Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 167 Tidak Salah Lagi


__ADS_3

Keduanya sibuk dengan pemikiran pasing-masing, hingga akhirnya Aileen lebih dulu bersuara.


"Apa kamu tidak berniat mencari mantan istrimu?" tanya Aileen yang kedua kalinya.


Doni terdiam sesaat, ia takut kalau Hanum sudah menikah dan malah menorehkan luka di hatinya. Rasa cinta yang dimilikinya masih begitu besar kepada Hanum. Satu minggu yang lalu, ia baru saja melepas kedua istrinya. Tak berani membantah apa kata orang tuannya hingga ia menceraikan istri-istrinya setelah ayahnya meninggal.


"Aku akan membantumu jika kamu mau. Kamu tahu anakku 'kan? Dia bisa membantumu mencari mantan istrimu itu."


"Apa tidak merepotkan putramu?"


"Tidak, dia pasti senang bisa membantumu. Aku akan menghubunginya dan menyuruhnya datang kemari."


* * *


Di ruang OB.


Semua OB sedang beristirahat, termasuk Dewi. Gadis itu tengah makan siang, dengan bekal yang ia bawa dari rumah. Dewi sendirian, ia tak ikut bergabung dengan para OB yang lain.


Hanya bekal seadanya, ia harus menghemat. Bahkan kartu yang diberikan Nindya sama sekali belum pernah ia gunakan. Makan pun selesai, Dewi kembali bekerja meski jam istirahat masih berlangsung. Para staff membutuhkan jasanya. Ia diminta untuk membelikan makanan untuk mereka. Dengan senang hati Dewi melakukan itu, karena ada uang tip yang ia dapatkan dari mereka.


"Wi, aku pesan makanan seperti kemarin ya? Aku ketagihan sama makanan itu," pinta staff seorang wanita.


"Iya, Kak," jawab Dewi, ia mencatat semua pesanan agar tidak lupa. Selesai itu, ia pun segera keluar dari ruangan pegawai. Saat ia berjalan, sekretaris pak Doni menyapanya.


"Kemana, Wi?" tanyanya.


"Biasa, Pak. Ada job," jawab Dewi ramah.


"Mau keluar?"


"Iya."


"Wah, kebetulan. Saya nitip saja, tolong belikan makanan untuk pak Doni dan tamunya."


"Boleh saja, tapi gak bisa buru-buru. Soalnya pesanannya lumayan banyak, Pak."


"Iya, tidak apa-apa." Orang itu memberikan uang kepada Dewi.


Gadis itu mengambilnya, setelah itu ia langsung pergi membeli makanan. Karena pak direktur menitip makanan kepadanya sehingga Dewi harus buru-buru karena takut kelamaan. Ia pun meminjam sepeda pak security.


"Pak? Saya pinjam sepedanya ya? Bolehkan?" izin Dewi.

__ADS_1


"Boleh, Neng. Pakai saja."


Setelah mendapatkan izin ia segera melajukan sepedanya. Hampir setengah jam ia keluar kantor. Kebetulan di tempat makanan yang ia beli lumayan antri sampai ia kembali sedikit terlambat. Bawaannya cukup banyak. Pak security ikut membantunya.


"Banyak amat, Neng," kata security.


"Iya, Pak. Pak direk juga nitip," jawabnya.


"Wah, harus cepat-cepat, Neng. Ini sudah lewat jam makan siang loh."


Saat kerepotan, tiba-tiba ada yang membantunya. Mengambil beberapa kantong kresek yang tengah ia pegang.


"Kak Akhsa? Ngapain di sini? Biar aku saja yang bawa."


"Kamu terlalu repot bila ini semua yang kamu bawa, tanganmu cuma dua. Biar aku bantu."


"Tapi ..."


"Ayo cepat masuk!"


"Tapi Kakak tidak perlu repot-repot membawakan ini ke dalam. Apa Kakak ada urusan di sini?"


"Baru dua hari."


"Aku jadi tidak tega sama kamu, Wi. Berhenti saja ya jadi OB. Kamu bisa bekerja di tempatku kalau kamu mau."


Obrolan mereka terhenti karena tempat yang dituju sudah di depan mata. Dewi mengambii kantong kresek yang ada di tangan Akhsa, lalu ia segera masuk ke ruangan direktur.


"Hai, Ma?" Akhsa cipika-cipiki kepada sang mama. Sementara Dewi, gadis itu menyiapkan makanan. Ruangan yang cukup lengkap sehingga ia tak harus ke dapur kantor terlebih dulu.


Pandangan Doni terus terarah kepada Dewi, sampai Akhsa menyadari akan hal itu. Akhsa menatapnya tidak suka. Pandangan itu berbeda, seperti ada sesuatu hingga ia merasa khawatir akan gadis itu. Ia tahu bahwa Doni memiliki istri lebih dari satu, meski kini sudah bercerai.


Yang ia tahu, mamanya tengah dekat dengan pria itu. Tak rela jika sang mama terluka oleh lelaki bajin*an itu, apa lagi Doni terus memperhatikan Dewi. Hingga kesalahpahaman sepertinya terjadi. Seorang bajin*an tetap saja akan seperti itu, pikirnya.


"Ehem." Akhsa mengalihkan pandangan Doni dari Dewi, hingga pria paruh baya itu terkesiap. Tersadar akan adanya Akhsa di ruangannya.


"Eh, Sa. Sudah lama?" tanya Doni.


"Ya, sejak Om memperhatikannya." Jawab Akhsa sambil melirik ke arah Dewi. Gadis itu terlalu fokus sampai tak menyadari bahwa ia yang menjadi topik utama.


"Silakan, Pak. Maaf, saya terlambat." Ucap Dewi sambil meletakkan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Sini." Akhsa meraih tangan Dewi. Ia mengenalkan Dewi kepada ibunya. "Ma, kenalin. Ini Dewi yang pernah aku ceritakan waktu itu." Kata Akhsa sambil menyentuh kedua bahu Dewi.


"Jadi, kalian sudah saling kenal?" Aileen tak begitu mengingat akan cerita Akhsa dulu, di mana ia menceritakan tentang Dewi yang tinggal bersama mertua dari mantan suaminya. Andai, Aileen bisa lebih fokus akan gadis itu. Mungkin ia bisa membantu siapa gadis itu kepada Doni. Kisah orang tua Dewi sama persis dengan kisah percintaan Doni dengan Hanum.


"Saya, Dewi, Tante," kenalnya pada Aileen.


"Sebentar, Dewi .... Dewi yang tinggal sama ..." Ah sepertinya tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Itu menjadinya teringat akan masalalu kelamnya bersama Andra. 'Rahayu, Halim' ingat dengan ucapan Doni bahwa gadis ini adalah Dewi yang diceritakan Akhsa dulu.


Kisah yang begitu memilukan akan orang tuanya, Lahir tanpa ayah membuatnya merasa kasihan. Apa lagi ia juga ingat di mana Doni pergi meninggalkan istrinya dulu. Aileen terus memutar otak, hingga kepastian bahwa Dewi ...


Lebih ingin meyakinkan, Aileen tanpa basa-basi menanyakan akan asal usul Dewi saat itu juga.


"Kamu anak angkat Rahayu dan Halim?" tanya Aileen.


Dewi tak langsung menjawab, kata 'anak angkat' membuatnya menjadi sedih. Tak pantaskah ia memiliki orang tua?


Doni yang sejak tadi memperhatikan langsung bisa mencerna kata-kata dari Aileen.


"Anak angkat? Kamu bukan anak kandung Rahayu dan Halim?" timpal Doni.


Dewi tak dapat lagi menahan air matanya. Rasa sedih itu menjalar tiba-tiba.


"Kalian itu kenapa? Apa salah jika memiliki orang tua angkat? Apa itu terlihat hina?" Akhsa dapat merasakan apa yang Dewi rasakan.


"Bukan begitu, kamu salah paham. Justru kita sedang membicarakan Dewi," timpal Aileen.


"Apa yang kalian bicarakan tentang Dewi?" Akhsa pun jadi penasaran.


Doni berjalan ke arah Dewi, kini ia berada tepat di depan gadis itu. Melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Semuanya mirip dengan mantan istrinya. Akhsa begitu penasaran, mengapa lelaki itu terus memandang Dewi? Ada apa dengan ini semua?


"Dewi anak Hanum, Doni," terang Aileen, "tidak salah lagi, dia anak dari mantan istrimu."


Menyebut nama ibunya, Dewi melirik ke arah ibunya Akhsa.


"Tante mengenal ibuku?" tanya Dewi.


"Berarti benar? Kamu anak Hanum? Tante tahu semua tentangmu dari Akhsa," jelasnya, "apa nama ayahmu juga bernama Doni?"


Doni langsung menatap ke arah Aileen.


"Tidak salah lagi, Dewi anakmu, Don. Kamu bisa kembali bertemu dengan Hanum kalau begitu." Aileen menyimpulkan semua itu karena tak ada bantahan dari Dewi

__ADS_1


__ADS_2