Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 175 Ciuman Pertama


__ADS_3

"Kalau memang sudah ada calon kenapa tidak disegerakan?" tanya Dewi.


"Maunya sih gitu, tapi sepertinya calonnya belum tahu kalau Kakak naksir sama dia."


Dewi tak lagi menjawab, karena ia tahu akan tujuan ucapannya itu. Nathan sudah memberi kode-kode akan kepekaan wanita itu. Tapi sepertinya Nathan memang harus sabar dalam segala tindakan yang ia ambil. Cinta Dewi tak mudah digapai begitu saja. Ia harus lebih meyakinkan kepada wanita itu bahwa ia memang serius dalam setiap ucapannya.


"Pulang sekarang, Kak. Sudah mulai sore, aku harus masak soalnya," ajak Dewi sambil mengalihkan pembicaraan mereka.


* * *


Dewi sudah mulai berkutat di dapur, ia memasak untuk makan malam. Saat ia sedang sibuk, munculah sosok yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.


"Lagi sibuk? Perlu bantuan gak?" tanyanya modus. Siapa lagi kalau bukan Nathan, padahal ia tengah tak enak badan. Kepalanya kembali pusing, tapi ia tahan meski wajahnya yang pucat tak bisa membohongi gadis itu.


Dengan seksama, Dewi memperhatikan gelagat Nathan. Tangannya terus merayap ke arah meja, menyentuh bawang, cabai dan apa saja yang ada di dekatnya. Tapi itu tak mengalihkan pandangannya yang terus melihat ke arah pria itu. Wajah memerah, bibir pucat. Pokoknya terlihat tidak sehat.


"Sebaiknya Kakak istirahat saja, Kakak juga baru sembuh 'kan?" tanya Dewi.


"Kakak sudah sehat kok, justru ke sini mau bantuin kamu. Kamu pasti cape ngerjain ini sendiri. Lagian, pembantu di rumah ini kemana sih?" tanya Nathan.


"Keluarganya ada yang hajatan, jadi izin. Untung aku ke sini, kasian ibu juga lagi sakit," terang Dewi, "sudah sana, jangan ngeyel. Kakak masih sakit, jangan bikin aku tambah repot nanti," ocehnya lagi.


"Aku tetap mau di sini, kalau tidak boleh membantu aku duduk saja. Gak papa 'kan?"


"Terserah! Kakak emang keras kepala, awas saja bikin aku repot!" cetusnya kesal.


Nathan malah tertawa melihat ekspresi Dewi yang menurutnya sangat lucu. Tak lama dari situ, Nisa dan suaminya datang. Begitu pun dengan Halim, mereka sampai secara bersamaan. Nisa baru datang karena menunggu suaminya pulang bekerja.


"Dewi ...," panggil Nisa sesampainya di dapur.


"Hai, Kak." Kedua wanita itu saling berpelukkan dan cipika-cipiki.


"Wi," panggil Halim.


"Baru pulang, Yah?" tanya Dewi, "kalian barengan?" tanya Dewi lagi, " mana suami, Kakak?"


"Di depan sama Ibu," jawab Nisa, "eh, ada kamu rupanya? Kapan datang? Apa bareng sama Dewi?" tanya Nisa pada keponakannya. Nisa sendiri tidak tahu akan cerita tentang Dewi kenapa ia berada di sana, juga dengan Nathan.

__ADS_1


"Kek," sapa Nathan kepada Halim, ia mencium punggung tangan pria tua itu.


"Kamu ke sini sendiri? Daddy sama mommy kenapa tidak ikut?" tanya Halim.


"Aku kira kamu ke sini barenag Dewi, ceritanya nyusul Dewi kemari, hmm?" timpal Nisa, "wajahmu pucat, Than. Kamu sakit?"


"Iya, Kak. Dia ngeyel banget, padahal dia baru sembuh loh," sahut Dewi.


"Kamu antar saja ke kamar, kalau kamu yang antar dia, dia pasti mau," titah Nisa, "biar Kak Nisa saja yang terusin ini."


"Bener? Gak papa aku tinggal? Aku pasti cepat kembali," kata Dewi, "ayo, aku antar Kakak ke kamar," ajak Dewi. Dewi lakukan itu karena merasa bersalah, seharian tadi di pasar membuatnya kecapean.


* * *


"Kakak istirahat saja, jika nanti makan malam sudah siap aku bangunkan." Dewi mengantar Nathan sampai depan pintu kamar Panji. Saat Dewi membalikkan tubuh, Nathan dengan cepat meraih tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Pintu langsung di tutup. Dewi berada dalam kungkungan lelaki itu, dan bersandar di pintu. Hembusan napas keduanya saling menerpa wajah masing-masing saking dekatnya jarak di antara mereka. Pandangan itu terjadi cukup lama. Dewi jadi salah tinggah dengan sikap Nathan yang secara spontan menariknya.


"Apa yang Kakak lakukan? Aku mau keluar."


Nathan tak menggubris keinginan gadis itu, ia malah semakin mendekatkan wajahnya. Dewi memejamkan mata karena takut. Takut terjadi sesuatu di antara mereka.


Dewi menyentuh kenop pintu, baru saja ia akan membukanya. Tapi tiba-tiba, Nathan memeluknya dari belakang.


"Kak, lepaskan," lirih Dewi pelan. Ia takut seseorang di luar sana mengetahui keberadaan mereka, takut terjadi salah paham dengan bersama Nathan disatu ruangan yang tertutup.


"Biarkan sebentar saja seperti ini," bisik Nathan.


"Tapi untuk apa? Aku mau keluar," kata Dewi.


Nathan membalikkan tubuh Dewi, sehingga mereka saling berhadapan tanpa jarak di antaranya. Nathan memeluk tubuh Dewi. Apa ini saatnya menyatakan cintanya? Tapi bagaimana dengan perjanjiannya dengan sahabatnya itu?


Tapi ia merasa Dewi memiliki rasa kepadanya, buktinya gadis itu nampak khawatir kepadanya dan mau mengantarnya ke kamar ini.


"Boleh aku tanya sesuatu padamu?" Tanya Nathan sambil menempelkan keningnya dengan kening Dewi.


"Apa?" tanyanya pasrah tanpa berontak.

__ADS_1


"Apa kamu mencintaiku?" Nathan tidak basa-basi akan pertanyaannya.


"Tidak," jawab Dewi langsung.


"Katakan sekali lagi!" pinta Nathan.


"Tidak, tidak! Aku tidak mencintaimu!" jawab Dewi. Tapi gadis itu menangis, ia sendiri merasa tersiksa dengan perasaan yang selama ini ia tutupi, tidak ada yang tahu bahwa sebetulnya ia memiliki perasaan itu sejak lama. Hingga akhirnya ia kubur dalam-dalam rasa cintanya itu.


Selalu mendapatkan hinaan dan membawa latar belakang ibunya membuatnya merasa tidak pantas bersanding dengan Nathan. Ia memilih diam ketika pria itu menghinanya.


"Tapi kenapa hatiku mengatakan bahwa kamu memiliki perasaan padaku, jangan menyiksa perasaanku seperti ini, Wi. Jujur, aku mencintaimu," kata Nathan yang masih dalam keadaan memeluk Dewi.


"Tapi aku tidak suka denganmu, dugaanmu salah," elak Dewi.


"Apa aku memang tidak pantas untukmu?" Tanya Nathan sembari merubahkan posisinya. Ia menangkup kedua pipi gadis itu. Mata keduanya saling bertemu, mata mereka memang tidak bisa dibohongi. Cinta keduanya teramat besar.


"Apa yang membuatmu tidak suka padaku? Sikapku? Keegoisanku? Atau yang lain?" desak Nathan, "perlu aku besujud agar kamu mau memaafkanku? Jawab, Wi!"


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa yang membuatmu mencintaiku?" tanya Dewi.


"Kesabaranmu, kelembutanmu, keceriaanmu. Meski aku tahu dibalik itu ada rasa sakit yang kamu tutupi. Kamu boleh menghukumku, Wi. Tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku memang serius denganmu."


Nathan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Dewi. Ia akan mendapatkan jawabannya dengan cara seperti ini. Jika Dewi memberikan ciumannya, itu artinya gadis dia juga mencintainya. Dekat, semakin dekat. Tinggal beberapa senti saja, napas sudah menerpa. Hembusan itu membuat jantung Dewi semakin tidak karuan.


1, 2, 3 ... Bibir itu menempel. Nathan sudah mendapatkan jawaban yang sempat tadi dibantah oleh gadis itu. Bibir itu masih belum terlepas, Nathan menuntut lebih dari hanya sekedar saling menempel.


Belum ada pengalaman membuat Dewi terdiam seperti patung, tidak tahu harus berbuat apa. Itu adalah ciuman pertamanya. Tak lama, keduanya saling melepaskan diri kala pintu kamar itu terbuka.


...----------------...


Jangan lupa mampir di sini.



Blurb:


Kenzo awalnya selalu menolak Cleo, wanita bar-bar dan agresif yang sudah dijodohkan dengannya, tapi saat cinta itu sudah tumbuh kesalahpahaman pun terjadi yang membuat Cleo pergi meninggalkan Kenzo saat sedang mengandung anak dari Kenzo.

__ADS_1


Dua tahun kemudian, Cleo kembali dan mereka pun bertemu, sayangnya Cleo sudah bertunangan dengan Nathan, anak dari orang tua angkat Kenzo yang pernah menyelamatkannya saat Kenzo dibuang di hutan oleh ayah kandungnya, Abimana.


Dapatkan Kenzo merebut kembali Cleo dari tangan Nathan? Ataukah dia harus terjebak dalam hutang budi? Lalu apakah Kenzo bisa menerima Abimana sebagai ayah kandungnya?


__ADS_2