
Resepsi pernikahan Nisa dan suaminya yang bernama Arman itu begitu meriah, meski tidak terlalu mewah tapi semua kerabat hadir hingga memenuhi panggung pengantin. Dan sekarang, Nisa dan Arman akan melakukan lempar bunga, mereka berdua membelakangi para tamu yang hadir.
Dan MC pun terus bercakap akan pelaksanaan acara lempar bunga itu. "1, 2, 3," ucap MC. Sang pengantin sudah melempar bunga tersebut.
Dan saat itu juga, Nathan muncul. Bunga yang dilempar ternyata mengenai dirinya, kaget, Nathan langsung menangkapnya. Dan itu berhasil, teman-teman Nisa kecewa saat tak mendapatkan bunga itu.
Ada yang bersorak sorai, ada juga yang kecewa karena tidak mendapatkan bunganya, padahal mereka sudah siap-siap menangkap bunganya.
"Wah ... Kak, Nathan nikah sama siapa ya? Pacar saja dia tidak punya," ledek Dewa yang melihat sang kakak yang mendapatkan bunganya.
Nathan celingak-celinguk saat Dewa meledeknya seperti itu, karena itu tidak disengaja Nathan memberikan bunga itu pada seseorang di sebelahnya. Dan seseorang itu adalah Dewi yang tanpa disadari oleh Nathan ternyata gadis itu ada di sebelahnya.
Nathan tidak melihat kearah gadis itu, sehingga ia berlalu begitu saja. Sedangkan Dewi, kini ia menjadi pusat perhatian tamu undangan. Karena merasa jadi pusat perhatian, Dewi hanya tersenyum tipis. Hingga bibir mungilnya melengkung.
Karena malu, Dewi pergi sambil meraih tangan Dewa dan mengajaknya menjauhi kerumunan.
"Aku tak menyangka kalau Dewi akan menjadi gadis cantik seperti itu," tutur Andra saat melihat reka adegan tadi, "aku mau dia yang menjadi menantuku," sambungnya kemudian.
"Ya, bukan cuma cantik, Dewi sangat ramah. Tapi sedikit pemalu, hanya sama Nala dan Dewa dia terbuka," jelas Nindya.
"Kenapa cuma mereka berdua? Sama Nathan tidak dekat memangnya?" tanya Andra lagi.
"Kamu tahu sendiri anak sulungmu itu seperti apa, sama aku sendiri saja dia tidak terbuka, apa lagi dekat dengan Dewi. Itu mustahil, aku malah takut Nathan menyimpang," jelas Nindya.
__ADS_1
"Kok sama anak sendiri bilangnya begitu?" Andra protes karena tak terima anak bujangnya dikatai seperti itu sama istrinya sendiri.
"Selama ini aku tidak pernah liat Nathan sama perempuan, coba kamu tanya, apa selama kuliah di London dia memiliki kekasih?"
"Tidak tahu, tapi aku akan coba tanyakan. Siapa tahu dia mau terbuka padaku" kata Andra.
Acara resespi kini diakhir penghujung. Hari mulai gelap, sang pengantin sudah terlihat lelah. Tapi nampak begitu bahagia, penantian panjang mereka kini sampai pada titik kebahagiaan. Meski sebelum pernikahan terjadi ada sedikit kendala karena Panji tak ingin didahului. Karena syarat yang tak bisa dilakukan Panji, yakni dia harus menikah pada bulan ini, akhirnya ia merelakan sang adik menikah lebih dulu.
Panji belum siap menikah karena memang belum memiliki calon, ia menyukai seorang gadis. Tapi, karena keadaan yang membuatnya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Akhirnya, ia memendam perasaannya, dan memilih untuk diam.
* * *
Acara telah selesai, semua para tamu yang hadir mulai undur diri satu persatu. Dan Nisa pun langsung diajak ke rumah pengantin pria, itu sudah kesepakatan bersama. Setelah menikah, Nisa langsung diajak pindah oleh suaminya.
"Kamu baik-baik di sana, jangan merepotkan suami," pesan Panji. Nisa mengangguk lalu memeluknya. Panji pasti merasa kehilangan, karena Nisa teman berantemnya. Mereka tidak pernah akur setelah dewasa, dan itu pasti dirindukan Panji pada adiknya.
"Kakak ..." Dewi merentangkan tangannya seraya memeluk Nisa, "aku pasti merindukanmu," sambungnya.
"Kakak juga pasti merindukanmu." Meski kampung Nisa dan suaminya tetanggaan, tapi Nisa diajak bukan tinggal di sana. Arman sudah memiliki rumah sendiri dan itu hasil kerja kerasnya dan tempatnya sedikit jauh dari rumah orang tuanya.
Perpisahan mengharu biru. Panji lebih sedih karena bukan hanya Nisa yang pergi. Dewi pun akan pergi karena ia akan melanjutkan kuliahnya di kota, di mana tempat tinggal Nindya berada. Selama kuliah, Dewi akan tinggal bersama Dewa dan kuliah bersama-sama di sana.
Andra sudah menyiapkan pendidikan untuk Dewi, karena Dewi sangatlah pintar. Sayang jika tidak dilanjutkan kependidikan yang lebih bagus. Dewi sempat menolak, karena ia tak ingin lagi merepotkan keluarga Nindya. Merasa sudah besar dan bisa melanjutkan pendidikan sambil bekerja.
__ADS_1
Tapi Nindya tak mengizinkan itu, selama belum menikah, Dewi tanggung jawabnya. Karena ia sudah berjanji pada mendiang Hanum.
Nisa pun kini telah pergi setelah berpamitan pada keluarganya. Kini hanya ada keluarga Andra dan yang lainnya. Roy, juga Adam. Mereka berdua harus segera kembali ke kota, dan malam ini mereka pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
Tinggal Andra yang berada di sana, ia dan keluarganya akan kembali esok pagi. Tak lupa mengajak Dewi sekalian. Karena pesta sudah usai, mereka pun beristirahat malam ini. Pekerja yang membereskan semuanya. Mereka semua tidur di kamar masing-masing.
Panji, Nathan juga Dewa tidur dalam satu kamar. Sedangkan Dewi, ia tidur bersama Nala. Kamar yang mereka tempati berdampingan. Sehingga apa yang diucapkan Dewi dan Nala pasti terdengar oleh penghuni kamar sebelah, begitu pun sebaliknya.
Malam ini, Nathan tidak bisa tidur. Karena kamar sebelah sangat berisik. Suara Nala yang cempreng membuatnya terganggu. Dewi menjadi pendengar setia, sesekali ia ikut tersenyum saat mendengarkan ocehan Nala.
Suara tawa Dewi terdengar jelas di pendengaran ketiga lelaki itu di kamar sebelah.
"Aku jarang mendengar tawa Dewi seperti ini," ucap Panji.
"Kalian tinggal satu rumah, kenapa bisa jarang mendengar tawanya?" tanya Nathan penasaran.
"Gosip tentang ibunya tak kunjung reda, dan kini berdampak pada Dewi," jawab Panji. Ia menghela napas sebelum melanjutkan obrolan mereka, ia merasa kasihan pada gadis yang tak berdosa itu, "ada bagusnya dia tinggal bersamamu, tapi aku pasti kehilangannya," lirih Panji.
Nathan langsung menoleh ke arah om-nya, karena ada penuturan yang membuatnya menyimpulkan sesuatu, terdengar lemas seakan tidak rela kalau gadis itu akan pergi meninggalkannya. Seakan Panji memiliki perasaan pada Dewi.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," ajak Panji pada Nathan. Untuk Dewa, lelaki itu sudah tidur lebih dulu. Panji pun kini sudah tidur, menyisakan Nathan seorang diri yan belum tidur. Diam-diam, ia masih mendengarkan obrolan para gadis itu. Seakan tidak puas kalau Dewi belum mengeluarkan isi hatinya pada Nala. Tapi sayang, hanya suara Nala yang terdengar di pendengarannya.
Karena Dewi tak kunjung bersuara, Nathan pun memilih tidur. Saat ia tidur, Dewi mulai mencurahkan isi hatinya pada Nala. Hanya Nala yang tahu keluh kesahnya selama ini. Hingga akhirnya, Nala memeluk Dewi karena merasa iba akan dirinya.
__ADS_1
Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya, Dewi pun dapat tidur dengan nyenyak karena merasa beban yang dipikulnya sedikit berkurang.