon bantu saya melepaskannya."


Nindya mengerutkan keningnya, ia tak mengerti apa maksud tuannya.


"Nona Aileen? Menjebak, Tuan?"


"Saya sudah tidak tahan lagi, Nindya."


Dengan paksa, Andra melakukan itu yang kedua kalinya pada Nindya. Namun kali ini ia berjanji, setelah ini ia akan menikahi Nindya. Tak peduli dengan Aileen, ada yang tidak beres dengan perempuan itu.


Hingga akhirnya, Nindya kembali ternoda oleh majikannya. Gelora cinta sang majikan tak dapat terelakan. Nindya hanya bisa menangis kala Andra berhasil menanamkan benihnya ke dalam perut pembantunya.


Permainan yang cukup melelahkan membuat Andra lelah sampai ia tidur pulas. Sedangkan Nindya, kini ia menangis. Setelah puas menangis Nindya pun ikut tertidur di samping majikannya karena ia pun lelah.


......................

__ADS_1


Hai readers ku tersayang ... Sebelumnya othor ucapkan terima kasih pada kalian yang sudah singgah di sini. Dukung cerita ini ya, kalian bisa kasih hadiah atau vote. Jangan lupa tinggalkan jejak, biar othor lebih semangat melanjutkan cerita, 😘😘😘


__ADS_2