
Ayunindya terdiam ketika ia melihat tuannya yang sedang mengobati lukanya, ada perasaan hangat yang menjalar di tubuhnya. Pria itu begitu menunjukkan kepeduliannya, hingga ia sadar akan satu hal.
"Sadar, Nindya! Ini bukan cinta, melainkan bentuk rasa kasihannya padamu. Lelaki ini yang sudah merenggut mahkotamu." Nindya tersadar dari lamunannya. Apa kata Loly itu benar, upik abu tidak akan pernah jadi ratu.
Dengan segera, Nindya menarik lengannya.
"Ini sudah tidak apa-apa." Ujarnya setelah berhasil melepaskan tangannya dari genggaman sang tuan.
"Apa saya tidak boleh mengobati lukamu sampai luka itu sembuh?"
"Tapi ini sudah tidak apa-apa."
"Kalau begitu, obati lukaku."
Hening ... Suasana mendadak seperti tak ada kehidupan di kamar itu. Nindya pun tidak tahu harus berbuat apa.
"Tuan pergilah, aku tidak ingin ada yang tahu Tuan ada di sini." Nindya mengusir sang majikan dari rumahnya sendiri.
"Ini rumah orang tuaku, kau tak berhak mengusirku. Bukankah kau sudah berjanji akan mengobati lukaku sampai lebam ini hilang?"
Nindya tidak sadar akan ucapannya tadi, bukankah luka lebam akan membutuhkan waktu yang cukup lama hingga tak menyisakan warna?
"Kenapa diam? Ayok lakukan? Bukankah aku tidak boleh mengobati lukamu, jadi kau saja yang melakukan itu padaku."
Andra memberikan kain pada Nindya untuk segera mengompres lebam di bagian pundak dan punggung. Dan akhirnya, terpaksa Nindya melakukan itu. Cukup lama mereka berada di ruangan yang sama.
"Tuan, ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya Anda pulang dan melanjutkannya di rumah? Anda bisa meminta Nona Aileen untuk melakukan ini."
Andra membalikkan tubuhnya, ia tak suka Nindya menyebut nama Aileen. Gadis yang sudah menipunya mentah-mentah.
"Kau tidak akan pernah tahu tentang apa yang saya rasakan, Nindya."
"Maksud, Tuan?" Nindya tak mengerti karena ia tak tahu apa yang terjadi pada tuannya.
Ada yang mengganjal dalam hatinya, di mana ia tak bisa mengatakannya pada Nindya. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia kecewa pada Aileen yang tak lagi suci. Dan ia malah mendapatkan semuanya dari dirinya, Nindya yang sudah memberikan mahkotanya. Jadi seharusnya ia yang lebih berhak atas dirinya.
"Izinkan saya tanggung jawab atas apa yang saya lakukan."
"Kenapa Anda keras kepala sekali, aku sudah katakan sejak awal. Tuan tidak perlu tanggung jawab, apa Anda tidak kasihan pada istri Anda? Jika Tuan menikahiku, berarti Tuan sudah mengkhianati pernikahan Tuan sendiri."
__ADS_1
"Kau tidak tahu betapa berdosanya aku, Nindya," batin Andra. "Maafkan aku jika aku harus berbuat nekad dengan segala perbuatanku." batinnya lagi.
"Apa kau tahu, Nindya. Ada perasaanku yang sejak lama tumbuh, niat menikahi Aileen adalah untuk melupakanmu. Tapi malam itu terjadi dan saya harus mempertanggungjawabkannya. Jangan membuatku jadi pria yang berdosa dengan ini."
"Ta-tapi ... Banyak hal yang membuatku tak bisa menerimanya, Anda sudah menikah."
Andra membalikkan tubuhnya, ia menatap wajah cantik Nindya. Dan gadis itu hanya tertunduk tak berani menatap majikannya. Andra mengangkat dagu gadis itu.
"Apa kau tidak memiliki perasaan padaku?"
Nindya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Jangan bohong, kalau tidak memiliki perasaan padaku kenapa kau tidak menolakku waktu itu, hah? Kau membalas ciuman dan perlakuanku bukan?"
Meski mabuk, Andra sedikit mengingat kejadian itu walau hanya sepintas.
"Aku hanya khilaf, dan aku sudah melupakan itu. Jadi ku mohon jangan mengungkit masalah itu lagi, Tuan."
"Tidak, Nindya. Saya tidak akan membiarkan ini, jika kau hamil bagamana?"
Mendengar itu, Nindya menatap wajah majikannya. Tatapan itu terjadi kembali. Andra mendekatkan wajahnya hingga menyisakan beberapa sentimeter. Nyaris bibir mereka bersentuhan jika Nindya tak memalingkan wajahnya.
"Maaf, Nindya. Saya tak bermaksud kurang ajar." Andra menarik tubuhnya sedikit menjauh dari gadis itu, ia melirik jam di tangan waktu memang sudah semakin larut. Andra putuskan untuk pulang.
Andra keluar melalui jendela, ia seperti maling berjalan mengendap-ngendap.
Nindya bernapas lega, tapi bagaimana caranya untuk menghidar? Sedangkan pria itu bilang akan kembali besok malam.
"Bagaimana ini? Kalau Tuan Andra setiap hari datang kemari, lama-lama orang rumah akan tahu. Ah iya, aku akan minta izin mempercepat kepulanganku ke kampung." Tak ingin banyak pikiran, ia segera tidur malam ini.
* * *
Malam semakin larut.
Aileen sejak tadi menunggu suaminya pulang, sejak tadi ia terus menghubungi nomor suaminya. Tapi tidak aktif, bahkan ia sudah menanyakan pada ibu mertuanya apa suaminya berada di sana? Dan jawaban yang ia harapkan tak sesuai keinginan.
"Kamu itu kemana?" Aileen mondar-mondir di ruang tamu. Tak lama dari situ, ia mendengar suara mobil masuk ke pekalangan rumah.
Klek, pintu utama terbuka dari arah luar. Dan Aileen segera menghampiri.
__ADS_1
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Aileen setibanya di hadapan Andra.
"Ada urusan di luar." Jawab Andra sembari terus berjalan menuju kamar, dan Aileen terus mengikuti.
* * *
Setibanya di kamar, Andra mengistirahatkan tubuhnya. Pukulan Nindya cukup membuatnya sakit.
"Dasar bar-bar," gumam Andra.
"Bar-bar, maksudmu?" Aileen mendengar ucapan suaminya.
"Kau salah dengar, ini sudah malam tidur 'lah."
Bukannya tidur, Aileen malah menggerayangi tubuhnya.
"Tidurlah, Aileen."
"Kenapa? Apa kamu masih belum bisa menerimaku? Aku ini istrimu, aku berhak mendapatkannya." Aileen semakin memberikan sentuhan di dada bidang itu dengan agresif.
"Kenapa selalu menuntutku untuk melakukan itu? Padahal kau sudah tahu jawabannya, aku tak menerima barang bekas! Mungkin jika aku tahu dari awal aku tak akan menerima perjodohan ini."
Andra tak peduli dengan Aileen, ia malah menelusupkan tubuhnya di balik selimut.
"Lihat saja, kamu akan bertekuk lutut mengingkanku, Andra!" batinnya kemudian.
Ada perasaan yang tak bisa tertuntaskan malam ini, Aileen wanita yang tak bisa menahan diri jika menginginkan pergelutan di atas ranjang. Ia pun beranjak dari tempatnya, ia pergi ke ruang tamu untuk menghubungi seseorang.
"Suamiku tak mau menyentuhku," ucap Aileen pada sambungan ponselnya. "Dan aku menginginkannya." Dengan suara paraunya ia berucap. Aileen tife wanita yang bisa dibilang gila se*s.
"Aku yang akan memuaskanmu, datanglah le tempatku. Dengan senang hati aku menyambut kehadiranmu, sayang."
Hubungan Aileen yang masih terjalin dengan Adam membuatnya bisa mendapatkan sentuhan darinya. Adam sendiri belum bisa melupakan Aileen sebagai kekasihnya, pria itu malah berharap Andra tak menyentuhnya.
Tanpa sepengetahuan Andra, Aileen pergi menemui kekasihnya yang berada di apartemen yang tak jauh dari kediamannya.
"Tanpamu juga aku masih bisa mendapatkan sentuhan itu, Andra. Untukmu, aku akan cari cara agar kamu bisa menyentuhku." Mumpung masih banyak waktu hingga menjelang pagi, ia buru-buru saja menemui kekasihnya itu.
...----------------...
__ADS_1
Mampir juga di karya othor ini ya, terima kasih.