
Di kediaman Wiliam.
Andra merebahkan tubuhnya di sofa, hari ini membuatnya lelah. Bagaimana tidak, ia baru saja sampai ke tanah air. Tapi ia harus ikut mengurus pemakaman Laura, yang ternyata gadis itu adalah kekasih sekretarisnya sendiri.
Saat Andra memejamkan matanya, sang istri menghampiri. Nindya duduk di sampingnya sambil mendaratkan kepala di dada bidang pria itu, kandungannya semakin hari semakin membesar karena ia mengandung anak kembar. Aktivitasnya sedikit terganggu dan tak bisa bergerak dengan bebas.
"Sebaiknya istirahat, ini sudah larut," ucap Nindya.
"Hmm," jawab Andra tanpa membuka mata, tapi tangannya mengeratkan tubuh istrinya, "kenapa belum tidur, hmm?" Tanyanya seraya mengusap-usap tangan istrinya.
"Sengaja menunggumu, bagaimana pemakamannya? Semua lancar 'kan? Papa tiri Laura bagaimana?' tanya Nindya.
"Masalah itu, Daddy yang mengurusnya. Oh iya." Andra merubahkan posisi menjadi duduk tegap, "aku baru tahu loh kalau ternyata Laura itu kekasih Roy," sambung Andra.
"Masa?" Nindya pun tak percaya.
"Iya."
"Terus? Apa dokter Elena tahu soal ini?" tanya Nindya lagi.
"Kurang tahu kalau masalah itu, yang kudengar, Aileen dan Adam juga sekarang berada di rumah mereka. Adam nekat membawa Aileen kabur," jelas Andra.
"Kamu masih peduli padanya?" selidik Nindya.
"Tidak, mana mungkin aku begitu! Jangan menuduhku yang tidak-tidak, aku senang kalau mereka bersatu kembali," terang Andra.
__ADS_1
Tak lama, Nindya menguap. Ia sudah mulai mengantuk. Tanpa bersuara lagi, Andra langsung membopong tubuh berbadan 3 tiga itu ke tempat tidur.
"Berapa berat badanmu sekarang? Aku sudah mulai kesusahan saat memangkumu," tutur Andra setelah merebahkan istrinya di kasur.
Seketika, Nindya mendelikkan matanya. Secara tidak langsung, Andra mengatakan bahwa ia sekarang sudah gendut. Wanita mana pun tidak akan suka dikatai seperti itu, termasuk Nindya.
Andra menyadari mimik wajah istrinya, ia sadar bahwa ia sudah salah berucap. Wanita hamil begitu sensitif. Mau tak mau, Andra merayu istrinya itu.
"Si kecil tumbuh sehat ya di perut mommy, sampai Daddy kewalahn dengan berat tubuh kalian." Ujar Andra sambil mengusap perut istrinya seolah mengajak calon anaknya berbicara.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraanmu, bilang saja kalau aku yang gendut." Nindya mengerucutkan bibirnya.
"Duh, salah lagi," batin Andra.
Andra baru saja akan merayu istrinya lagi, tiba-tiba ponsel miliknya berdering.
"Ketus sekali," kata Roy, "aku hanya mau konsultasi," terangnya.
"Konsultasi apa? Kamu kira aku dokter!" Andra semakin kesal, gara-gara Roy menghubunginya, Nindya lebih dulu tidur, bahkan langsung membelakanginya. Sudah dipastikan kalau bumil itu semakin merajuk.
"Cepat katakan! Mau apa telepon malam-malam begini? Apa tidak bisa menghubungiku besok? Besok 'kan kita ketemu di kantor," cerocos Andra
"Cuma mau tanya, apa wanita hamil segitu sensitifnya?" tanya Roy.
"Langsung ke intinya saja, jangan berbelit-belit! Aku tidak mengerti apa maksudmu?"
__ADS_1
"Elena hamil, dan sekarang lagi marah. Kalau Nona Nindya sedang marah, apa yang suka Tuan lakukan agar istri Tuan tidak marah lagi?" tanya Roy.
Telepon malam-malam begini hanya untuk menanyakan hal itu? Hal yang paling tidak tahu membuat Andra semakin kesal, Roy tidak tahu kalau Andra pun tangah mengalami hal yang sama sepertinya.
"Kalau hanya untuk menanyakan soal ini, kamu salah orang, Roy! Aku juga sedang berpikir keras bagaimana caranya Nindya tidak marah lagi padaku, kamu urus saja urusanmu sendiri!" Andra langsung menutup ponselnya, ia tak mau buang-buang waktu. Bisa-bisa istrinya keburu lelap dalam tidurnya, dan malah semakin marah padanya jika tidak dituntaskan malam ini juga.
.
.
.
Sedangkan Roy, ia pun tengah kacau karena Elena beranggapan bahwa ia tak peduli padanya juga pada calon bayinya. Elena mengusirnya dari kamarnya sendiri, bahkan istrinya memberikan bantal dan selimut agar ia tidur di luar.
"El, kamu tega sekali menyuruhku tidur di luar. Di luar dingin, sayang." Ujar Roy seraya bersandar pada pintu kamarnya.
Nasib-nasib ... Malam ini Roy terpaksa tidur tanpa kehangatan dari istrinya. Ia pergi dari sana menuju sofa, dan berjalan dengan gontai.
Saat itu juga, Adam melihat keberadaan Roy. Ingin sekali ia menertawakannya tapi tak berani, hingga satu ide muncul dalam benaknya. Ini saatnya ia balas dendam dengan kejadian soal kemarin.
Adam tertawa saat membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat ia mengerjai temannya itu. Adam mulai dengan aksinya, ia memutar film hot, di mana ada adegan ranjang yang sampai mengeluarkan suara lenguhan-lenguhan yang pasti merinding jika siapa pun yang mendengarnya.
Setelah vidio itu diputar, Roy celingak-celinguk.
"Suaranya dari sana." Roy menatap pada pintu kamar yang di tempati oleh Adam. Pikiran Roy mulai mengira bahwa Adam dan Aileen sedang bercinta. "Dasar tidak punya akhlak!" rutuk Roy.
__ADS_1
Mendengar suara-suara keramat itu membuat otaknya traveling. Dan akhirnya, ia mengetuk pintu kamar istrinya.
"Yang ... Sayang ... Buka dong pintunya." Roy begitu memohon.