
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sureprise yang diadakan lancar jaya, Wiliam dan Anye tidak tahu akan rencana yang dibuat oleh anaknya. Mereka cuma bilang akan mengajak makan malam bersama, padahal sebuah ruangan sudah didekor sesempurna mungkin.
Andra dan Roy juga Adam sudah lebih dulu di tempat pesta diadakan, sedangkan Nindya dan yang lain masih di rumah. Mereka menyuruh Wiliam juga Anye berangkat dalam keadaan mata tertutup.
"Sebenarnya apa rencana kalian? Kenapa mata Daddy dan Mommy harus ditutup seperti ini?" tanya Wiliam pada Nindya.
"Uncle sama Aunty tenang saja, kalian pasti suka," jawab Elena, "iyakan, Nin?"
"Iya," jawab Nindya tersenyum.
Wiliam dituntun oleh Nana juga Elena, sedangkan Anye dituntun oleh Nindya serta si kembar.
"Hati-hati, Oma," kata Nala.
"Iya, sayang," jawab Anye.
Dan mereka pun naik mobil, Elena dan Nana naik mobil terpisah.
"Mommy jadi penasaran, sebenarnya kalian mau membawa kami kemana?" tanya Anye.
"Ini kejutan, Oma. Oma pasti seneng dengan kejutan ini," tutur Nala.
"Kamu itu semakin besar semakin pintar bicara, cita-citamu itu mau jadi apa sih?" tanya Wiliam pada Nala.
"Jadi pengacara, Opa ...," jawab Nala.
Nathan yang mendengar pun langsung tertawa. "Jadi pengacara itu harus pintar, bukan pintar bicara saja," celutuknya, "nilaimu saja masih di bawah 100. Mana bisa jadi pengacara," ledeknya.
"Mommy ..." Nala jadi langsung menangis.
"Pengacara tidak ada yang cengeng," kata Nathan lagi.
"Sudah-sudah ... Jangan bertengkar," imbuh Nindya, "Kakakmu hanya bercanda, jangan dianggap serius," sambungnya lagi.
* * *
Acara sudah mulai ramai, para tamu undangan sudah hadir sebagian.
"Masih di mana?" tanya Adam pada Roy tentang orang tua sang bos.
"Katanya masih di jalan," jawab Roy.
__ADS_1
Tak lama, yang ditunggu-tunggu pun datang. Wiliam dan Anye masih dalam keadaan seperti tadi, kedua matanya tertutup sempurna. Hanya, kedua telinga yang terdengar dengan sangat jelas. Suara bising itu kembali ramai saat Anye dan Wiliam memasuki ruangan itu.
"Jangan dibuka dulu." Andra menahan tangan sang daddy saat hendak membuka penutup matanya. Andra menuntun kedua orang tuanya ke arah kue yang sangat besar juga tinggi. "Sekarang, baru boleh buka mata kalian."
Nindya membantu Anye membuka penutup matanya, setelah mata mereka terbuka, betapa terkejutnya mereka. Semua terlihat sempurna, dekorannya pun sangat bagus.
Beberapa tamu pun mulai berdatangan menghampiri dan memberikan ucapan selamat. Wiliam dan istrinya sangat terharu dengan kejutan yang mereka rencanakan.
"Aku ada kado untuk kalian," tutur Andra. Lalu, ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak dan langsung memberikannya kepada orang tuanya.
"Apa ini?" tanya Anye.
"Buka saja," jawab Andra.
Kedua orang tuanya pun membukanya secara bersamaan. Ekspresi mereka sangat terkejut dan bahagia. Anye dan Wiliam langsung memeluk menantunya, menciumnya, membelai perutnya dengan sangat lembut.
"Terima kasih sudah memberi kabahgiaan di keluarga ini." Ucap Wiliam sambil memeluk menantunya. Nindya hanya tersenyum menanggapi pengakuan mertuanya.
"Tanpa kehadiran si kembar keluarga ini pasti sepi," timpal Anye, "apa lagi dengan kehamilanmu sekarang, cucuku tambah banyak."
Acara terus berlangsung setelah Anye memotong kue, para tamu undangan tengah menikmati acara di sana, menyantap hidangan yang memang sudah disediakan. Ada tamu undangan yang menjadi pusat perhatian di sana.
Dokter Zack datang bersama Aileen, wanita yang dikenal sebagai mantan istri dari Affandra Wiliam.
"Tidak apa-apa, mereka tidak mungkin berani nyinyir padamu." Zack menarik tangan Aileen dan melingkarkan tangannya di tangannya sendiri, tapi Aileen langsung menarik tangannya kembali.
"Aku tidak enak," kata Aileen, "statusku masih istri Adam, proses percerain masih berlangsung aku belum resmi bercerai dengannya," jelas Aileen. Dan itu membuat Zack malu sendiri, ia kira Aileen akan menerima perlakuannya. Tapi nyatanya tidak.
"Maaf," kata Zack.
Sementara disebrang sana, Nana pun melihat keberadaan Aileen. Ini pertama kali ia melihatnya secara langsung. Nana juga memang sangat ingin bertemu dengannya meski hanya sekedar untuk saling menyapa saja.
"Mas, ada Mbak Aileen," bisik Nana pada Adam.
Saat ia menengoknya, ternyata Akhsa sudah lebih dulu menghampiri Aileen. Mereka tengah melepas rindu dan saling berpelukan. Nana yang melihat jadi tak tega akan perceraian orang tuanya yang masih berlangsung.
"Kamu kenapa?" tanya Adam saat melihat Nana yang masih memperhatikan mereka.
"Gak apa-apa, Mas. Aku hanya kasihan melihat Akhsa, baru saja kalian dipertemukan tapi kalian harus berpisah dengan kehadiranku."
"Kamu masih mau membahas masalah itu? Bukankah kita sudah membahas masalah ini? Aku dan Aileen sudah mencari solusi, dan ini solusi yang tepat."
__ADS_1
Nana pun tak lagi membahas masalah itu, ia takut ini malah jadi pertengkaran yang kedua kalinya di antara mereka. Tak lama, pandangan Aileen pun tertuju padanya. Wanita yang kini menjadi calon mantan itu pun tersenyum tipis kepadanya. Menunjukkan seakan Aileen tengah baik-baik saja.
Senyum yang ditunjukkannya adalah sebuah kebohongan baginya, cukup dirinya yang tersakiti akan keadaan ini. Aileen mencoba ikhlas dengan takdirnya sendiri.
"Kita tidak menemuinya, Mas?" tanya Nana.
"Iya, kita temui mereka sebagai silaturahmi." Adam mengajak Nana dan mengenalkannya pada Aileen.
"Papa ...," panggil Akhsa.
"Iya, sayang," jawab Adam.
"Dokter Zack, ini Dokter Zack 'kan?" tanya Adam.
"Masih ingat rupanya, aku kira sudah lupa." Kata dokter Zack sambil tersenyum.
Adam tidak mungkin lupa akan kegilaan Aileen waktu itu. Ia juga sempat tak menyangka akan kekasihnya yang gila di atas ranjang. Melihat kedatangannya bersama Aileen membuatnya berpikir bahwa mereka pasti ada hubungan? Ingat tentang Aileen gila di atas ranjang, apa mungkin calon mantan istrinya iti sudah menjalin hubungan dengan dokter Zack?
Jika pun benar, ia tak akan mempermasalahkan itu. Malah ia ikut senang, semoga Aileen menemukan kebahagiaannya bersama lelaki itu. Adam sampai lupa mengenalkan Nana kepada Aileen, sampai Akhsa yang mengenalkan ibu sambungnya pada ibu kandungnya.
"Mama, kenalin. Ini Mama Nana," ucap Akhsa.
Nana tersenyum ke arah Aileen, bagitu pun juga Aileen. Mereka saling berjabat tangan, dan Aileen lebih dulu bersuara.
"Terima kasih sudah menjaga dan merawat Akhsa selama ini," kata Aileen.
"Iya, sama-sama. Itu sudah kewajibanku sebagai pengasuhnya," tutur Nana.
"Jadi pengasuh itu dulu, tapi sekarang kamu sudah jadi orang tuanya," jelas Aileen. Mereka terus berbincang dengan akrab. Sampai Roy dan Andra melihat keberadaan Aileen.
"Sepertinya mantanmu sudah berubah, lihatlah. Mereka terlihat akur," kata Roy pada Andra.
"Ya, aku kira juga begitu. Baguslah kalau dia sudah berubah, semoga mereka selalu akur," jawab Andra.
Perubahan Aileen memang cukup drastis baginya, jika diingat akan masalalu Aileen cukup buruk menurutnya, apa lagi soal ingin menjebaknya agar dapat tidur dengannya hanya karena Aileen sedang mengandung dan butuh pengakuan.
Masa lalu yang buruk tak selamanya menjadi buruk, semua butuh proses untuk menjadi lebih baik. Wiliam pun sudah meninggalkan sikap buruknya, lelaki paruh baya itu kini menjadi pria hangat. Tak memandang siapa yang berada di dekatnya.
Pesta terus berlanjut, dan sangat meriah. Mereka semua bahagia tak terkecuali Aileen. Dia menyembunyikan kesedihannya dengan cara selalu tersenyum.
...----------------...
__ADS_1
PENGUMUMAN, ini akun yang mendapatkan pulsa dariku. Harap kirim nomor teleponnya yang akan di kirimkan pulsa 🙏🙏🙏 pemenang hanya 1 orang ya, soalnya novel ini masih on going. Siapa tahu nanti ada hadiah lagi yang akan diadakan sama aku, terima kasih yang sudah memberikan dukungan terbanyak minggu ini. Akun bernama Wahyuni harap kirimkan nomornya ya?