Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 168 Menggapai Atau Merelakan?


__ADS_3

Tubuh mulai bergetar, mata sudah berkaca-kaca. Tak menyangka dengan apa yang terjadi hari ini. Mimpi apa semalam? Hampir 20 tahun pergi dari kehidupan Hanum, kini kembali dengan sejuta bahagia. Tak mengira, ternyata ia memiliki seorang putri yang wajahnya sama persis dengan mantan istrinya itu.


Jika diteliti, alis, dan hidung mancung dominan kepadanya. Tanpa permisi, Doni memeluk erat tubuh Dewi. Sedangkan Dewi, gadis itu terdiam. Mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


Lama Doni memeluknya, hingga akhirnya Dewi melepaskan pelukkan itu karena ponsel miliknya berbunyi. Doni membiarkan itu, membiarkan Dewi mengangkat sambungan ponselnya.


"Ya, aunty?" jawab Dewi. Yang menghubunginya adalah Nindya, wanita yang sudah berjasa padanya selama ini. Wanita yang menyayanginya tanpa mengenal latar belakang. "Ya, aku akan ke sana," jawabnya lagi. Sambungan pun berakhir.


Doni dan Dewi saling menatap.


"Anakku." Ucap Doni seraya menangkup kedua pipi gadis itu, lalu kembali memeluknya, "di mana kalian selama ini tinggal?" tanyanya.


Aileen dan Akhsa kini yang saling menatap, ucapan Aileen masih menggantung. Rasanya tak tega jika harus memberitahukan soal kematian Hanum.


"Kenapa nama orang tuamu Halim dan Rahayu? Apa mamamu tidak memberitahukan soal, Papa? Aku adalah Ayah kandungmu. Maafkan, Papa. Papa pergi disaat mamamu mengandung."


Dewi tak menjawab, rasanya tak bisa berkata apa pun mengenai mendiang ibunya. Hanya sebuah surat yang ditinggalkan ibunya. Tak tahu apa pun mengenai ayahnya. Hidup saja ia sudah beruntung. Rasanya begitu sakit saat bertemu dengan ayahnya. Begitu tega lelaki itu pergi, dengan mudahnya ia berkata maaf.


Selama ini, lelaki yang kini mengaku ayahnya tak pernah mencarinya. Lelaki itu tak peduli dengannya juga ibunya. Rasa kecewa itu teramat dalam, terlebih, ibunya yang kini sudah meninggal pun tak tahu. Dengan mudahnya dia bertanya, 'di mana kalian selama ini tinggal?'


Untuk tempat berlindung pun lelaki itu tak memberikannya. Menelantarkan istri dan anak yang masih dalam kandungan. Sedangkan ia, hidup bahagia dengan gelimang harta.


"Maaf, aku harus pergi." Dewi berjalan keluar dari ruangan itu.


Aileen dan Akhsa tak menyangka akan seperti ini jadinya. Dugaan yang tak sesuai dengan pikirannya. Mereka mengira akan saling berpelukan dengan drama yang dibuat sesedih mungkin. Berpisah dengan waktu yang lama tentu akan ada kerinduan bukan? Tapi ini? Gadis itu seolah tak peduli.


Dewi bukan tak peduli, melainkan belum bisa menerima hadirnya lelaki itu dengan status ayahnya. Rasa rindu itu ada, tapi rindu itu hilang saat ia mengingat betapa menderitanya dirinya selama ini. Lelaki itu pergi meninggalkan luka yang teramat sakit.

__ADS_1


Dewi berlari sembari menangis. Tak peduli dengan pasang mata yang melihat ke arahnya. Tak bisa membiarkan Dewi pergi dalam kondisi seperti itu, Akhsa menyusulnya. Doni dan Aileen pun pergi menyusul mereka.


"Wi, Dewi ..." Panggil Akhsa sambil terus mengejar.


"Dewi ..." Doni pun ikut memanggilnya.


Gadis itu menghentikan langkahnya, tangisnya pecah. Dan itu terjadi di depan meja resepsionis. Tangis itu terus terisak, karena itu terasa sesak di dada.


"Maafkan, Papa. Papa akan menebus semua kesalahan yang membuat kalian menderita," ucap Doni.


Tanpa ragu, Dewi membalikkan tubuhnya. Matanya menyorot tajam. Apa ia tak salah dengar dengan ucapannya? Menebus? Apanya yang akan ditebus? Apa pria itu bisa mengembalikan jasad yang sudah tak berwujud?


"Papa janji, Papa akan membahagiakan kalian," ucapnya lagi.


"Mamaku sudah bahagia, Anda tak perlu repot-repot untuk membahagiakannya," jawab Dewi.


"Bahagia?" Doni mengulang kata Dewi.


"Tuhan? Maksudmu?" Doni tak mengerti.


Percakapan mereka disaksikan berpasang-pasang mata. Semua karyawan yang ada di sana menyaksikannya. Mereka begitu terkejut saat mendengar pengakuan Doni yang mengaku sebagai ayah dari OB baru itu.


Tak ada jawaban dari Dewi, Doni membalikkan tubuhnya mengahadap ke arah Akhsa. Mungkin lelaki itu tahu apa yang terjadi dalam hidup anaknya. "Apa maksud Dewi, Akhsa? Coba jelaskan pada, Om?"


Sebelum menjawab, Akhsa menoleh ke arah Dewi. Gadis itu masih menangis. Rasanya ia ikut sakit dengan keadaan ini, Dewi terpukul karena harus kembali mengingat mendiang ibunya. Ibu yang tak pernah ia lihat secara langsung. Ibu yang selama ini ia rindukan.


Dewi memejamkan mata, ia pasrah dengan apa yang akan dijawab oleh Akhsa. Lidahnya terasa kelu jika ia sendiri yang harus mengatakan semuanya. Tak dapat dipungkiri, ia senang jika akhirnya ia bertemu dengan ayah kandungnya. Tapi itu membuat lukanya kembali sakit. Sakit dengan penderitaan yang ia alami selama ini.

__ADS_1


Hidup dengan sindiran, hinaan, cacian. Semua sudah ia rasakan, dan itu terasa amat sakit. Dalam pejaman mata itu ia menangguk. Memberi izin pada Akhsa untuk menjawab pertanyaan lelaki yang baru saja ia ketahui bahwa itu adalah ayahnya.


"Mamanya Dewi sudah meninggal, Om. Meninggal saat melahirkan Dewi," jawab Akhsa.


Seketika, tubuh Doni ambruk. Wanita yang selama ini ia cintai ternyata sudah tiada. Pergi meninggalkannya, pergi tanpa kejelasan, pergi dalam keadaan hamil. Semua itu terlintas dalam benaknya. Begitu berdosanya dirinya. Berlutut dengan wajah menunduk, betapa terpukulnya dirinya.


Dalam kondisi seperti itu, ia berjalan dengan kedua lulutnya. Berjalan menghampiri Dewi yang terus menangis. Memeluk kedua kaki anaknya setelah berada di hadapannya.


"Maafkan Papa, Dewi. Papa telah berdosa." Tangis Doni pun pecah. Kini ia tak lagi bisa bertemu dengan Hanum. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah menebus rasa bersalahnya kepada anak semata wayangnya.


"Izinkan Papa menebus salah Papa kepadamu, jika kamu akan menghukum, Papa. Papa ikhlas,," lirih Doni yang masih memeluk kaki anaknya.


"Kalau begitu, biarkan aku pergi. Ada hal yang harus aku selesaikan," kata Dewi, "aku akan kembali setelah urusanku selesai. Jadi tolong, lepaskan tangan itu dari kaki-ku."


"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pergi meninggalkan, Papa."


"Iya, aku janji. Hanya Papa keluargaku, aku akan kembali."


Doni melepaskan pelukkannya. Lalu ia berdiri, kembali memeluk putrinya. "Pergilah, uruskan urusanmu. Setelah itu kita pulang, kamu masih mempunyai nenek selain Papa," terang Doni.


Dewi mengangguk, setelah itu ia pergi. Lagi-lagi langkahnya terhenti karena Akhsa memanggilnya.


"Perlu aku temani?" tawar Akhsa.


"Tidak usah, aku harus menemuinya," jawab Dewi.


Akhsa tahu siapa yang akan ditemui gadis itu, pendengarannya cukup jelas saat Dewi menerima panggilan dari ibunya Nathan. Ibunya pasti meminta Dewi untuk menemui Nathan yang sedang sakit. Hatinya belum siap jika harus kehilangan Dewi. Ia yakin kalau Dewi pun memiliki perasaan yang sama kepada lelaki itu.

__ADS_1


Dewi mulai menghilang dari pandangannya. Rasa takut akan kehilangan itu menjalar. Tadinya ia hanya bercanda dengan perjanjian itu, tapi lambat laun, rasa suka itu berubah menjadi cinta. Akankah ia menggapai cinta gadis itu? Atau justru, ia harus merelakannya.


Menggapai atau merelakan? Pertimbangan yang cukup berat baginya.


__ADS_2