
Aileen sampai di kota, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?
"Aarrgghhh ..." Aileen menyeka alat make up-nya yang berjejer rapi di atas meja rias.
Wanita itu menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tidak, ini tidak boleh terjadi." Aileen memutar otak untuk mengalihkan semuanya, hingga ia mendapatkan ide yang sangat brilian baginya. Apa pun akan ia lakukan agar ia dan Andra tak berpisah.
Mona yang mendengar suara benda terjatuh di lantai atas dan ia yakin bahwa sumber suara itu dari kamar majikannya.
"Astaga, Nyonya. Apa yang terjadi? Mona adalah orang kepercayaan Aileen setelah Lee.
"Mona, lakukan sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan suamiku, aku akan mempertahankannya. Pernikahan ini sudah terlanjur mulai dari kebohongan, Andra tak mau menyentuhku. Dan dia harus menyentuhku, Mona. Lakukan sesuatu, cepat!" titahnya dengan tidak sabar.
"Tenanglah, Nyonya," ucap Mona. "Tapi, sebentar. Tuan tidak menyentuhnya? maksudnya bagaimana?" batin Mona, bukankah selama ini ia sering melakukannya? Bahkan Moba sering melihat tanda merah di lehernya, dan ia yakin itu bekas bibir yang sudah menyentuhnya. Kalau bukan tuan, lantas siapa? Banyak pertanyaan yang ada dalam hati yang tak bisa ia ungkapkan.
Meski Mona orang kepercayaan Aileen, wanita itu tak sepenuhnya menceritakan masalah perselingkuhannya dengan kekasihnya itu. Yang dibutuhkannya sekarang adalah bantuan Mona, bagaimana caranya Andra bisa tidur dengannya. Sudah sering ia mencoba, tapi selalu gagal.
"Nyonya tenanglah, saya akan membantu sebisa saya," ucap Mona meyakinkan majikannya. "Lebih baik Nyonya istirahat," bujuknya kembali.
Tapi, Aileen kembali mual. Ia merasa pusing, bahkan tubuhnya hampir oleng. Untung Mona bergerak cepat sampai ia dapat menjangkau tubuh yang hampir ambruk. Tidak bisa begini, Mona pun akhirnya menghubungi tuan Wiliam. Ia mengatakan bahwa menantunya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
* * *
"Apa? Aileen sudah pulang?"
Wiliam sangat terkejut mendapati menantunya yang sudah pulang lebih dulu, bahkan ia tahu kalau Andra sedang tak bersamanya. Ia sudah menanyakan pada Roy bahwa Andra sedang ada urusan di luar. Masalah pabrik saja belum terselesaikan.
"Apa yang terjadi?" pikir Wiliam, bertengkar pun tidak mungkin, bahkan ia memperegoki anak dan menantunya sedang bercinta kemarin siang. Ia tak bisa mendiamkan masalah ini, apa lagi Wiliam tahu bahwa Aileen sedang sakit.
"Aku harus menghubungi Andra, biar dia cepat menyusul."
Sementara Andra, pria itu sedang tidur pulas bersama Nindya. Mereka sudah melepas rindu.
__ADS_1
Nindya tidur sangat nyenyak di pelukkan suaminya, ini obat yang paling mujarab. Kebersamaan dengan orang yang dicintai membuat kita lupa akan satu hal. Yang tadinya sedang sakit pun mendadak sembuh, itulah yang dirasakan mereka berdua
Andra yang sedang pusing akan tingkah Aileen mendadak sirna setelah bersama istri tercintanya. Karena pulas, suara ponsel berdering pun tak terdengar di pendengaran mereka. Momen seperti ini tidak boleh terganggu, karena tidak akan setiap waktu mereka merasakan seperti ini.
* * *
Wiliam nampak kesal karena anaknya tak kunjung menjawab panggilan darinya. Akhirnya, ia menghubungi Roy.
"Temukan Andra, ajak dia pulang ke Jakarta. Katakan kalau Aileen membutuhkannya!"
Nada tegas itu terdengar seperti ancaman bagi Roy, mau tak mau, pria itu menuruti perintah tuan besar.
"Bagaimana ini? Jadi pengganggu lagi aku. Nenek sihir itu kenapa lagi? Untuk apa pulang kalau tetap merepotkan?" gerutu Roy.
Roy mencoba menghubungi tuannya, tapi tak kunjung terjawab. "Pasti sedang bercinta," duga Roy. Tidak ada pilihan lain selain menemuinya ke sana. Roy pun segera berangkat ke rumah Nindya.
Dan sampailah ia di sana. Hari sudah mulai gelap. Kedatangannya disambut oleh ibu Rahayu.
"Nak, Roy. Silakan masuk." Ibu Rahayu mempersilahkan Roy masuk sambil membuka pintu lebar-lebar.
"Om, Om ngapain ke sini?" tanya Nisa karena penasaran. Apa lagi ia sering melihat tuan Andra datang kemari, bahkan pria itu sedari tadi tak kunjung keluar dari kamar sang kakak.
"Om, Om ajak pulang Tuan Andra. Dari tadi Tuan Andra tidak keluar dari kamar kakakku, kakakku lagi sakit tidak boleh ada yang menggangunya," pinta Nisa dengan polosnya.
"Iya, Om datang kemari memang ingin menjemputnya," jawab Roy apa adanya.
Tak lama, Andra pun datang menghampairi Roy. Ibu Rahayu terpaksa mengetuk pintu kamar anaknya untuk membangunkan mereka.
Roy melihat rambut basah majikannya, sudah bisa ia tebak habis ngapain mereka lama-lama di dalam kamar. Majikannya yang menikmati hidupnya sedangkan ia ikut pusing karena harus main petak umpat dengan Wiliam.
"Ada apa, Roy?" tanya Andra. Pria itu mendudukkan tubuhnya di samping tangan kanannya itu.
__ADS_1
"Sudah melepas rindunya?" tanya Roy. "Tuan Wiliam menyuruh kita kembali ke Jakarta, Nona Aileen membutuhkan Anda, Tuan."
"Ngadu apa lagi wanita itu?" Padahal istrinya sendiri yang ingin pulang, tahu begini untuk apa dia pulang?
"Sepertinya Nona Aileen memang sakit, Tuan. Sebaiknya kita segera kembali, dari pada tuan Wiliam marah."
"Tapi bagaimana dengan istriku di sini? Dia juga lagi sakit, Roy. Aku tak mungkin meninggalkannya," lirih Andra.
"Nak Andra pulang saja, di sini 'kan ada Ibu. Biar Ibu yang menjaganya di sini," timpal Rahayu yang mendengar percakapan mereka.
"Tapi, Bu--."
"Kata Ibu benar, pulanglah. Aku akan kembali nanti setelah kakiku sembuh," sahut Nindya yang baru muncul.
"Baiklah kalau begitu, kabari aku jika kamu akan kembali. Nanti orang suruhanku akan menjemputmu," ucap Andra.
Andra ke kamar Nindya sebelum keluar dari rumah itu, ia berniat mengambil jas miliknya. Disaat Andra memakai jasnya, seseorang memeluknya dari belakang.
"Aku pasti merindukanmu." Kata orang itu yang tak lain adalah istrinya.
Andra memutar tubuhnya, kini mereka saling berhadapan Andra membalas pelukkan istrinya.
"Aku yang lebih merindukanmu." Andra mengecup kening dan bibir istrinya sekilas. "Apa pun yang terjadi, kita harus selalu bersama, kamu percaya padaku 'kan? Aku sangat mencintaimu."
"Semoga urusanmu lancar, tidak ada kendala dengan Nona Aileen."
"Kamu tahu dia wanita licik, apa pun rencananya kamu jangan percaya," jelas Andra meyakinkan istrinya betapa liciknya seorang Aileen.
"Hmm," jawabnya singkat. Padahal hatinya begitu takut. Takut malah ia sendiri yang terdampar dalam pernikahannya. Bagaimana pun, Nindya menyadari siapa dirinya. Tentu orang tua suaminya pasti mendukung Aileen dari pada dirinya.
Setelah cukup melepas rindu, kini waktunya mereka berpisah. Nindya melepas kepergian suaminya, ia mengantar sampai depan rumah. Ibu Rahayu yang ikut mengantar pun mengusap bahu anaknya. Ini pasti berat bagi putrinya.
__ADS_1
"Jodoh tidak akan kemana," ucap Rahayu sembari tersenyum ke arah menantunya yang sedang melambaikan tangan ke arah putrinya. "Percayalah pada suamimu, karena suatu hubungan akan kekal dengan adanya rasa percaya dan saling terbuka," tuturnya kembali.
"Iya, Bu. Aku belajar ikhlas dengan takdirku."