
Bumil itu terus mengomel tidak jelas, mungkin hormon dari kehamilannya yang membuatnya sering marah-marah. Terkadang, Andra sering kena omel akibat kesalahan yang dibuatnya meski hanya sedikit saja.
"Aku pulang saja 'lah, gak enak sama karyawanmu." Nindya membereskan piring bekas makannya, lalu meletakkan dipencucian piring yang terletal di ruangan itu. Setelah itu, ia siap-siap untuk segera pulang.
"Ish ... Jangan marah dong." Andra mencegah kepergian istrinya.
"Aku gak marah, cuma gak enak saja. Ini tempat kerja." Nindya tetap kekeh ingin pulang.
"Ya sudah, kita pulang. Ayok?" ajak Andra. Ia pun ikut pulang, ia lebih memilih pulang dan menyuruh Adam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum pulang Andra menghubungi Adam terlebih dulu, ia pamit dan memberitahukan bahwa hari ini ia harus lembur.
Setelah itu, mereka baru pulang.
* * *
Di perjalanan pulang, Nindya terus cemberut. Bahkan ia terus membuang muka, menatap jalan sekitar melalui jendela. Ketika ia melihat sepanjang jalan itu, ia melihat penjual arum manis. Mungkin jika memakan itu akan terasa enak, bahkan ia sudah membayangkan kelezatan makanan manis itu
.
"Stop ...," teriak Nindya.
Supir itu langsung mengerem mendadak karena terkejut.
"Ada apa?" tanya Andra.
"Mas ... Aku mau itu." Tunjuk Nindya ke arah si penjual arum manis.
"Aku kira kenapa, ternyata mau itu. Ya udah, tunggu di sini biar aku yang ke sana." Andra melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu. Baru saja ia akan turun, tiba-tiba terhenti karena Nindya mencegahnya.
"Aku saja, Mas." Nindya langsung turun tanpa mendengar jawaban suaminya.
__ADS_1
Meski begitu, Andra tetap menyusul karena ia sedikit khawatir. Belum ia sampai menyusul, Nindya sudah kembali.
"Gak jadi beli arum manisnya?" tanya Andra.
Nindya tak menjawab, calon ibu itu langsung kembali ke mobil tanpa membawa makanan yang diinginkannya. Tapi Andra membeli arum manis itu terlebih dulu sebelum kembali, ia takut anaknya ileran ketika lahir nanti. Ia juga penasaran, apa yang terjadi pada istrinya?
Andra menghampiri si penjual arum manis, ia membeli arum manis itu.
"Pak, saya mau arum manisnya, 2," ucap Andra. Tapi pikirannya terus pada istrinya, tidak ada yang aneh di sini. Lalu kenapa istrinya itu?
"Ini, Tuan. Arum manisnya." Si penjual itu memberikan arum manis tersebut pada si pembeli.
"Ini uangnya, Pak. Ambil saja kembaliannya." Andra langsung pergi dari sana, cepat-cepat ia menyusul istrinya dan langsung memberikan arum manis itu pada Nindya setibanya di dalam mobil.
"Ini arum manisnya."
"Loh, kenapa?" Bukankah kamu menginginkannya?" Andra merasa aneh pada bumil itu. Tidak ada pilihan lain selain menyingkirkan makanan itu dari hadapan istrinya, ia takut Nindya lebih marah.
"Jalan, Pak," kata Andra pada supirnya.
Mobil pun mulai melaju, tapi Nindya enggan melihat ke arah suaminya. Ia terus menghadap ke arah jendela, da terus nmembelakangi suaminya.
"Sayang, kamu itu kenapa? Masih parah padaku?" Andra menyentuh bahu istrinya, bahkan menariknya agar wanita itu menghadap ke arahnya. Andra terkejut saat melihat wajah istrinya, bahkan matanya sudah menggenang dengan air mata. Bisa dipastikan, jika Nindya mengedip saja air mata itu pasti terjatuh.
Nindya langsung menghamburkan diri ke pelukan suaminya. Bumil itu memeluk sambil menangis, Andra semakin heran. Rasa bersalahnya semakin menjadi karena ia berpikir bahwa istrinya itu marah padanya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu malu." Andra masih mengira kalau istrinya marah soal kejadian di kantor.
Nindya tak menjawab, ia malah menelusupkan wajahnya di dada suaminya. Hingga sampai di rumah, posisinya tidak berubah. Bahkan bumil itu sampai tertidur dalam keadaan mata sembab. Terpaksa, Andra membawa istrinya dengan cara menggendongnya. Ia mulai masuk ke dalam
__ADS_1
Di dalam sana, terlihat Anye sedang menyeruput kopi sambil membaca sebuah buku. Karena melihat anaknya datang, ia menyudahi aktivitasnya. Anye merasa heran, tidak biasanya Andra menggendong istrinya. Apa yang terjadi? Pikirnya.
"Ndra, Nindya tidur?" tanyanya menduga.
"Iya, Mom. Aku ke kamar dulu." Andra melanjutkan perjalanannya. Setelah menidurkan istrinya, Andra kembali menemui ibunya. Ia ingin bertanya, apa semua ibu hamil akan bersikap demikian? Marah tidak jelas, masalah sepele jadi besar.
Andra sudah duduk di samping Anye. Raut wajah Andra membuat ibunya itu penasaran.
"Ada apa? Apa kalian bertengkar?" duga Anya.
"Tidak, aku hanya heran saja. Mom, apa semua wanita hamil sering marah-marah tidak jelas?" tanya Andra.
Anye bisa menyimpulkan, ternyata ini yang membuat wajah Andra nampak murung. Karena Andra terbuka pada Anye, ia pun menceritakan semuanya pada ibunya.Termasuk saat membeli arum manis yang tidak jadi oleh istrinya.
"Menurut Mommy, Nindya marah karena apa?" tanya Andra.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi saat istrimu membeli arum manis?"
"Tidak, Mom. Nindya langsung balik lagi saat aku akan menyusulnya."
"Bicarakan ini baik-baik dengan istrimu, jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Ingat pesan dokter, Nindya tidak boleh stres, apa lagi banyak pikiran."
"Iya, Mom. Aku kembali ke kamar kalau begitu."
* * *
Di kamar, Nindya sudah terbangun. Bahkan ia sedang bercakap melalui ponselnya. Andra pun mendengar pembicaraan istrinya dengan ibunya. Ia juga sedikit terkejut ketika mendengarnya.
Jadi ini alasan Nindya tidak jadi membeli arum manis? Pikir Andra
__ADS_1