Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 154 Jaga Bicaramu


__ADS_3

Setelah menata makanan di atas meja, Dewi melihat sosok yang memperhatikannya. Ia menyadari itu karena orang itu terus melihatnya, entah tatapan apa yang ditunjukkan Nathan kepadanya. Sehingga Dewi langsung tertunduk dan tak berani lagi melihat ke arahnya.


Dewi memilih undur diri tak ikut bergabung di meja makan. Ia merasa salah berada di sini jika ada Nathan bersamanya. Saat Dewi melipir, Andra datang, ia menghentikan langkahnya.


"Wi, mau kemana? Bentar lagi makan malam, apa lagi itu semua sudah siap," ucap Andra, ia melihat meja makan sudah tertata rapi dengan banyak jenis makanan yang terhidang.


"Ada yang ketinggalan, Uncle. Aku mau mengambilnya," alasan Dewi.


"Oh, cepat kembali," katanya lagi.


Menurut Dewi, mungkin dengan begini ia tak lagi mendapatkan kata-kata yang membuatnya merasa tertusuk. Jauh pilihan yang tepat, di mana ada Nathan, di situ Dewi akan menghilang.


* * *


"Sayang, kenapa Dewi lama sekali? Coba kamu susul dia," titah Andra pada istrinya.


"Iya, Mas." Nindya pun beranjak dari tempatnya untuk menyusul Dewi ke dapur. Setibanya di sana, ternyata ia melihat Dewi tengah makan bersama dengan para asisten yang lain. Gadis itu benar-benar menyamakan dirinya dengan pembantu di sana. Meski Nindya dan Andra bersikap baik bahkan baiknya melebihi kepada anak-anaknya, tetap saja Dewi merasa tidak pantas.


Terlebih dengan sikap Nathan yang dingin kepadanya, mungkin dengan begini, sikap Nathan tidak akan menuduhnya lagi. Menuduh mencari perhatian dari keluarganya.


Para asisten menghentikan aktivitasnya yang sedang makan karena melihat kedatangan majikannya, mereka takut kena marah karena Dewi berada di sini bersamanya. Mereka tahu betul bagaimana majikannya menyayangi Dewi. Dewi sudah dianggap anaknya sendiri.


Dewi belum menyadari akan keberadaan Nindya, karena wanita yang sudah mulai matang itu muncul dari belakangnya. Dewi merasa heran saat para asisten berdiri sambil menunduk, lalu ia pun menoleh ke belakang. Ia melihat Nindya tengah bersedekap tangan sambil menggelengkan kepala.


"Aunty ..." Dewi pun langsung berdiri karena terkejut, "Aunty sedang apa di sini?"


"Mommy yang harusnya tanya, kamu sedang apa di sini?" tanya Nindya lalu melongokkan wajahnya ke arah belakang gadis itu, ia tahu apa yang dilakukan Dewi. "Kenapa makan di sini? Kami menunggumu, ayok kembali ke ruang makan," ajaknya.

__ADS_1


"Tapi aku sudah mau selesai, Aunty. Maaf, aku tidak mau menggannggu mood orang lain dengan keberadaanku, sepertinya aku memang lebih pantas di sini," jelas Dewi.


Sepertinya Nindya tahu siapa yang dimaksudnya, ia juga sadar akan sikap Nathan yang memang hanya dia yang dingin kepada Dewi. Ia juga tidak tahu harus berkata apa, jika memang itu alasannya, ia cukup mengerti dengan perasaan Dewi. Di sini, Nindya serba salah. Ia sudah menegur Nathan untuk tidak mengungkit masalah ibunya Dewi, ia juga sudah bilang kalau Dewi bukan anak haram.


Sikap Nathan yang dingin dan jutek sampai Nindya salah menapsirnya, ia tidak tahu bagaimana perasaan anaknya yang sebenarnya. Terlebih kepada Dewi.


Mata Dewi sudah berkaca-kaca, ia takut Nindya marah karena tidak ikut bergabung di ruang makan, tubuhnya mulai begetar karena menahan air mata agar tidak keluar. Dan ternyata dugaan Dewi salah, Nindya sama sekali tidak marah. Wanita itu malah memeluknya.


"Ya sudah, tidak apa-apa jika kamu memang lebih nyaman di sini. Teruskan saja makannya, biar Mommy bilang pada daddy kalau kamu sudah makan." Nindya melepaskan pelukkannya, ia tetap memanggil dirinya mommy meski Dewi bersi kukuh dengan panggilannya sendiri.


* * *


"Mana Dewi-nya?" tanya Andra setelah istrinya kembali ke ruang makan.


Sebelum menjawab, Nindya menoleh ke arah Nathan. Dan pandangan mereka bertemu. "Dewi sudah makan, dia tidak mau mengganggu seseorang katanya." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia masih melihat ke arah Nathan.


"Kenapa Mommy menatapku seperti itu?" tanya Nathan heran, "apa Mommy menyalahkanku dengan tidak adanya Dewi di sini?"


"Ya sudah kalau memang sudah makan, tapi siapa yang dimaksud Dewi?" tanya Andra.


"Tanyakan saja pada putramu," jawab Nindya.


Andra hanya mengerutkan keningnya, lalu melihat ke arah Nathan dan Dewa secara bergantian.


"Bukan aku, Dad. Tapi dia!" Tunjuk Dewa pada Nathan. Nathan sendiri biasa saja, seolah tidak salah apa-apa. Ia lebih senang tidak ada Dewi, dan itu bisa membuat Dewa tak lagi menggoda Dewi, karena adiknya itu sangat dekat dengan gadis itu. Itu membuat Nathan tidak menyukainya.


Kalau sudah saling menyalahkan begini, Andra memilih diam. Dan menganggap itu tidak serius.

__ADS_1


* * *


Pagi pun tiba.


Lagi-lagi, semua anggota keluarga menunggu kehadiran Dewi di meja makan. Tepatnya akan melakukan rutinitas seperti biasa, sarapan bersama dan setelah itu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Semua akan berkumpul pagi dan malam di meja makan.


"Bi, mana Dewi?" tanya Nindya kepada asisten di sana. Ia yakin kalau Dewi pasti di dapur sedang membantu menyiapkan sarapan.


"Neng Dewi sudah berangkat pagi-pagi, Nyonya," jawab pembantu.


"Berangkat?" tanya Andra.


"Iya, Tuan. Setengah 6 pagi tadi sudah berangkat," jelasnya lagi.


"Kenapa berangkat pagi-pagi? Dewa saja masih di sini, ada kegiatan apa di kampus sampai berangkat sepagi ini, Dewa?" tanya Andra.


"Tidak ada kegiatan apa-apa, Dad. Tapi tidak tahu di kelas Dewi, kami 'kan beda jurusan," jawab Dewa.


Nindya semakin curiga pada Nathan, apa jangan-jangan anaknya itu mengatakan sesuatu sampai Dewi kian menjauh. Kalau itu benar, betapa bersalahnya ia membuat Dewi jadi semakin tersiksa dengan keberadaannya di sini. Ia kira Dewi akan bahagia jika tinggal bersamanya dan tidak akan lagi ada orang yang mempermasalahkan dirinya.


"Mommy mau bicara denganmu setelah ini," bisik Nindya di telinga Nathan.


Sarapan selesai, semua sudah berangkat. Terkecuali Nathan, karena ia akan diintrogasi oleh ibunya sendiri.


"Apa yang kamu katakan kepada Dewi sampai dia menjauh dari semalam?" tanya Nindya, "Mommy rasa ini ada hubungannya denganmu, cuma kamu yang tidak menyukainya" cetus Nindya.


"Kenapa aku yang disudutkan? Aku tidak mengatakan apa pun padanya, sejak dia pulang kuliah aku tidak lagi bertemu. Terakhir aku bertemunya kemarin saat dia turun dari mobil di antar oleh seseorang. Aku rasa dia dijemput orang kemarin," jelas Nathan

__ADS_1


"Baru pertama kuliah sudah dapat tebengan, aku rasa apa yang dikatakan orang terhadapnya memang benar. Sikap ibunya menurun kepadanya, watak asli Dewi memang begitu adanya, sama seperti ibunya."


"Nathan! Jaga bicaramu!" Nindya nampak murka, napasnya tersengal. Sampai kesalnya hampir saja ia kelepasan, tangannya sudah melayang. Kalau tidak ingat Nathan putranya, mungkin ia sudah menamparnya karena sudah berpikir jelek tentang Dewi.


__ADS_2