
"Pelan-pelan, masih banyak kok. Ini buat kamu semua," kata Rahma. Ia mengira menantunya makan dengan terburu-buru, padahal bukan. Elena terkejut dengan penuturan ibu mertuanya, wanita itu menganggap bahwa ia tengah hamil.
"Bu," protes Roy. "Aku sudah bilang, kalau Elena itu tidak-." Mulut Roy di bekap oleh satu sendok yang berisi makanan, pria itu tak bisa mengeluarkan suara lagi. Dan itu disengaja oleh Elena.
Ia tak ingin ucapan suaminya membuat ibu mertuanya menjadi sedih. Ia tahu kalau mertuanya sangat menginginkan seorang cucu. Dapat diperkirakan dengan sikapnya yang memaksa Roy untuk segera menikah.
Ibu Rahma juga tak memandang siapa yang menjadi menantunya, bahkan ibu Rahma juga tidak tahu dan tidak kenal akan keluarganya sebelumnya. Ia beruntung mendapatkan mertua sebaik Rahma. Kasih sayangnya begitu tulus padanya.
Wanita itu sampai repot-repot datang kemari hanya untuk memberikan makanan kesukaannya. Elena terharu akan hal itu, apa lagi ia merindukan sosok seorang ibu dalam hidupnya.
Elena menatap tajam suaminya. Roy masih mengunyah makanan itu dalam mulutnya. Ia juga tahu tatapan tajam itu. Kenapa pria itu tak bisa menyaring kata-katanya?
"Enak gak?" tanya Elena setelah memberi suapan pada Roy.
"Enak." Jawab Roy dalam keadaan mulutnya penuh makanan.
"Ah ... Kalian romantis sekali," ucap Rahma yang ia kira mereka sering suap-suapan. "Ibu seneng kalian akur begini."
* * *
Beberapa jam kemudian, Rahma pamit karena hari sudah mulai petang.
"El, Ibu pulang dulu ya? Jaga kesehatanmu," pesan Rahma.
"Dia itu seorang Dokter, Bu. Dia pasti bisa jaga kesehatan," celetuk Roy.
"Dokter juga manusia biasa, Roy. Bukan Tuhan!" Rahma mendelikkan matanya, kenapa anaknya tak sehangat Elena? Ceplas-ceplos dalam bicara. Rahma tidak tahu saja, bahwa mereka sering bertengkar karena masalah sepele. "Sudahlah, Ibu pulang dulu."
__ADS_1
Rahma pun pulang dari sana bersama supirnya. Elena melambaikan tangan ke arah ibu mertuanya sambil tersenyum manis. Setelah ibu Rahma benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi dalam pandangan mereka, Roy mulai bersuara.
"Kamu bohong pada Ibu!"
"Bohong apa?"
"Pura-pura hamil, kenapa tidak jujur kalau sebebarnya kamu itu tidak hamil? Kamu itu memberi harapan palsu pada Ibuku."
"Kapan aku mengaku hamil, hah? Aku akan bilang yang sebenarnya, tapi nanti nunggu waktu yang benar-benar pas." Setelah mengatakan itu Elena pun masuk kembali ke dalam.
"Oh iya, mana baju gantiku? Katanya itu urusan gampang, aku gerah mau mandi."
"Tenang saja, akan aku siapkan."
Roy menghubungi anak buahnya menyuruhnya untuk membawakan beberapa baju untuknya juga istrinya. Hanya butuh beberapa menit untuk anak buahnya itu sampai dikediamannya.
Dan benar saja, bel rumahnya terdengar. Elena sampai tak percaya bahwa suaminya memang bisa diandalkan.
"Ini, Tuan. Pesanannya."
Dan Elena mengambilnya.
"Terima kasih," ucap Elena. Anak buah Roy hanya membungkukkan tubuhnya.
Elena pun segera memasuki kamar yang terletak di lantai atas, setibanya di sana ia melihat kolam renang yang nampak indah di pandang mata. Elena merasa takjub melihatnya dari arah jendela kamar. Saat itu juga terlintas dalam benaknya, mungkin jika ia berenang rasa gerah itu pasti hilang.
Tidak berpikir lama lagi, ia kembali turun. Ia akan menceburkan diri di kolam renang itu. Sebelum ke area kolam renang, ia menemui bi Asih yang berada di dapur. Ia meminta dibuatkan cemilan untuk disantapnya setelah berenang nanti.
__ADS_1
"Bi, nanti makanannya antar ke kolam renang saja, ya? Oh iya, Bi. Suamiku ke mana?"
"Gak lihat, Nya. Tapi tadi Bibi sempat melihatnya keluar."
"Oh ya sudah, aku ke kolam dulu, Bi." Elena merasa tenang jika suaminya tidak ada, setidaknya ia merasa bebas ketika berenang nanti.
* * *
"Segar ..." Kata Roy sambil mengusap wajahnya. Ia tengah berenang sendirian. Tak lama dari situ, ia melihat Elena datang. Wanita itu melucuti pakaiannya sendiri di tepi kolam. Mata Roy sampai tak berkedip ketika melihatnya.
Satu persatu baju itu terlepas dari tubuh Elena, kini hanya menyisakan pakaian dalamnya. Karena wanita itu tak membawa baju renang, ia pun hanya memakai alat renang seadanya. Segitiga berwarna merah itu berpadu dengan cangkang gunung yang dikenakannya.
Pikiran Roy langsung berkelana, apa lagi dengan segitiga yang dikenakan istrinya. Segitiga yang pernah ia temukan tempo lalu di kamar istrinya waktu itu.
Jebur ... Elena langsung menceburkan diri pada kolam renang itu, tanpa ia ketahui bahwa ternyata Roy berada di sana. Ia duduk di serbrang tepi kolam. Karena jiwa hasratnya meronta saat melihat keadaan istrinya, Roy pun akhirnya kembali turun pada kolam itu.
Keduanya menuju ke tengah kolam, dan ... mereka sama-sama terhenti di tengah kolam itu, apa lagi Elena melihat sesuatu menghampirinya. Melihat dari dalam kolam sana.
Deg, jantung Elena berdebar lebih cepat dari biasanya. Kini keduanya tengah berdiri, melihat ke arah satu sama lain. Elena langsung menutup arah dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Ka-kamu, kamu ngapain di sini, hah? Sengaja mengikutiku?" tuduh Elena.
Gadis itu terus mengomel tak jelas, hingga Roy merasa kesal dengan ocehannya dan menuduhnya yang tidak-tidak. Seketika, Roy membekap mulut Elena dengan mulutnya. Mata gadis itu membulat tak percaya.
...----------------...
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Elena akan marah? Atau malah merasa ....????
__ADS_1
Aku hadir gaes, maaf telat up hari ini. Tumben-tumbenan aku masuk kerja hari ini, biasanya tuh sabtu libur, jadi sekarang baru bisa up. Semalam ketiduran gaes biasa ngetik 2 bab ini jadi 1 bab.
Selamat membaca, kita bahas Elena dan Roy dulu ya biar gak ngegantung. Nanti kembali ke cerita Andra dan Nindya.