
Nana ikut bermain bersama para bocil, ia tak tega saat akan menolaknya. Mau tak mau, ia ikut bergabung. Tak lupa, Nana mengajak Nindya untuk ikut bermain. Mengulang di mana masa ia masih kanak-kanak dengan temannya itu.
Jika mereka tengah bahagia, tapi tidak dengan Adam. Pria itu tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Andra tengah mengucapkan nama Aileen dalam percakapan melalui sambungan teleponnya. Tak ada yang bisa ia pikirkan selain istrinya . Tubuh Adam merosot, kedua kaki seakan tak bisa menopang beban tubuhnya.
Ia bersandar di dinding untuk mengimbangkan tubuhnya agar masih bisa berdiri dengan baik. Mendengar suara dari arah belakang membuat Andra menoleh, ia terkejut. Tadinya ia ingin menutupi soal ini hingga beberapa waktu, ia juga harus memikirkan nasib Nana.
Bukan niat menutupi selamanya, ia hanya ingin menunggu waktu yang tepat. Tapi sepertinya ia tak bisa menutupinya lagi. Andra pun mendekat ke arah Adam, ia celingak-celinguk lebih dulu lalu mengajak Adam ke ruang kerjanya.
* * *
"Aileen sudah ditemukan, tapi kondisinya sangat mengkhawatirkan," jelas Andra.
Beberapa saat, Adam terdiam. Andra bisa membayangkan bagaimana pikiran Adam sekarang, pasti ini sangat rumit baginya. Setelah ia menikah, mengapa Aileen baru ditemukan.
"Di mana Aileen sekarang? Aku ingin bertemu dengannya," kata Adam.
"Dia berada di luar kota, terlalu jauh untuk dijangkau sekarang. Kamu juga harus pikirkan Nana."
"Argghh ... Mengapa harus seperti ini?" Adam bukan tak suka saat Aileen ditemukan, tapi kenapa ini harus terjadi? "Aku harus bagaimana?"
"Dia masih istrimu, sudah seharusnya kamu menjemputnya," titah Andra.
"Lalu bagaimana dengan Nana?"
"Itu resiko sebagai istri kedua, aku harap, Nana bisa menerima posisinya. Dari dulu dia tahu kalau kamu punya istri."
Adam menjambak rambutnya frustrasi.
"Besok aku akan mengantarmu untuk menemui Aileen, sebaiknya kamu jangan beritahu dulu soal ini pada Nana. Tunggu waktu yang pas, lagi pula, Aileen kehilangan ingatannya."
"Kenapa bisa seperti itu? Apa dia mengalami kecalakaan?" tanya Adam.
"Kurang tahu, Zack tidak menjelaskan soal itu. Dia hanya bilang, bahwa dia bertemu dengan Aileen dengan tidak sengaja."
Adam tengah gamang, ia senang istrinya ditemukan. Tapi ia juga tidak ingin Nana pergi dari hidupnya, boleh 'kah dirinya egois dan ingin memiliki keduanya?
__ADS_1
"Pa, Papa ..." Suara itu terdengar dari luar ruangan, Adam yang mengenali suara itu langsung beranjak dari tempatnya. Ia menarik napas untuk menetralkan dadanya yang terasa sesak. Ia belum siap dan tak ingin membuat Nana terluka, bagaimana pun, istri keduanya itu pasti ikut merasakan gelisah akan rumah tangga yang baru saja dijalaninya.
"Temui saja mereka, tunggu waktu yang pas untuk mengatakan ini pada Nana," usul Andra.
Adam mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu untuk menemui putranya yang tengah mencarinya. Dan pandangannya menjumpai Akhsa yang tengah bersama Nana.
"Papa, kita pulang sekarang," ajak Akhsa.
"Masih ada urusan sama tuan Andra?" tanya Nana, "kalau masih ada, aku bisa menunggu sampai urusanmu selesai."
"Tidak, semuanya dilanjut besok di kantor."
"Ya sudah, kita pulang sekarang," ajak Nana, "Nindya, aku pulang sekarang," pamitnya pada si pemilik rumah.
"Tidak ikut makan malam dulu di sini, sebentar lagi siap," tawarnya.
"Tidak, terima kasih. Akhsa sudah mau pulang," jawabnya.
"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan."
* * *
"Mas, kamu dengar perkataan Akhsa? Baru saja sehari sama Nindya, Akhsa sudah terpengaruh oleh wanita itu." Tapi Adam tak mendengar apa yang dikatakan Nana, ia terlalu fokus dengan kendaraannya. Apa lagi dengan pikirannya mengenai Aileen.
"Mas ... Kamu denger aku gak sih?" tanya Nana.
"Ah iya, sayang? Kamu bilang apa tadi?" tanya Adam
"Kamu kenapa sih? Aku perhatiin diam terus dari tadi?"
"Maaf, aku sedang fokus," jawab Adam, "bilang apa tadi?" tanyanya ulang.
"Akhsa minta adik," jawab Nana.
Lalu Adam menoleh ke arah Akhsa. "Sabar ya, nanti juga kamu punya adik. sekarang sabar aja dulu ya? Fokus belajar dulu, buat Papa bangga."
__ADS_1
"Iya, Papa Aku mau adiknya ada 2, seperti Nathan dan Nala." Ucapnya antusias sambil memperlihatkan kedua jarinya.
Dan, sampailah mereka di rumah. Adam tak lagi tinggal di apartemen, kini ia sudah punya rumah besar hasil kerja kerasnya selama ini. Tentu, ia lalui itu bersama Nana. Karena Nana 'lah ia bisa fokus bekerja tanpa harus repot mengurus Akhsa.
Malam pun tiba.
Nana tengah membacakan dongeng untuk Akhsa sebelum tidur. Dan itu tak luput dari pandangan Adam, ia bersyukur memiliki istri seperti Nana. Wanita itu sangat tulus menjaga Akhsa. Setelah Aileen kembali, ia tidak tahu apa malam seperti ini akan tetap begini? Apa mungkin Nana masih berada di sisinya setelah istri pertamanya kembali?
Adam masih setia pada tempatnya. Karena melamun, ia sampai tak menyadari kalau istrinya sudah selesai membacakan dongeng, dan Akhsa pun sudah tertidur dengan lelap.
"Mas, kamu ngapain di sini?" Pertanyaan Nana membuat Adam terkesiap dari lamunannya. Ia pun menoleh ke arah Nana. Ia terlalu takut akan kehilangan wanita itu cintanya memang benar-benar sudah tumbuh sejak satu tahun lalu. Dan kini cintanya semakin merekah setelah Nana menjadi istrinya.
Adam menarik tubuh Nana, mendekapnya dengan erat. Nana yang merasa bingung pun berpikir, ada apa dengan suaminya? Sejak pulang dari rumah Andra, pria itu tak banyak kata, melainkan sikapnya yang begitu posesiv kepada istrinya, seakan tidak ingin jauh darinya.
"Kamu baik-baik saja 'kan, Mas?" tanya Nana.
"Iya, sangat baik. Kita tidur yuk? Akhsa sudah tidur 'kan?"
"Sudah, kalau diceritain dongeng pasti tidurnya cepet."
Adam pun mengajak Nana ke kamar dan mengajak segera tidur. Nana memeluk tubuh suaminya dari samping, sesekali Adam mencium keningnya. Padahal hatinya sangat gelisah tengah menanti hari esok. Siap atau tidak siap, ia harus menemui istrinya yang sudah terpisah selama 5 tahun lebih.
Adam tak dapat tidur malam ini, Nana yang menyadarinya langsung bertanya. "Kamu kenapa belum tidur, Mas? Ini sudah malam loh, besok 'kan kerja nanti ngantuk."
Adam tak menjawab, ia malah semakin memeluk Nana dengan erat. Dan mereka tidur dalam berpelukkan, mencoba memejamkan mata tetap tak bisa bayang wajah Aileen sedari tadi muncul dalam benaknya. Larut dalam bayangan, akhirnya ia tidur dengan sendirinya.
* * *
"Sakit ....," keluh Aileen saat merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepala, tengah malam ia menjerit kesakitan. Zack yang mendengar langsung menemuinya, wanita itu tengah memegang kepala dan terus mengaduh.
"Bagaimana ini? Aku harus membawanya ke kota sekarang juga." Zack membangunkan anaknya lebih dulu.
"Ada apa, Daddy? Aku masih ngantuk," ucap Marsya. Gadis kecil itu mengucek kedua mata agar bisa terbangun dengan sempurna.
"Kita kembali ke kota sekarang, Sya. Kasian Aunty kesakitan," ujarnya.
__ADS_1
"Iya, Dad." Marsya pun siap-siap pergi ke kota malam ini juga dan lalu membantu sang daddy membukakan pintu mobil karena Zack menggendong Aileen.