
Di taman yang luas, dan banyaknya orang berlalu-lalang, tepat pada hari Minggu ini Adam menyempatkan jalan-jalan pagi bersama Akhsa. Mendorong kereta bayi, kehadirannya menjadi pusat perhatian banyak wanita di sana.
"Omo ... Tampan, cocok jadi sugar daddy-ku," ucap seorang wanita yang mungkin berumur 18 tahun.
"Aku mau dong jadi bayinya," kata temannya lagi saat melihat Adam menggendong Akhsa dan menciumnya dengan gemas.
Tak berselang lama, Andra dan Nindya pun melakukan joging pagi ini. Ibu Nathan dan Nala itu sudah cukup sehat dan menjalani aktivitas seperti biasa. Tubuh yang melar membuatnya harus banyak berolah raga, menjadi seorang istri pimpinan tentu ia tak ingin membuat suaminya malu.
Kerap, Andra tak mempedulikan penampilan istrinya. Bertubuh subur pun tak apa, tapi Nindya tak percaya akan hal itu. Mustahil baginya ada pria seperti itu, biasanya hanya manis di bibir. Ucapan tak sesuai ekspektasi.
"Tuan," sapa Adam saat Andra dan Nindya mendekat ke arahnya.
Nindya celingak-celinguk mencari keberadaan Nana.
"Nana-Nya mana?" tanya Nindya.
"Nana tidak ikut, dia tadi masih tidur. Kepergianku saja dia tidak tahu," jawab Adam apa adanya.
Nindya merasa tidak percaya bahwa gadis mandiri itu jam segini masih tidur. Pasti ada sesuatu, pikirnya.
"Mas, bawa handphone gak?" tanya Nindya pada suaminya.
"Bawa, untuk apa?"
"Telepon Nana, aku gak percaya dia masih tidur." Andra pun memberikan ponsel itu, dan Nindya mulai menghubungi Nana. Ia sedikit menjauh dari mereka, entah apa yang dibicarakannya dengan Nana.
Sedangkan Adam dan Andra asyik bercengkrama sambil menunggu Nindya yang sedang menelepon.
"Si kembar tidak diajak?" tanya Adam.
"Tidak, sebenarnya aku malas kesini, tapi istriku memaksa," jawab Andra, "katanya mau diet."
Adam melihat ke arah Nindya dari belakang, tubuhnya memang berisi setelah melahirkan Nathan dan Nala.
"Sebetulnya aku tidak peduli, dia mau gemuk atau langsing, yang penting permainan di ranjang tetap, ok," bisik Andra di telinga Adam. Niatnya seperti itu agar istrinya tidak mendengar, tapi sayang, Nindya tengah berdiri tepat di belakang mereka. Alhasil, Nindya menjewer telinga suaminya.
Dirinya merasa malu kalau permainan ranjang mesti diungkapkan pada orang lain, terlebih pada anak buahnya.
"Aduh, aduh ... Ampun! Janji gak gitu lagi," keluh Andra saat di telinganya dijewer, "ampun, Yang ..."
Tidak ada kata ampun, Nindya terus menjewernya sampai telinganya berubah merah.
"Kita pulang saja, mood-ku sudah rusak," kesal Nindya.
__ADS_1
"Dam, aku pulang duluan."
Adam tersenyum tipis melihat bos-nya, mungkin akan terasa nyaman hidup bersama istri meski sering kena omel, pikirnya.
💞
Nana langsung siap-siap mau menyusul Adam dan Akhsa, bahkan Nindya sudah mengajaknya untuk bertemu. Tidak mungkin memakai sepatu karena kaki Nana masih terasa sakit, akhirnya ia hanya menggunakan sandal jepit seperti biasa.
Ekor matanya mengitari taman, tak nampak Nindya di sana, hingga akhirnya ia terus berjalan sambil mencari keberadaan mereka. Tak lama, ia menangkap sesosok pria tampan sambil mendorong kereta bayi.
Senyum yang tersemat di bibirnya kian memudar saat melihat Adam tengah dikerubuni wanita-wanita cantik yang bermodus mengajak Akhsa. Cumburu, ya Nana cemburu saat melihatnya. Tangannya mulai mengepal, ia tak suka melihat para wanita itu bersikap genit pada pria yang berstatus, beristri bukan, duda juga bukan.
Ah, Nana pun jadi ragu untuk mengungkapkan perasaan pada lelaki beranak satu itu. Yang bisa ia lakukan hanya memendam perasaan padanya.
"Ehem!" Deheman itu membuat para wanita yang berkerubun seketika menoleh, raut wajah Nana menyimpulkan ketidaksukaan pada mereka.
Para wanita itu saling menyenggol sikut satu sama lain.
"Mungkin istrinya, ayok sebaiknya kita pergi? Lihatlah, mungkin di atas kepalanya sudah keluar tanduk." Para wanita itu langsung berpencar karena tidak ingin ada masalah dan membuat keonaran di area taman.
"Nana," ucap Adam, "kamu nyusul?" tanya Adam.
Wajah Nana merah, pasti pria itu berpikir bahwa ia tengah menyusulnya. Tapi memang benar, dalam hati Nana mengakui bahwa kedatangannya kemari karena ingin menyusulnya, ia beruntung dapat dihubungi oleh Nindya.
"Aku disuruh kesini sama Nindya, tapi di mana ya dia?" tanya Nana, ia berpura-pura mengedarkan pandangan, tapi justru ia malah tidak ingin bertemu dengan wanita itu. Karena Nindya mencurigainya kalau ia memiliki hati pada papa Akhsa.
💞
"Kenapa tidak membangunkan-ku?" tanya Nana saat perjalanan pulang.
"Tidak ingin mengganggu istirahatmu, pasti kamu kecapean sampai kesiangan."
Mereka turus mengobrol sampai tak terasa mereka sudah sampai di apartemen. Nana langsung menggendong Akhsa dan membawanya ke kamar mandi. Bayi itu kini sudah mulai bisa mengeluarkan suara, dan selalu mengoceh saat dimandikan.
Percakapan Nana yang mengajak Akhsa berbicara didengar oleh Adam. Pria itu tersenyum hangat saat mendengarnya.
"Uuhh ... Akhsa sudah mulai kelihatan tampannya ya," ucap Nana, " seperti papa," bisiknya, tak ingin didengar oleh Adam ia pun memuji di belakang.
Aktivitas Nana dari hari kehari mengurus Akhsa, sampai tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tibalah waktunya Akhsa mulai masuk sekolah.
Usia Akhsa sudah menginjak 5 tahun, disaat itu pula sampai sekarang Adam tak pernah tahu kabar Aileen. Adam masih setia pada istrinya, selama itu pula Nana masih bekerja menjaga Akhsa.
"Di mana, Akhsa?" tanya Adam pada Nana.
__ADS_1
"Mengunci diri di kamar," jawab Nana.
Adam menghela napas, sudah dua hari ini Akhsa susah diajak ke sekolah. Entah apa yang terjadi sekolahnya sehingga ia tak mau pergi.
"Coba kamu bujuk Akhsa, dia selalu nurut apa katamu," titah Adam pada Nana.
Akhsa satu sekolah dengan Nathan dan Nala, termasuk anak Roy dan dokter Elena yang diberi nama Almaira yang kerap dipanggil Alma. Mereka tumbuh bersama-sama seperti para orang tuanya.
Nana berjalan menuju kamar, dan menuruti perintah Adam.
"Akhsa, bukan pintunya, Nak? Nanti kesiangan loh." Sikap Nana begitu lembut pada Akhsa, sampai bocah itu pun akhirnya membuka pintu.
"Aku tidak mau sekolah," ucap Akhsa.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin segera masuk sekolah dasar? Kalau TK saja malas bagaimana nanti? Sekolah ya, katanya mau nurut sama Nana."
"Gak mau, semua teman-temanku diantar sama mama-nya. Sementara aku, sama Papa terus. Kenapa aku tidak ada mama?" Akhsa pun mulai menangis, ia merindukan sang mama.
Awalnya Akhsa mengganggap Nana itu sebagai mamanya, tapi seiring berjalannya waktu, bocah itu ternyata tahu bahwa Nana bukanlah mamanya. Wanita itu hanya sekedar pengasuh, meski ia berharap bahwa Nana-lah ibu kandungnya.
"Kalau berangkat sama Nana mau gak?" tawar Nana.
Akhsa mengangguk. "Tapi dengan satu syarat!" ujar Akhsa.
"Apa syaratnya?"
"Nana harus mengaku sebagai Mamaku, biar semua teman-temanku tidak ada lagi yang mengejekku."
"Apa kata teman-temanmu?" tanya Adam.
"Mereka bilang, aku tidak punya mama. Tapi Papa selalu bilang padaku kalau aku punya mama dan sedang bekerja jauh. Tapi kenapa mama tidak pulang-pulang?"
Penuturan Akhsa membuat hati Adam tercubit, sepintar-pintarnya ia menyembunyikan semuanya lambat laun anaknya pasti mengetahui semuanya.
"Nana mau 'kan bilang pada semua teman-temanku kalau Nana itu mama-ku?"
"Iya, ayok kita berangkat sekarang?" ajak Nana.
"Tapi, Na?" protes Adam.
"Tidak apa-apa, Mas. Akhsa sudah ku anggap sebagai anakku sendiri."
"Hore-hore ... Aku punya mama," teriak Akhsa antusias.
__ADS_1
...----------------...
Alur dipercepat aja gaesðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ terus ikuti kisah Adam dan Nana ya. Kisah yang lainnya pun masih berlanjut kok, tenang saja. Cerita ini pasti pankang sampai anak-anak mereka tumbuh dewasa.