
Setelah terguling-guling dari ketinggian beberapa meter, membuat tubuhnya terasa sakit dan terlihat memar. Semalaman, Aileen tak sadarkan diri. Dan hari ini, kini dirinya membuka mata secara perlahan.
"Dad, Daddy ...," panggil Marsya. Gadis kecil itu tengah bersama Aileen, bahkan sejak wanita itu pingsan, Marsya yang menunggunya.
Dokter Zack pun menemui anaknya.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanyanya.
Marsya menunjuk ke arah tempat tidur, dan Zack menoleh kemana arah jari anaknya terarah.
"Di mana aku?" tanya Aileen.
"Kamu sudah sadar?" Zack menghampiri.
"Si-siapa kamu?" Aileen yang takut sedikit menggerakkan tubuhnya, "aduh, tubuhku." Ia merasa nyeri di sekujur tubuh.
"Kamu tidak mengenalku?" tanya Zack.
Aileen menggeleng.
"Kamu Aileen 'kan?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi Aileen menggelengkan kepala, dirinya tengah berada dalam mode tidak ingat sama sekali. Mungkin pengaruh obat yang selalu diberikan oleh Morano masih bereaksi.
"Aku di mana? Apa kamu anak buah papaku?"
"Anak buah papamu? Jadi yang mengejarmu itu suruhan papamu? Apa yang terjadi padamu? Apa kamu mengalami kecelakaan sampai menjadi amnesia begini?" tanya Zack secara beruntun, dan itu malah membuat Aileen semakin bingung.
"Apa kamu mengenalku?" tanya Aileen.
"Tentu, kamu mantan istri Andra, dan Andra itu temanku."
Mendengar penjelasan dari Zack membuat Aileen memiliki secerca harapan. Pria ini mungkin bisa mengembalikan ingatannya melalui orang-orang terdekatnya.
"Kamu pernah kecelakaan?" tanya Zack lagi.
"Tidak, tapi papaku bilang aku sakit dan harus minum obat."
"Obat apa?" Zack jadi penasaran.
"Tidak tahu, yang jelas, setelah minum obat itu aku selalu pusing dan semuanya terasa asing. Aku tidak tahu siapa diriku."
Obat apa yang diberikan oleh papanya?
"Boleh aku bertemu dengan mantan suamiku? Aku hanya ingin menanyakan soal ini." Aileen menyikabkan bajunya dan memperlihatkan bekas luka di bagian perut.
Zack melihatnya dengan teliti, ada dua bekas luka di sana.
__ADS_1
"Sepertinya ini bekas operasi sesar, dan yang satunya lagi seperti jahitan habis luka," terang Zack. Tapi seingat Zack Aileen memang sempat hamil tapi bukan Andra yang membuatnya hamil. Dan Zack pun mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Adam, ya Adam kekasih Aileen waktu itu.
"Lalu di mana anakmu?" tanya Zack.
"Anak? Apa aku punya anak?"
"Ya, kamu sempat hamil. Dan aku yakin itu karena luka di perutmu memang bekas operasi sesar."
Zack perlu merawat Aileen sampai wanita itu mengingat semuanya, termasuk tentang anaknya.
"Aku mau sembuh, kamu bisa menolongku?" pinta Aileen.
"Daddy tolong saja, kasian dia, Daddy," kata Marsya.
"Iya, Daddy akan menolongnya," ucap Zack.
"Rumah sakit di sini sangat jauh, dan aku tidak bisa membawamu ke sana sebelum semuanya aman, tunggu beberapa hari dulu untuk meyakinkan kondisimu cukup kuat dalam perjalanan."
"Daddy memang baik." Marsya memeluk Zack.
"Namamu siapa?" tanya Aileen.
"Zack, dan ini putriku. Sebenarnya aku punya dua anak, yang pertama anak laki-laki. Dia berusia 9 tahun," jawab Zack, "sebaiknya kamu istirahat, aku ada urusan sebentar.
💞
"Daddy, Daddy ...," panggil Nala.
"Ada apa? Jangan lari-lari," kata Andra.
"Handphone Daddy dari tadi bunyi terus, aku keganggu sama suaranya. Berisik, aku 'kan lagi main sama Akhsa." Ucapnya seraya memberikan ponsel milik sang daddy.
"Iya, maaf. Daddy lupa kalau ponsel Daddy ketinggalan di kamarmu."
Andra melihat ke layar ponselnya, dan di sana terlihat nama Zack.
"Tumben dia menelpon," ucapnya.
"Siapa, Mas?" tanya Nindya yang baru saja tiba.
"Dokter Zack, tumben sekali dia menghubungiku," jawabnya.
"Angkat saja, siapa tahu penting," kata Nindya.
Andra pun akhirnya mengangkatnya, tapi sayang pas diangkat ponsel itu tidak berbunyi lagi karena terlalu lama tidak terangkat. Dan Andra tidak menghubunginya kembali, ia tengah bekerja melalui laptop. Meski di hari libur, pria itu selalu mengecek email yang masuk.
__ADS_1
"Telepon balik saja," titah Nindya.
"Nanti sajalah, Mas mau ngecek ini dulu." Andra meletakkan kembali ponselnya, tanpa diketahui ternyata ponselnya kehabisan batrai. "Kalau penting nanti juga dia telepon lagi," ujarnya.
"Ya sudahlah, terserah kamu. Aku mau menemui anak-anak dulu, mereka belum sarapan." Nindya pun pergi menemui anak-anaknya.
"Nathan, Nala? Di mana Akhsa?" tanya Nindya.
"Ke kamar mandi, Mom," jawab Nathan tanpa menoleh karena sedang bermain game.
"Ada apa, Aunty?" kata Akhsa yang baru saja balik dari kamar mandi, "apa papa sudah menjemputku? Aku belum ingin pulang," kata Akhsa lagi.
"Tidak, Aunty mau menyuruhmu makan. Kalian 'kan belum sarapan, ayok, kita sarapan sama-sama," ajaknya.
"Ayok, aku juga sudah lapar," sahut Nathan.
Mereka semua menuju ruang makan. Andra dan Nindya tak lagi tinggal di rumah utama, mereka memutuskan untuk tinggal bersama keluarga kecil mereka. Wilian dan Anye sesekali datang menemui cucu kesayangan mereka. Terkadang, si kembar yang menemui mereka.
"Mas, sudah dong jangan kerjaan terus yang kamu urus. Inikan hari libur, ini waktunya kamu sama anak-anak dan juga aku." Nindya sedikit tidak suka kalau suaminya terus bekerja apa lagi sampai dibawa-bawa ke rumah.
"Iya, Mas tutup laptop-nya. Ayok, kita temui anak-anak." Andra merangkul istri kecilnya itu, tubuhnya tak lagi melar seperti habis melahirkan. Nindya benar-benar menajaga tubuhnya. Dari pola makan sampai olahraga sudah terjadwal dengan apik.
"Kamu makan yang banyak dong, jangan diet terus. Kamu gak mau kasih mereka adik?" Ucapnya sambil menoleh ke arah si kembar.
"Mereka masih kecil, Mas," alasan Nindya.
"Kecil dari mana? Mereka sudah serba bisa sendiri. Sudah saatnya ada suara tangisan di rumah ini."
Tanpa disadari, percakapan mereka diperhatikan oleh Akhsa.
"Iya, Aunty. Mama Nana juga mau aku kasih adik," timpal Akhsa, "kan seru kalau banyak teman," serunya dengan polos.
"Oh ya, nanti pas jemput Akhsa, mama Nana bawa adik untukmu. Kamu tagih ya nanti sama mama Nana," kata Nindya.
Dan ucapannya itu ditanggapi serius oleh Akhsa.
"Hus, kalau ngomong jangan bohong. Tidak baik," ujar Andra, "lebih baik kita yang beri adik untuk Nathan dan Nala."
"Apaan sih, tunggu nanti saja ya?"
Obrolan mereka terhenti saat Nala berteriak karena berisik. Perdebatan sering terjadi di hadapannya hanya karena sang daddy ingin memiliki anak lagi. Yang jelas-jelas, Nala tidak menginginkan itu terjadi. Gadis kecil itu tidak ingin lagi kasih sayang orang tuanya terbagi. Cukup dengan Nathan saja ia berbagi.
"Berisik ...!!" teriak Nala.
Andra dan Nindya pun membungkam mulutnya sendiri.
"Lihat, bukankah Nala tidak ingin punya adik?" ucapnya pada sang suami.
__ADS_1
"Nala, tos dulu sama Mommy?" Kedua wanita itu pun adu tos di hadapan Andra. Hingga Andra mendengus kesal.