Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 96


__ADS_3

Roy melihat ke arah belakang pria botak itu, ada seorang wanita cantik di sana. Dengan sebuah benda yang ia pegang masih terarah pada anak buah Morano yang sudah terkapar di bawah tanah sana.


Ya, wanita cantik itu adalah Elena. Istri dari seorang mantan mafia yang kini sudah insaf. Elena tahu kepergian suaminya tadi, ia merasa khawatir karena suaminya pergi tanpa berpamitan terlebih dulu padanya.


"El, mau kemana?" tanya Rahma saat Elena terbangung karena ia mendengar suara mobil yang keluar dari garasi.


"Aku mau memastikan siapa yang keluar, Bu. Kalau itu suamiku aku harus mengikutinya," tutur Elena. Dengan segera ia beranjak dari tempatnya, dan benar saja mobil Roy tidak ada di dalam garasi rumahnya. Sebelum itu, ia pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu yang dimiliki oleh Roy.


Elena mencoba mengikuti mobil suaminya, hampir saja ia ketinggalan jejak. Untung, mobil Roy berhenti saat lampu merah. Akhirnya ia bisa mengejar suaminya yang kini sudah ada di rumah sakit.


Dooorrr ...


Elena berhasil melumpuhkan pria botak dengan benda yang ia bawa, tepat pada kaki pria itu sehingga dirinya melepaskan senjat* yang dipegangnya.


Roy tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang, bagaimana bisa istrinya itu berada di sini? Wanita itu juga sangat berani saat melakukannya. Roy langsung turun dan menghampiri istrinya.


"Cepat ke mobil," suruh Roy pada Adam saat ia melewatinya. Roy meraih tubuh Elena yang gemetar, ia sendiri tak menyangka dengan apa yang dilakukannya.


"Roy, apa dia sudah mati?" tanya Elena dengan tatapan yang masih terarah pada pria botak itu. Pria botak itu mengaduh karena kakinya terasa sakit.


Pria botak mencoba menggerakkan tubuhnya, ia mencari benda yang terjatuh saat ia pegang tadi.


"Apa yang dia cari, Roy? P I S T O L?" tanya Elena.


Pandangan Roy pun teralih pada pria botak itu, karena keadaan sedikit gelap, ia sedikit kesusahan saat mencari barang itu. Dengan sigap, Roy menarik tangan Elena. Ia tidak ingin ada pertumpahan darah lagi, dan ia juga tidak ingin gerombolan pria botak itu datang.


.


.


.


* * *


"Roy, apa aku membunuhnya?" tanya Elena saat sudah ada di dalam mobil.


"Tidak, sayang. Kamu tidak membunuhnya, apa yang kamu lakukan itu sudah benar," tutur Roy yang sedikit menenangkan istrinya. Lalu, Roy teringat pada Adam. Ia langsung menoleh ke kursi belakang.


"Apa yang kamu bawa, Dam?" Sebuah bungkusan yang masih belum jelas ia ketahui. Karena penasaran, Elena pun ikut menoleh. Ia mengenali apa yang dibawa oleh Adam.


"Itu bayi? Kamu bawa bayi siapa? Apa kamu menculiknya sampai ada orang yang berniat jahat padamu?" tanya Elena beruntun.

__ADS_1


"Ini bayiku, dia anakku!" jawab tegas Adam.


Roy dan Elena terkejut saat mendengarnya, belum percakapan mereka berlanjut. Sebuah suara terdengar begitu nyaring.


D O R ....


Hampir saja, tembakan itu mengenai mobil Roy.


"Roy, cepat! Kita harus segera pergi dari sini sebelum terlambat, anakku butuh penanganan khusus karena lahir prematur," kata Adam.


Terjawab rasa penasaran Roy dan Elena, ternyata Aileen sudah melahirkan.


"Cepat! Nanti aku jelaskan kronologinya," kata Adam lagi.


Roy segera menancap gas kendaraannya, ia segera pergi dari sana.


"Roy, kita ke rumah Om Bagas," pinta Elena. Di sana tersedia alat medis yang dimiliki oleh Elena, ia berharap alat medisnya bisa menolong anak yang dibawa oleh Adam.


* * *


Sesampainya di rumah om Bagas.


Dengan tubuh yang masih gemetar, Elena mencoba memasang alat medisnya. Di sana juga tersedia inkubator, Adam langsung meletakkan bayinya di sana.


"Ada apa ini, El?" tanya Bagas, "kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja, di sana peralatannya lebih lengkap," sambungnya.


"Di rumah sakit tidak aman, Om," timpal Roy.


"Eh, bukannya dia yang menikah tadi malam di rumahmu 'kan?" tanya Ingga saat menyadari keberadaan Adam di sana, "apa yang terjadi? Apa itu anak yang di kandung istrimu?" tanya Ingga lagi.


"Iya, Tante. Ceritanya panjang, terpaksa aku membawa anakku keluar dari rumah sakit," lirih Adam dengan raut yang tak bisa diprediksi oleh mereka. Adam masih teringat akan istrinya di sana.


"Lalu mana istrimu?" tanya Bagas.


"Di rumah sakit." Adam mulai menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.


Dan Elena, dengan cekatan ia menangani bayi itu. Sang bayi sudah aman karena sudah berada pada tempatnya. Adam bernapas lega karena bayinya tidak apa-apa.


Bagas, dan istrinya merasa kasihan dengan apa yang dialami pengantin baru itu. Seharusnya malam ini malam yang paling bahagia untuk mereka.


"Bagaimana kalau mereka mencarinya sampai ke sini?" tanya Ingga. Ia takut akan hal itu terjadi, ia dan suaminya malah terlibat dengan permusuhan antar menantu dan mertua itu.

__ADS_1


"Sepertinya itu tidak akan terjadi, mereka hanya ingin memisahkanku dengan Aileen," jawab Adam.


"Lalu bagaimana dengan istrimu?" tanya Elena.


Itu yang menjadi pikiran Adam sekarang, Morano pasti menjaga ketat rumah sakit itu. Terlebih, Elena juga sepertinya sudah tidak bisa menolongnya karena anak buah Morano kini tahu bahwa dokter yang menangangi Aileen masih ada hubungannya dengannya.


"Kamu 'kan dokter, El. Tante rasa kamu bisa menolong Adam dan membawa Aileen keluar dari rumah sakit itu," kata Ingga. Mungkin usulnya memindahkan Aileen dari rumah sakit itu ke rumah sakit lain.


"Tidak, aku tidak mengizinkan Elena terlibat dengan masalah ini," terang Roy, "aku tidak mau mengambil resiko, ini terlalu bahaya. Apa lagi Elena sedang hamil," Roy menegaskan.


"Iya, ini terlalu bahaya. Aku juga gak mau merepotkan kalian, dan sepertinya keberadaanku di sini akan dicari oleh mereka. Aku akan pergi setelah anakku baik-baik saja, urusan Aileen nanti saja." Adam yakin kalau istrinya akan baik-baik saja bersama orang tuanya, Morano tidak akan mencelakai putrinya sendiri. Adam yakin itu.


.


.


.


* * *


Di rumah sakit.


Morano nampak marah setelah melihat keadaan putrinya, apa lagi ia belum bisa menjenguk putrinya. Dokter melarangnya masuk, sehingga Morano hanya bisa melihat Aileen dari jendela yang menjadi pembatas mereka.


Tak lama, orang suruhannya datang. Tapi bukan pria botak tadi. Pria botak tadi tengah ditangani oleh dokter karena luka di kakinya.


"Maaf, Tuan. Dia berhasil kabur dan membawa bayi Nona Aileen," terang anak buahnya.


"Kurang ajar!" Morano mengepalkan tangan.


"Kami akan mencari keberadaannya," terang pria itu.


"Tidak usah, saya tidak peduli dengan bayi itu. Yang saya pedulikan hanya putri saya," terang Morano. Bila perlu ia akan membawa Aileen pergi dan meninggalkan Indonesia.


Ketidaksukaannya pada Adam semakin menjadi saat ia tahu bahwa putrinya sudah menikah dengan pria miskin itu. Morano tidak akan membiarkan anaknya bersatu dengannya.


"Siapkan keberangkatanku," suruh Morano pada anak buahnya.


Anak buah Morano bergegas menemui dokter untuk mempersiapkan alat yang akan dikenakan Aileen dalam pesawat nanti.


...----------------...

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga dilancarkan puasa pertama dihari ini ya para readers 🥰🥰🥰


__ADS_2