Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 42


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi yang cerah ini memawakili hari Andra, pria itu tengah bersiap-siap akan pergi ke kantor. Dan Nindya, sebagai istri yang kini sudah tak disembunyikan lagi dari keluarganya, sekarang tengah membantu suaminya memakaikan dasi di lehernya.


Tinggi badan yang tak seimbang membuat Nindya harus mengenakan bangku kecil untuk menggapai leher suaminya. Setelah memakaikan dasi, sejenak mereka saling tatap.


"Aku terasa mimpi bisa menikahimu," ucap Andra.


Nindya hanya tersenyum menanggapi itu, mungkin ia yang lebih tak menyangka bisa dinikahi oleh pria sepertinya. Dulu, ia hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan dan mencuri pandangnya di balik dinding yang selalu menjadi dinding pemisah.


"Bagaimana? Apa aku sudah terlihat tampan?" tanya Andra sambil menaikturunkan alisnya, seraya menggoda istrinya itu.


"Ya, suamiku sudah sangat tampan. Kamu tidak perlu menanyakan itu padaku, cermin saja sudah tahu kalau kamu itu tampan."


Mendapatkan pujian dari istrinya membuatnya terasa terbang di awan. Bahkan rasa itu mengalahkan pertama kali ia merasakan jatuh cinta, senang, bahagia yang tak mampu terucap dari bibirnya. Baginya, hari ini, ia yang paling bahagia di muka bumi ini.


Baru saja, Andra akan mencium istrinya itu. Tapi sebuah ketukan pintu yang tertengar menggagalkan rencananya. Andra mendengus kesal, sedangkan Nindya terkekeh melihatnya.


"Ndra, buka pintunya. Apa kalian belum bangun?" tanya Anye. Keadaan Anye sudah membaik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia sudah tak sabar ingin melihat hasil dari dugaannya, bahkan ia sudah memanggil dokter untuk memeriksa menantunya.


Karena keadaan yang tak memungkinkan bagi Nindya pergi ke rumah sakit, tentu akan jadi bahan gosip di luar sana tentang menantunya juga anaknya. Apa lagi, para awak media pasti mencari informasi tentang kabar putranya.


"Biar aku yang membuka pintu." Kata Nindya sembari turun dari bangku kecil yang ia jadikan alas.


"Nin, di bawah sudah ada dokter Zack. Ayok, ikut Mommy ke bawah?" Di rumah utama memang sudah menyiapkan tempat khusus ruangan seperti kamar rumah sakit.


"Apa? Dokter Zack? Aku gak mau dokter Zack yang memeriksa istriku," ucap Andra tiba-tiba.


"Tidak boleh ada laki-laki lain yang menyentuh istriku!"

__ADS_1


Andra mulai cemburu, pokoknya tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya.


"Zack hanya memeriksa istrimu, jangan berlebihan. Dia juga masih temanmu 'kan? Mana mungkin dia menikungmu," cetus Anye. "Dokter Zack bukan hanya dokter umum, Ndra. Dia dokter yang sudah berpengalam dalam bidang hal ini. Mommy tak sembarangan memilih dokter untuk dijadikan dokter pribadi."


"Lagian, kalau kalian pergi ke rumah sakit Mommy rasa tidak aman. Kamu belum resmi bercarai dengan Aileen, semua orang bisa menuduhmu yang selingkuh," jelas Anye.


Mau tak mau, Andra pun mengiyakan dokter Zack untuk memeriksa istrinya. Dan akhirnya, Andra dan Nindya ikut bersama Anye ke bawah untuk menemui Zack.


Dokter Zack sedang berbincang bersama Wiliam. Tak lama dari situ, Andra juga dan yang lainnya ikut bergabung. Zack tak terkejut dengan kabar ini, karena Anye sudah menjelaskan semuanya termasuk kabar berita yang sudah beredar tentang putranya.


Karena ini bukan urusan Zack, pria itu tak mempermasalahkan itu. Sebagai teman, Zack hanya berdoa semoga masalah temannya itu cepat selesai.


"Zack, apa kamu bawa perawat untuk membantumu?" tanya Andra.


Zack mengerutkan keningnya, biasanya temannya itu tak pernah menanyakan itu padanya setiap kali ia akan memeriksa pasiennya. Bahkan saat ia akan memeriksa istrinya kemarin pun tak menayakan hal itu.


"Ada perawat tidak yang akan membantumu? Aku tidak rela istriku disentuh olehmu."


"Tenang saja, aku ajak Dokter Elena kemari, dia yang lebih tahu soal kehamilan," jawabnya santai.


"Dokter Zack, sekarang saja periksanya. Aunty sudah tidak sabar," kata Anye.


"Tunggu sebentar ya, Aunty. Dokter Elena sedang dalam perjalanan," terang Zack.


Beberapa saat kemudian, Roy datang secara bersamaan dengan dokter Elena. Tapi mereka masih berada di luar, bahkan tidak bisa masuk ke dalam rumah karena banyak wartawan mencegatnya. Dan dokter Elena pun turun dari mobilnya, tapi ia langsung di wawancarai oleh wartawan. Wartawan itu tahu siapa Elena.


"Ada Dokter Elena," ucap wartawan itu. Seketika, beberapa wartawan langsung berkerumun di hadapan Elena. Wanita itu tahu apa maksud wartawan berkumpul di kediaman Wiliam, mereka pasti mencari informasi tentang putranya.


"Ada urusan apa Dokter Elena kemari? Apa benar kalau tuan Andra selingkuh? Atau, jangan-jangan Dokter Elena kemari memang disuruh oleh tuan Andra untuk memeriksa seseorang?" tanya wartawan.

__ADS_1


"Iya, Dokter 'kan Dokter kandungan. Apa ada yang hamil di rumah ini?" Pertanyaan dari wartawan tak bisa dijawab oleh dokter Elena. Bahkan wanita itu mencoba menghindar, tapi sayangnya wartawan itu tak memberi jalan.


Sedangkan Roy yang mulai geram dengan wartawan itu langsung turun tangan. Ia membantu dokter Elena keluar dari kerumunan itu. Dan dokter Elena sangat terkejut dengan perlakuan Roy, terlebih ia tak mengenal siapa laki-laki itu.


Dan akhirnya, Roy berhasil membawa Elena menjauh dari awak media. Namun, dokter Elena langsung memukulnya dengan tas miliknya.


"Kurang ajar!" cetus Elena.


Roy pun tidak tahu siapa Elena.


"Hey, Nona. Harusnya Anda berterima kasih, bukannya malah memukulku." Roy tak terima dengan tuduhan Elena terhadapnya yang sudah berbuat kurang ajar. "Galak sekali jadi perempuan."


"Apa kamu bilang? Saya galak? Anda yang tidak sopan, asal tarik saja."


Keduanya malah bertengkar di depan pintu utama. Keributan mereka membuat orang yang ada di dalam rumah itu mendengarnya. Para penghuni rumah langsung saja menghampiri mereka yang sedang adu mulut.


Dan itu pertemuan pertama antara seorang mafia dan dokter cantik yang masih berstatus single.


"Roy, ada apa ini?" tanya Andra. Lalu ekor matanya melihat sosok wanita yang terlihat cantik. "Mau sampai kapan kamu itu jutek pada wanita, hah?" ucapnya lagi pada Roy.


"Dokter, silahkan masuk." Zack mempersilahkan Elena masuk ke dalam. "Ayo cepat, sebelum wartawan itu semakin curiga," ucapnya lagi.


* * *


Dokter Elena sedang memeriksa Nindya, setelah itu selesai, Andra langsung menanyakan akan kondisi istrinya. Apa wanita itu benar hamil?


"Iya, Tuan. Istri Anda sedang hamil, kalau diperkirakan dari hari terakhir menstruasi usia kandungannya sekitar dua minggu," terang dokter.


Bibir Andra langsung melengkung karena tersenyum. Sungguh? Istrinya kini telah hamil, dan tentunya ia yakin betul kalau yang dikandung istrinya adalah buah dari cintanya.

__ADS_1


Andra langsung menghampiri istrinya bahkan memeluk dan memberi kecupan disetiap inci wajahnya. Nindya sendiri sampai kewalahan dibuatnya.


Wiliam yang sedari tadi berada di sana, namun tak berani mendekat karena ia dan anaknya masih belum berkomunikasi sejak kemarin, tapi ia ikut bahagia soal ini. Melihat Andra yang antusias, ia juga ikut yakin bahwa wanita itu mengandung cucunya.


__ADS_2