
Roy tak berdiam diri ketika kedua bibir itu sudah saling bersentuhan. Ini pertama kali ia mencium seorang wanita, ciuman pertama ia berikan pada gadis yang sudah sah menjadi miliknya. Roy menarik pinggang Elena, mengeratkan tubuh istrinya dengan tubuhnya.
Begitu juga dengan Elena, itu ciuman pertamanya. Tapi, walau ini yang pertama bagi Roy, ia mencoba untuk bermain. Kedua bibir itu masih belum terlepas hingga beberapa detik. Ketika Roy akan bermain, Elena malah menggigit bibir bagian bawah suaminya.
Roy sampai mengaduh, dan melepaskan tautan itu. Ia menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah akibat ulah istrinya. Roy tidak menyangka kalau istrinya akan berbuat demikian.
Sayang, Elena malah memancing hasrat Roy untuk berbuat lebih. Roy kembali meraup benda kenyal itu, meski Elena sempat memberontak, lama-lama ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bibir dan lidah Roy bermain lincah di bibirnya, sehingga ada getaran dalam relung jiwanya.
Tanpa sadar, Elena membalas ciuman itu. Mereka sama-sama belajar, meski pun begitu keduanya nampak menikmati. Roy semakin mengeratkan pelukkannya. Keduanya merasa kehabisan oksigen. Beberapa saat mereka melepaskan tautan itu, mereka menghirup napas sebanyak-banyaknya.
Lalu kemudian, mereka kembali menautkan bibirnya. Permainan ini cukup lumayan lama, sampai Roy semakin ingin berbuat lebih pada si pemilik raga. Kolam yang terasa dingin mendadak menjadi panas. Tak hanya disitu, Roy mulai menjelajahi tubuh molek istrinya. Tangannya mulai berkeliaran.
Mereka asyik berdua di tengah-tengah kolam. Tapi tidak dengan bi Asih. Wanita berusia 40 tahun itu sudah menjanda 5 tahun, dan sialnya, ia harus menyaksikan adegan yang membuatnya terkenang akan masa muda-nya. Bi Asih tidak tahu ada tuannya di kolam renang, ia datang untuk membawakan makanan sesuai perintah Elena.
Nampan yang berisikan makanan itu mengeluarkan suara karena efek dari piring dengan nampan yang saling beradu dan itu dikarenakan akibat tubuhnya yang bergetar.
__ADS_1
"Aduh bagaimana ini? Tubuhku ikut lemas." Bi Asih mencoba melanjutkan langkahnya, tapi kakinya terasa berat untuk digerakkan. Akhirnya ia menggusur kakinya sendiri ke arah tepi kolam, dan akhirnya ia berhasil meski langkahnya dilakukan dengan penuh perjuangan.
Setelah berhasil meletakkan nampan itu di atas meja, ia buru-buru kembali ke tempatnya, lebih tepatnya ia akan ke kamar untuk tidur. Ia tak ingin mengganggu momen pengantin baru itu.
Sejenak, Roy dan Elena melepaskan tautan mereka. Kedua napasnya memburu, dan kini mereka saling menatap. Entah apa yang mereka rasakan, perasaan nyaman itu muncul tiba-tiba. Apa karena ciuman itu mereka menjadi seperti ini? Atau keduanya memang sudah ada perasaan karena seringnya bertemu? Meski diawali pertengkaran di antara mereka, dari bencilah menjadi cinta, mungkin itulah yang terjadi dari keduanya.
Setelah puas saling memandang, Roy menarik tubuh Elena kembali ke dalam dekapannya. Lidahnya terasa kelu untuk hanya sekedar mengungkapkan keinginannya, apa perlu ia meminta izin untuk menjamahnya? Tapi dari respons istrinya Roy bisa menyimpulkan kalau istrinya mungkin sudah siap. Atau jangan-jangan, ini jawaban atas keinginan ibunya yang ingin memiliki cucu. Benarkah istrinya sudah siap melakukan dengannya?
Roy kembali membuktikan dugaannya, ia takut ini hanya karena terbawa suasana. Roy melepaskan pelukkan itu, lalu ia menyentuh dagu istrinya dan menariknya kembali untuk mendaratkan sebuah kecupan. Tidak ada penolakan dari gadis itu. Roy senang tak terkira, bahkan ia melakukan pemanasan yang menurutnya sangat lebih dari cukup. Bermain di dalam air membuat Elena bergetar, gadis itu nampak kedinginan.
Setelah berhasil keluar dari dalam air, Roy merebahkan tubuh itu secara perlahan di kursi panjang yang biasa dijadikan alat berjemur. Lalu ia berposisi di atas tubuh Elena. Tangannya kembali menjelajah, bahkan tangannya mulai bermain ke arah punggung. Ia mencari pengait bra untuk ia lepas.
Saat Elena menyadari aksi suaminya, ia menahannya untuk tidak dibuka.
"Kenapa?" tanya Roy. "Apa kamu belum siap?"
__ADS_1
Elena bingung harus jawab apa, ia bukan belum siap. Melainkan ia takut ada yang melihatnya saat melakukannya di sana, apa lagi itu tempat terbuka.
"Aku takut," lirih Elena.
"Takut kenapa? Milikku tidak besar."
Elena mengerutkan keningnya. Pemikiran yang sangat bodoh menurutnya kalau suaminya malah berpikir ke arah itu. Elena memukul dada bidang suaminya, kesal dan rasa inginnya menjadi satu. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia pun sama memiliki hasrat saat tangan suaminya mulai menari lincah di lekuk tubuhnya.
Roy tidak menyangka bahwa istrinya tidak menolak keinginannya. Wanita itu malah mengalungkan kedua tangan di leher suaminya, bahkan menariknya ke arah wajahnya. Bibir itu kembali bersentuhan.
Roy tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, bahkan tangannya yang sempat terhenti saat akan membuka pengait bra itu kini berlanjut. Ia berhasil membuka pengait itu. Momen semakin panas, ujung kedua bukit sudah berdiri bahkan menurutnya itu sudah menantang. Ia mengalihkan bibirnya ke area bukit gunung kembar itu, dan terjadilah apa yang seharunya terjadi di antara mereka.
...----------------...
Mamingan di sini aja mantengin Elena dan Roy. Aku mengawasi mereka, takut bi Asih ngintip😅😅
__ADS_1
Selamat malam minggu.