Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 112


__ADS_3

"Ada apa, Mas? Aku akan pergi sekarang juga, kamu tidak perlu cemas." Nana melepaskan tangannya dari genggamannya. Dan akhirnya tangan itu terlepas, Nana langsung turun dari mobil dan meninggalkan Adam.


Adam sendiri jadi bingung, antara mantap atau tidak. Tapi Akhsa begitu nyaman bersama Nana, gadis itu mampu meredam emosi Akhsa kala sedang marah. Hanya Nana yang bisa mengendalikan emosi Akhsa.


Adam jadi dilema, bahkan semua temannya menyarankannya menikah dengan Nana. Adam jadi plin-plan, antara menunggu atau melupakan. Jika menunggu, sampai kapan ia menunggu.


"Kesempatan tidak akan datang dua kali." Ucapan Roy selalu terngiang.


"Aku juga setuju kalau kamu menikah dengan Nana," kata Andra pun tak kalah membuatnya semakin dilema.


"Aarghhh ..." Adam menjambak rambutnya frustrasi. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu, Adam memantapkan hati bahwa ini memang yang terbaik untuk Akhsa. Sosok ibu begitu dibutuhkan oleh Akhsa dan itu tak bisa ia dapatkan dari istrinya yang entah di mana.


Tidak ingin terlambat, Adam menyusul Nana sambil menggendong Akhsa. Ia juga tidak ingin mengecewakan anaknya, Akhsa begitu menyayangi Nana dan menganggap gadis itu seperti ibunya.


💞


"Kamu akan meninggalkanku juga Akhsa?" tanya Adam setibanya di apartemen.


"Bukankah kamu ingin aku menikah?" tanya Nana.


"Bukan begitu, Na."


"Selama aku di sini mungkin aku akan menjadi perawan tua, itu maksudmu 'kan? Kamu tidak ingin Akhsa menganggapku sebagai ibunya karena akan menghambat jodohku, iya 'kan?"


Adam merebahkan Akhsa terlebih dulu di tempat tidur dan setelah itu menghentikan aktivitas Nana yang sedang mengemas baju-bajunya.


"Kenapa kamu jadi salah paham begini? Aku tidak bermaksud menyuruhmu pergi dari hidupku, aku hanya takut kamu tidak mendapatkan jodoh, Na."


Aku tidak mengharapkan orang lain menjadi jodohku, aku mencintaimu, Mas. Dari dulu sampai sekarang. Lidah itu terasa kelu, ingin rasanya Nana melontarkan kata itu, dan ia siap menggantikan istrinya yang telah pergi sejak 5 tahun silam.


"Ku mohon jangan pergi, kamu tega meninggalkan Akhsa dan memberikannya harapan setelah kamu mengizinkannya memanggilmu mama?"


"Lalu aku harus apa, Mas? kamu bilang aku akan kesulitan mendapatkan jodoh, tapi sekarang kamu malah menahan kepergianku, kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku ingin kamu manjadi mama untuk Akhsa, bukan hanya sekedar untuk membahagiakannya. Aku sudah pikirkan ini matang-matang, sejak satu tahun lalu. Tapi aku tidak memiliki keberanian karena aku sadar, tidak akan ada yang mau denganku. Statusku tidak jelas, Na."


Pendengaran Nana mendadak tidak jelas, ia ingin pria itu mengulangi ucapannya barusan. Tubuh Nana terasa kaku, jangankan untuk bergerak, membuka mulut saja ia kian tak mampu.


"Na, apa ini tidak sesuai keinginanmu? Aku sadar, aku jauh dari kata sempurna. Bahkan kamu bisa mendapatkan yang lebih dariku, bukan pria yang sudah memiliki anak sepertiku."


"Cinta itu memang buta, Mas. Aku tidak yakin seratus persen dengan ucapanmu, kamu begini pasti hanya untuk membahagiakan Akhsa 'kan?"


"Kamu tahu kalau aku memang setia pada istriku, tapi aku tidak mau egois, Na. Akhsa butuh sosok ibu, dan aku butuh istri untuk melengkapi hidupku. Apa kamu sedia menjadi istriku?"


Nana tercengang dan rasanya tidak percaya, Adam tak mengatakan bahwa ia akan melupakan istrinya, melainkan hanya ingin melengkapi hidupnya yang kurang. Mungkin pria itu butuh sosok istri untuk menyalurkan hasratnya yang kian terpendam selama 5 tahun.


"Apa kamu sedia menjadi istriku dan menjadi mama untuk Akhsa?"


Nana tak menjawab, ini masih terasa mimpi baginya.


Sejak tadi, Akhsa mendengarkan percakapan papanya yang meminta pengasuhnya menjadi mamanya. Karena lama tak menjawab, Akhsa membantu memohon agar wanita itu menerima cinta papa-nya.


"Mama mau ya menjadi istri Papa?" ucap Akhsa yang duduk di atas ranjang.


"Kamu mau 'kan, Na? Akhsa juga menginginkanmu jadi ibunya."


"Tapi, bagaimana kalau sewaktu-waktu istrimu datang dan berkumpul kembali bersama kalian?"


"Semuanya akan aku jelaskan, aku yakin Aileen pasti akan mengerti. Apa lagi Akhsa membutuhkanmu. Kamu mau ya?"


Dan akhirnya, Nana mengangguk. Karena ia memang sudah lama mencintainya, ia tulus menyayangi Akhsa tanpa ada embel-embel apa pun.


Adam menarik tubuh Nana ke dalam pelukkannya. Dan Akhsa pun ikut memeluk keduanya dari ranjang, karena ia tengah berada di sana.


"Asyik, keluargu sudah lengkap sekarang," ucap Akhsa.


* * *

__ADS_1


Tidak ada yang perlu ditunggu lagi, kini Adam dan Nana pun menyelenggarakan pernikahan secara sederhana. Ini semua permintaan Nana, karena ia tahu kalau Adam dan istrinya belum bercerai, jadi nikah siri yang dijalani oleh mereka. Hanya kerabat terdekat saja yang hadir.


"Selamat ya, akhirnya kamu nikah juga sama Nana. Saatnya kamu membuka lembaran baru, hiduplah bahagia bersamanya," tutur Roy.


"Semoga kalian bahagia," timpal Andra.


"Selamat ya, Na. Akhirnya penatianmu selama ini tidak sia-sia, bayangin, 5 tahun, Na." Nindya memperlihatkan 5 jari ke arah Nana.


"Suuttthhh." Nana meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Adam dan Nana tengah bahagia, lalu bagaimana dengan nasib Aileen?


* * *


Di suatu tempat, nampak seorang wanita yang tengah menatap luasnya bumi dari arah jendela dengan ketinggian beberapa meter.


"Ai, minum dulu obatnya," kata Morano.


Ya, Aileen yang selama ini hidup dibawah arahan Morano. Selama 5 tahun pula hidupnya di bawah pengaruh obat, entah obat apa yang diberikan oleh pria itu kepada anaknya.


Yang jelas, Aileen merasa hidup bersama orang asing. Bahkan ia tak mengenal siapa Morano, yang ia tahu bahwa pria itu mengaku sebagai ayahnya.


Saat Morano memberikan obat itu, Aileen langsung menepisnya. Ia tak ingin lagi mengkonsumsi obat-obatan itu yang membuat ingatannya hilang, ia yakin kalau dirinya tidak sakit. Saat ia mengkonsumsi obat itu, ia langsung kehilangan kesadarannya bahkan ia tak mengenali dirinya sendiri.


Yang lebih bingung, saat ia melihat bekas luka dibagian perutnya, tak ada orang satu pun yang memberitahukan akan hal itu. Aileen yakin, jika ia berhenti meminum obat itu ia akan mengingat siapa dirinya.


"Aku tidak mau lagi meminum obat itu," teriaknya, "aku yakin kalau aku tidak sakit!"


"Kamu akan sembuh kalau minum ini, ayo minumlah," bujuk Morano. Orang tua itu sudah gila, saking tidak rela anaknya menikah dengan pria miskin membuat Morano tidak menyetujuinya.


Bahkan Morano lupa akan satu hal, Tuhan bisa dengan mudahnya membalikkan takdir hidup manusia, Adam tak lagi miskin seperti dulu. Hidupnya sudah berubah semenjak bergabung dengan perusahaan Wiliam, kariernya semakin bagus setelah adanya Akhsa.


"Aku tidak mengenal siapa aku, aku tidak mau lagi minum obat itu!" Aileen segera pergi dan meninggalkan Morano, bahkan Aileen tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.

__ADS_1


Dengan modal nekat, Aileen pergi dari rumahnya. Keadaanya yang tidak stabil membuatnya berjalan dengan sempoyongan. Selama ini, Morano mengurung anaknya di sebuah rumah yang jauh dari keramaian.


Setahu Adam dan yang lain, Aileen dibawa pergi ke luar negri. Mau dicari sampai kemana pun mereka tidak akan menemukan Aileen. Dan ternyata, wanita itu tinggal di sebuah desa yang sangat jauh. Banyak keterbatasan sehingga tak ada signal sama sekali.


__ADS_2