Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 185 Mabuk Cinta


__ADS_3

Karena urusannya sudah selesai, dan hari semakin larut. Orang tua Nathan juga dirinya pamit untuk pulang. Nathan berniat mengajak Dewi juga, tapi Doni melarang. Terlebih, mereka sudah memiliki rasa, ia takut jika mereka satu atap malah akan terjadi sesuatu.


Tidak ada pilihan, Nathan pun tidak memaksa Dewi untuk ikut bersamanya.


"Besok, kamu kuliah 'kan?" tanya Nathan sebelum naik mobil.


"Iya, sudah beberapa hari aku gak masuk. Kalau tidak ada Sisil mungkin aku sudah ketinggalan pelajaran."


"Besok aku jemput, sekarang istirahatlah. Kamu pasti lelah." Nathan meraih tangan Dewi, lalu mencium punggung tangan itu. Wajah Dewi bersemu merah, Nathan benar-benar sudah berubah. Dia selalu bersikap manis, dan Dewi semakin menyukainya. "Aku pulang ya?"


Dewi mengangguk. "Wi?" panggil Nathan.


"Ya?" jawabnya.


"Lihat deh, di sana ada apa?" Nathan menunjuk ke samping Dewi sehingga gadis itu menoleh. Dan disaat itu, Nathan mengambil kesampatan. Ia mencium pipi Dewi tanpa sepengetahuannya.


Sontak, membuat Dewi terkejut. Ia menyentuh pipinya yang sudah dicium oleh calon tunangannya. "Mulai bandel ya?" ucap Dewi.


"Nathan ...," teriak Andra, "Daddy sama Mommy duluan," sahutnya lagi. Mereka menunggu anaknya terlalu lama, entah apa yang dibicarakan oleh mereka.


"Iya, Dad. Sebentar," jawab Nathan, "aku pulang, besok pagi-pagi aku jemput. Dadah bidadariku." Nathan pun masuk ke dalam mobilnya, lalu menyusul orang tuanya yang sudah lebih dulu berangkat.


Sedangkan Dewi, ia pun masuk karena malam ini cukup dingin. Ia menemui papanya yang berada di ruang tamu bersama neneknya.


"Wi, istirhatlah. Kamarmu di atas, Papa sudah menyiapkan kamar untukmu dari kemarin," tutur Doni, "Bi, antar Dewi ke kamarnya," titahnya pada asisten di sana.

__ADS_1


Dewi diantar ke kamar oleh bi Sumi. Setibanya di kamar, Doni benar-benar menyambut kedatangan putrinya. Kamar yang luas juga sangat bagus, pernak-pernik kamar tertata dengan rapi. Meja rias yang dilengkapi alat make-up pun tersedia.


"Bibi pamit, Non. Selamat beristirahat," ucap bibi.


"Iya, Bi. terima kasih."


* * *


Dewi merebahkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk. Tangan dan kaki merentang, tatapan tertuju pada langit-langit kamar. Sekelebat, bayang wajah sang kekasih muncul. Ia tak menyangka akan seperti ini. Lamunannya buyar saat ponselnya berdering.


Dewi beranjak, dan mengambil ponselnya. Ternyata Nathan yang menghubunginya lewat panggilan vidio. Layar ponsel ia arahkan ke wajahnya, sehingga mereka bersitatap.


"Belum tidur?" tanya Nathan.


"Belum, belum ngantuk," jawab Dewi, "Kakak baru sampai?" tanyanya. Nathan pun mengangguk.


"Ya udah, aku tidur dulu kalau begitu. Vidionya tutup saja ya, Kakak juga istirahat."


"Jangan ditutup dulu, mana kiss jauhnya?" pinta Nathan. Baru pertama kali pacaran, Nathan jadi seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.


"Ih, apaan sih. Kaya ABG pacaran saja," celetuk Dewi, "besok juga ketemu, tidak usah sun-sun jauh."


"Ya udah, besok aku tagih kiss pagi. Selamat istirhat ya, ssmoga mimpi indah."


"Iya, aku tutup, ya?" Akhirnya Dewj yang mematikan panggilan itu. Ia pergi ke kamar mandi terlebih dulu, mencuci muka dan berganti pakaian.

__ADS_1


* * *


Keesokkan paginya.


Pagi-pagi buta, Nathan sudah bersiap. Tidak biasanya pria itu bangun pagi-pagi. Ia sudah janji pada Dewi bahwa ia akan menjemputnya pagi ini. Semua asisten di rumah terheran-heran melihat anak majikannya sudah bangun jam segini, padahal ini baru jam 5 subuh.


Nindya yang baru keluar dari kamar sudah melihat anaknya tengah duduk di meja makan.


"Kamu ngapain di situ?" tanya Nindya pada putranya.


"Minum kopi, Mom. Biar seger," jawab Nathan.


"Jam segini sudah minum kopi? Gak salah? Ini masih subuh, Nathan. Kamu mau kemana sudah siap begitu?" tanya Nindya menyelidik.


"Jemput Dewi, ngajak sarapn, terus mengantarnya ke kampus. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, Mommy heran saja, kamu berubah drastis."


Nathan hanya tersenyum kecil mendengar penuturan ibunya.


"Takut telat, aku berangkat sekarang ya, Mom."


"Hati-hati, jalan masih gelap." Nindya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang sedang dimabuk cinta.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa mampir



__ADS_2