
Jika Adam dan Nana hari ini berakhir di ranjang, namun tidak dengan Andra. Pria itu nyaris keleyengan karena disuruh mencari buah mangga yang memang belum musimnya. Buah mangga itu bermusim, tapi Nindya tidak mau tahu. Ia menginginkannya pagi ini juga.
Pagi-pagi, Andra sudah pergi ke pasar, bahkan mencari kesetiap tukang buah diantar oleh Panji. Tapi hasilnya nihil. Roy saja sudah menyerah karena memang tak ada buah mangga.
"Tuan, aku lebih milih mengerjakan pekerjaan lain dari pada harus panas-panasan begini," ucap Roy pada sambungan teleponnya yang terhubung dengan Andra.
"Bukan cuma kamu, Roy. Aku juga nyerah."
Karena memang sudah menyerah, keduanya pulang tanpa membawa buah yang diinginkan oleh bumil itu.
"Tapi, Kak. Kak Nindya pasti marah kalau kita tidak membawa apa-apa, apa tidak sebaiknya diganti dengan buah lain?" usul Panji.
"Iya, untung kamu mengingatkan. Ayok, kita cari buah lain." Andra mulai mencari buah pengganti, " kira-kira kita beli buah apa, Ji?" tanya Andra pada adik iparnya.
"Mana aku tahu, buah apa aja kali, Kak. Yang bisa dibuat rujak. Kedondong juga bisa."
Andra menurut saja pada Panji, ia juga bingung harus beli buah apa selain kedondong. Lalu, ia menghampiri si penjual buah tersebut.
"Cari buah apa, Tuan?" tanya si penjual.
"Kedondong, ada Pak?" tanya Andra.
"Ada, berapa kilo?"
"2 kilo saja. Manis gak, Pak. Buahnya?"
"Kedondong tidak ada yang manis, semanisnya juga paling sedikit aja."
"Berarti asam ya, Pak?" Panji ikut bertanya.
"Iya," jawab penjual buah.
"Kenapa mangga tidak ada? Kenapa harus nunggu musim?" tanya Panji lagi, dan itu membuat si penjual sedikit bingung karena tak bisa menjawab. Ia malah memilih mengabaikan bocah berumur 10 tahun itu, dan menimbang berat kedondong. Setelah itu memberikannya kepada Andra.
__ADS_1
"Jangan memberikan pertanyaan kepadanya," kata Andra pada Panji.
"Kenapa?" Bocah itu terlihat bingung, memangnya ada yang salah dengan pertanyaannya? Pikirnya.
"Jangankan dia, Kakak juga kayaknya tidak bisa menjawab pertenyaanmu. Sudahlah, sebaiknya kita pulang, Kakak sudah lapar." Andra mengajak Panji untuk segera pergi dari pasar. Ia sudah tidak tahan dengan aroma yang ditimbulkan, rasanya ingin muntah.
* * *
"Bu, Mas Andra lama sekali ya? Apa jangan-jangan dia nyasar?" duga Nindya.
"Mana mungkin nyasar, dia 'kan pergi sama Panji" jawab Rahayu sambil mengiris sayuran untuk dimasak, "kamu tumben-tumbenan mau makan buah mangga, ngidam kemarin gak kayak gini deh." Rahayu ingat betul sewaktu Nindya mengandung si kembar.
"Gak tahu aku, Bu. Bawaannya juga pengen marah terus, apa lagi sama Mas Andra. Jengkel banget, Bu, kenapa ya?"
"Ibu kurang tahu, soalnya waktu hamil Ibu tidak begitu. Ketiga anak Ibu baik semua."
"Jadi, menurut Ibu anak yang aku kandung sekarang tidak baik?" Nindya jadi salah paham.
Tak lama, Andra dan Panji pulang. Ia membawakan buah untuk dijadikan rujak.
"Kalian sudah pulang?" tanya Rahayu.
"Iya, Bu Nindya di mana?" tanya Andra.
"Di kamar mungkin," jawab Rahayu.
"Tidur lagi?" duga Andra.
"Marah."
"Marah kenapa?" tanya Panji.
"Salah paham saja, Kakak-mu sensitif sekali. Mending kamu bujuk Kakak-mu, bilang pesanan buahnya sudah datang," suruh Rahayu.
__ADS_1
Gleg, Andra menelan salivanya. Bisa tambah marah kalau istrinya tahu bahwa buah yang diinginkannya tidak ada. Siap-siap saja menerima amukan dari bumil itu.
"Kamu kenapa? Tegang sekali, kayak habis melihat hantu," tutur Rahayu.
"Ini lebih dari hantu, Bu." Ucapnya seraya melihat ke arah istrinya berjalan dengan tergesa ke arahnya, "aku kebelet, Bu. Sudah tidak tahan." Andra melarikan diri dari amukan macan betina.
"Mau kemana kamu, Mas?" Tanya Nindya yang terus mengejar suaminya.
"Suamimu kebelet, kamu mau ikut juga kesana?" kata Rahayu, "mending buat sambal," titahnya.
"Bukan mangga yang dibeli, Bu. Tapi kedondong, Ibu 'kan tahu kalau aku tidak suka."
"Salah ambil kali. Atau salah bil milik orang?"
"Ketuker maksud ibu?" Tapi mana mungkin ketuker? Kecuali memang salah beli, Bu." Mood Nindya sudah benar dalam mode bertanduk. Hari ini ia nampak kesal kepada semua orang terdekatnya. Semua bikin pusing saja, apa lagi pada Nisa dan Nala. Keponakan dan tante yang memang tidak pernah akur, ada saja yang membuat mereka saling berebut.
"Panji, coba kamu jelaskan, kenapa kakak iparmu malah membeli kedondong? Terus, mana buah mangganya?".
"Bukan musim-nya, Bu. Susah, mau dicari kemana juga tetap aja tidak akan ada."
"Tapi bukan berarti harus beli kedondong juga 'kan? gerutu Nindya, "bahkan kamu tahu kalau kaka tidak suka dengan buah itu," sungutnya kemudian.
"Bukan begitu, Kak. Kakak harusnya menghargainya, buruk tidaknya dia tetap suami Kakak loh, jangan marah padanya. Mangga 'kan bermusim," Panji bela Andra.
* * *
Andra sudah siap kena amukan macan betina, ia terus mondar-mandir di ruangan sempit, di mana lagi kalau bukan di toilet.
"Mas ....," Nindya memanggilnya tanpa perasaan, bahkan berteriak.
Andra semakin ketakutan mendengar suara lantang istrinya. Akhirnya ia pasrah, tak ada jalan keluar untuk melarikan diri.
"Bagaimana caranya aku bisa terlepas dari amukan macan betina?" Andra pusing sendiri.
__ADS_1